Kaniya Si Gadis Desa

Kaniya Si Gadis Desa
Marcel Yang Kelaparan


__ADS_3

Sudah seharian di rumah Prawira,sekarang sudah tengah malam,saat ini Marcel merasakan perutnya yang terus saja berbunyi dan terus berbunyi minta diisi.Karena ini malam pertama-nya tidur di rumah keluarga Prawira, Marcel jadi gak enak hati kalau makan banyak saat makan malam tadi.


Walhasil, saat ini Marcel merasakan kelaparan.Tinggal di sebuah rumah yang semua penghuninya membenci kita,itu bukanlah hal yang mudah, bukan?


Sebagai laki-laki,Marcel harus bisa mengendalikan emosinya.Mulai saat ini ia berjanji untuk menjadi manusia yang lebih sabar lagi.Semua itu,demi bayinya.


Karena sudah sangat lapar, Marcel pun keluar dari kamarnya,kamar tamu di lantai satu.Perlahan ia berjalan mencari-cari di mana dapur, tujuan utamanya adalah kulkas.


Setelah hampir kesasar beberapa kali, akhirnya Marcel bisa menemukan di mana keberadaan dapur di rumah mertuanya itu.Sudah pasti tidak jauh dari ruang makan tadi,ia sudah mulai hafal sekarang.


Ternyata disaat bersamaan, Rani juga sedang menuju dapur.Ia sedang merasa lapar tengah malam, hal itu memang biasanya terjadi pada seorang ibu hamil.


Disaat Rani tiba di dapur, ia sangat terkejut karena melihat Marcel juga ada di sana dan sedang memeriksa isi kulkas.Rani langsung berbalik dan hendak pergi.


Mendengar suara langkah kaki,sontak saja Marcel menoleh, "Rani, " panggil Marcel pada istri yang baru tadi siang ia nikahin itu.


Langkah Rani terhenti, ia sangat terkejut karena Marcel memanggilnya.Marcel pun berjalan mendekati dirinya dan menyapanya kembali.


"Hey, kenapa kamu bengong? sedang apa kamu disini? Apa kamu mencariku? " tanya Marcel sambil mengedipkan sebelah matanya kepada Rani.


Rani tak menjawab, ia masih terpaku dan diam membisu, "Ada apa? apa kamu butuh sesuatu?ngidam misalnya? " tanya Marcel lagi.


Tiba-tiba,Rani merasa kalau bibirnya kelu, ia sangat ingin makan makanan yang disuapkan langsung oleh ayah dari bayinya, siapa lagi kalau bukan Marcel.


Melihat wajah Rani yang tegang, membuat Marcel semakin penasaran.


"Hey, ada apa? kok kamu tegang amat.Bilang aja sama aku kalau kamu butuh sesuatu, " ujar Marcel.


"Aku gak pa pa kok, cuma mau ambil buah aja, " Rani berusaha untuk tidak terlihat peduli dengan apapun yang sedang Marcel lakukan.Rani jadi grogi.


"Kalau begitu,biar aku saja yang ambilkan.Kami mau buah-buahan atau apa? " tanya Marcel antusias.


Maklum saja, ini sebenarnya adalah malam pernikahan mereka,dan ini kali pertama Rani terlihat mau bicara dengan dirinya.

__ADS_1


Marcel sudah membuka pintunya kulkas lebar-lebar, sambil menunggu arahan dari mulut Rani tentang buah apa sajakah yang istrinya itu inginkan.


Mendengar dan melihat cara Marcel memperlakukan dirinya,membuat Rani merasakan sedikit kedamaian di hatinya.Matanya memeriksa segala isi kulkas yang terpampang nyata di hadapannya.


"Aku pengen buah Anggur," ujar Rani seraya jari telunjuknya menunjuk ke box berisi buah Anggur di dalam kulkas.


Dengan sigap Marcel mengambilkan box buah Anggur itu, "ini." Marcel memberikan box itu ke tangan Rani.


"Terimakasih, " ucap Rani


Setelah mendapatkan box buah yang ia sukai, Rani pun ingin membawanya ke kamar.Tapi tiba-tiba perutnya berbunyi, "kruukkkkk."


"Apa kamu lapar? " tanya Marcel.


Langkah Rani pun terhenti, ia tidak menjawab. Tapi Rani malah berbalik ke arah meja makan dan hendak duduk di sana. Marcel mengikutinya dari belakang, ia menarikkan sebuah kursi untuk Rani.


"Duduklah, aku akan mengambil kan makanan untuk mu. " Marcel segera mencari makanan padat yang bisa Rani maka,di dapur.


"Biasanya makanan dan lauk di simpan di lemari di bagian atas, yang berwarna putih. " Rani tanpa sadar sudah memberitahu Marcel,karena ia pun sudah tak sabar ingin makan lagi. Biasalah ibu hamil memang sering merasa lapar di malam hari.


Marcel datang dengan membawakan sepiring nasi dan lauknya ke hadapan Rani.Rani pun sudah tidak sabar ingin memakannya, ia sampai menelan air liurnya saking tidak sabar.


"Biar aku suapin, " ujar Marcel.


Anehnya Rani tak menolak keinginan Marcel, ia langsung mengangguk setuju. Mungkin ini karena keinginan anak yang ada didalam kandungannya, Rani hanya bisa membuka mulutnya lebar saat Marcel mulai menyuapi dirinya untuk pertama kalinya.


Entah mengapa makanan yang ia makan terasa lebih nikmat saat di suapin oleh Marcel.Tanpa sadar, Rani sudah menghabiskan separuh dari makanan itu.


"Kruukkkkk."


Terdengar suara perut Marcel yang juga kelaparan,Rani mengernyit mendengarnya.Ia dan Marcel saling menatap.


"Kamu juga lapar?kenapa tidak ambil satu piring lagi? " tanya Rani.

__ADS_1


Marcel jadi malu karena ketahuan,ia pun menggaruk tengkuknya yang tak gatal, "Iya nih, tadi aku masih merasa lapar, makanya aku bermaksud untuk mencari makanan di dapur.Kali aja ada yang bisa dimakan. " Marcel nampak malu.


"Ya udah, nih makan aja. Masih ada separuh lagi kan. " Rani mendekatkan piring itu ke hadapan Marcel.


"Tapi, ini kan punya kamu. "Marcel memajukan piringnya itu kembali ke hadapan Rani.


" Aku sudah kenyang, kamu bisa memakannya, "ujar Rani.


" Baiklah, terimakasih istriku, "ujar Marcel sambil tersenyum.


Hal itu tentu saja bisa membuat wajah Rani bersemu merah.Ia menunduk malu-malu karena Marcel terus menatap wajahnya,sambil menyendokkan makanan ke mulutnya sendiri.


" Apa kamu mau lagi? "tawar Marcel sambil menyodorkan sesendok nasi dan lauknya kepada Rani.


"Hmmmm." Rani mengangguk, ia masih ingin makan, terlebih makanan dari tangan Marcel terasa sangat lezat sekali baginya.Rani juga tidak tau kenapa, padahal ini adalah makanan yang sama yang mereka makan saat makan malam tadi.


Tanpa mereka sadari, mereka sudah menghabiskan satu piring nasi dan lauknya bersama-sama. Setelah semuanya habis tak tersisa, Marcel mengambilkan air minum untuk istrinya itu.


"Minumlah, mungkin adek bayinya juga haus," ujar Marcel.


Rani tidak menyangka kalau pria seperti Marcel bisa perhatian seperti itu,Rani pun menerimanya dan meminum air putih itu dengan perasaan yang tak dapat di ungkapkan.


"Mau ku antar ke kamar?"tanya Marcel.Bukan apa-apa, ia sangat khawatir kalau Rani harus menaiki tangga ke lantai dua dengan kondisi hamil muda seperti itu.


"Aku bisa sendiri kok,lagian aku sudah makan, tenaga ku juga sudah pulih, " jawab Rani.


"Oo, ya sudah. Ini buah Anggurnya, jangan lupa.Mungkin saja nanti anak kita lapar lagi, " Marcel memberikan box buah Anggur yang ada di atas meja kepada Rani.


Rani pun menyambutnya, dan beranjak pergi meninggalkan Marcel.Marcel terus menatap punggung Rani, ingin rasanya ia ikut ke atas.


"Kalau perlu apa-apa hubungi aku, aku pasti akan segera datang, " ujar Marcel dengan suara agak keras.


Namun kali ini Rani tak menggubris nya, ia terus berjalan menaiki anak tangga.Meskipun begitu, Marcel tak patah arang. Baginya, bisa makan sepiring bertiga dengan istri dan juga bayinya saja, itu sudah merupakan suatu mukjizat yang patut ia syukuri.

__ADS_1


Pria itu tak henti-hentinya mengulas senyum di wajahnya.Ia sangat bahagia karena malam ini mereka bisa ngobrol walaupun sesaat.


__ADS_2