
***
"Lu ngapain tadi siang nyariin gue ?" tanya Zidan.
"Ada perlu lah"
"Gue gini-gini ya tetap menaati peraturan. Jam pelajaran ya di dalam kelas, ga keluyuran"
Mega menoleh ke Zidan. Kemudian ia duduk di sampingnya.
"Gue mau tau semua tentang Zilvana"
"Mau tau apanya ?"
"Semua yang berkaitan tentang dia"
"Misal ?"
"Emmm... Misalnya, dia itu indigo atau bukan ?"
"Bukan."
"Bukan ?"
"Iya, Zilvana bukan anak indigo. Anak indigo itu, pilih-pilih dalam berteman, soalnya ia tau masa lalu dan masa depan seseorang, walaupun ga semuanya sih"
"Terus ? Kamu kan indigo ? Kenapa mau berteman sama aku ?"
"Pengin aja"
"pengin ??"
"Iya, pengin berteman sama anak pembuat onar, hahaha"
"Maksudmu ?"
"Ga apa-apa"
"Apa lagi yang kamu tau tentang Zilvana ?"
"Emmm... Apa ya ?"
"Apa dia pernah di ganggu makhluk halus ?"
"Pernahlah, yang pertama saat Mariska ingin di kuburkan secara layak, dia menemuinya lewat mimpi"
"Kenapa ga langsung ?"
"Zilvana kan bukan indigo, kalaupun ia mengetahui sesuatu pasti itu adalah khodamnya yang memberitahukannya. Lewat mimpi misalnya, atau secara langsung tapi pada saat Zilvana ga sadar, kayak melamun, mengantuk, atau saat ia sedang berkonsentrasi dalam sebuah masalah"
"Soal penangkapan pak Aji gimana ?"
"Itu seru banget sumpah deh, pak Aji kan punya khodam juga"
"Waah, gitu ya ?"
"Iya, Rifki dan Doni juga pas penangkapan itu mengeluarkan khodamnya, ehh Doni kayaknya ga jadi mengeluarkan deh"
"Kenapa ?"
"Karna yang keluar duluan khodam leluhurnya Zilvana"
"Khodam leluhur ?"
"Ia, khodam itu yang sebenarnya melumpuhkan pak Aji. Yang mengikat tangan pak Aji juga khodam leluhurnya Zilvana"
"Kamu tau dari mana ?"
"Apa sih yang ga aku ketahui, hahaha"
"Sombong !"
"Ga sombong ko, kamu pernah denger LAKU ING SASMITA AMRIH LANTIP ?"
"Itu kata-katany Mayang pas nangkep pak Aji"
"Itu bukan Mayang, tapi khodamnya Zilvana"
"Oh, iya sih, suaranya beda soalnya, lebih serak gitu"
"Namanya mbok Tasma kan ?"
"Ga tau"
"Gimana sih, huuu"
"Apa artinya kalimat tadi ?"
"Bukannya Zilvana udah ngejelasin ya ke kamu ?"
"Lupa"
"Masih muda udah kena pikunsia"
"Zidan, jadi anak indigo itu enak ga sih ?"
"Hahahaha, mau nyoba ?"
"Pengin, tapi takut"
"Gini yah, anak indigo itu sebenarnya susah tidur loh"
"Kenapa ?"
__ADS_1
"Karena, ia denger suara tetesan air saja udah brisik banget, belum lagi suara detak jarum jam, TAK TOK TAK TOK TAK TOK, kalau ada orang kecelakaan itu lebih parah, suara minta tolongnya itu terngiang-ngiang"
"Kamu sering gitu ?"
"Udah jadi makanan sehari-harilah"
"Jadi kamu tau riwayat 12 IPA 1 ?"
"Tau"
"Kenapa ?"
"Kamu juga tau kan ? Kenapa harus buang-buang waktu untuk mengulang ?"
"Hiih !! Nyebelin banget sih !"
"Sekarang aku yang nanya. Kenapa kalau lewat di depan ruang kelas itu harus nunduk ?"
"Biar sopan"
"Hahahaa, salah !"
"Lah terus ??"
"Buat kita para anak indigo, lewat di area itu menunduk bukan karna rasa hormat, tapi menunduk agar tidak tau dengan kejadian yang ada di dalamnya"
"Menunduk supaya ga melihat kejadian itu ?"
"Iya, dan ga boleh bersuara juga kan ? Itu artinya ga boleh ngomong ke siapapun walaupun kita tau yang sebenarnya"
"Oh gitu ? Aku kira supaya bisa menghormati arwah yang ada di situ"
"Itu mah simpangannya kepala sekolah aja"
"Siapa saja yang udah berani memasuki ruangan itu ?"
"Banyaklah"
"Banyak ??"
"Iya, dari yang penasaran, terus ada juga yang mau mencoba adu kekuatan"
"Adu kekuatan sama siapa ?"
"Ya sama penunggu ruangan itulah"
"Bisa emangnya ?"
"Banyak yang gagal"
"Kamu ??"
"Aku apa ???"
"Kalau memasuki udah pernah, tapi kalau untuk adu skill masih ga berani sih"
"Lemah"
"Hahahaaa, lu belum tau kekutan dari hantu penunggu ruangan itu sih"
"Kenapa emang ?"
"Maha dasyat, hahahaa"
"Dasyatan mana sama khodamnya Zizi ?"
"Aku kira sama, tapi ga tau kalau dendamnya mulai memuncak, kayaknya dia bisa menelan kamu"
"Ga usah nakut-nakutin ya ?"
"Hahaa, penakut"
"Diem lu !"
Mereka ngobrol terlalu asyik, kadang sesekali mereka menyerot minuman dingin yang mereka pesan.
"Zilvana pembekalan dari ayahnya itu terbilang singkat loh"
"Pembekalan ?"
"Iya, sebelum berangkat ke sini, kurang lebih satu bulan, ia di beri pembekalan oleh ayahnya"
"Apa itu"
"Yang pertama, di kenalkannya khodam harimau putih, yang kedua, ia di ajari beberapa amalan untuk membela diri di saat sedang gawat darurat"
"Jadi kalau ga gawat darurat ga bisa di pakai ?"
"Nggak lah"
"Satu bulan belajar kayak gituan ? Kamu bilang ga cukup ?"
"Itu waktu yang sangat minim, mustahil bagi anak kayak kamu bisa langsung menguasainya"
"Bukannya kalau punya khodam itu mata batin sudah pasti terbuka ya ?"
"Ga juga, Zilvana ngebuka tutup sendiri mata batinnya"
"Ko bisa ?"
"Besok kalau di sekolah aku perlihatkan deh, gimana penampakan Zilvana di mata kami para indigo"
Mega terdiam.
__ADS_1
"Kamu pernah di kerjain sama hantu kost di tempatnya Zilvana ?"
"Pernah"
"Udah pernah lihat wujudnya ?"
"Jangan sampai deh ! Ga mau gue"
"Kenapa ?"
"Takutlah"
"Takut di piara. Kambing di piara biar gemuk"
"Kasino"
"Hahaha"
***
Pulang sekolah badan Zizi terasa pegal-pegal jadi ia memutuskan untuk berjalan kaki saja menuju kost. Di tengah perjalanan ia melihat ada 3 anak kecil sedang bermain di sebuah lapangan samping jalan. Sepertinya baru umur 5 atau 6 tahun.
Zizi duduk sejenak di sana sambil menyaksikan mereka berlarian kesana kemari. Mereka terdiri dari 2 laki-laki dan 1 perempuan. Terdengar pula samar-samar nama mereka. Erika, Farel dan Gio.
"Main yuk, kamu jadi pacar aku" ucap Farel
"Aku juga mau jadi pacarnya" anak laki-laki yang satunya pun tak mau kalah.
"Gini aja, kamu jadi pacar aku, tapi nanti kamu jalan sama dia, aku nanti lihat kamu, aku marah, hwaaa"
"Hahahaa"
"Hahaha"
Kemudian Farel berbisik kepada Gio dan Erika.
"Mereka ngomongin apa ya ? Ko bisik-bisik ?" tanya Zizi pada diri sendiri.
"Ayo mulai"
"Ok boss"
Zizi mulai ga nyaman, masih kecil ko mainnya pacar-pacaran sih. Orangtuanya ngedidiknya gimana ya ?
Terlihat mereka mulai memainkan peran, si anak perempuan itu rupanya membawa roti lalu membaginya dengan anak laki-laki yang di anggap pacarnya.
"Kita kan udah makan ? Aku pergi kerja dulu ya ?" ucap Farel.
"Ok" jawab Erika dengan polosnya.
Lalu Farelpun minggir agak jauh dari Erika. Datanglah Gio ke sana. Ia mencium pipinya Erika. Mereka tertawa. Zizi yang melihatnya tepuk jidat sambil tersenyum.
Dari arah belakang tiba-tiba Farel datang sambil memukul Gio dengan sebatang kayu yang cukup keras. Zizi menjerit.
"Tidaaaakk !!"
Gio pun terlihat berdarah di bagian kepala belakang. Erika mencoba menghentikannya tapi Erika juga kena pukulan. Farel terus saja menghajar Erika sampai Erika tak sadarkan diri.
"Stoooop !!! Hentikaaaan !!!"
Zizi terbangun dari tidurnya dengan badan basah oleh keringat dan nafas yang terengah-engah.
"Kamu kenapa Zi ?" tanya Rifki yang tiba-tiba masuk ruang UKS bersama Doni dan Bima.
Zizi bingung.
"Aku dimana ?" tanya Zizi.
"Masih di UKS sekolahan"
"Kalian ko tau aku ada di sini ?" tanya Zizi.
"Bima yang ngasih tau, ya kan Bim ?" tanya Rifki.
Bima diam saja dan hanya menganggukan kepala. Sedangkan Doni terlihat tersenyum ke arah Bima.
"Makasih ya udah bantuin aku, maaf loh merepotkan ?"
"Nggak repot ko, mau di antar pulang ?" tanya Doni.
"Jam berapa sekarang ?" tanya Zizi.
"Jam 6 kurang, sebentar lagi juga adzan maghrib" jawab Rifki.
"Dari pada pulang sendiri, mending di antar" kata Doni.
"Boleh deh, kalau ga merepotkan" kata Zizi.
"Di antar Rifki ya ? aku ada perlu sama Bima" kata Doni.
"Oh iya, sorry ya kak Bima, ga jadi jalan deh gara-gara aku ketiduran ?"
"Ga apa-apa ko Zi, kapan-kapan kan bisa" jawab Bima.
"Iya kak, ga tau kenapa tadi tiba-tiba aja ngantuk banget ga bisa di tahan"
"Kecapean kali, kan tadi tugas banyak banget" jawab Doni.
"Ya udah, aku pulang dulu ya kak ?"
Zizi pun keluar bersama Rifki. Kemudian tak lama Doni pun ikut keluar.
"Pergi dulu ya bro !" ucapnya sambil menepuk bahunya Bima.
__ADS_1
"Ahhh !!! Sial !"