Karisma Sang Pemilik Khodam

Karisma Sang Pemilik Khodam
Kondisi Tasya


__ADS_3

***


"Apa yang terjadi dengan anak saya bu ?" tanya mamanya Tasya kepada Kiandra.


"Maaf bu, saya sendiri kurang paham, saya hanya sedikit menindak lanjuti atas apa yang terjadi. Tasya bilang sakit dan minta di antar ke dokter, sudah saya antar. Katanya dia kena penyakit lambung. Setelah pulang dari dokter ia terlihat sudah mendingan. Tapi malam ini tiba-tiba ia meronta lagi katanya perutnya sakit lagi"


"Ya Allah, kenapa tuh anak"


Zizi keluar dari ruangannya Tasya. Berniat gantian dengan orangtuanya Tasya. Zizi pun mempersilakan orangtuanya Tasya untuk memasuki ruangan itu, sementara ia duduk di sebelah Kiandra.


Suasana di sana sangat sunyi.


"Apa yang kamu ketahui tentangnya ?" ucap Kiandra membuka percakapan diantara mereka di tengah dinginnya malam.


"Ga ada"


"Apa kamu tau tentang kebiasaannya ?"


"Maksud ibu ??"


"Kebiasaan buruknya"


Zizi terdiam.


"Yang saya tau, dia itu suka membuang pembalutnya tanpa ia cuci terlebih dahulu" jawab Zizi.


"Menurutmu apakah wajar kalau ada yang tidak suka dengannya karena hal itu ?"


"Saya sendiri kurang suka bu"


"Lalu jika ia mendapat karma seperti itu apakah layak ?"


Zizi terdiam.


"Tak hanya manusia yang tak suka dengannya"


Zizi menoleh ke arah Kiandra.


"Apa maksudnya tak hanya manusia ?" ucap Zizi dalam hati.


"Bahkan seorang pemulung pun pasti merasa jijik dengan hal itu"


"Darimana ibu tau kalau Tasya mempunyai sifat seperti itu ?"


"Bukankah saya pernah memasuki kamar mandinya ?"


Zizi mengangguk.


"Jika darah itu adalah darah muntahan, saya rasa tidak akan ada di tong sampah dan tak menempel pada pembalut itu. Ia muntah di kloset dan wastafel bukan ?? Jadi saya rasa saya ga salah lihat"


"Boleh saya bertanya ?"


"Silakan"


"Siapa sebenarnya mbak Mala ?"


Kiandra langsung menoleh ke arah Zizi.


"Saya rasa kamu sudah bisa menebaknya"


Zizi terdiam.

__ADS_1


"Sebelum kak Lulu meninggal, dia pernah bercerita sedikit tentangmu, dia bilang ada anak yang bisa mempertemukannya dengan Kanaya. Daaaan... Setelah itu dia bercerita tentang kekhawatirannya atas teror Kanaya."


"Teror ??"


"Iya, sebenarnya saya ingin sekali mengungkap kematian kak Lulu, tapi ibu bilang, ga usah nanti malah saya yang jadi ikutan meninggal juga"


Zizi terdiam sejenak. Bukankah ia juga ingin mengetahui bagaimana kematian Aludra yang sebenarnya. Karena semuanya terasa janggal, apalagi ia tak menemukan keberadaan arwahnya Aludra itu sendiri.


"Saat pertama jumpa denganmu, auramu terpancar sangat jelas, bahkan mungkin bukan hanya saya yang merasakan hal itu, orang-orang di luaran sana mungkin juga merasakan hal yang sama"


"Termasuk mbak Mala ??"


"Emmm... Bisa jadi"


"Kenapa dia ga berani menatapku ??"


"Kau tau, khodammu sangat menyeramkan baginya"


Zizi menoleh. Mengapa Kiandra mengetahui tentang khodamnya.


"Apakah mbak Mala itu penghuni pohon beringin besar itu ??"


Kiandra mengangguk.


"Kau tau, dia mendatangiku pada saat pertama kali berada di rumah itu. Ia bercerita kalau ia tak suka pada salah satu anak di kost itu. Ia minta izin untuk memberikan pelajaran padanya"


"Mbak Mala menemui ibu dalam bentuk apa pas awalan itu ?"


"Dalam wujud aslinya"


"Kuntilanak ??"


"Saya yang sedang duduk waktu itu sambil setengah melamun, tiba-tiba ada sebuah kaki melayang tepat di depan wajahku. Kaki itu pucat pasi, tak ada aliran darah sedikitpun. Saya hampir saja berteriak, namun tertahan di dalam dada. Saya mencoba mendongak ke atas dengan perlahan. Badan terasa terpaku, lidahku kelu, tubuh gemetaran"


"Rambutnya terurai panjang menyentuh lantai. Wajahnya kaku tanpa senyuman ??" lanjut Zizi.


"Kau tau hal itu ?"


"Usia mbak Mala sudah lebih dari ratusan tahun"


"Benar. Yang saya takutkan saat ini adalah ia ketagihan dalam mencelakai anak-anak"


"Maksud ibu ??"


Kiandra terdiam.


"Anak-anak kost yang lain juga dalam bahaya ??" tanya Zizi sedikit panik.


Kiandra masih terdiam. Itu membuat Zizi bingung. Ia segera mengambil ponsel, namun ponsel itu di rebut oleh Kiandra.


"Bu !! Kembalikan !!!"


"Tidak"


Zizi mencoba terus merebut ponselnya. Namun Kiandra terus saja berusaha menjauhkan ponsel itu dari tangan Zizi.


"Ibu bohong soal cerita ibu tentang mbak Mala !! Ibu sendiri yang membuat perjanjian dengannya bukan ??"


Kiandra masih tak menjawab pertanyaan Zizi.


"Aku tau, kematian bu Lulu juga pasti ada kaitannya dengan ibu kan ?? Apa yang ibu inginkan ?? Aku tau bu Lulu ga pernah menceritakan tentangku padamu. Apalagi tentang pertemuannya dengan Kanaya. Kembalikan ponselku !! Anak-anak kost dalam bahaya" ucap Zizi sambil terus mencoba merebut ponsel itu.

__ADS_1


"Ambil saja jika kau bisa !!" ucap Kiandra sambil melempar ponsel itu dari jendela Rumah sakit.


"Tidaaaaak !!"


Zizi mencoba menyelamatkan ponselnya namun tak bisa, ponsel itu sudah terjatuh dan hancur. Zizi menoleh ke arah Kiandra yang sedang tersenyum tipis ke arahnya.


Tiba-tiba beberapa perawat berlarian memasuki ruang kamar Tasya. Itu membuat Zizi ikut panik.


"Sus, apa yang terjadi pada teman saya ??" tanya Zizi.


"Pasien mengalami kejang dan muntah darah, serta perutnya semakin membesar" jelas perawat itu sambil setengah berlari menuju ruangan.


Tak kuasa Zizi mendengar pernyataan itu. Di sisi lain ia juga mengkhawatirkan teman-temannya di kost. Tapi jika ia tinggalkan Tasya, malah ia lebih khawatir lagi.


"Gue terkecoh dengan obrolannya, sehingga ga sadar kalau sebenarnya ia sedang berperan" ucap Zizi dalam hati.


Zizi melihat para perawat itu mulai mengeluarkan Tasya dari ruangannya menuju ruang ICU untuk tindakan lebih lanjut.


Terlihat ibunya Tasya pun mengikuti langkah itu sambil sesekali menyeka air matanya.


"Apa yang sebenarnya di inginkan bu Kiandra ?? Tega sekali ia membuat drama seperti ini" ucap Zizi dalam hati.


Terlihat Kiandra ikut mendorong Tasya dan sesekali meyakinkan pada ibunya Tasya kalau Tasya pasti bisa sembuh.


Zizi hanya memperhatikannya dari jauh. Ia bingung antara memilih menyelamatkan Tasya atau teman-teman di kost itu.


"Pergilah ke ruang informasi. Pinjamlah telpon di sana untuk memberitahukan teman-teman di kost. Bilang padanya malam ini jangan sampai ada yang makan masakan dari mbak Mala. Dan jangan pernah bercermin ketika jam 2 malam, Tasya biar saya yang menjaganya" ucap Khodam itu dengan suara yang sedikit samar di telinga Zizi.


Zizi pun segera berlari ke ruang informasi untuk meminjam telpon di sana. Setelah mendapatkan izin Zizi segera memberitahukan kepada semuanya.


"Zi !! Lu ga usah nakut-nakutin kita di sini"


"Kak Dewi, gue serius !!"


"Lu ada di kamar kan ?? Jelas-jelas tadi kita lihat lu naik ke lantai atas"


"Astaghfirullahal adziim kak !! Ini beneran gue masih di Rumah sakit"


Semua yang ada di kost pun segera merapat. Takut, dan ga percaya dengan hal yang mereka alami.


"Apa yang harus kita lakukan ?"


"Sementara tidurlah dalam 1 kamar, jauhkan dari cermin. Jangan ada yang bercermin di jam 2 malam ini. Jangan pernah buka pintu kamar ketika ada yang mengetuk. Siapun itu jangan di percaya...."


TUUT TUUUT TUUUTTT


Sambungan telpon itu tiba-tiba terputus. Itu membuat semuanya anak-anak kost panik.


"Gimana ini ??"


TAP TAP TAAP


Suara derap langkah kaki terdengar mendekati mereka. Sontak saja mereka segera berlari memasuki kamar Dewi.


Mereka pun segera menutup cermin yang ada di kamar itu.


"Ko jadi gini sih ?? Serem banget deh, tau gini kemarin gue ikutan pindah aja"


"Bisa diem ga lu !! Brisik tau !! Lagi ribet gini ga usah ngeluh !!"


"Kok lu nyolot !!"

__ADS_1


"Woi woi woi !! Sudah !!! Kenapa malah berantem sih ??"


__ADS_2