
Para Staf pengajar maupun staf kantor dikampus ini sudah banyak yang mengenal Radit sekarang.Radit juga bersikap ramah kepada mereka, beberapa bulan lagi dia akan dicalonkan sebagai rektor, tapi sepertinya Radit merasa kalau dia belum memenuhi syarat untuk itu, ia tidak mau kalau dianggap KKN apalagi dia hanya seorang pemegang saham yayasan kampus ini.
"Bisa saya bertemu dengan Pak Rektor?. "tanya Radit pada sekretaris pimpinan kampus yang mejanya berada didepan ruangan Rektor.
" Sebentar ya Pak, saya akan kabari beliau dulu. "Sekretaris Rektor itu langsung menghubungi pimpinannya yang masih menjabat saat ini.
Tak lama setelahnya, Pak Rektor yang masih menjabat itu keluar dari ruangannya khusus untuk menyambut kedatangan Radit yang tiba-tiba.
" Hallo Pak Raditya. "Sapanya sambil mengulurkan tangan kepada Radit.
" Hallo Pak Husen. "balas Radit.
" Ada keperluan apa pagi-pagi begini, tumben anda datang sendiri kemari?."tanya Pak Rektor yang masa jabatannya hampir habis.
Pak Husen kemudian mengajak Radit untuk masuk ke ruangannya dan duduk di sofa nyaman yang ada diruangan itu.
"Begini Pak, soal pencalonan saya tempo hari. Saya cuma mau bilang, sepertinya saya tidak bisa Pak.Kalau boleh saya mengusulkan, bagaimana kalau Papa saya aja, umur beliau juga baru 46 tahun dan beliau juga sudah menyandang gelar doktor. Papa juga masih menjadi dosen disini walaupun sekarang sedang off sementara waktu. kalau saya, anda tentunya tau sendiri,syarat pun tidak bisa saya penuhi.Lagi pula saya juga terlalu sibuk dengan perkebunan saya,mana ada waktu untuk mengurus hal lain, dan satu hal lagi,anda kan tau kalo istri saya juga berkuliah disini, bagaimana nanti kalo mahasiswa dan mahasiswi yang lainnya pada tau kalo suami sahabat mereka menjabat salah satu posisi penting disini,pasti nantinya akan menimbulkan kecemburuan sosial."
" Jadi begitu Nak Radit, maaf kalo bapak memotong pembicaraan.Kami ingin mencalonkan anda itu karena anda juga adalah salah satu lulusan terbaik kami. Lagipula anda juga merupakan donatur sekaligus pemilik saham terbesar di kampus ini, sudah tentu itu bisa jadi pengecualian.Apalagi anda sangat menguasai tentang manajemen, sayang sekali."ujar Pak Husen.
"Saya tidak bersedia Pak,maksud kedatangan saya kesini,untuk mengundurkan diri dari pencalonan itu.Biarlah saya tetap jadi pemegang saham saja. " ujar Radit.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu,saya rasa keputusan ini pasti memang sudah Nak Radit fikirkan secara matang. "
Pertemuan itu pun berakhir. Sekarang Radit sudah keluar dari ruangan Rektor, ia kembali ke mobilnya yang ia parkir di depan gedung Fakultas Management akuntansi.
Tapi karena ia merasa jenuh, jadi dia keluar dari mobilnya dan melihat ada tempat duduk yang ada tuduhannya, lumayanlah buat ngadem bentar sambil menunggu istrinya kelar kuliah.
Sementara itu, Kaniya yang kelasnya sudah selesai bukannya menemui suaminya yang sedang menunggu di dekat parkiran, Kaniya malah bermaksud untuk menghindari Radit sekali lagi.
Diam-diam ia sudah memesan taksi online dan mengendap-endap keluar dari gerbang agar tidak ketauan.Kaniya juga minta pada Bella agar tidak memberi tau sama Radit kalau dia sengaja menghindari suaminya itu.
Kaniya berhasil menghindari Radit, hari ini dia belum siap kalau dibawa pulang kerumah mertuanya, dia tidak sanggup untuk tinggal disana lagi. Apalagi tuduhan sang ibu mertua dan juga adek iparnya Rani terasa sangat menyakitkan baginya.
Dari informasi yang ia dapat dari rekannya dikampus tadi, ada tempat kost yang masih kosong didekat kost temannya itu.Kebetulan kost ini khusus buat cewek, jadi Kaniya mau. Berbekal alamat yang dikasih teman satu jurusannya itu ia pun mendatangi tempat kost'an itu.
****
Sedangkan dikampus, Radit yang tadinya happy dan tersenyum senang karena sudah bisa menemukan istrinya dan merasa bisa mengajak Kaniya pulang setelah ini kerumah orang tuanya harus menelan pil pahit, karena sudah berjam-jam dia menunggu disana, nyatanya Kaniya tidak terlihat lagi batang hidungnya.
Radit kembali mencari istrinya itu kedalam kelasnya,ternyata kelas sudah kosong.Bahkan dia juga tidak melihat teman-teman dekat Kaniya.Radit bertanya kepada beberapa mahasiswa yang lewat tentang keberadaan Kaniya, tapi semua bilang tidak melihat istrinya itu.
__ADS_1
Radit jadi geram,matanya berkilat menampakkan kemarahan didalam dirinya yang berkobar.
"Apa yang sedang kamu mainkan honey? kenapa kamu melakukan semua ini sama aku?!. " gumam Radit menahan emosinya.
Dengan cepat ia kembali ke mobilnya,hatinya jangan ditanya? saat ini ia ingin sekali marah.Tapi dimana dia bisa melampiaskan kemarahannya ini?Radit menelpon orang kepercayaannya yang biasa mencarikan info untuk dirinya.Radit ingin mendapatkan kabar secepatnya tentang keberadaan sang istri yang lagi-lagi lepas dari pengawasan matanya.
****
Di tempat berbeda, dirumah Bella. Kaniya pamit pada kedua orang tua teman sahabatnya itu. Tak lupa ia mengucapkan terimakasih karena sudah diizinkan menginap dirumah mereka.
Kaniya juga berpesan kepada Bella agar tidak memberi tau Radit apapun tentang dirinya, dimana dia tinggal dan sebisa mungkin ia juga akan menghindari suaminya itu kalau sampai Radit mencarinya lagi dikampus. Sungguh ia benar-benar belum siap kalau harus kembali ke keluarga itu.
Kaniya mantap dengan keputusannya untuk hidup mandiri sementara waktu, sampai waktu yang belum ditentukan.Mungkin sampai luka dihatinya bisa disembuhkan, atau bisa juga kalau Radit sudah bisa mengambil keputusan untuk hidup terpisah dari orang tua dan adiknya.
Bukannya Kaniya tidak mau, tapi selama ini dia mengira kalau mertua dan adik iparnya sudah mengenal siapa dirinya. Selama ini dia tidak pernah berbuat salah,tapi kesalah pahaman yang dia sendiri tidak tau menau malah menjadi boomerang dan mereka semua menyalahkan dirinya bahkan suaminya pun tak membelanya sedikitpun,Radit malah terkesan ikut menyalahkan dirinya atas peristiwa kelam yang menimpa Rani.
"Biarkan semuanya seperti ini dulu. " ujar Kaniya pada dirinya sendiri setelah ia sampai dikamar kostnya yang baru akan ia tempati sore ini.
Kaniya juga membeli beberapa barang seperti termos listrik,setrikaan, piring sendok,rice coocker dan juga selimut untuk dirinya.Maklumlah dia pergi dengan hanya membawa sedikit pakaian saja.
Setelah beres-beres sedikit, akhirnya dia bisa merebahkan tubuhnya dikasur yang sudah disediakan oleh pihak pemilik kost ini.Kaniya menatap langit-langit memikirkan apa yang akan dia lakukan selanjutnya. Dia ingin sekali membuka tempat usaha impiannya.
__ADS_1
Dengan tenaga yang masih tersisa, Kaniya menggulir layar ponselnya, mencari kalau aja ada tempat usaha yang strategis dan bisa ia sewa untuk membuka kafe atau restoran yang ia inginkan.