Kaniya Si Gadis Desa

Kaniya Si Gadis Desa
Tegang


__ADS_3

Beberapa bulan berlalu,perut Kaniya kini sudah membesar, begitu juga dengan perutnya Rani.


Dua saudari ipar itu janjian untuk memeriksakan kehamilan mereka bersama-sama di rumah sakit langganan mereka.


Hari ini Rani di temani oleh Marcel.Rani sudah menolak saat suaminya itu mau ikut menemani dirinya, dia tidak mau nanti Marcel jadi besar kepala karena sikap baik yang dirinya tunjukkan.


Marcel terlihat tampan dengan gaya khasnya, calon ayah itu benar-benar antusias sekali untuk melihat perkembangan bayinya.


Namun sayangnya bagi Kaniya, hari ini Radit tidak bisa ikut.Radit harus menghadiri rapat rutin di perkebunan miliknya, rapat tahunan yang tak bisa tidak harus Radit hadiri.


Kaniya tidak terlalu memusingkan hal itu, dia sudahlah berangkat lebih awal bersama Pak Anto.


"Kak Kaniya, " sapa Rani, ketika mereka baru sampai di depan ruangan dokter kandungan langganan mereka.


"Eh, Rani. Udah datang rupanya, " Kaniya memeluk adik iparnya itu sambil cipika-cipiki dengan agak susah payah, karena perut keduanya sama-sama membesar.


"Hahahaa." Keduanya tertawa bersama, karena rasanya sangat anehh dan lucu.Persis sekali dengan drama anak-anak jaman dulu"Teletubies."


Kaniya sedikit terkejut saat dia melihat Marcel yang tiba-tiba muncul di belakang Rani,dia langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain. Tidak adanya Radit di samping dirinya, ternyata membuat keadaan saat ini menjadi sedikit canggung.


Seperti yang kita tahu, dulu Marcel sangat menginginkan Kaniya untuk menjadi miliknya, tapi kenyataannya sekarang, dia malahan menikahi adik iparnya Kaniya. Walaupun akhirnya saat ini Marcel benar-benar jatuh cinta kepada adik iparnya Kaniya itu.


"Aku sudah mendaftarkan kamu, kamu urutan nomor 6.Ini , " Marcel memberikan Kartu nomor urut mereka kepada Rani.


"Terimakasih, " jawab Rani acuh tak acuh.


Rani menerimanya dengan sedikit canggung, karena saat ini ada Kaniya di sana.Adik ipar Kaniya itu, juga tersenyum canggung kepadanya. Mungkin Rani malu, karena Kaniya harus melihat dirinya dan Marcel yang bisa kompak datang memeriksakan kandungan Rani berdua danau Marcel mau mengurus keperluan lainnya.


"Aku nomor 6,Kak Kaniya nomor urut berapa?" tanya Rani, mencoba memecah suasana canggung.


"Kakak nomor urut 5,sebelum kamu. " Kaniya menjawab dengan santai.


Lumayan lama menunggu nomor mereka dirinya panggil, Kaniya sesekali memperhatikan kedekatan Antara Marcel dan Rani.

__ADS_1


Kelihatannya pasangan itu mulai saling berbagi, terlihat Marcel yang begitu pengertian, memberikan Rani air minum dengan sangat hati-hati sekali.Sungguh melihatnya para ibu hamil yang lain pasti merasa iri.


Rani juga tak sungkan untuk bersandar di bahunya Marcel, karenanya rasa kantuk tiba-tiba menyerangnya, sedangkan nomor urut mereka akan di panggil setelah tiga nomor lagi di panggil.


Karena bosan menunggu, Rani juga disuapin Marcel cemilan khusus ibu hamil yang terbuat dari outmil.


"Kak Kaniya,mau juga? Ini bagus loh Kak untuk ibu hamil seperti kita," tawar Rani.


"Gak usah Ran, kebetulan Kakak juga bawa, " Kaniya mengeluarkan makanan yang sama dari dalam tas jinjingnya.


"Ooh, O iya Kak,Kakak masih masuk kuliah atau udah cuti hamil? " tanya Rani.


"Rencananya sih bulan depan sudah mulai cuti,gak lama lagi perut Kakak semakin membesar, dan dua bulan lagi akan lahiran. " ujar Kaniya.


"Kalau aku kayaknya gak jadi cuti deh Kak, katakan dokter pas periksa bulan lalu, katanya kandunganku kuat dan bayinya juga sehat, jadi masih bisa lah, sebentar lagi aku juga mau lulus, sayang kalau cuti. " Rani bercerita panjang lebar dengan Kaniya, tapi Marcel hanya diam.


Sesekali pemuda itu melirik kearahnya, tapi Kaniya mencoba bersikap biasa saja seolah-olah dirinya sudah memaafkan Marcel dan menganggap Marcel adalah bagian dari keluarga besar suaminya.


"Kakak tenang aja, jalani aja dengan senang hati, lagipula Kak Kaniya itu kan pintar orangnya, jadi apa yang mesti di khawatirkan. Lain hal nya kalau kayak yang di sebelah aku ini, itu baru sulit, " Ujar Rani menyindir seseorang.Mendengar itu Marcel merasa tersindir.


"Maksud kamu, aku? " tanya Marcel.


"Ups! ada yangg kena. " Rani menutup mulutnya dengan tangan sambil tersenyum kepada Marcel.


"Awas ya kamu, nanti di rumah aku akan balas. " Marcel menaik-naikan alisnya, genit.


Kaniya jadi tertawa melihat kelucuan mereka. "Hahaha, kalian ini ada-ada aja. "


Rani merasa senang, akhirnya bisa melihat Kaniya dan Marcel tidak canggung lagi. Ketiganya pun tertawa.


"Eeee, Kaniya, eh Kak Kaniya ya sekarang.Aku... mau minta maaf atas apa yang dulu pernah terjadi di antara kita. " Marcel mengulurkan tangannya kepada Kaniya yang duduk di sebelah istrinya itu.


Rani terkejut, karena melihat Marcel maupun berinisiatif untuk berbaikan dengan Kaniya. Walaupun hubungan mereka berdua sendiri belum bisanya dikatakan baik-baik saja, karena sampai saatnya ini, keduanya masih saja tidur di kamar yang terpisah.

__ADS_1


Ranieri ikut menatap Kaniya yang kini bengong sambil melihat Marcel dan juga Rani secara bergantian.


"Bagaimana, Kak Kaniya? Apakah kita bisa berbaikan sebagai saudara ipar? " tanya Marcel lagi.


Rani menatap manik mata Kaniya, dia tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, meminta Kaniya untuk menyetujuinya.


Kaniya melepas nafas dalamnya, lalu dia pun menyambut uluran tangan Marcel." Aku juga mintak maaf karena pernah menghajar kamu habis-habisan. "


Kaniya jadi ingat akan hari itu, dimana dirinya mengahajar Marcel yang kedapatan menyembunyikan dan menyekap serta berbuat yang tidak baik terhadap Rani hingga Rani hamil seperti sekarang.


Namun masalalu biarlah menjadi masalalu, jika semuanya memang harus berakhir dengan baik, kenapa kita mencegah seseorang pendosa untuk berubah?


"Alhamdulillah, akhirnya aku bisa bernafas lega.Sekarang aku hanya harus berjuang untuk mendapatkan maaf tulus dari kamu,sayang." Marcel berlutut di hadapan Rani dan disaksikan oleh semua orang yang sedang mengantri di depan ruangan dokter itu.


Kaniya tersenyum,dia juga bisa melihat tatapan tulus di mata Marcel untuk Rani.


"Ayo Rani, tunggu apalagi. Jawablah sesuai kata hatimu, " bisik Kaniya.


Rani bingung, walaupun dia sudah tahu jawaban apa yang akan dia berikan kepada Marcel. Ini bukan kalian pertamanya Marcel meminta berbaikan dengannya, tapi Rani selama ini seolah sedang mengulur waktu, dan masih ragu.


"Ayo, jawab, jawab, jawab. " Semua orang yang menyaksikan mereka berdua terus bersorak-sorai agar Rani mau menerima cintanya Marcel.


"Baiklah, aku mau memaafkan kamu. " Rani akhirnya menyerah kepada cintanya Marcel.


Kaniya pun tak ingin melewatkan moment bersejarah itu, dia mengabadikannya dalam sebuah video yang dia kirimkan kepada suami tercintanya, siapa lagi kalau bukan Mas Raditya Prawira tercinta.


*****


Radit yang baru saja mendengar bunyi denting di ponselnya, langsung melihat pesan apa yang dia terima.


Di saat dia membuka ponselnya itu, Radit sedikit shock. Kaniya mengirimkan video pernyataan cinta Marcel kepada Rani sang adik. Di sana terekam Rani yang mau menerima Marcel dan memaafkan pemuda selengek'an itu begitu saja.


"Sial!! " ucap Radit kesal bukan kepalang.Urat-urat nya bahkan sampai menegang.

__ADS_1


__ADS_2