Kaniya Si Gadis Desa

Kaniya Si Gadis Desa
Sepakat


__ADS_3

Marcel dan kedua orang tuanya belum juga keluar dari ruang kerja Tuan Erlangga,sudah lebih dari 15 menit mereka didalam sana.


"Sepertinya mereka masih belum setuju Pa. " ujar Mama Sherly pada suaminya.


"Biarin aja Ma, Papa sengaja mengajukan syarat seperti itu agar bocah tengik itu berfikir ribuan kali untuk menikahi putri kita. " jawab Papa Marco.


"Tapi bagaimana kalau bajingan itu malah menyetujuinya Pa?. " Rani ketar-ketir sambil meremas jari jemarinya.


"Sabar sayang, sekalipun kamu menikah dengannya, tapi kamu kan gak akan tinggal bersama mereka, kamu akan tetap bersama kami.Ini juga untuk menyelamatkan nama baik keluarga kita kok sayang. Setelah anak kamu lahir, kalian bisa bercerai. " ujar Papa Marco.


Sebenarnya didalam hati pria parubaya itu, ia lebih suka kalau nantinya Rani dan Marcel bisa hidup rukun dan bahagia seperti Radit dan Kaniya.Akan tetapi semua itu dikembalikan ke Rani,ia yang menjalani rumah tangga ini kedepannya.


"Semoga aja pemuda begajulan itu tidak menyetujui syarat yang Papa ajukan, jadi kita bisa membatalkan rencana pernikahan konyol ini." ujar Mama Sherly.


"Ma..??" Papa Marco tidak setuju dengan do'a istrinya itu. Sebagai seorang Papa, ia tidak ingin anak gadisnya mengandung dan melahirkan tanpa adanya seorang suami.Tentu saja itu sangat memalukan, apalagi mereka keluarga terpandang.


"Apa sih Pa?,kenapa Papa terkesan membela pemuda itu.Coba Papa bayangkan gimana nanti nasib anak kita Rani kalau sampai ia menikahi pemuda seperti Marcel itu. Yang ada nanti hidup anak kita jadi blangsak gak terurus, lihat saja tuh si Marcel. " ujar Mama Anita lagi.


"Mama kan dengar sendiri tadi apa yang Papa katakan, semuanya itu tidak akan terjadi Ma, Rani akan tetap sama-sama kita.Mama percaya saja sama Papa.Papa juga tidak akan menjerumuskan putri kita satu-satunya hidup menderita dengan pemuda seperti Marcel, justru Papa ingin kita bekerjasama untuk merubah Marcel dari sosok begajulan menjadi suami yang bertanggungjawab. " jelas Papa Marco.


"What?!. Yang benar aja Pa, itu mustahil. " ujar Rani .


"Rani benar Pa, orang kayak Marcel tidak bisa berubah dengan mudah. Yang ada kita yang akan ketularan seperti dia, seharusnya Papa tidak usah bernegosiasi sama mereka.Kita sudahi saja semuanya sampai disini. " usul Radit.


"Itu tidak mungkin Dit, saat ini di rahim Rani ada anaknya Marcel,dan Marcel sendiri merupakan anak satu-satunya dari mereka karena adiknya sudah tiada, pasti mereka akan memperjuangkan anaknya Marcel yang ada di rahim adikmu.Semuanya tidak akan bisa diakhiri dengan mudah, Nak. "


"Benar juga apa yang Papa


bilang. " jawab Radit.

__ADS_1


Rani masih tegang, wajahnya mengisyaratkan ketidak siapan.Berkali-kali ia mondar-mandir menunggu kepastian apa yang akan di kemukakan oleh keluarga Marcel.


"Rani, kamu yang sabar ya. Tenang saja, semua syarat yang tadi Papa ajukan itu akan menguntungkan pihak kita. Kamu akan terjamin keamanannya, jangan khawatir. Meskipun kalian menikah, itu hanya semata-mata untuk status anak kalian dimata negara. " ucap Kaniya sambil mengelus punggung adik iparnya itu.


"Iya Kak, Rani ngerti. Tapi tetap saja rasanya Rani takut Kak." jawab Rani.


"Kamu tenang ya, kita semua akan selalu bersama kamu. " Kaniya kembali memeluk Rani agar adik iparnya itu lebih tenang.


*


*


*


Beberapa menit kemudian, Marcel dan kedua orang tuanya Tuan Erlangga dan Nyonya Wati keluar dan menemui mereka semua. Wajah mereka terlihat sedikit tegang, mungkin terjadi perdebatan didalam tadi.


Ke-tiga beranak itu pun duduk di sofa yang berhadapan langsung dengan Papa Marco dan juga Mama Sherly, sementara Rani dan Kaniya masih berdiri di tengah-tengah kedua belah pihak.


Tuan Erlangga menghela nafas kasar sebelum mengutarakan keputusan bulat dari keluarga nya.


"Hufftt."


"Baiklah Pak Marco, setelah kami berunding tadi, kami memutuskan untuk tetap melanjutkan pernikahan mereka.Tapi kami ada satu permintaan,bisakah Marcel ikut tinggal bersama istrinya dirumah kalian?. " ujar Tuan Erlangga.


"Maksudnya?. " Papa Marco langsung bertanya, jujur saja ia tidak terima apa yang di minta oleh pihak Marcel itu.


"Ya, kan kalau suami istri itu memang sebaiknya tinggal di satu atap yang sama Pak Marco.Apalagi nak Rani kan sekarang sedang hamil, bagaimana kalau dia membutuhkan sesuatu. Biasanya kan wanita hamil itu suka mengidam yang aneh-aneh,pasti nak Rani menginginkan kalau ngidam itu di penuhi oleh suaminya setiap keinginannya. " jelas Tuan Erlangga.


"Maaf Om, saya rasa saya tidak membutuhkan bantuan dari putera anda untuk apa yang saya idamkan nantinya. Kalau ingin apa-apa, saya bisanya suruh pembantu untuk melakukannya. " jawab Rani.

__ADS_1


"Itu benar Nak Rani, kamu kan baru kali ini mengalami hamil. Coba deh kamu tanya sama Mama mu, beliau juga sudah dua kali hamil. Pastinya beliau juga tahu gimana rasanya kalau kita lagi ngidam. Bawaannya pengen dekat suami terus dan pengen deh kalau apa-apa yang di inginkan itu suami yang menuhin. " ujar Nyonya Wati seraya membujuk Rani.


"Tapi saya bisa sendiri. " jawab Rani lagi.


"Sudah lah sayang, jangan bicara seperti itu ah, tidak sopan. " sela Papa Marco.


Sedangkan Marcel masih terlihat diam saja sambil menunduk, sesekali ia juga melihat ke arah Rani yang dari tadi terlihat gusar dan tidak tenang.


"Jadi bagaimana Pak Marco?. " tanya Tuan Erlangga lagi.


"Bagaimana Ma,apa Mama setuju kalau nanti Marcel setelah menikah sama Rani tinggal bersama kita?. "


"Terserah Papa saja, toh dari tadi ucapan Mama juga gak ada yang dengerin!. " jawab Mama Sherly ketus.


"Baiklah, tapi saya serahkan keputusan ini pada Rani, dia yang akan menjalani pernikahannya. " ujar Papa Marco.


"Kok Rani Pa?. " tanya Rani bingung.


"Ya iya sayang, kan kamu yang akan menikah. Apa kamu mau menerima Marcel tinggal bersama dengan kita?. " tanya papa Marco lagi.


"Terserah deh, asal jangan harap bisa satu kamar dengan ku!. " jawab Rani ketus.


Radit dan Kaniya hanya bisa saling pandang, mereka sekarang sudah tidak tinggal dirumah Prawira lagi, jadi bagi Radit tidak masalah kalau Marcel tinggal dirumah orang tuanya, toh istrinya sudah aman dan tidak tinggal disana lagi.Jadi ia tidak perlu khawatir kalau calon adik iparnya itu akan menggodanya istrinya.


"Kamu Dit, gimana pendapat kamu?. "tanya Papa Marco kepada Radit.


" Kalau kalian semua tidak keberatan, kenapa Radit harus keberatan sih Pa. Suruh saja dia tinggal dikamar tamu. "jawab Radit santai.


" Ya sudah, kalau semua sudah setuju, kita tinggal menentukan kapan tanggal pernikahannya."ujar Papa Marco.

__ADS_1


Hal itu disambut senyuman oleh keluarga Marcel,terutama Mama nya Nyonya Wati.Marcel sendiri terlihat bernafas lega karena apa yang ia inginkan kini sudah ada di depan mata.


__ADS_2