
Jika Marcel bisa tersenyum senang,lain halnya dengan Rani yang kini merasa seakan dunianya sudah terbalik.Kehidupannya yang bebas sudah hilang ditelan kemalangan, ditambah lagi harus memiliki suami seorang cowok tak punya etitude dan juga hanya pengangguran, bahkan kuliahnya pun berantakan.
"Baiklah, bagaimana kalau pernikahannya kita adakan minggu depan. Mengingat kehamilan Rani masih belum kelihatan, saya rasa ini waktu yang tepat. " ujar Nyonya Wati.
"Bagaimana Pak Marco, apa anda setuju dengan usul istri saya?. " tanya Tuan Erlangga.
"Bagaimana Ma, apa menurut Mama ini tidak terlalu kecepatan?. " Papa Marco malah bertanya kepada istrinya Mama Sherly.
Mama Sherly malah melengos tidak mau melihat ke arah suaminya itu, hatinya masih kesal karena ia merasa suaminya terlalu mudah dibujuk oleh keluarga Marcel.
Karena istrinya itu malah membuang muka, tanpa meminta pendapat yang lainnya beliau pun menyetujui apa yang sudah diusulkan oleh mamanya Marcel itu.
"Baiklah, saya selaku kepala keluarga Prawira menyetujui kalau pernikahannya akan diadakan minggu depan. " ujar Papa Marco.
Sekarang Rani hanya bisa pasrah, semua demi nama baik keluarga dan juga demi jabang bayi yang ada didalam rahimnya.Perlahan Rani mengelus perutnya yang masih rata sambil bergumam didalam hatinya "Semua ini demi kamu sayang. " ujarnya.
"Kalau begitu biar kami yang mempersiapkan semuanya,kebetulan saya punya kenalan WO ternama di kota ini. " ujar Nyonya Wati.
"Tidak perlu repot-repot tante, saya tidak ingin pernikahan yang dirayakan besar-besaran. Cukup dirumah saja dengan keluarga inti. " ujar Rani.
"Tidak bisa begitu sayang,kita ini kan keluarga yang lumayan terpandang dikota ini. Bagaimana mungkin pernikahan kalian hanya diadakan sederhana saja. " ujar Nyonya Wati.
"Maaf Tante, dulu Kak Radit dan Kak Kaniya juga menikah dengan sederhana. " ujar Rani lagi.
__ADS_1
"Kalau waktu itu beda Rani,saat itu Kak Raditmu kan baru habis kecelakaan dan wajahnya rusak parah.Kebetulan mereka juga ada rencana untuk menggelar resepsi pernikahan mereka.Iya 'kan Radit, Kaniya?. " tanya Papa Marco.
Sekarang wajah Papa Marco terlihat lebih bersemangat,walaupun kedua anaknya menikah karena hal-hal yang tidak direncanakan, tapi setidaknya mereka memiliki pasangan.Segala beban fikirannya soal masa depan Rani yang membuatnya masuk rumah sakit tempo hari sekarang seakan perlahan sudah mulai terangkat dari kepalanya.
Mendapatkan pertanyaan seperti itu dari sang Papa mertua membuat Kaniya menoleh ke arah Radit, memang benar sekali kalau mereka sudah lama berencana menggelar resepsi untuk mengumumkan pernikahan mereka yang sudah berjalan hampir satu tahun lamanya.Tapi keduanya belum menemukan waktu yang tepat.
"Bagaimana kalau acaranya diadakan berbarengan saja, kita akan menggelar acara resepsi besar-besaran Ma. " ujar Papa Marco kepada Mama Sherly, tapi istrinya itu masih saja cemberut.
"Terserah Papa aja, tapi tidak mungkin menyiapkan pesta meriah hanya dalam waktu seminggu, asal Papa tahu itu. " jawab Mama Sherly ketus.
"Aduh, Jeng Sherly gak usah khawatir. Serahkan semuanya sama saya, dijamin semuanya akan lancar dan beres dalam waktu kurang dari seminggu. Saya akan segera menghubungi orang-orang saya, Anda tenang saja ya. " sela Nyonya Wati.
"Baiklah, saya juga akan melihat.Anda tidak perlu khawatir, kami juga akan membantu biayanya."Mama Sherly tak mau kalah.
" Tentu saja saya ingin kalian mengeluarkan uang juga, kalian fikir saya ini panti sosial apa yang mau mengeluarkan uang sendiri untuk pernikahan anak orang lain, apalagi si Kakaknya juga mau ikutan resepsi segala. "keluh Nyonya Wati didalam hatinya.
" Baiklah, kalau begitu besok kita bisa pergi bersama ke tempat WO nya.Kalau soal gaun pernikahan dan jas bagi para pria, saya punya butik sendiri khusus kebaya dan gaun-gaun pesta. Semua orang juga tahu kwalitas barang dari butik saya,tidak usah diragukan lagi. "Mama Sherly juga mau sombong sedikit dong.
" Tentu saja Jeng, itu lebih bagus. Jadi kita bisa menghemat waktu. "jawab Nyonya Wati pula.
" Kalau begitu semuanya sudah teratasi 'kan?. Sebaiknya kami permisi dulu Tuan Erlangga."ujar Papa Marco.
"Jangan panggil Tuan segala,saya jadi tidak enak. Anda bahkan lebih ber-uang dari pada saya. " jawab Tuan Erlangga.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu,Pak Erlangga.Kami permisi dulu,Rani juga akan pulang bersama kami.Tentunya anda dan keluarga tidak akan keberatan 'kan?. " tanya Papa Marco.
"Tentu saja,sebaiknya kita bertukar nomor ponsel dulu calon besan.Biar mudah nanti kalau mau saling menghubungi. "pinta Tuan Erlangga.
Setelah bertukar nomor ponsel, kedua laki-laki parubaya itu saling berpelukan. Sedangkan Nyonya Wati yang ingin mengajak Mama Sherly pelukan juga seperti suami-suami mereka malah tidak ditanggapi oleh Nyonya Sherly.Mamanya Rani dan Radit itu malah terkesan acuh tak acuh.
*
*
*
Keesokan harinya, seperti kesepakatan. Semua persiapan mulai dilakukan. Rani dan Kaniya yang sama-sama akan menjadi mempelai dan sama-sama sedang mengandung, kini sedang melakukan perawatan tubuh mereka di sebuah SPA.
" Kak Kaniya, sejujurnya Rani masih ragu dengan pernikahan ini. "ujar Rani.
Kaniya tahu kalau adik iparnya itu ingin curhat.Ia pun senang karena Rani memilih untuk curhat dengannya.
" Kamu kan tahu kalau pernikahan kalian itu dilakukan demi anak kalian, setidaknya kamu harus mengingat kalau semua yang kamu lakukan, itu semua demi debay. "jawab Kaniya yang sangat mengerti bagaimana perasaan Rani.
" Habis ini bagaimana kalau kita langsung ke butik nya Mama. "usul Kaniya.
" Boleh, aku juga ingin melihat gaun apa yang Mama siapkan untuk kita. "ujar Rani.
__ADS_1