
Tak lama setelah kedatangan Tuan Marco suami dari Nyonya Sherly dan Rani anaknya,Nyonya Sherly datang bersama Pak Anto sang supir.Nyonya Sherly langsung masuk kedalaman rumah dan menuju kekamar untuk bertemu suaminya.
Ternyata mereka sudah berbicara ditelepon tentang keadaan Radit yang sekarang masih dirumah sakit dan kondisinya sangat memprihatinkan.
Hasil diagnosa dokter,Radit akan cacat dan harus menggunakan kursi roda.Bahkan wajahnya yang terkena pecahan kaca akan cacat permanen kalau tidak segera di operasi plastik.Sudah barang tentu gak akan ada wanita yang ingin menikah dengannya kalau wajahnya sampai rusak permanen.
Walaupun sebelumnya wajahnya begitu tampan,tapi sekarang keadaan Radit sangat mengenaskan.Sungguh malang nasibnya,sudah tak bisa berjalan karena kaki kirinya menderita patah dan di gips,wajah yang selama ini jadi andalannya untuk memikat wanita pun sudah rusak.
Cowok tampan berpostur tinggi 185 cm, berbadan kekar,dan berwajah blasteran itu kini tak berdaya.Wajah tampan yang diwarisinya dari Tuan Marco sang Papa kini telah diperban dan cacat.
"Jadi gimana Pa?,nanti gak ada lagi gadis yang mau menjadi istrinya Radit,sedangkan Omanya ingin Radit segera menikah.Kalau Radit tidak menikah juga dalam tahun ini,maka Ibu akan menarik semua aset kita Pa."kata Nyonya Sherly kepada suaminya itu.
"Papa juga bingung Ma,Ibu benar-benar bersungguh-sungguh dengan ancamannya. Apalagi Radit adalah cucu laki-laki satu-satunya dikeluarga kita." jawab suaminya itu.
"Pa,sebenarnya Mama punya ide,tapi mungkin Papa gak akan setuju."Nyonya Sherly mengutarakan usulnya.
"Ide apa, Ma? "tanya suaminya itu penasaran.
"Wanita yang menolong Radit dan mengantarnya kerumah sakit itu, kelihatannya cocok untuk kita jadikan calon mantu."kata Nyonya Sherly,ia berasa punya ide cemerlang.
"Gadis yang didepan tadi? ."tanya Tuan Marco.
"Iya Pa,cantik 'kan?."ujar Nyonya Sherly meminta persetujuan suaminya.
"Cantik sih,tapi apa standarnya cocok untuk keluarga kita 'Ma? kelihatannya dia dari kelas menengah kebawah."jawab suaminya, meragukan.
"Sekarang ini gak penting dari kelas dan kalangan mana Pa,yang penting kita mendapatkan calon istri buat Radit dan warisan Ibu akan tetap jadi miliknya Radit."jelas Nyonya Sherly bersemangat.
Nyonya Sherly sudah memikirkan hal ini dirumah sakit semalaman.Sebenarnya dia juga tahu kalau Kaniya itu bukan pacarnya Radit,namun dia sengaja menahannya agar gadis itu tidak pergi.Maksud dan tujuannya tentu saja untuk menjadikannya istri Radit walaupun dengan cara terpaksa.
Dua minggu yang lalu,saat dia berkunjung ke toko pakaian miliknya dia pernah melihat Kaniya.Wajah gadis itu masih diingatnya,ketika bertemu dirumah sakit untuk pertama kalinya dengan Kaniya.Nyonya Sherly merasa ini semua petunjuk dari Tuhan dan bukanlah sebuah kebetulan biasa.
"Tapi,apakah Ibu akan menyetujuinya?".Tuan Marco masih ragu.
"Soal itu biar jadi urusanku Pa,kita tinggal meyakinkan gadis itu dan juga orang tuanya."Nyonya Sherly merasa idenya sangat brilian.
"Panggil gadis itu kemari."perintah Tuan Marco.
Nyonya Sherly pun menghampiri Kaniya yang sedang duduk diteras depan.
__ADS_1
"Nak Kaniya,sini.Ikut saya kedalam."ajaknya.
"Ada apa Bu?. "
"Sini, ayo. "ujar wanita yang masih terlihat cantik meski sudah berumur itu.
Kaniya hanya nurut dan mengikuti langkah Nyonya Sherly kedalaman kamarnya.Tuan Marco yang sudah berdiri diruangan itu sejenak memperhatikan Kaniya dari atas sampai kebawah.
"Baiklah Ma,Papa setuju dengan Mama.Mama atur aja bagaimana baiknya."ujar Tuan Marco.
Kaniya hanya terdiam dan menunduk,dia bingung dan tidak mengerti apa yang dimaksud suami dari Nyonya Sherly itu.
"Nak Kaniya,apa kamu sudah punya pacar?."tanya Nyonya Sherly pada gadis itu.
"Saya masih jomblo Bu."jawab Kaniya dengan raut wajah bingung,karena mendapatkan pertanyaan yg aneh menurutnya.
"Kalau begitu,sebentar lagi saya dan keluarga akan mengantarkan kamu pulang.Kami ingin bertemu dengan orang tua mu."Kata tuan Marco.
"Memangnya ada apa ya Pak?,saya bisa pulang sendiri.Gak usah repot-repot."jawab Kaniya.
"Ada hal penting yang mau kami bicarakan dengan Ayah dan Ibumu."jelas Tuan Marco.
*
*
*
Setelah makan siang,Kaniya benar-benar diantar pulang kerumahnya.
"Mobil siapa yang datang?."tanya Pak Edi Bapak tiri nya Kaniya.
Tuan Marco bersama istrinya turun dari mobil,diikuti oleh Kaniya dibelakangnya.
"Loh loh,,, ada apa ini?.Kok anak gadis yang gak pulang semalaman,pulang-pulang malah diantar pake mobil."ujar Pak Edi marah-marah.
"Assalamualaikum."sapa Tuan Marco.
"Wa'alaikum salam."jawab Pak Edi dengan nada tinggi.Memang Bapak tirinya Kaniya ini orangnya tempramen,bahkan sikapnya sangat kasar terhadap Kaniya selama ini.
__ADS_1
Tak lama kemudian,Bu Mery keluar dari pintu samping rumah sederhana yang ukuran luasnya tak kurang dari 60 m persegi itu.
"Ada tamu rupanya."sapa Bu Mery ramah.
Tuan Marco dan Nyonya sherly membalas dengan senyuman.
"Mari silahkan masuk,dari depan aja." ajak Bu Mery sembari menyalami tamu-tamunya.
Melihat itu wajah Pak Edi menegang,tapi dia tak bisa marah,karena rumah itu memang rumah peninggalan almarhum suaminya Bu Mery,Ayah kandungnya Kaniya.
"Silahkan duduk,Bapak,Ibu.Terimakasih sudah nganterin anak saya pulang." ujar Bu Mery dengan sopan dan ramah.
"Nak,bikin minum untuk tamu kita."suruh Bu Mery kepada Kaniya.
Setelah menaruh tasnya dikamar,Kaniya segera kedapur untuk membuatkan teh buat tamunya.Dalam hati dia juga bertanya-tanya kenapa Tuan dan Nyonya Marco ini datang kerumahnya dan mau bertemu dengan orang tuanya.
"Sebelumnya perkenalkan dulu,saya Marco dan ini istri saya Sherly." Tuan Marco membuka pembicaraan.
"Kalau saya Ibunya Kaniya,nama saya Mery,dan ini Bapak sambungnya Kaniya suami saya,namanya Edi."balas Bu Mery ramah.
"Begini Bu,Pak.Maksud dari kedatangan kami kesini tak lain dan tak bukan untuk meminang anak gadis Bapak dan Ibu buat anak saya Radit."kata Tuan Marco dengan penuh harap dan tanpa basa-basi.
"Ha..?!!!"Pak Edi kaget bukan main.
"Memangnya apa yang membuat anda ingin melamar anak saya,bukankah anak bapak yang kemaren habis kecelakaan dan dibantu oleh anak saya itu?."tanya Bu Mery bingung tiba-tiba anaknya mendapatkan lamaran.
"Iya benar Bu,oleh sebab itu kami ingin sekali menjadikan Nak Kaniya ini sebagai menantu kami."sahut Nyonya Sherly.
"Apa Kaniya sudah setuju?,bukankah mereka belum saling kenal."Bu Mery masih bingung harus jawab apa.
"Justru itu,kami ingin memohon sama Bapak dan Ibu untuk mengizinkannya.Karena kami yakin Nak Kaniya pasti nurut kalau Bapak dan Ibu sudah mengizinkan."jelas Nyonya Sherly lagi.
"Sebaiknya kita tanya Kaniya nya dulu ya,kita dengarkan pendapatnya bagaimana."pinta Bu Mery.
"Aku bahkan belum tahu bagaimana wajahnya nak Radit,ehhh sekarang malah harus menikahkan Kaniya dengannya"batin Bu Mery.
Kaniya keluar dengan membawa nampan berisi empat gelas teh manis hangat.
"Silahkan Bu,Pak ,diminum teh nya."ucap Kaniya sambil menghidangkan teh kesemua tanpa dia tahu apa yang tadi dibicarakan oleh para orang tua itu.
__ADS_1
Bersambung bebs ku...😘