Karisma Sang Pemilik Khodam

Karisma Sang Pemilik Khodam
Kau yang menyuruhku


__ADS_3

17 tahun sudah lamanya Aludra tak melihat Kanaya secara utuh seperti saat ini. Walau kini ia datang dengan keadaan yang parah. Ia berjalan tanpa alas kaki, luka bekas tusukannya masih mengalir darah, bajunya lusuh, rambutnya acak-acakan dan wajahnya sangat pucat.


Jantung Aludra berdegup kencang. Semua anak-anak pun minggir ketakutan. Sambil sesekali menatap ke arah Kanaya.


"Jadi ini penghuni ruang kelas 12 IPA 1 ??? Yang bernama Kanaya"


Kanaya berjalan mendekat arah ke Aludra. Agung pun ikut berdiri sambil menatap ke arah Kanaya yang makin berjalan makin berubah menjadi cantik seperti dulu lagi.


"Kanaya ??"


Luka-luka itu hilang memudar, rambutnya mulai kembali tertata rapi, bajunya kembali berwarna putih bersih. Bercak darah hilang tanpa sisa. Ia kemudian berhenti lalu menatap ke arah Aludra dan Agung sambil tersenyum.


"Aludra" ucap Kanaya.


Semua anak di sana pun menoleh ke arah Lulu. Termasuk anak-anak yang tinggal di kost putri.


"Jadi ? Bu Lulu adalah Aludra ???"


"Yang membunuh Kanaya ?"


"Jadi selama ini kita tinggal dengan seorang pembunuh ??"


"Pantas saja, kost dengan fasilitas yang mewah hanya di bandrol dengan harga yang terjangkau, itu hanya tak tiknya dalam bersembunyi selama ini !"


"Tidak ! Tidak ! Kalian salah faham ! Ini semua ga seperti yang kalian fikirkan" ucap Lulu.


Tiba-tiba saja mbah dukun itu menyemburkan air ke Kanaya.


AAAAAAAAAAAAA


Suara teriakan Kanaya melengking nyaring hingga terdengar ke area pintu gerbang.


"Ayaaaa !!" teriak Lulu sambil menoleh ke arah dukun itu dengan penuh tanda tanya.


Kanaya menatap tajam ke arah dukun itu dan ke arah Aludra.


"Ini kah rencanamu untuk membalaskan dendammu padaku Aludraaaa !!!" teriak Kanaya sembari ia berubah wujud menjadi sosok yang menyeramkan kembali.


Anak-anak berteriak dan berlarian pergi menjauh sedikit dari sana. Aludra mematung. Air matanya menggenang.


"Kenapa aku ga pernah benar di matamu Aya"


"Beraninya kau panggil dukun untuk mengusirku !!"


"Hiks hiks... Tidak ! itu tidak benar. Bukan aku yang memanggil dukun itu" ucap Aludra.


"Sebusuk itukah hatimu !!" pekik Kanaya.


"Hiks hiks..."


"Air mata palsu !! Kau hanya ingin mendapatkan simpati saja kan ?" tanya Kanaya dengan nada emosi.


Mbah dukun itu mencipratkan air ke badan Kanaya lagi dan membuat badan Kanaya melepuh.

__ADS_1


AAAAAAAAA


Semakin geramlah Kanaya pada dukun itu. Penampilan Kanaya pun menjadi sangat mengerikan. Tiba-tiba semua pintu dan jendela tertutup secara bersamaan. Lampu pun berkedip-kedip membuat suasana mencekam.


JEDEEERRRR !!


AAAAAAA


Anak-anak itu berteriak kencang.


"Bu Lulu !! Dengar kami baik-baik ! Kami semua ga mau mati dengan keadaan seperti ini ! Kami ga mau mati sia-sia begini ! Ketakutan dan hanya kau peralat saja !! Jika harus ada yang mati di sini dan saat ini ! Kau saja yang harus mati !! Aku benci sama ibu !!" terisk Tasya.


Aludra terdiam. Percuma saja bila ia jelaskan sekarang. Tak ada bukti apapun dan mereka pasti tak akan percaya.


Kanaya mulai mengumpulkan tenaga untuk menyerang dukun itu. Ia berlari kemudian terbang menuju ke arah dukun itu.


DUUAARRR


AAAGH !!


Kanaya terpental jauh saat hendak menyerang dukun itu. Kanaya langsung bangkit dan mencoba menyerangnya kembali.


AAAGHHH !


Lagi-lagi ia tak dapat menyentuh dukun itu. Ia teringat bahwa ia pun dulu pernah di kalahkan oleh mbah Muryat. Kanaya yang tak dapat menyentuh mbah Muryat saat itu harus menerima kekalahan dan harus di segel supaya tidak membahayakan orang lagi.


Kini ia sudah terbebas dari segel itu, tapi lagi-lagi ada yang lebih sakti darinya.


"Siapa dukun ini ? Bukankah Mbah Muryat telah ku bunuh waktu itu bersama dengan Zidan ?" tanya Kanaya dalam hati.


Mata Kanaya langsung menatap ke arah Aludra. Ia berjalan merangkak mendekati Aludra. Anak-anak di sana hanya mampu menutup mata dan saling berpelukan saja karena takut melihat Kanaya.


Kukunya yang panjang membuatnya semakin terlihat menyeramkan. Dengan cepat ia mendekat ke arah Aludra dan hendak menyerangnya, namun sang dukun segera mencegatnya.


Itu membuat Kanaya semakin geram. Ia menoleh ke arah anak-anak yang berdiri tak jauh dari sana. Ia membalikan badannya tapi dengan cara kepalanya dulu yang memutar ke belakang.


Sontak saja itu membuat anak-anak di sana menjerit dan kemudian berlari entah kemana. Kanaya menyeret satu anak.


AAAAAAA


"Kanaya jangan sakiti dia !!" teriak Aludra.


"Nay, kalau pun kau mau membunuh, bunuhlah aku, aku siap mati demi kamu, jika itu membuatmu tenang" ucap Agung.


Kanaya menjatuhkan anak itu dan ia berteriak kemudian menghilang. Itu membuat semuanya panik dan makin berhamburan pergi. Di tambah lagi di luar tiba-tiba saja hujan sangat deras.


Ruangan itu menjadi gelap, hanya sambaran petir yang sesekali menerangi ruangan itu. Tiba-tiba Kanaya muncul dan langsung menyeret Agung hingga ke tembok lalu mencekiknya.


Tangan Agung melambai-lambai, nafasnya sudah sangat terengah. Mbah dukun itu mendekat tapi di tepis oleh Kanaya sehingga dukun itu terpental jauh dan menjatuhkan sesajen yang ada di tangannya.


Dukun itu bangkit dan mengeluarkan sebuah mantra. Sebelum mbah dukun itu selesai membaca mantra Kanaya kembali menghilang dan meninggalkan Agung yang tergolek lemas begitu saja.


Kemudian terdengar suara gamelan dan nyanyian dengan nada yang cukup menyeramkan. Anak-anak di sana pun terlihat bersiap siaga siapa tau Kanaya tiba-tiba menyerang mereka.

__ADS_1


"Kenapa gue ngerasa kalau ada yang memperhatikan gue ya ?" ucap Nia.


"Itu tandanya dia (sosok hantu) sedang memperhatikan lu" jawab Mega.


"Ga usah nakut-nakutin lu !"


"Ga percaya ya udah ! gue ngomong bener ko, karena kalau lu berada di tempat gelap atau lu sedang sendirian, dan lu merasa kalau ada yang sedang memperhatikan atau sedang mengikuti lu, itu tandanya ada makhluk yang lagi mengintai lu, paham" tutur Mega.


"Sejak lu berteman sama Zidan, lu emang makin aneh ! Suka percaya sama tahayul"


"Mau bukti apa lu ?" ucap Mega sambil melotot ke arah Nia.


"Udah udah udah !! Ribut aja ! Fokus aja, kita tuh lagi jadi incaran Kanaya !" lerai Rita.


"Lu yang jadi incarannya !! Gue sih enggak" ucap Mega.


"(Geram) lama-lama gue bunuh lu ya !" kata Nia.


"Ga ada rasa terima kasihnya lu udah kita selamatin waktu itu dari Kanaya dan Zidan" ucap Rita.


"Gue ga nyuruh buat di selametin ko" jawab Mega dengan entengnya.


Nia menoleh ke arah Mega dan kemudian mencekik Mega.


"Mati aja lu sekarang !! Mati aja lu !!!" teriak Nia sambil terus mencekik Mega.


"Stoop Nia stop !!"


Anak- anak yang lain pun mendekat dan mencoba menolong Mega.


"Lu kerasukan apa sih ??" tanya Rita.


Nia masih tampak kesal pada Mega. Tiba-tiba Agung jatuh dari atas tepat di hadapan anak-anak itu.


AAAAAAAAA


Semua anak kaget karena melihat Agung berlumuran darah dan pisau telah menancap di perutnya.


" Aguuuuung !!" teriak Aludra.


Mbah dukun segera bergerak dan melawan Kanaya. Baju Kanaya kini telah berganti menjadi seperti baju milik nyi roro kidul, berwarna hijau pupus dan berselendang, ia mengenakan konde di rambutnya bak para pesinden.


Ia menari dengan lincah sambil tertawa setelah mampu menacapkan pisau di perut Agung. Lagu jawa itu pun mampu membuat banyak anak-anak di sana ikutan menari. Sedangkan Agung makin kehabisan darah.


"Kau sendiri kan yang menyuruhku untuk membunuhmu ?? Huahahahaaaa" ucap Kanaya di barengi dengan suara tawa yang menakutkan.


Agung terlihat sangat kesakitan dan mencoba untuk bertahan. Namun rasanya sia-sia, karena darahnya terus saja mengalir dan wajahnya makin pucat saja.


Aludra ga percaya dengan apa yang ia lihat. Nafasnya sedikit sesak dengan kenekatan Kanaya. Ia pun ambil langkah mundur untuk menghindari Kanaya dan ingin segera kabur karena belum siap untuk mati.


Kanaya masih memimpin tarian di sana, tapi tiba-tiba ia melihat pergerakan Aludra. Ia pun segera mengejarnya.


"Aludraaa"

__ADS_1


Aludra menoleh kebelakang dan kaget saat melihat Kanaya sudah tepat berada di belakangnya.


AAAAAAAAAAA


__ADS_2