
Sebulan tak terasa telah berlalu, Radit mengajak Kaniya pindah kerumah baru yang ia beli sebagai kejutan. Untung saja usaha perkebunannya mulai stabil lagi, oleh karena itu Radit bisa mewujudkan impian istrinya untuk punya rumah sendiri.Meskipun jaraknya cukup jauh dari kampus dan juga tempat usahanya, tapi Kaniya tetap bersyukur karena suaminya itu bersedia menuruti keinginannya.
Sedangkan di kediaman Prawira, Nyonya Sherly merasa kalau puteranya itu makin jarang pulang kerumah. Suaminya Tuan Marco sengaja tidak memberitahukan kepada istrinya itu kalau sebenarnya Radit dan Kaniya sudah berbaikan dan bahkan sudah membeli sebuah rumah yang sederhana dan tinggal bersama.
Tapi sesuatu yang buruk kembali tidak bisa dihindari, karena akibat dari pemer*osaan itu sekarang Rani sedang muntah-muntah. Gadis itu mengeluh perutnya mulas dan juga mengalami mual yang sangat menyiksanya.
"Ada apa Rani, kamu masuk angin?. " tanya Mamanya.
"Gak tau Ma, rasanya tidak enak banget. Badan Rani meriang, dan mual juga Ma. "
"Apa??!. Jangan-jangan... " Nyonya Sherly jadi terpikir dengan peristiwa naas yang menimpa putri kesayangannya itu.
"Jangan-jangan apa Ma?. " tanya Rani.
"Jangan-jangan, kamu... hamil anak baj*ngan itu!. " ujar Nyonya Sherly cemas.
"Rani gak mau Ma, Rani gak sudi jika harus mengandung benih dari laki-laki breng*sek itu Ma. Hiksss... hiksss... " Rani meronta dan bersedih. Ia menumpahkan segala kesedihannya dipelukan sang Mama.
"Ada apa ini Ma, kenapa Rani teriak-teriak?. " tanya Tuan Marco sang Papa.
"Ini berita buruk Pa, kemungkinan Rani kita.. ha.. mil Pa."
"A-Pa???!! . " Tuan Marco pun shock, ia memegangi dada kirinya dengan tangan kanannya.
Hantaman berat itu membuat dirinya tumbang, hati siapa yang tak sakit ketika mengetahui anak gadis satu-satunya kini sedang terpuruk dan mengandung benih si pemer*osa itu.
"Papa.... Papa...!!!. " Nyonya Sherly panik ketika melihat suaminya pingsan mendada dan tergeletak di lantai.
"Ada apa ini Ma?. " Radit yang baru saja datang kerumah orang tuanya jadi terkejut melihat kondisi orang-orang tersayang nya kini sedang menangis dan sampai-sampai Papa nya pingsan seperti itu.
"Papa pingsan Kak,cepat antar Papa kerumah sakit. "
Tanpa banyak berpikir, Radit segera membawa Papa nya kerumah sakit dan diikuti oleh Mama dan juga adiknya Rani.
Sesampainya dirumah sakit, Tuan Marco langsung dilarikan keruang gawat darurat,dokter mengatakan kalau beliau terkena serangan jantung ringan.
Semuanya panik,apalagi Rani yang terus saja menangis tanpa henti ,membuat Radit bertanya-tanya apakah gerangan yang terjadi pada adiknya itu?.
"Rani, sudah sayang. Berhentilah menangis. " ujar Nyonya Sherly pada putrinya itu.
"Ada apa dengan Rani Ma?. " Radit juga jadi heran, bukankah kondisi Rani belakangan ini sudah berangsur-angsur membaik, kenapa malah semakin down?. pikir Radit.
"Rani.... Hiksss... " Nyonya Sherly malah ikutan menangis.
"Rani kenapa Ma?!. " perasaan Radit jadi makin tidak enak.
"Radit,,, adikmu... ha.. mil. " ujar Nyonya Sherly terbata.
"A-pa Ma??!, hamil??. " Radit menguar rambutnya frustasi.
"Cobaan apa lagi ini Tuhan??. " geramnya.
"Apa sudah diperiksa ke dokter Ma?. " tiba-tiba Radit kepikiran.
__ADS_1
"Belum Dit,ya.. kamu benar. Semoga saja Rani tidak benar-benar hamil, ayo sayang kita kedokter kandungan untuk periksa apakah kamu beneran hamil atau tidak. " tanpa basa-basi Nyonya Sherly menarik tangan Rani dan membawanya ke ruangan dokter kandung.
"Maaf Ibu, apakah sudah mendaftar?. " tegur suster yang ada didepan ruangan dokter kandungan itu.
"Belum sus?. "
"Kalau begitu, silahkan Anda mendaftar dulu di bagian administrasi. " ujar Suster itu sambil menunjukkan meja resepsionis bagian pendaftaran pasien.
"Baik, terimakasih sus. Maaf sudah mengganggu. " Nyonya Sherly gak enak hati jadinya.
"Tidak apa-apa Bu, silahkan. " ujar suster itu lagi.
Setelah mendaftar, akhirnya tiba giliran nama Rani dipanggil.Ibu dan anak itu masuk kedalam ruangan pemeriksaan, dan setelah diperiksa ternyata benar Rani sedang mengandung. Dan itu sudah pasti anak laki-laki yang sudah memper*osa dirinya waktu itu, siapa lagi kalau bukan Marcel lah ayah dari bayi itu.
Dengan perasaan yang benar-benar hancur, Rani menangis sejadi-jadinya diruangan dokter. Sebagian rumah sakit juga sudah tahu kalau Rani merupakan korban pemer*osaan.Jadi para dokter sudah tidak heran lagi, mereka pun turut bersedih atas musibah yang menimpa putri bungsu Prawira itu.
****
Disaat Radit masih sibuk menunggui Papanya di UGD dokter datang dan bilang kalau Tuan Marco akan dipindahkan ke ruangan perawatan.
Setelah mengurus administrasi nya, Radit segera mengikuti brangkar yang membawa Papanya menuju ruang perawatan.Disaat yang sama itulah, Kaniya menelponnya.
Melihat istrinya yang menghubungi dirinyara,Radit segera mengangkat panggilan itu.
"Ya, hallo honey.Aku juga tadinya mau hubungi kamu. "
Memangnya ada apa Mas?.Entah kenapa dari tadi aku kepikiran soal Papa terus."ujar Kaniya.
"Kamu benar honey, Papa.. sedang dirawat dirumah sakit sekarang. Beliau tiba-tiba anfal. " jawab Radit .
"Dirumah sakit Sejahtera,paviliun Anggrek nomor 9." jawab Radit.
"Oke Mas, aku akan segera kesana. " Kaniya mempercepat langkahnya, saat ini ia sedang dikampus, dan ia harus minta izin dulu untuk keluar.
Setelah mendapatkan izin, Kaniya pun segera menuju ke rumah sakit yang disebutkan oleh suaminya itu dengan menaiki ojek online.
Sesampainya dirumah sakit, Kaniya segera berlari menuju ruangan paviliun Anggrek nomor 9 seperti yang Radit katakan di telepon tadi, setelah bertanya pada bagian resepsionis, akhirnya Kaniya bisa mendapatkan petunjuk dimana ruangan itu berada.
Dan ketika ia sampai diruangan rawat Papa mertuanya itu, tiba-tiba semua yang ada disana terkejut, kecuali Radit suaminya.
"Kamu... "ujar Mama mertuanya.
"Kak Kaniya... "ujar Rani adik iparnya.
Kedua nya sama-sama kaget dengan kedatangan Kaniya yang tiba-tiba masuk tanpa mengetuk pintu.
Tanpa menghiraukan ucapan Mama dan Adik iparnya itu, ia segera masuk dan mendekati ranjang dimana Tuan Marco kini sedang terbaring lemah dengan begitu banyak selang kecil didadanya.
Tangan Papa mertuanya itu juga di infus, dan matanya masih terpejam tak sadarkan diri.
" Siapa yang memberitahukan kamu?. "tanya Nyonya Sherly dengan nada tinggi.
" Ma, sudah Ma. Radit yang kasih tau Kaniya. "jawab Radit.
__ADS_1
" Oh, jadi kalian sudah kembali berkomunikasi rupanya. Kenapa kamu gak pernah kasih tau Mama Dit?!. "Nyonya Sherly jadi berang.
" Sudahlah Ma, jangan bahas itu dulu. Sekarang yang terpenting itu adalah kesehatan Papa."jawab Radit.
Nyonya Sherly menatap nanar ke arah menantunya itu, ada secercah ke tidak setujuan disana. Kaniya bisa merasakan.
"Ma.. " Kaniya tiba-tiba menegurnya sambil mengulurkan tangannya.
Melihat hal itu,Mama mertuanya itu malah bengong tak percaya.
Tanpa diminta, Kaniya langsung menyambut tangan Mama mertuanya itu dan menciumnya.
"Maafin Kaniya Ma, selama ini Kaniya memang salah. " Sebagai yang lebih muda, ia tau harus bersikap seperti apa. Walaupun bukan dia yang salah, tapi tak ada salahnya mengaku salah, agar Mama mertuanya itu senang dan mau berdamai dengannya. Semua itu ia lakukan demi kebahagiaan suaminya, Radit.
"Sadar juga kamu akhirnya, Mama maafin!. " jawab Nyonya Sherly ketus,walaupun kesal tapi didalam hatinya ia masih sangat menyayangi Kaniya.Bukankah dulu mereka sangat akrab dan saling menyayangi. Bahkan sangat kompak.
"Bagaimana Papa bisa seperti ini Ma?. " tanyanya memberanikan diri.
Mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh kakak iparnya itu, sontak saja Rani kembali terisak.
Perlahan tapi pasti ia kemudian menceritakan kejadian na'as yang baru saja ia alami. Dimana sekarang ia sudah dinyatakan positif hamil.
"Hamil??. " Kaniya terkejut bukan kepalang.
"maksud kamu?anak itu...?. " Kaniya menerka
"Iya Kak.. hiksss. " isak Rani yang disertai anggukan kepalanya.
Kaniya langsung memeluk adik iparnya itu setelah tau kenyataan pahit yang harus dialami Rani.
Kedua wanita hamil itu saling berpelukan.Rani pun bisa merasakan perubahan pada tubuh Kaniya yang mulai berisi dari sebelumnya saat mereka berpelukan.
"Kak Kaniya, apakah Kakak juga sedang...?. " tanya nya ragu.
"Iya Rani, aku juga sedang hamil. Kita akan menjadi Ibu bersama-sama ya Kamu gak usah takut. " ujar Kaniya mencoba menenangkan adik iparnya itu.
"Terimakasih Kak. " mereka kembali berpelukan.
"Apa benar itu Dit?. " tanya Nyonya Sherly.
"Benar Ma, sebentar lagi Radit akan jadi seorang Ayah. Papa juga sudah tau kalau sebentar lagi Papa dan Mama akan menjadi Opa dan Oma. " ujar Radit.
"Benarkah??, oh.. jadi Papa sudah tau semuanya?. " Nyonya Sherly tak percaya.
"Sudah waktunya makan siang Ma, bagaimana kalau Mama dan Rani ikut aku makan siang di restoran. Kebetulan Kaniya juga mau ngecek disana. " ujar Kaniya.
"Ngecek apa Kaniya?. " tanya Mama mertuanya itu.
"Sekarang istri Radit ini sudah punya usaha sendiri Ma, Kaniya buka rumah makan. Mama pasti akan pernah melihat rumah makan itu. " ujar Radit.
"Jangan bilang, kalau rumah makan yang besar ditengah kota yang baru dibuka itu punya kamu? ".tebak Nyonya Sherly.
" Tepat sekali Ma, sudah.. sebaiknya sekarang Mama dan Rani ikut Kaniya makan disana. Biar Papa Radit yang jagain. "ujar Radit.
__ADS_1
" Titip Papa ya kalau begitu. "sahut Nyonya Sherly, entah kenapa dibalik musibah ini ia merasa ada hikmahnya.Urusan kehamilan Rani akan mereka pikirkan nanti solusinya.