
Rani yang baru saja keluar dari kampusnya dengan mengendarai mobil sedan miliknya tidak menyadari kalau sekarang dirinya sedang diikuti oleh sebuah mobil minibus.
Karena sudah waktunya makan siang, Rani pun bermaksud untuk mencari restoran yang tak jauh dari kampusnya saja karena setelah ini ia juga harus segera kembali lagi ke kampusnya.
Setelah memasuki restoran yang menjual masakan kekinian, Rani pun memesan beberapa menu yang menggugah seleranya.
Disaat sedang asyik menikmati makan siangnya itulah, tiba-tiba ia didatangi oleh sepasang suami-istri yang tadi pagi menyambangi Papa dan Mamanya dirumah sakit.Siapa lagi kalau bukan Tuan Erlangga dan juga istrinya Nyonya Wati.
"Boleh kami duduk disini?. " tanya Nyonya Wati dengan senyuman termanisnya.
Rani yang sama sekali tak mengenal kedua orang yang berada di hadapannya ini pun mendadak bingung.Maklum saja, selama hampir sebulan setelah ia mengalami penyekapan itu, tak satupun dari keluarga Marcel pernah menemuinya meskipun ia sebagai korbannya.
Hal itu memang sangat dihindari oleh keluarga Prawira, terutama Nyonya Sherly yang sama sekali tidak membuka akses kepada pihak Marcel untuk menemui mereka. Selama ini pengacara dan pihak yang berwajiblah yang mengurus semua permasalahan diantara pihak keluarga Prawira dan juga Marcel.
"Maaf, kalau boleh saya tau. Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?. " tanya Rani penasaran.
"Ehhhh...begini nak Rani, boleh..kami duduk dulu, nanti saya jelaskan. " ujar Nyonya Wati.
"baiklah, silahkan... " Rani menunjuk kursi yang masih kosong.
Setelah pasangan itu duduk di meja yang sama dengan Rani,akhirnya Nyonya Wati yang memulai pembicaraan lebih dulu.
"Mmm... begini Nak Rani... "
"Anda tau nama saya?. " tanya Rani lagi, dia heran aja,kenapa wanita dihadapannya ini mengetahui siapa namanya.
"Tentu kami tau nak Rani,begini... kenalkan dulu ini suami saya namanya Erlangga Sudiro, dan saya Wati Sudiro.Kami berdua adalah calon mertua kamu. " ujar Nyonya Wati dengan tanpa basa-basi.
"Apa?!, calon mertua, bagaimana maksudnya?. " Rani semakin tidak mengerti apa maksud Nyonya itu.
"Sebenarnya, kami sangat ingin sekali...Nak Rani bisa menerima lamaran kami." bujuk Nyonya Wati dengan kata-kata manisnya.
"Maaf Bu, tapi saya sama sekali belum mengenal Ibu dan keluarga Ibu. Apalagi mau dijadikan menantu Ibu dan juga Bapak, saya bahkan tidak mengenal anak kalian juga. " jujur Rani .
"Kamu mengenal putera kami, bahkan kamu sangat mengenalnya Nak. "
__ADS_1
"Maksud Ibu?,s-saya tidak mengerti. "Rani semakin bingung.
" Kami orang tuanya Marcel Nak. "jawab Pak Erlangga.
" Benar nak Rani, kami harap nak Rani bersedia menikah dengan Marcel putera kami saru-satunya.Izinkan dia menebus semua dosa-dosa yang sudah ia lakukan padamu Nak. "bujuk Nyonya Wati lagi.
" Gak,, aku gak mau!.Anak kalian itu sudah menghancurkan hidupku, masa depanku. Bahkan ia sudah membuat aku dan keluargaku harus menanggung malu, apalagi... "Rani menghentikan ucapannya saat sadar bahwa ia hampir mengatakan kalau sekarang inilah ia tengah mengandung anak dari Marcel, laki-laki yang sudah menodainya.
" Kamu sedang mengandung anaknya 'kan?, cucu kami. "ujar Nyonya Wati.
Sontak saja hal itu membuat Rani sangat terkejut tak percaya, sampai mulutnya menganga dan dengan cepat ia menutupnya dengan tangannya.
" Tenang nak Rani, kami sudah tau semuanya."ujar Tuan Erlangga.
"Iya Nak,Nak Rani gak usah khawatir. Kami akan menjaga nak Rani seperti kami menjaga putri kami sendiri. " ujar Nyonya Wati.
"Hekh!!, Anda sangat lucu. Menjaga perilaku putera anda saja anda tidak bisa, sekarang kalian ingin menjaga saya 😅. " Rani berdecih.
"Kami janji Nak, kalau nak Rani jadi menantu kami. Kami akan pastikan kalau nak Rani akan selalu bahagia, dan Marcel pasti akan bisa menjadi suami yang baik untuk nak Rani. " ujar Tuan Erlangga. Suami istri itu saling membantu untuk membujuk Rani.
"Nak Rani, tunggu nak." panggil Nyonya Wati sambil berjalan cepat mengejar Rani.
"Saya rasa sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Maaf saya mau pergi. " ujar Rani.
"Tidak Nak, sebentar tunggu dulu. Dengarkan dulu saya bicara. "
"Apalagi yang mau dijelaskan Bu?, saya tidak ada urusan lagi dengan anak anda maupun anda dan suami anda. " ujar Rani lantang.
"Kami ngerti nak, tapi bayi yang ada didalam rahim nak Rani itu juga adalah cucu kami.Kami berhak atas dirinya,sama seperti nak Rani.Alangkah lebih baik kalau kita bisa membesarkan anak itu bersama-sama, iya 'kan sayang. " tak jemu-jemu Nyonya Wati membujuk Rani dengan segala cara agar wanita muda itu mau menerima lamarannya.
"Maaf Bu, saya tidak membutuhkan tanggungjawab dari anak Ibu ataupun keluarga Ibu.Saya bisa membesarkan anak ini sendiri tanpa kalian,keluarga saya juga mau menerimanya. " Rani segera masuk kedalam mobilnya dan pergi meninggalkan tempat itu, moodnya seketika berubah setelah bertemu dengan pasangan suami istri yang mengaku sebagai orang tuanya Marcel tadi.
"Yang benar saja, masa' aku harus menikah dengan pria brengsek itu! Mimpi kalian!. " umpat Rani kesal. Ia meluapkan emosinya dengan sedikit mengebut dijalan.
****
__ADS_1
Sedangkan direstoran tadi. Pasangan suami istri yang baru saja ditolak lamarannya hanya bisa geleng-geleng karena ternyata membujuk Rani sama sulitnya dengan membujuk Mamanya Nyonya Sherly.
"Mama sama anak sama saja Pa. " ujar Nyonya Wati.
"Maklumin saja Ma, mereka merasa diatas angin. Tapi nanti mereka sendiri yang akan memohon untuk menikahkan anak mereka dengan anak kita. " jawab suaminya dengan percaya diri.
"Memang Papa tau caranya?. "
"Kita lihat saja nanti. " ujar Tuan Erlangga dengan seringai liciknya.
"Tapi terus terang saja Pa, Mama suka deh sama Nak Rani. Dia itu persis banget seperti Mama waktu muda dulu. "
"Iya Ma, Mama benar. Kalian berdua itu sama-sama angkuh, pasti kalian sangat cocok kalau dijadikan pasangan mertua dan menantu. " sahut suaminya.
"Tuh Papa tau,Marcel memang harus berhadapan dengan istri yang tangguh seperti nak Rani agar dia bisa berubah."
"Tapi kalau menurut Papa, gadis yang cocok untuk Marcel itu haruslah gadis yang penurut dan lemah lembut.Kalau sama-sama kerasnya, pasti bakalan terjadi perang dunia terus nantinya." sela Tuan Erlangga.
"Apa Papa lupa kalau gadis itu sekarang sedang mengandung cucu kita?!. "
"Iya sih Ma,hemmm...anakmu juga yang salah sih Ma.Mau tak mau kita akan lanjutkan rencana berikutnya.Senakal apapun anak itu, dia tetap putera kita saru-satunya, jadi mau tak mau kita harus mengupayakan kebebasannya. " ujar Tuan Erlangga sambil berkacak pinggang.
"Kalau begitu ,ayo kita mengunjungi Marcel dipenjara.Kita paksa dia untuk mau menikahi gadis itu, suka tidak suka.Toh ini juga demi kebebasannya. "
"Ya udah, ayo. "
"Kasih tau anak buah Papa untuk terus menjaga calon cucu kita.Ikuti terus Nak Rani kemanapun ia pergi. " ujar Nyonya Wati lagi.
"Iya Maaaaa, bawell!. "
"Demi cucu kita Pa. "
"Iya, ini Papa telepon Jarwo dulu. "
😊😊😊😊
__ADS_1