
Tadi Paula sudah mengantarkan menu makan malam untuk Radit dikamarnya,sedangkan Kaniya masih berbincang-bincang bersama Oma diruang keluarga.
"Oma,Kaniya boleh gak lihat ruangan yang diujung sana.Emangnya itu ruangan apa sih Oma,kok digembok?."tanya Kaniya kepo.
"Ooo,sebaiknya kamu jangan main kesana.Oma gak akan izinkan siapapun masuk kesana.Itu ruangan kenang-kenangan Oma dan Opanya Radit dulu semasa dia masih ada."Oma hanya menceritakan sekilasnya saja,tapi sejarah dibalik ruangan terkunci itu belum terungkap sepenuhnya.
"Sudah,besok saja kamu baru ajak Radit cari makan diluarnya.Mendingan sekarang kamu istirahat gih,kasihan Radit sendirian ga5 ada temannya.Kamu hibur dia,besok kan dia harus menemui dokter,kalau selesai pemeriksaannya besok,maka besok juga dia harus dioperasi."Kata Oma mengalihkan perhatian Kaniya yang mulai berani banyak tanya soal ruangan rahasianya.
"Kalau begitu,Kaniya permisi dulu Oma."Kaniya pun pamit kekamar.
Setibanya dikamar,Kaniya melihat suaminya yang cacat itu sedang membuka perban diwajahnya.Kaniya tersentak,karena biasanya Radit tidak mau lama-lama membuka perban itu.Biasanya langsung diganti dengan yang baru setelah mengoleskan obat cream nya.
"Tumben kamu buka perbannya,aku sampai kaget."ujar Kaniya heran.
"Kenapa,apa kamu takut melihat wajahku ini?."Tanya Radit dengan tatapan sinis.
"Ya gak lah,aku tadi cuma kaget aja kenapa kamu membuka perbannya lama sekali dan sambil ngaca pula."jawab Kaniya.
"Besok adalah penentuan,apakah wajahku ini bisa kembali tampan atau malah berubah jadi orang lain."kata Radit dengan haru,air mata terpendar dan tertahan di bola matanya.
Sebagai laki-laki yang jarang menangis tapi kali ini dia tak dapat membendungnya lagi.
Kaniya yang melihat kesedihan dimata suaminya itu mencoba mendekatkan dirinya dengan suaminya.
Diraihnya kepala suaminya itu dan didekapnya erat.Radit yang masih duduk dikursi rodanya dan masih mengenakan handuk saja karena baru selesai mandi menjadi gelagapan.
Dia tidak menyangka kalau Kaniya bisa melakukan hal seperti itu,begitu dewasanya walau umurnya baru 18 tahunan.
Kaniya mengusap-usap punggung Radit sambil berkata:
__ADS_1
"Sudah,semua akan baik-baik saja.Tidak usah sedih,mending kita berdo'a kepada Allah semoga semuanya baik-baik saja.Aku juga akan mendo'akan semoga kamu bisa pulih seperti semula.Aku juga penasaran gimana wajah asli kamu yang katanya ganteng selangit itu."Kaniya mencoba mencairkan suasana hati Radit.
"Terimakasih,istri-ku."Radit membenamkan wajahnya di dada istrinya itu.
Tanpa Kaniya sadari bahwa suaminya itu sudah menahan harsratnya selama berhari-hari tinggal bersama dirinya.
Gadis desa itu tidak memikirkan sampai kesana,yang dia tahu bahwa dia sekarang sedang menenangkan seseorang yang sedang butuh tempat bersandar.
Radit tiba-tiba mengecup dada istrinya itu,dengan kecupan seperti menggigit.Sehingga meninggalkan warna merah khas kiss mark.
Kaniya yang tidak pernah punya pengalaman seperti itu hanya melongo,dia tidak mengerti apa yang baru saja terjadi.Dia hanya menatap Radit dan bilang:
"Awww,Sakit tau!!."Kaniya setengah berteriak.
"Kenapa,apa kamu mau lagi?."tanya Radit.
"Ihhh,kamu ya..nakal banget.Kenapa kamu bikin tanda merah disini?"
"Tanggung jawab,ini kamu apakan sih?."Kaniya marah-marah.
"Sini biar aku hilangkan."Kata Radit seolah-olah mau membantu.
Kaniya yang mendengar itu mengira bahwa radit memang akan menghilangkan bekas merah itu.
Namun alih-alih menghilangkan tanda merah,Radit malah menambahkan lagi didada Kaniya yang sebelah nya.
Refleks Kaniya mendesah karena geli.
"Geli tau!!."kaniya memukul lengan Radit.
__ADS_1
Namun Radit menahan tangannya dan menariknya,sehingga wajah Kaniya tepat berada didepan wajahnya.Hanya berjarak setengah cm saja,tanpa fikir panjang Radit yang jiwa kelelakiannya merontah-rontah kini sudah melu*at bibir istri kecilnya itu.
Kaniya yang mendapatkan serangan tiba-tiba tak bisa berbuat apa-apa.Walau dia berusaha memberontak tapi tetap tidak bisa lepas.
Tenaga Radit jauh lebih besar dari tenaganya,dia hanya bisa pasrah dan menikmati ciuman itu saja.
Radit menyudahi ciumannya ketika dia merasa nafas Kaniya sudah tersengal-sengal.
"Apa yang kamu lakukan?."tanya Kaniya dengan mata yang akan segera menumpahkan hujan lokal.
"Kamu tahu,sekarang aku merasa bahwa kamulah orang yang membuat hidupku menjadi berwarna dan bahagia.
"Tapi,apa begitu caranya?."tanya Kaniya polos.
"Kamu itu sudah sah menjadi istriku,jadi aku juga berhak atas diri kamu.Mau ku apakan saja tak akan ada yang bisa melarangnya."Radit menjelaskan.
"Tapi...tapi..."Kaniya malu-malu mengatakan isi pemikirannya.
"Kaniya,percayalah.Aku sudah mulai menyukaimu,apa tanggapanmu?."Radit bertanya dengan penuh harap.
"Ya biarkan waktu yang menjawabnya."jawab Kaniya.
"Tapi kamu mau kan hidup bersama ku,walaupun nantinya operasiku tidak berhasil?."lagi-lagi Radit berusaha mendapatkan hati istrinya.
"Apa kamu melupakan bahwa aku tidak bisa pergi dari mu,bahkan aku sendiri yang membuat perjanjian itu.Bahwa kita tidak akan pernah bercerai."jelas Kaniya.
Membuat Radit semakin menggebu-gebu,dia mengenggam erat jari jemari Kaniya.
"Aku ingin mendengar kamu memanggil ku Mas Radit mulai sekarang."titah Radit.
__ADS_1
š