Karisma Sang Pemilik Khodam

Karisma Sang Pemilik Khodam
Di luar prediksi


__ADS_3

SRIIINGG


Suara itu membuat Darmaji melotot. Sayang sekali ia sudah tak mampu lagi menggerakkan badannya, hanya bagian wajah yang masih bisa ia kendalikan.


Zizi mulai mendekati Darmaji sambil membawa belati di tangannya. Dengan tatapan tajamnya ia mulai mengangkat tangannya ke arah dada Darmaji.


HIIIAAAKKKK !!


Ketiga anak itu memalingkan wajahnya, tak mau melihat ke arah Darmaji ataupun ke arah Zizi.


"Ayoo Zizi, lakukaaan. Kamu pasti bisa" ucapnya dalam hati.


Namun, mereka segera menoleh ke arah Zizi saat ia tak jadi menusukkan belati itu. Ia justru menangis tersedu-sedu.


"Hiks... Hiks..."


ketiga anak itu pun terheran-heran.


"Kenapa lagi dia ?" tanya Rifki.


Zizi terlihat mulai menurunkan belati itu dan berjalan menjauhi Darmaji.


"Zi ! elu gila ya ? kita udah cape dari tadi nahan dia ! sekarang giliran tinggal nusuk dia doang lu nyerah !" teriak Rifki.


"Aku merindukanmu" ucap Darmaji.


Sontak saja Doni dan yang lainnya menoleh ke arah Darmaji.


"Kemarilah, aku merindukanmu" ucap Darmaji dengan penuh drama.


Doni menggertakkkan gigi-giginya sambil terus melihat ke arah Darmaji mengamati apa yang terjadi.


"Zi ! Sadarlah. Dia bukan Aiman. Dia bukan temanmu ! Dia Darmaji" cetus Zidan.


Doni mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mengerti apa yang sedang terjadi pada pandangan Zizi. Untunglah hanya terpengaruh sebagian ingatan saja.


Sedangkan Rifki mulai lelah menghadapi Zizi yang mudah terpengaruhi.


"Apa yang sedang di kerjakan khodamnya Zizi sebenarnya, mengapa ia jarang di jaga di saat-saat seperti ini ? Apa ada yang lebih berbahaya dari ini ??" tanya Rifki dalam hati.


***


Di kost putri.


Saat Dewi dan Tania berada di kamar, sibuk dengan ponsel masing-masing, tiba-tiba Dewi mendengar ada suara orang sedang berbincang.


"Kenapa Wi ?" tanya Tania.


"Ada suara di depan"


"Mana ada, hening gini ko, palingan cuma suara mesin cuci"


"Bukan. Itu suara orang berbincang"


"Ini udah malam, ga mungkin"


"Ada suara lelaki"


Tania pun menoleh aneh ke arah Dewi.


"Ayo kita cek" ajak Tania.


Mereka berdua pun mulai berjalan ke arah mesin cuci.


"Masih ada suaranya ??" tanya Tania.

__ADS_1


Dewi mengangguk. Kemudian ia menyalakan lampu. Namun di sana tak ada siapapun.


"Ga ada kan ? Kamu tuh ngada-ngada aja. Ayo masuk" kata Tania.


Dewi masih memperhatikan mesin cuci. Ia yakin itu bukan suara air di mesin cuci, tapi memang ada suara orang yang sedang berbincang.


"Udah ah ! Ayo kita masuk lagi" ajak Tania.


"Tunggu !" ucap Dewi sambil mengambil ponsel dari sakunya.


Tania hanya memandangnya saja. Dewi pun mulai menekan kamera dan mengarahkannya ke mesin cuci.


BRAAAKKK !!


Tiba-tiba saja Dewi terkapar pingsan. Tania pun mulai panik.


"Wi ! Dewi !!"


Semerbak harum mulai tercium oleh Tania dan membuatnya merinding. Di tambah lampu-lampu di sana pun mulai berkedip-kedip.


***


Sementara di rumah Tasya di saat Darmaji di ikat oleh Doni dan yang lain, Tasya pun ikut terangkat dan melayang. Ia hanya menjerit dan mengeram kesakitan tanpa terlihat apa yang sebenarnya terjadi.


AAAAAAAAA


"Sabar nak, mama dan papa di sini bantuin kamu nak, hiks hiks... Bu Kia, bagaimana ini ??"


Ayah dan ibunya mencoba memegangi tangan dan kakinya agar ia tak terbang terlalu tinggi. Kiandra pun mencoba membantu melepaskan gelang yang ada di tangan Tasya dengan sekuat tenaga.


"Aaarrgghhh !! Hufh !"


Badan Tasya mulai gemetar. Matanya nanar ke segala arah. Air matanya terus menetes.


"Bu Kia, tolongin Tasya bu, aku mohooon, tolongin anak saya bu..." pinta ibunya Tasya.


AAAAAAA


Teriakan Tasya semakin menjadi saat Zidan berhasil menyegel tubuh Darmaji. Tasya yang tadinya banyak gerak, tiba-tiba menjadi kaku.


"Bu Kia ? Bagaimana ini ???"


"Bu ! Saya sedang berusaha membantu ! Jadi tolong diam !! lebih baik ibu berdo'a !!"


"Pokoknya kalau sampai anak saya kenapa-napa ! Saya mau tuntut ibu atas kost itu"


DEGG !!


Kiandra mau marah tapi ia tahan. Ia pun melanjutkan mengutak atik gelang kembali.


"Cepat bu ! Nanti anak saya mati !! Hiks hiks !! Ga mau kehilangan aku buuuu... Cepaaaat !! Rasanya kehilangan itu sakiit bu !! Sakiit !! Melihatnya tersiksa begini saja udah sangat pilu bu ! Cepat lepasiin bu ! Cepaaaat !!"


HUAAAAAAAA !!!!


Teriakan itu membuat ayah dan ibunya Tasya terdiam dan melongo beberapa menit. Pasalnya gelang itu pecah dan apa yang tadi mereka lihat sangatlah mengagetkan.


Kini Tasya sudah tak melayang lagi. Badannya tak kaku lagi. Namun ia masih pingsan dan terbaring lemah di kamarnya.


***


"Peluklah aku sekarang, kemarilah, aku sangat merindukanmu" Rayu Darmaji.


Sedangkan Zizi masih membelakanginya sambil terus mengontrol diri agar tak termakan ucapan Darmaji.


"Udahlah Zi ! Gue cape" ucap Rifki.

__ADS_1


"Aku merindukanmu, aku merindukanmu, aku merindukanmu, aku merindukanmu"


Suara terasa sangat menganggu telinga Zizi. Ia pun berfikir ga mungkin ia akan mengecewakan teman-temannya yang udah berjuang mati-matian.


Tapi ketika ia menatap ke arah Darmaji tadi, wajah Aiman lah yang ia dapati. Wajah sahabat kecilnya yang tak sempat ia selamatkan dari ganasnya serangan makhluk yang tiba-tiba saja mengambilnya dari Zizi.


Zizi menguatkan genggaman belatinya. Mencoba menghilangkan wajah Aiman dari benaknya.


"Aku merindukanmu"


"Aiman"


BRAAAKKK !!


Zizi di seret oleh makhluk tak kasat mata lagi. Ia mencoba melawannya menggunakan belati itu. Ketiga anak itu pun segera berlari membantunya.


"Jangan beraninya bersembunyi ! Tunjukan kalau berani"


BEETTT


Hampir saja Rifki terkena lemparan kayu. Untung saja ia sigap menghindar.


Tiba-tiba saja banyak perabotan rumah tangga di sana melayang dan menyerang mereka. Mereka segera melawannya.


PRAAAANGGG


Salah satu botol kaca pecah di hadapan Zizi. pecahan itu terlihat sangat tajam dan mengarah ke wajahnya.


Zizi hanya bisa berjalan mundur menghindarinya. Sedangkan ketiga anak itu pun masih sibuk berperang dengan perabotan.


Mentoklah Zizi di sebuah tembok. Ia tak bisa lagi menghindar. Sesekali ia melirik ke arah Darmaji yang masih terikat seperti serangga di sarang laba-laba.


Zizi mulai pasrah. Ia memejamkan matanya dan...


HUAAAAAAAA !!


Zizi berteriak sambil melempar belati itu. Tanpa di sadari Darmaji, belati itu menancap di lidah Darmaji yang sedang menganga.


CRUUUKKK


Semburan darah dari mulut Darmaji mengagetkan ketiga anak itu. Mereka tak menyangka kalau belati itu akan tertancap di lidah Darmaji.


AAAKKHHHH !!


Perabotan itu pun berjatuhan dan tak ada kekuatannya lagi.


PRAAANGG PRAAANGGG PRAAANNGGG


Tubuh Zizi gemetar hebat. Ia pun tak mampu menopang badannya, sehingga ia pun menjatuhkan lututnya ke lantai.


"Apa aku membunuh ??" tanya Zizi lirih nan gemetar.


Doni tersenyum.


"Ini di luar prediksi" ucap Doni.


"Ini akan mengunci lidahnya, hingga ia tak mampu lagi mengucapkan mantra ! Wuhuuu !! Mampus kau Darmaji !!" teriak Rifki dengan girangnya.


Zidan segera menghampiri Zizi dan membantunya berdiri.


"Ayo bangun. Tugas kita sudah selesai" kata Zidan sambil mengulurkan tangannya.


Zizi benar-benar tak sanggup untuk bergerak lagi. Ia benar-benar kehabisan tenaga. Untuk menggapai tangan Zidan pun ia tak mampu.


"Kematian yang sempurna !! Dalam keadaan tergantung dan lidahmu terkunci oleh belatimu sendiri ! Hahahaaa" ucap Doni.

__ADS_1


Meskipun sebenarnya Darmaji belum menghembuskan nafas terakhirnya. Namun anak-anak itu sudah memprediksikan kematian itu. Darmaji masih sempat berucap dalam hati yang di penuhi oleh dendam.


"Satu lagi tugas kita ! Bagaimana cara membuat agar tak ada seorangpun yang memasuki rumah ini lagi. Agar tak ada yang membantunya untuk bangkit kembali"


__ADS_2