Kaniya Si Gadis Desa

Kaniya Si Gadis Desa
Syarat Pernikahan


__ADS_3

Akhirnya keputusan sudah diambil, hari ini Tuan Marco sudah diperbolehkan pulang dengan catatan kalau ada sedikit saja keluhan, ia harus kembali dirawat dirumah sakit.


Tapi tujuan mereka bukanlah pulang kerumah keluarga Prawira, melainkan kerumah keluarga Sudiro.


Mama Sherly sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Rani putrinya, bisa-bisanya putrinya itu mau diam dan tinggal dirumah keluarga musuh seperti saat ini,ia benar-benar tidak habis fikir.


Kedua keluarga itu menggunakan kendaraan terpisah.Pak Anto menyetir untuk Tuan dan Nyonya nya,sedangkan Radit berdua bersama Kaniya di mobil mereka.Marcel dan orang tuanya berada didalam satu mobil yang sama.


Ke tiga kendaraan itu sekarang sudah tiba didepan rumah milik keluarga Pak Erlangga Sudiro itu,Marcel terlihat keluar lebih dulu dan mempersilahkan Tuan dan Nyonya Prawira untuk turun dan masuk kerumah mereka.Sikapnya sungguh sangat sopan kali ini, siapa saja yang melihat pasti tidak akan percaya kalau yang melakukan semua itu adalah seorang Marcel Sudiro.


Sementara itu,Rani yang saat ini sedang berada dikamar juga mendengar suara deru kendaraan yang sepertinya lebih dari satu.Dari tadi ia ingin keluar dari kamar tapi terkunci dari luar, hanya pelayan yang sesekali masuk dan menyediakan makanan dan juga minuman untuknya.


Rani berlari ke arah jendela, ia bisa melihat ada Radit diluar sana.Senyumnya semringah.


"Kak Radit,Kak Kaniya. " ucapnya.


Sekarang ia sudah tak sabar ingin keluar dari sana,ia yakin kalau Radit dan Kaniya pasti datang untuk menyelamatkan dirinya.


Rani kembali ke arah pintu, ia mencoba membuka pintu kamar itu dan anehnya sekali putar sekarang pintu itu langsung bisa dibuka.


cekrek.....


"Kok gak di kunci sih?, perasaan tadi gak bisanya kebuka. " ujarnya.


Rani berlarian keluar, ia ingin segera bertemu dengan Kakaknya. Betapa terkejutnya Rani saat ia melihat Mama dan Papanya juga ada disana.


"Mama, Papa. " serunya.


"Rani."ujar Mama dan Papanya nyaris berbarengan.


Mereka pun berpelukan dihadapan keluarga Marcel.Radit dan Kaniya juga memasuki rumah itu, mereka berdua juga terkejut melihat Rani yang benar-benar ada disana.


" Rani. "panggil Radit.


" Kakak. "Kini Rani menyudahi pelukannya dengan orang tuanya dan berpindah memeluk Radit.


Kaniya hanya bisa tersenyum dari belakang melihat hal mengharukan itu.Ia juga turut bahagia karena Rani sudah ketemu dan sepertinya kondisi Rani juga sehat walafiat dan tak kurang suatu apapun.


" Kamu kenapa bisa ada disini sih Dek?. "tanya Radit.


Baru saja Rani akan menjawab pertanyaan kakaknya,Nyonya Wati langsung menyela.

__ADS_1


" Ayo kita duduk dulu, mari ikut saya ke ruang keluarga. "ujar Mamanya Marcel itu.


Ia sengaja menyela, agar Rani tidak punya kesempatan untuk menceritakan hal yang sebenarnya kepada semua orang.


" Benar sekali Papa Marco,sebaiknya kita duduk dulu. Anda 'kan baru saja keluar dari rumah sakit,pasti capek kalau lama-lama berdiri seperti itu."ujar Marcel, tingkahnya sudah seperti anak yang sangat memperdulikan orang tuanya.


Ia membantu Tuan Marco untuk berjalan menuju ruang keluarga dan juga membantunya untuk duduk.


Tadinya Mama Sherly ingin mencegah, tapi Marcel gerak cepat agar ia bisa mengambil hati Papanya Rani itu.


"Silahkan duduk, Papa mertua. " ujarnya.


Mendengar itu,mata Rani langsung melotot tak percaya.


"Apa maksudnya?, aku saja belum setuju dengan ide gila mu itu!. " sergah Rani.


"Ya ampun sayang, Mama kan sudah bilang.Akan lebih baik kalau kalian itu menikah segera,setidaknya fikirkanlah anak kalian yang akan segera lahir. " ujar Nyonya Wati, wanita itu seakan mempunyai banyak ide yang bisa membuat Rani tak bisa berkutik lagi.


"Tapi Pa, Ma, Rani gak Sudi untuk menikahi bajingan itu. Rani akan membesarkan anak ini sendirian. " jawab Rani yang ditujukan di depan kedua orang tuanya.


"Tapi Nak Rani, bagaimana kalau.... "


"Cukup Mbak Wati. Seperti yang kalian dengar,anak saya Rani tidak sudi menjadi menantu kalian. Apalagi kalau harus menikahi laki-laki yang sudah menghancurkan hidupnya, mimpi saja!. " ujar Mama Sherly.


Rani tidak terima, ia menggelengkan kepalanya,"Tidak, itu tidak mungkin!Semua itu hanya akal-akalan kalian saja!. "ujar Rani.


" Tapi itu semua nyata sayang. "ujar Marcel sambil menyentuh hidung Rani.


" Lepaskan tangan kotor mu itu dari wajah adikku!, jangan coba-coba kau menyakiti Rani lagi. "ujar Radit, geram.Hampir saja ia melayangkan tinjunya kalau saja Kaniya tidak menghalangi.


" Wow, takut 🤣🤣hahahaha, kakak ipar... kakak ipar.Kenapa kamu naif sekali sih, bukankah kalian semua ini adalah keluarga terhormat dan berpendidikan. Kenapa juga kalian masih tidak mau mengerti, yang namanya surat pernyataan diatas materai itu memiliki kekuatan dimata hukum.Sudah jelas pernikahan ini harus terjadi, ini juga demi keponakan kalian yang akan segera lahir dan juga demi nama baik keluarga kedua belah pihak. Masih untung aku mau bertanggungjawab, iya 'kan?. "ujar Marcel santai.


Kaniya menahan geram dihatinya,kalau tidak ingat ia juga sedang hamil, ingin rasanya ia menghajar laki-laki itu untuk kedua kalinya.


" Sudah-sudah, sekarang bagaimana keputusan yang terbaik saja. "ujar Tuan Marco.


" Maksud Papa?. "Rani tidak mengerti, sekarang ia hanya bisa memeluk sang Mama yang juga sedang emosi dibuat Marcel dan keluarganya.


" Kamu duduk dulu sayang,sini. "perintah Papanya.


Mau tak mau Rani pun duduk disebelah sang Papa, ditemani Mamanya.Lalu setelah itu,Tuan Marco pun memulai percakapan yang serius itu.

__ADS_1


" Begini saja sayang,kamu tahu kan kalau Papa sangat menyayangi kamu selama ini?. "tanya Tuan Marco kepada putrinya itu.


" Iya Pa. "jawab Rani.


" Kamu percaya kan sama Papa?. "tanya Tuan Marco lagi.


" Tentu saja Pa. "jawab Rani.


" Menurut Papa, memang sebaiknya kalian berdua menikah saja."


"Apa Pa?!. " Mama Sherly,Radit, Kaniya, dan Rani semuanya terkejut.Mereka semua tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar dari mulut Tuan Marco.


Begitu juga dengan Marcel dan keluarganya, mereka bertiga saling pandang dengan raut keterkejutan yang berbeda. Seperti baru saja menang lotre, terlihat bahagia dan berbinar penuh kemenangan.


"Tidak bisa!. "tentang Mama Sherly.


" Betul kata Mama Pa. "tambah Radit menolak ucapan papanya.


" Tunggu dulu Ma, dengerin dulu penjelasan Papa. "ujar Tuan Marco.


"Apalagi yang mau dijelasin sih Pa? " tanya Mama Sherly.


"Rani akan menikah, tapi dengan persyaratan." ujar Papa Marco.


"Syarat?, syarat apalagi?. " tanya Marcel.


"Pertama, kamu dan Rani akan tetap menjalani kehidupan yang terpisah. Kamu tinggal di rumah keluargamu, dan Rani akan tetap tinggal bersama kami. " ujar Papa Marco.


"Loh, itu tidak mungkin. " jawab Marcel.


"Yang kedua, kamu bisa sesekali menemui Rani dirumah kami."


"Hanya sesekali?. " tanya Marcel,laki-laki itu mendengkus kesal.


"Ketiga, hubungan kalian memang sah secara hukum , tapi kamu tidak perlu memperlakukan Rani seperti layaknya seorang suami, kami masih sanggup untuk memenuhi semua kebutuhan putri kami. " tambah Papa Marco.


"Tapi itu keterlaluan Pak Marco. " ujar Tuan Erlangga, ia kasihan dengan nasib puteranya yang menikah hanya sebatas kertas dan status saja, tanpa hak apapun.


"Keempat, pernikahan ini hanya sampai anak itu lahir. Lalu setelahnya mereka bisa bercerai,kecuali Rani menghendaki untuk melanjutkannya. "


"Apa?!. " Marcel dan kedua orang tuanya tidak terima.

__ADS_1


"Bagaimana? ".tanya Papa Marco ke keluarganya Marcel.


Marcel dan orang tuanya nampak berembuk, mereka sampai minta izin untuk bicara bertiga di kamar orang tuanya.


__ADS_2