Karisma Sang Pemilik Khodam

Karisma Sang Pemilik Khodam
Mbah dukun


__ADS_3

***


Pagi ini sekolah heboh karena kedatangan seorang dukun. Lengkap dengan pakaian serba hitam dan ikat kepala hitam juga. Sayangnya ia memakai masker, jadi tak terlalu kelihatan kumisnya yang biasanya menyeramkan.


Ia datang bersama pak Agung selaku kepala sekolah. Terlihat pak Agung sedang menjelaskan tentang ruang di sekolahan itu. Doni dan Rifki memandang aneh ke mereka.


"Bisa-bisanya pak Agung malah ngundang dukun" celetuk Doni.


"Udah ga tahan kali sama Kanaya"


"Ya kalau dukunnya beneran sakti sih ga apa-apalah ya ? Kalau dukun kaleng-kaleng ntar malah di ketawain sama Kanayalah, hahaha"


"Kita lihat saja nanti"


"Oh iya Ki ! Di IPS ada banyak banget kan lukisan Zizi, gue takut kalau lukisan itu di jadikan media persembahan oleh Zidan"


"Media persembahan apa ??"


"Lu tau kan, Zidan sekongkol sama Kanaya, udah pasti Kanaya ga mau gratisan dong, ia pasti maunya di bayar pakai nyawa lah"


"(Tepuk jidat) Astaghfirullahal adzim ! Iya juga ya ?"


"Apa lagi mengingat ilmu-ilmu yang di pelajari Zidan, ada ilmu yang perlu tumbal darah perawan kan ?"


"Waah Anjeeerrr !!! Iya juga ya ? Ko gue ga kepikiran ke situ, wah bahaya ini mah"


Saat mereka sedang mengobrol tiba-tiba pak Agung memanggil mereka.


"Rifki ! Doni ! Sini sebentar"


Rifki dan Doni pun saling memandang kemudian pergi menghampiri pak Agung dan dukun tersebut.


"Dimana Zizi ?" tanya Pak Agung.


Rifki dan Doni saling memandang lagi. Karena mereka belum melihat Zizi.


"Belum datang kayaknya pak"


"Haduh, gimana ini mbah ?? Zizi belum datang, apa kita mulai saja ritualnya ?" ucap Agung.


"Ritual ???" tanya Rifki dan Doni kompak.


"Iya, ritual mengusir roh halus" ucap dukun itu.


Doni memandang aneh ke arah dukun itu. Sepertinya ia tak asing dengannya.


"Don ! Cari Zizi dulu yuk ? Gue agak khawatir sama dia" ucap Rifki membuyarkan pikiran Doni.


Doni menoleh ke arah Rifki.


"Ritual apa ya pak ? Kenapa harus nunggu Zizi ?" tanya Doni.


"Gini Don, nanti kata mbah dukun kamu, Rifki, Zizi dan Zidan mau di taruh di tempat khusus........."

__ADS_1


"Maksudnya tempat khusus apa ya pak ?" tanya Doni memotong pembicaraan Agung.


"Iya pak, bukankah yang di cari oleh Kanaya itu Aludra ya ? Lalu kenapa malah kita yang di taruh di ruangan khusus ? Mau di jadiin tumbal kah ?" ucap Rifki.


"Rifki !! Ngaco kamu ngomongnya !!" bentak Agung.


"Bukan begitu, tapi kalian adalah magnet bagi Kanaya dan antek-anteknya, mereka bisa dengan mudah keluar masuk dua dunia karena melalui perantara kalian ini" kata mbah dukun.


"Kenapa gue curiga ya sama dukun yang satu ini ! Sepertinya ko ga asing" ucap Doni dalam hati.


"Demi kenyamanan dan keamanan kita semua, bapak harap kalian turuti dulu apa kata mbah dukun" ucap Agung.


"Weeeh, maaf ya pak ? Saya sih lebih setuju kalau bapak itu manggil pak ustad aja dari pada dukun" kata Rifki.


"Pak ustad katamu ? Kemarin saja waktu panggil pak ustad dia kewalahan dan kalian malah di bawa ke alam ghoib sama Kanaya, apa salahnya kalau sekarang ganti ? Menurut bapak mbah dukun lebih dekat dengan para makhluk halus dari pada para ustad !"


Doni dan Rifki heran dengan jawaban Agung.


"Kemakan omongan nih dukun dia" bisik Doni kepada Rifki.


"Ya sudah, saya harap kalian berempat berkumpul dan ikuti saran saya" ucap dukun itu.


"Baiklah, kalian cari Zidan dan Zizi ya ? Kalau sudah, nanti temui kami" ucap Agung.


Lalu mereka berdua pun pergi. Doni masih saja berdiri di sana sambil terus memperhatikan gerak-gerik sang dukun.


"Gue curiga sama tuh dukun ! Kayak ga asing" ucap Doni.


"Gestur tubuhnya sih kayak ga asing, tapi.... Udahlah, yuk cari Zizi" ajak Rifki.


"Kemana tuh anak ?"


Tiba-tiba Zidan pun datang.


"Oi ! Katanya aku di suruh ke sini, ada apa ya ?" tanya Zidan.


"Mana gua tau !" jawab Doni ketus.


"Bantu nyari Zizi dulu, katanya nanti kita berempat mau di taruh di ruangan khusus" ucap Rifki.


"Ruangan khusus ?? Mau di apain ?" tanya Zidan.


"Banyak bac*t lu !" pekik Doni.


Zidan menoleh ke arah Doni.


"Biasa aja matanya !!!" kata Doni.


"Aku datang ke sini baik-baik, nanya juga baik-baik, tapi jawabanmu ko kasar ya ?" ucap Zidan.


"Lu itu ga pantes dapet perlakuan baik !" kata Doni.


"Haduuuh ! Terserah kamu saja Don" ucap Zidan.

__ADS_1


"Pengikut dan pengabdi setan ga pantas di baikin !!" tegas Doni.


"Lebih baik jadi pengikut setan daripada ngikutin hawa nafsu !!" jawab Zidan.


"Bukannya setan itu lebih jago dalam hal hawa nafsu ya ?" tanya Doni menyeringai.


"Yang penting mereka itu setia kawan, ga kaya kalian"


"Sudah sudah sudah !!! Kayak anak kecil aja ! Adu mulut terus kalau ketemu !! Oi Zidan ! Bisa ga sih lu bilangin ke Kanaya, suruh dia untuk berhenti membuat onar !" kata Rifki.


"Biasanya kalau dendam belum terbalaskan itu rasanya masih ada yang kurang tau ga sih di hati, ga sreg gitu kan ? Nah, sama. Kanaya juga gitu Ki" ucap Zidan.


"Lu bisa-bisanya ya belain Kanaya ! Dendamnya tuh harus di buang ! Jangan di jadikan alat buat balas dendam !! Toh yang salah juga bukan Aludra kan ??" tanya Rifki.


"Salah dia lah. Dia ga pernah mikirin perasaan Kanaya ! Kanaya tuh baik banget, udah mau ngajarin banyak mata pelajaran sama Aludra ! Ngajarin banyak hal yang Aludra ga ngerti, ehh malah nikung, si Agung juga gobl*g !! Udah tau punya pacar Kanaya, yang pintar, cantik, ramah, sopan, santun, rajin, pokoknya idaman banget deh, ehh malah kepincut sama temannya Kanaya" celoteh Zidan.


Doni dan Rifki hanya saling pandang. Kalau di pikir-pikir Kanaya ada benarnya. Tapi kalau ngikutin hawa nafsu, Kanaya salah besar.


"Ki !! Udah ketemu Zizi ?" teriak Agung yang tiba-tiba datang dan mengagetkan mereka.


"Oh, belum pak, hari ini belum ada yang lihat Zizi" ucap Doni.


"Tapi kata Lulu tadi dia udah berangkat sekolah, bahkan pamitan juga sama Lulu"


"Lah, kemana tuh anak"


"Sudahlah, tak apa. Kalian ikut saya dulu, nanti biar Zizi nyusul." ucap mbah dukun.


Antara ragu dan bimbang mereka pun mengikuti mbah dukun itu. Kemudian mbah dukun itu mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya.


"Ini ada kalung, gelang dan cincin, pakailah sebagai pelindung buat kalian." ucap mbah dukun itu.


Rifki mengambil cincinnya, Doni mengambil gelang dan Zidan kebagian kalungnya. Mereka pun mulai memakainya.


CRIIING


Berasa ada yang ga enak di badan mereka setelah memakai perhiasan itu. Kemudian sampailah mereka di depan gudang sekolahan.


"Di sini mbah ??" tanya Rifki.


"Iya, masuklah" ucap dukun itu.


"Gudang ??"


"Tempat ini sudah ku bacakan mantra, jadi nanti Kanaya tidak bisa memasukinya" kata mbah dukun.


Zidan mengangkat alisnya.


"Mantra apa yang bisa membuat Kanaya ga bisa memasuki ruangan ini ?" tanya Zidan dalam hati.


Lalu mereka mulai memasuki ruangan itu.


GERIIIITTTT

__ADS_1


"Lah ?? Ko gelap banget"


__ADS_2