
Niat hati tadi ingin ikut kelas tambahan, tapi kini Rani malah putar haluan. Ia malah pergi ke restoran kakak iparnya dipusat kota, ia ingin ngulang makan karena perutnya masih terasa kosong.
"Gara-gara tuh orang tuanya laki-laki brengsek aku jadi gak jadi makan deh tadi!.Main ke restorannya kak Kaniya aja deh. "Gumam Rani sambil melajukan mobilnya.
****
Sesampainya di Rumah makan rasa restoran milik kakak iparnya itu, Rani malah mendapatkan sepasang suami-istri yang lagi mesra-mesraan saling menyuapi diruang kerja Kaniya yang ada dirumah makan itu.
"Ekhem... " Rani berdeham.
"Eh.. ada Rani.. " Radit dan Kaniya berbarengan menyapa Rani yang lagi berdiri dipintu dengan kepala yang sudah masuk kedalam.
"Hehehe, maaf ya aku ganggu kalian. " ujar Rani.
"Gak kok, gak ganggu.. masuk Ran. " Kaniya berdiri dan berjalan ke arah pintu sambil mengajak Rani untuk masuk dan duduk di sofa tempat dimana Radit suaminya juga sedang duduk bersama dengannya tadi.
"Kalian lagi makan apa?. " tanya Rani sambil melihat-lihat isi piring kakak dan kakak iparnya yang makan sepiring berdua.
Ada sedikit rasa iri yang menelusup kedalam kalbunya.Seandainya ia juga punya suami, mungkin suaminya juga akan bersikap romantis seperti yang Radit lakukan pada kakak iparnya, Kaniya.
"Ayo Ran duduk sini kita makan bareng. Kamu mau makan apa?, nanti kakak pesenin. " tawar Kaniya.
Rani yang kedapatan melamun jadi gelagapan.
"Kamu lagi mikirin apa sih Ran?. " tanya Radit kakaknya.
"Ah,, gak Kok Kak, aku cuma kepikiran pengen makan apaaaa yaa kira-kira?. " elaknya.🤔
"Yang ada sayurannya bagus buat janin kamu" usul Kaniya.
"Terserah Kak Kaniya aja deh kalau begitu. " ujar Rani. Wanita hamil itu tersenyum sambil terus menatap kakak dan kakak iparnya secara bergantian.
"Baiklah, kakak tinggal sebentar ya. "
Kaniya pun berlalu ke dapur untuk memesankan makanan untuk Rani.Seporsi sop daging dan juga seporsi capcai telur puyuh ia pesankan untuk adik iparnya itu.
Sambil menunggu makanan diantar, Kaniya pun kembali ke ruangannya untuk menemui adik ipar dan juga suaminya.
"Ada angin apalagi nih, kok mukanya jadi cemberut?. " tanya Kaniya.
"Si Rani lagi pengen curhat nih honey. " ujar Radit.
"Aaahhh... Kak Radit, malu ah... " Rani jadi malu kepada Kakak iparnya.
"Gak papa, kalau mau curhat ya curhat aja. Entar kami dengerin. Ayo cerita, sambil nunggu makanannya datang. " ujar Kaniya.
"Jadi... tadi... itu..... " Rani nampaknya ragu buat bersuara.
__ADS_1
"Tadi apa, cepat cerita. Jangan bikin kakak penasaran nih. " ujar Radit.
"Tadi itu... orang tuanya Marcel nemuin Rani direstoran dekat kampus. "
"Apa??!!, mau apa mereka nemuin kamu!. " Radit dan Kaniya kaget barengan.
"Katanya... mereka mau melamar Rani buat dinikahkan sama Marcel. " raut wajah Rani sudah mulai berubah menjadi muram.
"Lalu apa jawaban kamu?, kamu gak lupa 'kan kalau si Marcel itu yang sudah membuat hidup kamu hancur?!. " Radit jadi geram kalau ingat hal itu.
"Iya Kak, Rani sudah nolak kok. Bahkan Rani pergi meninggalkan mereka dan langsung pergi ke sini. " jawab Rani.
"Bagus!!, kamu gak boleh menyerah begitu saja sama keluarga cowok brengsek itu. " Radit menggenggam tangan adiknya itu untuk menguatkan.
"Tapi bagaimana kalau mereka masih nekad dan nemuin Rani lagi Kak, Rani takut. " ujar Rani.
"Kamu tenang aja, Kakak akan carikan bodyguard buat kamu." ujar Radit.
"Benar ya Kak, Rani juga gak mau kalau harus menikah dengan bajingan itu. Rani takut Kak... " Rani malan menangis sekarang.
"Sudah Ran, jangan nangis lagi. Rani yang Kakak kenal adalah Rani yang kuat, kita pasti akan bantu kamu ya, kalau ada apa-apa... kamu langsung saja hubungin Kakak. " ujar Kaniya.
"Terimakasih ya Kak. " jawab Rani.
Tak lama kemudian, pelayan membawakan makanan yang tadi diminta oleh Kaniya.
"Permisi,ini makanan Bu. "
"Oo iya, sini bawa masuk aja. " pinta Kaniya.
Setelah makanan itu dihidangkan di meja, pelayan itu pun pergi.
"Bagaimana, apa sudah mulai tenang?. "tanya Radit pada adiknya itu.
" Iya Kak, apa aku boleh makan sekarang?. "
"Iya boleh dong. Ini kan khusus buat kamu Ayo silahkan di makan Ran. " ujar Kaniya.
Mereka pun melanjutkan makan dengan diiringi candaan-candaan absurd dari mulut Radit yang hobi sekali bikin orang ketawa.Perlahan mood Rani pun kembali riang dan sejenak bisa melupakan kalau dirinya baru saja mengalami yang namanya tekanan dan kesedihan.
*****
Sementara di penjara, kini Marcel sedang dipanggil ke ruang kunjung karena ada yang datang untuk membesuknya.
"Papa, Mama.... " Marcel terkejut karena orang tuanya itu akhirnya datang juga untuk menemuinya.Biasanya hanya pengacara yang dibayar oleh mereka saja.
"Bagaimana keadaanmu anak nakal?!. " tanya sang Papa sembari memeluknya.
__ADS_1
"Marcel baik Pa, maaf.... " laki-laki itu menundukkan kepalanya.Mungkin dia sadar kalau sudah membuat keluarganya malu.
"Kamu itu gak.... pernah berubah!, Mama kecewa sama kamu Marcel!" Nyonya Wati sampai memukul lengan Marcel dengan tas yang ia bawa.
"Marcel akui Marcel salah Ma. " ujar Marcel.
"Sudah... sudah Ma, sekarang itu yang terpenting adalah bagaimana caranya Marcel bisa bebas dari sini sebelum persidangan lusa nanti. " ujar suaminya.
"Ya bagaimana Pa caranya?, mending kalau gadis itu mau memaafkan Marcel dan menikah dengan anak begajulan ini!. "ujar Nyonya Wati.
" Apa! menikah?. "Marcel kaget.
" Iya, menikah!. "sambung Nyonya Wati.
" Menikah bagaimana Pa, Ma?. "Marcel gak mengerti.
" Kamu tau???, sekarang gadis itu sedang mengandung anakmu. "ujar Nyonya Wati dengan lantang.
" Apa Ma, dia hamil?!. "Wajah Marcel seketika berubah menjadi semringah. Ia seperti mendapatkan angin segar akan masalahnya.
" Kenapa kamu senyum-senyum begitu?, apa kamu mulai suka sama gadis itu?. "tanya Tuan Erlangga.
" Gak gitu juga Pa, tapi setidaknya kita bisa menekan dia untuk bebasin Marcel.Pasti keluarga itu tidak mau kalau putrinya hamil tanpa suami. Iya 'kan?! " ujar Marcel dengan senyuman bahagia nya, merasa kalau ia bakal bebas.
"Ngimpi kamu!, asal kamu tau. Barusan Papa dan Mama bertemu dengan gadis itu. Kamu tau apa jawabannya ketika kami melamar dia untukmu?. "tanya Pak Erlangga.
" Apa jawabannya Pa?. "Marcel gak sabar menunggu jawaban dari Papa nya.
" Dia menolaknya. "jawaban Papa nya itu membuat Marcel jadi lesu.
" Jelas saja dia menolak,siapa juga yang mau menikah dengan laki-laki brengsek kayak kamu. Gak ada pekerjaan,begajulan, playboy cam tikus.. "ucapan Nyonya Wati terhenti karena di cegah oleh suaminya.
" Sudah Ma, kamu ini kok malah menabur garam diatas lukanya Marcel. "
"Mama bilang gini, biar dia insaf Pa. Jangan bikin malu keluarga terus- terusan!. " ujar Nyonya Wati.
"Iya Ma, Marcel tau Marcel salah. Tapi Marcel janji kok bakal berubah kalau Marcel sudah bisa menikah dengan gadis itu dan Marcel akan bertanggung jawab atas apa yang sudah Marcel perbuat. " ujar Marcel.
"Harus itu Marcel, tapi kamu jangan cuma tobat sambel.Bilangnya udah tobat, tapi diulangin lagi dan lagi. " ujar Nyonya Wati.
"Marcel janji Ma, Pa. "
"Haisssh kayak baru kali ini aja kamu janji sama kami. " jawab Nyonya Wati lagi.
"Serius Ma, Pa. Marcel mohon pada kalian untuk terus membujuk gadis itu supaya mau maafin Marcel dan menerima pertanggungjawaban Marcel untuk menikahinya. "
"Tunggu.. tunggu..., jangan bilang kalau kamu sudah mulai jatuh cinta sama gadis itu. " ujar Nyonya Wati.
__ADS_1
"Hehehehe." Marcel hanya terkekeh, gak jelas apa yang ada didalam benak laki-laki itu