
Makanan pesanan Radit pun datang,mereka berdua menyantapnya dengan lahap,karena memang perut mereka mulai keroncongan.
Saat mereka sedang asyik menikmati makan siangnya,masuklah seseorang yang tadi bertemu mereka di depan butik.Ya,pria itu Stefan.
Stefan yang tak sengaja melihat kearah mereka,jadi berpikir untuk menyapa Kaniya dan juga Radit.Stefan mengira,Kaniya dan Radit itu kakak adik dan bukanlah pasangan.Karena mereka berdua tidaklah romantis seperti pasangan-pasangan pada umumnya.
"Hallo,we meet again,"sapa Stefan.
"Hiiii,it is such a coincedence,"jawab Kaniya kagok,takut kalau Radit naik pitam.
"May i join here?,"tanya Stefan,ia ingin gabung dimeja mereka.
"Of course,"jawab Kaniya.Kaniya buru-buru memberi kode mata memohon pada Radit,agar mengizinkan Stefan untuk duduk dimeja mereka.
"Oke,thankyou."Stefan pun duduk dikursi sebelah Kaniya,tanpa dia tahu kalau Radit itu adalah suaminya Kaniya.
Melihat itu,Radit memperlihatkan wajah tidak sukanya kepada Stefan.Namun Kaniya dan Stefan malah sibuk mengobrol walau dengan bahasa Inggris yang belepotan.
"Where you come from?"tanya Stefan.
"Indonesia😁😊."Kaniya senyum-senyum gak jelas,sambil melirik kearah Radit yang sedari tadi hanya diam saja dan memperhatikan mereka.Radit sama sekali tidak beramah tamah sedikit pun.
Stefan yang melihat sikap Radit yang acuh tak acuh,berinisiatif untuk mengajak Radit berkenalan.
"Hiii sir,i'am Stefan,and you?."Stefan mengulurkan tangannya kepada Radit.
"I'am Radit,her husband,"jawab Radit sambil menyambut tangan Stefan sembari menunjuk dengan matanya kearah Kaniya.
Stefan pun terkejut mendengar kenyataan,bahwa Kaniya adalah istrinya Radit.
__ADS_1
"Ough,I though you were brother and sister."Stefan benar-benar mati gaya dihadapan Radit,dia jadi merasa gak enak hati karena dari awal sudah bersikap sok manis kepada istri orang.
"That is it," jawab Radit sambil menaikkan kedua bahunya.🤷♂
Tapi didalam hati Stefan,dia bisa merasakan kalau hubungan Kaniya dan Radit masih bisa digoyahkan.🤦♀
Tanpa basa-basi Stefan ikut memesan makanan,dan ketiganya terpaksa makan bersama,karena meja yang lainnya juga sudah pada terisi semua.
Radit merasa sangat gerah sekali karena harus makan bertiga dan satu meja bersama Kaniya dan Stefan.Rencana lunch berdua gagal sudah karena tamu tak diundang menurut Radit itu.
"Sial,kenapa juga harus ada cecunguk satu ini," batin Radit meronta-ronta. Ingin sekali rasanya menarik tangan Kaniya keluar dari kafe ini.
"Honey,ayo kita cepat sedikit makannya.Habis ini kita langsung pulang aja,gak enak sama Oma,kelamaan kita tinggal sendirian dirumah,"ujar Radit berlaga sok manis kepada Kaniya dihadapan Stefan.
Tak lupa Radit mengecup punggung tangan istrinya,menegaskan kepemilikannya kepada calon rivalnya itu.
Melihat itu,Stefan sudah bisa membaca apa yang dimaksud oleh Radit.Walaupun dia tidak mengerti bahasa Indonesia,tapi dari apa yang dilihatnya di mata Radit dan dari cara Radit menatapnya,dia bisa merasakan kalau Radit sedang cemburu kepada dirinya.
"Sorry Stefan,we- have to go home so-on.Our grand-mother is waiting at home,"ucap Kaniya,mencoba memberikan pengertian kepada Stefan walaupun sedikit terbata.
"Oh,yeah.No problem,go ahead,"jawab Stefan santai.
Sebelum Kaniya beranjak pergi menyusul Radit yang sudah ke kasir lebih dulu,Stefan menarik tangan Kaniya dan menyelipkan kartu namanya di telapak tangan Kaniya,sambil memberi kode dengan jari tangannya.😘
"Call me..😁, " bisik Stefan.
Buru-buru Kaniya menaruh kartu nama itu kedalam tasnya.Entah apa yang dipikirkan oleh Kaniya,sehingga dia menerima kartu nama itu.Lalu dia bergegas menyusul Radit yang sudah selesai membayar makanan dikasir.
Radit pun menoleh ke arah istrinya itu,lagi-lagi dengan tatapan penuh curiga.Matanya memicing mencari-cari kesalahan Kaniya yang mungkin ia tidak tau.
__ADS_1
"Kenapa kamu kelihatan gugup seperti itu?"tanya Radit heran,dengan wajah Kaniya yang tegang.
"Tidak ada apa-apa,"jawab Kaniya menutup-nutupi.
"Ayo cepat!kita sambung makannya dirumah aja,"ujar Radit.
Buru-buru Kaniya naik ke mobil dan memasang seat beltnya sendiri.
"Ada apa dengannya?"gumam Radit sambil menaruh tongkatnya kekursi belakang.
Radit pun melajukan mobil menuju ke rumah Omanya.Di sepanjang perjalanan pulang, hanya kebisuan yang ada di antara keduanya.Radit masih dengan pikirannya soal toko,sedangkan Kaniya sibuk memikirkan gimana kalau nanti Radit tahu kalau dia menyimpan kartu nama Stefan didalam tasnya.Kaniya terus saja memegangi tasnya dengan erat,seolah-olah takut kalau Radit merebut tas itu darinya.
Sesekali,Radit melirik kearah istrinya itu.Radit pun merasa aneh melihat sikap Kaniya yang selalu memegangi erat tasnya.
"Emangnya apa isi tas mu itu,sampai-sampai kau memeganginya kuat sekali?"tanya Radit curiga.
"Ah,gak ada apa-apa kok.Aku cuma iseng aja megangin tas,habisnya kamu terlihat menakutkan kalau lagi jutek,"jawab Kaniya mengalihkan pembicaraan.
"Kenapa?aku lebih tampan kan,kalau lagi marah."Radit kembali lagi narsisnya.
Kaniya hanya ternganga dan memutar bola matanya,jengah."🙄😜🤨"
"Gila nih laki gue,narsisnya ga ada obatnya." batin Kaniya tiba-tiba pengen muntah.
"Uwwek,"suaranya sampe keluar dari mulut Kaniya.
"Hey,apa kau hamil?aku saja belum menyentuhmu.Hanya *****-***** sedikit,mana mungkin bisa hamil," ujar Radit kaget.
"Sembarangan,siapa juga yang hamil.Aku itu mau muntah,saking gedeknya dengar kenarsisan kamu tau!!"ketus Kaniya.Impiannya akan jalan-jalan yang menyenangkan kini pupuslah sudah.Kaniya hanya bisa melihat gedung-gedung tinggi disisi jalan yang mereka lewati dari balik kaca mobil.
__ADS_1