
Demi keutuhan rumah tangganya, kini Radit terpaksa mengikuti kemauan istrinya yang tidak mau pulang kerumah orang tuanya lagi.
Radit mengantarkan Kaniya pulang ke kostnya.Sebenarnya ini kost khusus cewek, jadi Kaniya harus melapor dulu ke pemilik kost kalau ia kedatangan tamu yang tak lain adalah suaminya.
untung saja ia dan Radit bisa menunjukkan cincin kawin mereka yang bertuliskan nama masing-masing pasangan di dalamnya.
"Kenapa tidak menunjukkan foto pernikahan kalian saja?. " tanya Ibu kost.
"Kebetulan kami tidak menyimpan foto pernikahan kami Bu, sebenarnya saat itu keadaan suami saya baru saja mengalami kecelakaan, dan wajahnya terluka parah.Jadi wajahnya ditutup dengan perban.Jadi ya... "
Kaniya ragu untuk melanjutkan perkataannya.
"Ini Bu, saya punya foto pernikahan kami waktu itu. " Radit menunjukkan foto yang ia simpan di ponselnya,Ibu kost jadi meneliti foto dan mencocokkannya dengan wajah Radit yang tampan.
"Ini benar kamu?. " tanya Ibu kost itu.
"Iya Bu itu benar saya. Dulu wajah saya rusak terkena pecahan kaca mobil, dan sekarang alhamdulillah sudah sembuh seperti semula lagi. " ujar Radit jujur.
"Ohh, begitu.Ya sudah kalau begitu tanda tangan disini, saya tidak mau mengambil resiko kalau terjadi sesuatu nantinya. " ujar Ibu kost itu.
Setelah semuanya selesai,Radit segera membawa istrinya masuk.
"Sebaiknya kita menginap di hotel saja tadi. " ujar Radit sambil berjalan menyusuri lorong rumah Kost menuju ke kamar istrinya.
"Untuk apa Mas, buang-buang uang. Lagian disini aku sudah bayar full kok. " jawab Kaniya.
"Apa kamu memang berniat tidak akan kembali pulang dan ninggalin aku dalam waktu yang lama?. " tanya Radit yang langkahnya seketika berhenti.
"Yaaa, tadinya kayak gitu sih. Tapi setelah aku tau kalau aku hamil, rasanya tidak adil buat anak kita kalau aku menjauhkan ia dari Papa nya. " jawab Kaniya.
"Untunglah kamu masih punya hati nurani,kalau tidak pasti kamu sudah tega membiarkan anak kita lahir tanpa mengenal Papa nya. " ucapan Radit kembali membuat mata Kaniya berkaca-kaca.
__ADS_1
"Apa aku setega itu? . Benar sih,tadi pagi sempat kepikiran untuk menyembunyikan semua itu dari Mas Radit. "bathin Kaniya.
"Sudahlah honey, jangan dipikirkan.Aku tidak mau kamu banyak pikiran, ingat! sekarang ada anak kita didalam rahim kamu. Jangan sampai kamu kenapa-napa, karena kalau kamu kenapa-napa, bayi kita juga bisa merasakannya. "
"Iya Mas, maaf. "
Kaniya mendahului Radit dan ia langsung membuka pintu kamar Kostnya begitu ia sampai di depan sebuah pintu berwarna cokelat.
"Jadi beberapa hari menghilang kamu tinggal disini?. " ujar Radit, ya... lebih ke nanya sih.
"Iya Mas, tempatnya agak tersembunyi dari jalan raya, dan tempatnya juga nyaman. Walaupun kecil, tapi fasilitasnya lengkap. " jawab Kaniya.
Ia lalu mendudukkan tubuhnya diranjang kecil berukuran nomor tiga.Kalau untuk dua orang memang muat sih, tapi empet-empetan.Sama sekali tidak leluasa untuk bergerak kesana kemari.
"Kamu istirahat dulu, biar aku yang beres-beres.Besok kita pindah ke rumah perkebunan saja, gak jadi kerumah Oma.Kamu akan mudah aku awasi kalau disana sekalian aku kerja juga. " ujar Radit.
"Tapi rumah makanku?? bagaimana???. " Kaniya bingung sekarang, dia udah janji buat mewawancarai para pelamar kerja yang iklannya sudah ia buat di media sosialnya.
"Tapi... itu artinya jarak antara kampus dan juga rumah makan yang akan aku rintis jadi makin jauh dari jangkauan. " ujar Kaniya.
"Kamu tenang aja, kan ada mobil.Aku akan siap selalu mengantarkan kamu kemana aja.Memangnya dimana letak rumah makan kamu itu??. " tanya Radit kemudian.
Kaniya terlihat ragu untuk menjawab pertanyaan dari suaminya itu, bagaimana kalau Radit tau bahwa tempat yang ia sewa untuk rumah makan adalah milik Pak Beno dosennya yang sampai saat ini memiliki perasaan kepadanya.
"Eee, gak jauh dari sini kok Mas.Di perempatan sana ke arah kecamatan OGAH. " jawabnya ragu.
"Kamu gak perlu sembunyikan apapun dari aku lagi honey,kita akan tetap bersama walau apapun yang terjadi.Kamu ingat kan perjuangan kita selama ini?, dulu bahkan kita hampir berpisah.Tapi cinta kita lebih kuat daripada segala rintangan itu honey." Radit menggenggam tangan Kaniya dengan kedua tangan besarnya, meyakinkan sang istri kalau tidak akan ada satu hal pun yang bisa merubah perasaannya kepada istri kecilnya itu.
"Tidurlah." ujar Radit sembari memberikan kecupan kecil di kening mulus istrinya lalu mengusapnya pelan.
Kaniya pun menurut, ia juga rindu sentuhan itu.Hatinya berbunga saat suaminya yang ia rindukan kini telah berada disampingnya sambil mengelus-elus lengannya juga agar terlelap.
__ADS_1
Setelah memastikan kalau istrinya itu sudah benar-benar tertidur, Radit segera mengambil ponselnya dan menghubungi sang Papa. Radit tak lupa meminta Papa nya agar kerahasiakan dulu sementara waktu tentang dirinya dan Kaniya dari Nyonya Sherly sang Mama.
Mengingat apa yang Mamanya ucapkan tadi pagi di telepon,Radit khawatir kalau Mamanya akan menyalahkan Kaniya lagi atas kepergiannya dari rumah.Radit mengabari Papa nya bahwa dia baik-baik saja bersama Kaniya.
Papa Marco pun turut bahagia mendengar kalau Radit sudah bersama Kaniya sekarang, satu kekhawatiran yang beberapa hari ini ada didadanya sudah hilang.
"Alhamdulillah kalau begitu Dit, Papa minta kamu jaga istrimu baik-baik.Biar urusan Mama Papa yang akan tangani. Kamu harus jadi suami siaga, jaga cucu Papa juga. "
ujar Papa Marco.
Iya, Radit tadi sempat cerita semuanya, ia bilang kalau Kaniya sekarang sedang mengandung anaknya pada sang Papa.
Setelah sambungan telepon itu dimatikan, Papa Marco kembali ke kamarnya. Tadi ia sengaja bicara diruang kerja yang ada dirumah itu.
"Dari mana aja si Pa?. "tanya Mama Sherly.
" Gak dari mana-mana sih Ma, cuma dari ruang kerja aja meriksa file. Besok kan aku mulai ngajar lagi di kampus, sudah lama aku istirahat."ujar Papanya Radit dan Rani itu.
"Ohhh, kirain Papa sedang main sembunyi-sembunyian dari Mama. "
DEG....
"Sembunyi-sembunyian apa sih Ma?, Mama tau kan kalau Papa ini sibuk.Gak ada waktu buat mikirin hal yang gak penting." jawab Papa Marco santai.
"Bisa saja kan Papa secara sembunyi-sembunyian mendukung Radit dengan istrinya yang suka kabur itu?!. " ketus Mama Sherly.
"Mama lupa ya, kalau Kaniya itu adalah menantu pilihan Mama sendiri?!. " sinis Papa Marco.
"Ya memang, tapi itu dulu.Sebelum Mama tau belangnya!." jawab Mama Sherly ketus.
"Sudahlah Ma, biarkan mereka menyelesaikan urusan rumah tangganya sendiri.Mama juga gak suka kan kalau urusan rumah tangga kita direcokin sama Ibu aku?, nah seperti itulah mereka sekarang. Biarkan mereka urus masalah mereka sendiri Papa juga ngantuk mau tidur. " ujar Papa Marco sambil rebahan dan menarik selimutnya sampai ke dada.
__ADS_1
Sementara Mama Sherly jadi mendengkus kesal bukan main sambil melirik punggung suaminya yang tidur dengan membelakangi dirinya.