Kaniya Si Gadis Desa

Kaniya Si Gadis Desa
Gak Mau Sekamar


__ADS_3

Walaupun Rani terus saja meronta minta diturunkan dari gendongan Marcel,tapi nyatanya suaminya itu masih terus saja menggendongnya sampai ke dalam kamar yang ada di gedung pernikahan itu.


Ini memang bukan hotel, tapi disediakan tempat untuk beristirahat bagi para keluarga klien calon pengantin.


"Turunin saya! " bentak Rani.


"Bentar juga diturunin. " Marcel membuka pintu kamar itu dan langsung menaruh Rani di atas tempat tidur.


"Sebaiknya kamu segera keluar, aku mau mandi dan ganti baju!" Rani mendorong tubuh Marcel ke arah pintu yang masih terbuka.


"Kalau mau ganti pakaian, ya tinggal ganti aja. Apa sih susahnya,tidak perlu malu lah sama aku.Toh aku juga sudah sering melihat semuanya, " ujar Marcel dengan santainya.Pria itu malah duduk santai di atas sofa sambil membukakan sepatu fantofel yang dipakainya.


"Kamu ngapain masih disini,sebaiknya kamu segera keluar dari sini. Aku gak mau satu kamar sama kamu! "sergah Rani.Wajah nya sudah sangat cemas dengan adanya Marcel di ruangan itu.


"Kamu ini kenapa sih sayang, dari tadi marah-marah melulu.Dimana-mana orang yang baru menikah itu romantis sama pasangannya,ini malah sebaliknya.Kok kamu kasar gitu sih sama suami kamu sendiri?Mmm?"tanya Marcel sambil berdiri dan menoel dagu Rani dengan gaya menggodanya yang selenge'an.


"Jangan berharap hubungan kita akan sama seperti mereka yang lain ya!,kamu harusnya ingat kalau hubungan ini terjalin karena anak dalam kandunganku ini dan juga demi nama baik keluarga ku saja!bukan karena cinta, " cecar Rani dengan emosi penuh.


"Tenang sayang, tenang ya.Ingat loh,kamu itu sedang mengandung anak kita.Tidak baik kalau kamu marah-marah terus seperti itu, sebaiknya kita berdamai demi anak kita." Marcel mencoba mendekati istrinya itu dan bermaksud membawa Rani ke dalam pelukannya.


Tapi sayangnya, Rani kembali menolak menta-mentah pelukan Marcel.Saking tidak ingin berada di ruangan yang sama dengan suaminya itu,kini Rani yang mau keluar dari ruangan itu sambil menenteng tas jinjing miliknya.


"Kamu mau kemana? " cegah Marcel sambil menahan lengan istrinya itu.

__ADS_1


"Aku mau pulang ke rumah Mama,kamu tinggal disini saja,"ujar Rani ,masih dengan emosi yang membara di matanya.


" Tenang dulu sayang, aku janji gak akan macam-macam dengan kamu.Walaupun seharusnya aku berhak atas diri kamu, tapi aku juga ngerti kalau kamu belum bisa nerima aku, "ujar Marcel lagi.


" Kalau begitu keluarlah,aku mau menukar pakaian ku dulu.Gaun ini terlalu panas."Rani menunjuk kearah pintu keluar agar Marcel mau sedikit mengalah.


" Baiklah,aku akan keluar.Tapi setelah itu, izinkan aku untuk mengantarmu pulang kerumah keluarga Prawira,karena sekarang kamu itu adalah tanggung jawab aku.Besok aku akan pindah ke rumah keluargamu juga."Dengan mantap, Marcel mengatakan hal itu, membuat Rani yang di tatap menjadi tertunduk memendam kesal,bibirnya mengerucut.


"Tidak pindah juga tidak apa-apa. " Rani mendengkus kesal sambil menutup pintu itu dengan kuat,sehingga menimbulkan suara dentuman.


Marcel sedikit terkejut dan tersinggung,tapi pria itu mencoba menampiknya.Ia pun pergi ke kamar tempat di mana ia tadi di rias.


Saat akan masuk ke kamar itu,Marcel dicegat oleh kedua orang tuanya.


"Oh, itu Ma...,Marcel lagi mau ambil barang Marcel yang ketinggalan di dalam.Habis ini, Marcel mau antarin istri Marcel ke rumah orang tuanya dulu,nanti Marcel pulang ke rumah kok." Marcel nampak kikuk karena harus ke gep seperti itu.


"Loh,kamu kan bisa langsung tinggal di rumah mertuamu,itu koper yang kamu siapkan udah Mama masukkan ke bagasi mobil kamu dari tadi pagi."


Marcel mengernyitkan keningnya, karena ternyata sang Mama lebih gercep.Padahal ia sengaja meninggalkan koper itu agar ia punya alasan untuk pulang malam ini,karena ia masih belum merasa bisa menaklukkan Rani dan keluarga Prawira.Dan juga,Marcel butuh satu malam saja untuk menikmati kehidupan terakhirnya sebagai bujangan yang akan berpesta bersama teman-temannya.


Tadi saat bersalaman dengan para sahabatnya yang memberi ucapan selamat, Marcel sudah diberikan secarik kertas oleh Boby.Isinya mengatakan kalau mereka minta Marcel untuk mentraktir mereka minum di bar.Hitung-hitung pesta bujang,karena Marcel menikah secara mendadak.


Marcel tidak enak kalau tidak menepati janjinya,tapi Nyonya Wati sepertinya tidak akan membiarkan Marcel melakukan hal bodoh seperti itu.Ia hafal betul gerak-gerik Marcel yang mencurigakan.

__ADS_1


"Kenapa tingkah kamu aneh?, kamu gak lagi akan membohongi semuanya orang 'kan?."


Marcel hanya diam dan menatap ke arah lain.


"Kamu ini,memang susah di bilangin.Kamu pikir saya tidak tahu kalau teman-teman mu itu mengajak kamu keluar buat berpesta gak jelas.Ingat Marcel, sekarang kamu itu sudah punya istri dan sebentar lagi akan jadi seorang ayah.Jaga nama baik kita dan keluarga mertua mu itu, jangan bikin ulah lagi. Bagaimana mereka akan respect kepadamu kalau sikap kamu sendiri masih ceroboh seperti ini. " Nyonya Wati menjewer telinga Marcel dan untungnya Marcel tidak melawan kali ini.


Sekarang pikiran di kepalanya mendadak kalut.Di satu sisi ia mau kumpul bareng teman-teman nya,di sisi lain ia juga ingin bersama Rani.Namun sepertinya Rani tidak menginginkan dirinya.


Marcel tau kalau kehidupan pernikahan mereka kemungkinan akan berjalan sesuai kontrak perjanjian itu saja,tak akan ada hal istimewa seperti pasangan yang saling mencintai.


"Kenapa masih bengong,ayo kembali ke kamar istrimu.Antarkan dia pulang dan perlakukan dia dengan baik,agar mertuamu itu terkesan denganmu.Jangan berbuat yang tidak-tidak," ujar Nyonya Wati lagi.


"Ingat Marcel!masa depan keluarga kita ada di tanganmu!, " bisik Nyonya Wati sambil menepuk lengan atas puteranya berkali-kali.


Marcel menggelengkan kepalanya,ia sudah capek dengan semua ini.Didalam hatinya, ia sudah tidak mau mengikuti rencana orang tuanya.Baginya, bisa menikahi Ranindhita Prawira dan bisa berkesempatan menjadi ayah dari anaknya saja itu sudah cukup.Marcel benar-benar ingin berubah demi masa depan anaknya kelak,tapi sepertinya keinginannya itu harus di tempuh dengan susah payah.


Setelah Nyonya Wati pergi meninggalkannya,Marcel segera mengambil sesuatu di dalam ruangan itu dan kembali ke ruangan Rani.


Ia mengetuk pintu ruangan istrinya itu beberapa kali,namun Rani tidak kunjung membukakan pintunya.


Marcel mendorong pintu itu perlahan, ternyata tidak dikunci,terdengar suara air di kamar mandi.Kemungkinan Rani sedang mandi di dalam.Marcel membantu membereskan beberapa barang Rani yang masih berceceran di atas tempat tidur.


Ia ingin melakukan sesuatu untuk istrinya itu,namun saat Rani sudah keluar dari kamar mandi, wanita itu malah terkejut melihat Marcel yang kembali masuk ke dalam ruangannya.

__ADS_1


__ADS_2