
Kaniya tersentak kaget dengan kelakuan suaminya itu,ia perlahan mundur kebelakang.
"Kenapa kamu menginginkannya,bukankah saat ini kamu sedang sakit?."tanya Kaniya.
"Aku hanya bercanda,bagaimana mungkin aku bisa melakukan hal itu.Kecuali kamu yang memulainya."Radit mengedipkan sebelah matanya.
"Dasar buaya darat,masih sakit saja berfikiran mesum,gimana kalau sehat?."Kaniya bergumam.
"Ya kalau aku sehat sudah pasti kamu gak akan bisa menahannya."jawab Radit yang ternyata masih bisa mendengar gumaman Kaniya.
"Sudah-sudah mending kita tidur,sudah larut begini.Aku juga sudah sangat mengantuk."ujar Kaniya sambil menguap.
"Hoaaaaammmm".
Radit yang merasa gejolaknya harus ia redam hanya bisa menatap kearah Kaniya yang berbaring disisinya,tubuh molek gadis belia itu membuatnya menelan salivanya dalam-dalam.
Kini tinggallah Radit yang sedang memandangi Kaniya sambil berbaring menghadap kearah istrinya itu.Diperhatikannya satu persatu anggota tubuh gadis itu dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Kamu memang cantik dan lebih dewasa dibandingkan usiamu,apa mungkin nantinya aku bisa jatuh cinta kepada gadis sepertimu?."tanya Radit dalam hatinya.
Lalu Radit pun memejamkan matanya dan tertidur pulas.
Pagi menjelang,saat adzan subuh berkumandang.Bik Sumi sedang mempersiapkan sarapan,Kaniya yang sudah biasa bangun pagi dikampungnya kini sudah bangun,namun dia terkejut saat tubuhnya terasa berat seakan ada yang menindihnya.
Benar saja,ternyata Radit sedang memeluknya seperti guling.Kaniya berusaha melepaskan pelukan lelaki itu dari tubuhnya,setelah berusaha keras akhirnya ia pun bisa membebaskan diri dari kungkungan tangan dan kaki Radit yang sebelah kanan.
__ADS_1
"Sekarang aku harus lebih hati-hati lagi,pria ini bisa saja memakanku sewaktu-waktu.Aku tidak mau jika harus dimangsanya begitu saja tanpa cinta."fikir Kaniya sambil berlalu kekamar mandi dan membersihkan diri,lalu pergi membantu Bik Sumi didapur.
"Eh,Non.Gak usah dibantuin Non,ini memang sudah jadi tugasnya Bibik."ujar Bik Sumi .
"Kaniya udah biasa Bik,jadi Bibik tenang aja."Kaniya mengambil alih sutil dan penggorengan.
"Kalau begitu,Bibik beresin cucian aja ya Non.Tadi piringnya udah bibik tata dimeja makan,tinggal nasi gorengnya yang belum jadi."Bik Sumi akhirnya menyerahkan tugas memasak sarapan pada Nona barunya itu, iya yakin kalau Kaniya bisa menyelesaikan tugas itu dengan baik karena sudah terlihat dari keluwesan Kaniya dalam hal memasak dan memegang alat dapur.
"Oke Bik,Bibik lanjut aja nyucinya,nanti Kaniya yang nyiapin nasi gorengnya ke meja😊."jawab Kaniya dengan semangat 45.
Nyonya Sherly dan Tuan Marco juga udah siap ke meja makan.
"Wah,mantu Mama ini pagi-pagi udah siap didapur ternyata.Mana wangi banget lagi masakannya,mmm pasti ini enak."puji Nyonya Sherly.
"Jangan dipuji terus Ma,entar ngelunjak lagi tu bocah."suara Radit tiba-tiba terdengar memecah suasana diruang makan itu.
"Hukhhh!?."Kaniya menghela nafas kesal melihat kedatangan Radit.
"Kenapa pagi-pagi gini udah ribut sih?."tanya Oma yang baru saja datang dan langsung duduk dimeja makan.
"Gak ribut kok Oma,kami cuma bercanda aja."jawab Radit takut kalau Oma nya berfikir negatif.
"Apa sudah selesai semua keperluan menantumu untuk ke Inggris?."tanya Oma Adellin kepada putranya, Tuan Marco.
"Tenang aja Bu,semuanya udah beres."jawab Tuan Marco.
__ADS_1
"Baguslah,lebih cepat lebih baik."jawab Oma sambil memperhatikan wajah Kaniya.
"Apa kamu sudah siap,Kaniya?."tanya Oma.
"Insya Allah Niya siap Oma."jawab Kaniya sambil menunduk,segan.
"Kamu juga harus bersiap Radit,Siapkan mental kamu agar operasi wajah kamu berjalan lancar,begitu juga dengan kaki kamu."perintah Oma.
Memang dari dulu Oma selalu tak bisa dibantah,terlalu perfect standar yang ia patok untuk kehidupannya dan juga keluarganya.
"Entah bagaimana hasil operasi wajahku nanti,kalau berhasil dan kembali bagus ya untung.Tapi kalau hasilnya malah jelek dan wajahku berubah,aduhhhhh gak deh.Aku ingin wajahku kembali seperti semula yaTuhan."Ratap Radit didalam hati.
Sarapan pagi itu membuat Kaniya mendapatkan banyak sekali pujian dari Oma dan juga kedua mertuanya.
"Radit,kamu beruntung sekali punya istri yang pintar masak dan juga bisa dandan seperti Kaniya."puji Oma.
"Ah Oma,tambah besar entar tuh kepalanya.Lihat saja tuh pipinya jadi memerah seperti tomat."Radit masih saja mengelak dari kenyataan.Apa yang dibilang Oma itu semuanya benar adanya, hatinya tak dapat memungkiri hal itu. Tapi satu hal yang pasti,ia terlalu malu untuk mengungkapkannya.
Setelah selasai sarapan,semua kembali keaktifitasnya masing-masing.Kaniya ingin menyiram tanaman ditaman,dia sangat senang merawat bunga dan tanaman.Itu salah satu hobinya,tanpa ia sadari Radit mengamatinya dari balik kaca jendela.
Kaniya yang mencepol rambutnya sedang menyirami tanaman dengan riang dan gembira, seolah ia sudah lama tinggal di rumah ini.
Tanpa sadar bibir Radit berucap"kamu memang cantik Kaniya".😊
Ehemmm
__ADS_1