
WUSSSSSSSS....
Tiupan angin menerbangkan kertas yang sedang di pegang Zidan. Ia terus memandangi kertas itu kemanapun terbangnya. Hingga saat kertas itu mendarat di tangan pak Slamet ia pun sedikit kaget.
"Tidak" ucap Zidan spontan.
Pak Slamet melihat ke arah tulisan itu, kemudian ia tersenyum. Zidan pun mendekat. Ular yang melilit tubuh pak Slamet pun menurunkan pak Slamet dan melempaskannya.
"Saya mohon kembalikan" kata Zidan.
"Kembalikan ?" tanya pak Slamet.
"Ituuu..... (terdiam)"
"Kertas segel ??"
Zidan menundukkan kepalanya.
"Kau punya ini buat apa ? Bukankah Kanaya sudah memberikanmu hidup normal ?" tanya pak Slamet.
"Hanya untuk jaga-jaga saja pak"
"Kau belum sepenuhnya percaya ternyata terhadap Kanaya"
Zidan terdiam. Pak Slamet menaruhnya ke dalam saku bajunya. Zidan menatapnya dalam-dalam.
______°°
"Lihat saja nanti !! akan ku cari kalimat itu dan akan ku binasakan dirimu ! ha haa haa haaa"
CRAAAAATTTT
"Aaagggghhhhh..."
"Sama sekali tidak tau berterima kasih"
Ia membalikkan badannya.
"Ka....u"
"Ya, aku Kanaya, ada apa Zidan ?? Hahahaha... Mau ngalahin aku ? Sudah terlambat, hahaha"
"Ini ga se.. Suai perjanjian..."
Kanaya mendekat dan hendak merebut kertas segel milik Zidan yang baru ia dapatkan dari almarhum kakeknya.
"Tidak !!"
Sekuat tenaga ia mempertahankan kertas itu walaupun punggungnya sudah terkena tusukan pisau dari Kanaya.
Zidan bangkit dan segera melakukan perlawanan. Karena ia kurang stabil ia pun berkali-kali harus terjungkir jatuh. Tapi ia masih tetap mempertahankan kertas segel itu.
"Aku punya penawaran bagus buat kamu !" kata Kanaya.
"Ga butuh penawaran apapun dari kamu Nay !" jawab Zidan.
"Hahahaha, kamu yakin ?? Padahal penawaranku sangat berharga, mau tau ??"
Zidan terdiam.
"Aku hanya minta kerjasamanya agar kau mau membantuku untuk memberikan tumbal terakhir itu"
"Maksudmu Zilvana ?"
"Hahahaha, tebakan yang tepat"
__ADS_1
"Apa maumu ??"
"Kamu hanya perlu nurut sama aku, aku akan memberikanmu sesuatu yang akan membuatmu terlihat masih hidup ?"
"Masih hidup ?"
"Apa kau tidak sadar kau sudah meninggal saat pisau itu menancap di punggungmu beberapa menit yang lalu ??"
"Hah ??"
Ia memeriksa tubuhnya sendiri. Dan benar, ternyata jasadnya masih ada di depan pintu. Ia pun melongo melihat kejadian itu.
____°°
"Dan semua perlawananku terhadap Kanaya di hadapan Zilvana dan yang lain adalah palsu, karena aku meninggal tak lama setelah kakekku meninggal, dari situ semuanya tabu. Aku bertahan karena ibu. Dia sendirian, ayah pergi meninggalkan kami saat itu, dia lebih memilih perempuan lagi yang lebih cantik daripada ibu" ucap Zidan.
"Lalu ? Sekarang ibumu sama siapa ??"
"Dia ada bersama bayanganku di rumah, aku mengkloningkan diri agar tetap terlihat di rumah"
"Kloning itu tak bertahan lama"
"Iya, makanya aku atur agar ibu tidak curiga. Saat waktu kloning itu hampir habis, aku alihkan ke jam berangkat sekolah. Jadi, ibu tak tau, ia hanya tau kalau aku pergi ke sekolah. Dan, aku akan kehabisan waktu lagi di jam 9 malam, aku atur agar jam 9 ibu sudah melihatku tidur"
"Kertas ini sudah ada di tanganku, aku juga sudah tau cerita-ceritamu, apa kau ada permintaan ?"
"Permintaan ??"
Zidan merasa sangat bingung dengan pertanyaan dari pak Slamet. Tiba-tiba Kanaya mengirim bala pasukan untuk menyerang mereka berdua beserta para khodamnya.
"Hah !"
Bala pasukan itu sangatlah banyak. Kanaya geram melihat sikap Zidan yang seolah-olah tak menyerang pak Slamet, ia justru berdiam diri saja.
Zidan yang tadinya memang sudah sedikit terluka karena pak Slamet, kini harus bertahan menyerang pasukan dari Kanaya.
Terdengar beberapa kali Zidan terbatuk karena tendangan itu mengenai dadanya. Sedangkan khodamnya berhasil di keroyok oleh bala pasukan dari Kanaya.
Pasukan-pasukan itu apabila mati satu ia kan bertahan lebih banyak. Zidan benar-benar kewalahan kali ini. Sementara pak Slamet masih mencoba bertahan melawan semampunya.
BRAAAKKKK
Zidan tersungkur jatuh. Nampaknya ia benar-benar tidak kuat lagi. Muncullah Kanaya di hadapannya.
"Nay, tolongin aku...."
"Tidak Sudi"
"Aku sudah membantumu bukan ? Ukhuuk !"
"Cuih !! Bantuanmu hanya setengah-setengah saja !! Dan kau malah tak menghabisi pak Slamet melainkan hanya berdiam diri saja !"
"Nay, aku terluka..... Dan !!"
"Dan... ??? Rasakan ini !!"
DUUUAKKKK !!!
CRAAAAATTTT
Darah segar muncrat dari mulut Zidan saat Kanaya menginjak perut Zidan dengan kuatnya.
"Ga ada guna !!!"
Pak Slamet langsung menarik sabuknya dan melemparkannya ke arah Kanaya.
__ADS_1
PLAAAKKK
Kanaya menangkisnya kemudian menarik sabuk itu dengan sekuat tenaganya. Tiba-tiba muncul rombongan makhluk halus yang memakai pakaian berwarna serba putih.
Mereka berjalan di tengah antara Kanaya dan pak Slamet, sehingga Kanaya harus mundur dan melepaskan sabuk itu.
"Siapa mereka ini ?" tanya Kanaya heran.
Salah satu dari mereka menoleh ke Kanaya dan mengucapkan salam.
"Assalamualaikum"
Kaya melotot ke arahnya. Sementara sebagian rombongan itu sudah mulai bertarung melawan pasukannya Kanaya.
Melihat Kanaya sedikit lengah, pak Slamet segera menghampiri Zidan.
"Pak, boleh saya minta satu permintaan" ucapnya lirih.
"Apa itu ?"
"Antar aku ke rumah"
Pak Slamet menoleh ke kanan kiri. Sementara ia pun mengkhawatirkan keadaan anaknya sendiri, namun di lain sisi ia pun tak tega melihat Zidan.
"Waktu kloningku di dunia tinggal sebentar lagi habis, aku janji, aku akan segera mengakhirinya"
Tanpa sepatah katapun pak Slamet membawa Zidan pulang ke rumahnya. Sesampainya di sana, ia melihat Zidan yang lain sedang duduk di meja belajar.
Pak Slamet menurunkan Zidan dari gendongannya. Kemudian mereka memperhatikan keadaan disana.
TOK TOK TOOK
"Assalamualaikum..."
GERIIIITTTTT
Terlihat seorang perempuan paruh baya membuka pintu kamar Zidan.
"Wa'alaikumussalam..." jawab Zidan sambil membalikkan badannya dan tersenyum kepada ibunya.
"Sudah sholat nak ??"
"Belum Bu"
"Ibu sudah masak, mau makan dulu atau mau sholat dulu ?"
"Makan dulu dong Bu ? Cacing di perutku sudah berdendang, hahaha"
Ibu itu mengusap kepala anaknya. Tak terasa air mata Zidan tumpah melihat kejadian di hadapannya itu. Pak Slamet menepuk-nepuk pelan pundaknya, menandakan agar Zidan bersabar.
Kemudian ibu dan anak itu pergi ke meja makan, disana sudah tersedia banyak sekali makanan favorit Zidan.
"Waaah, makan banyak hari ini aku Bu..." ucapnya dengan riang gembira.
Ibunya tersenyum sambil menyendokan nasi di piring. Terlihat Zidan makan dengan lahapnya.
"Ini adalah hari terakhirku makan masakan ibu" ucap zidan sambil mengusap air matanya.
Terlihat begitu indah garis senyum ibunya melihat anaknya makan dengan sangat lahap. Zidan tak kuasa melihat itu, ia menangis sesenggukan di bahu pak Slamet.
Kemudian selesai makan mereka membereskan meja makan, membantu mencuci piring dan menaruh sisa lauk tadi di tempat yang aman dari tikus.
Setelah itu mereka berdua berwudhu. Disana Zidan sadar, hanya tinggal hitungan menit kloningan itu akan berakhir.
Disana Zidan telah rapi mengenakkan sarung dan kopyah, serta telah selesai menggelar sajadah. Ia menunggu ibunya. Setelah ibunya siap ia pun mulai bersiap untuk sholat.
__ADS_1
"Ini sholat terakhirku bersama ibu, hiks..."