Karisma Sang Pemilik Khodam

Karisma Sang Pemilik Khodam
Dua alam


__ADS_3

Zizi masih berada di dua alam, alam bawah sadarnya sedang memperlihatkan kejadian demi kejadian yang tengah di alami Aludra.


Nampak seorang polisi sedang mencari jejak sidik jari di tubuh korban. Dengan sangat teliti polisi itu mencoba menyingkap tabir.


"Lapor komandan ! tugas sudah selesai, saatnya kembali ke Rumah sakit guna melakukan tindakan lebih lanjut, laporan selesai"


Tak lama mereka semua berpamitan. Barulah may*t Aludra boleh di pegang dan di urus untuk di mandikan dan di sholatkan.


Zizi menoleh ke arah pojok ruang kamar Aludra. Di sana tengah berdiri dua perempuan cantik, yaitu Kanaya dan Kiandra. Mereka nampak sangat serius memperhatikan may*t korban.


Tak lama mereka berdua menghilang. Zizi mencoba mencari namun tak ia temukan.


"Gue yakin, ini penyebab mengapa tak ada sidik jari sama sekali di tubuh Aludra, karena ada campur tangan Kanaya. Bukan hanya Kanaya yang membun*h, namun Kiandra pun ikut turut serta menghabisi nyawanya hanya karena salah faham dan kurangnya pengertian dari Kiandra"


Zizi masih berdiri mematung di sana, memperhatikan jenazah ibu kostnya itu. Tiba-tiba datanglah Harimau putih itu di hadapannya.


"Harimau putih ??"


"Assalamualaikum Zilvana Ziya"


"Wa'alaikumussalam wr wb"


Harimau putih memberikan senyuman dan tanda hormat pada Zizi.


"Salam sejahtera untukmu wahai Zilvana Ziya, kedatanganku kemari ingin memberi kabar bahwa.... saya minta maaf sebanyak-banyaknya karena tak mampu menjagamu dengan baik"


"Apa maksudmu ??"


"Sudah saatnya saya pergi"


DEG !!


"Pergi ?? Apa aku melakukan kesalahan ?? sehingga membuatmu harus pergi ?? "


"(Menarik nafas) ada suatu hal yang mengharuskan saya pergi, mohon pamit, jaga dirimu baik-baik"


"Apa kesalahanku tidak bisa di perbaiki ??" ucap Zizi dengan air mata yang mulai menggenang.


"Saya minta maaf, tapi saya harus pergi"


"Aku mohon jangan !! jangan pergi... aku janji akan ku perbaiki semua kesalahanku, aku mohon jangan pergi, aku janji aku akan mendengarkanmu, tapi tolong jangan pergi"


"Kamu anak yang baik, kamu pun tak melakukan kesalahan, tapi memang ada hal yang mengharuskan saya untuk pergi dan tak lagi menjagamu"


"Nggak ! jangan pergiii...." teriak Zizi sambil sedikit menahan air matanya.


Sofia yang sedang berada di sampingnya pun kaget mendengar ucapan Zizi.


"Zizi ? lu kenapa ??" tanya Sofia sambil celingukan.


Rifki pun mendekat.


"Kenapa Sof ??"


"Dia berteriak dan bilang jangan pergi, gue bingung"


"Dia sedang berada di dua alam"


Sofia menoleh ke arah Rifki. Rifki duduk di samping Zizi sambil memegang tangannya.


"Zizi, lu bisa denger gue ?? ayo balik" ucap Rifki.


Sementara di alam bawah sadar Zizi, khodamnya mulai melangkah pergi.


"Assalamualaikum..." ucap Harimau putih itu.

__ADS_1


Seketika air mata Zizi tak mampu lagi ia tahan. Ia teringat bahwa Harimau putih itu selalu menjaganya dari mala petaka. Bahkan Zizi begitu nyaman dengan penjagaannya.


"Hiks... hiks... hiks... jangan pergiiiiii.... hiks, jangaaan !!"


Sofia pun bingung harus bagaimana. Sedangkan Rifki masih berusaha berkomunikasi dengan Zizi.


"Zi, dengerin gue..."


"Jangan pergiiiiii... hiks... hiks...."


"Bismillahirrahmanirrahim...."


Rifki mulai mengusap wajah Zizi, dan Zizipun tertidur.


"Woi ! lu apain dia ? pingsan lagi" ucap Sofia.


"Cuma tertidur sebentar"


Doni pun masuk ke dalam, Rifki dengan wajah sengitnya menatap ke arah Doni.


" Elu udah keluar ngapain masuk lagi ??" tanya Rifki.


"Salah ya ??" ucap Doni.


"Salah lah !!" bentak Rifki


"Woi woi woi !!! kalian berdua bisa diam ga ?" kata Sofia.


"Dia tuh yang bikin emosi !" ucap Rifki.


"Elu keluar sekarang !!" ucap Sofia sambil menunjukkan pintu keluar dengan jari telunjuknya.


Rifki kaget mendengar kalimat itu.


"Ko elu malah nyuruh gua yang keluar ??"


Dengan wajah kesal Rifkipun keluar dari ruangan itu. Tak lama Zizi pun tersadar. Ia pun bingung kenapa bisa ada di sana.


"Syukurlah, sadar juga lu akhirnya, hufh" ucap Sofia sambil memeluk Zizi.


"Elu ga apa-apa kan Zi ?" tanya Doni.


"Kenapa Rifki ga ada di sini ya ?" tanya Zizi dalam hati.


"Elu kenapa ?? Apa yang lu liet ??" tanya Doni lagi.


"Ga apa-apa ko Don"


"Gue ga percaya"


"Bu Lulu" ucap Zizi sambil menundukkan kepalanya.


"Ada apa dengannya ??"


"Ternyata, Bu Kiandra juga bagian dari Kanaya"


Sofia pun kaget.


"Elu serius Zi ??"


"Gue tau ko Don, lu udah tau hal ini kan ??" tanya Zizi.


"Sudah"


"Hufh !! bagaimana cara mengungkap kematiannya ??"

__ADS_1


"Menurut gue ga perlu, karena Bu Lulu sendiri sudah mengikhlaskannya bukan ??"


"Tapi Bu Kia ini berbahaya Don"


"Dia hanya kecewa saja ko, kalau lu perhatian juga pas setelah adegan menancapkan pisau itu, dia memanggil Aludra. Ada sedikit rasa penyesalan, namun itu sudah terlanjur terjadi, yaaaa, mau gimana lagi ?? Bu Lulu ikhlas ko"


"Gila, ada ya orang yang ikhlas di bunuh ?? apa lagi oleh adiknya sendiri yang berkhianat dengan sahabatnya" ucap Sofia.


"Kalau Aludra ga ikhlas, dia pasti akan datang lewat mimpi seseorang untuk menemukan bukti pembunuhan itu"


"Benar juga"


"Tapi yang Kiandra pakai adalah pisau milik Kanaya, dan pisau itu tuh ga nyata kan ?? ya mana bisa membuktikan ???"


"Tanpa adanya pisau itu pun, kalau memang Kanaya lalai, bisa saja sidik jari Kiandra akan tetap terdeteksi oleh polisi, entah di bajunya, atau di tangan Aludra sendiri, bukankah mereka berkelahi ?? sudah otomatis dong saling pegang ??"


"Yang jadi pertanyaan adalah kenapa Kiandra bisa menghilang semua bukti ? Apakah dia ke Jakarta tak naik pesawat ?? harusnya ada tiketnya dong ??"


"Gue sih yakin, kalau Kiandra itu punya sesuatu yang bisa membuatnya menghilang dan berteleportasi"


"Keren juga ya ??"


"Ada adegan dimana Kiandra tiba-tiba muncul sesaat sebelum membun*h Aludra. Pintu di kunci dari dalam, jendela belum terbuka, dari mana ia datang ??"


"Kanaya"


"Bu Kiandra hebat juga ya ???"


"Apa yang bakalan lu lakuin ke Kanaya jika suatu hari nanti kau bertemu dengannya ??"


***


Di kost putri.


Berapa anak di sana sedang sibuk menyiapkan makan malam. Sedangkan Santi dari tadi tak berkedip memperhatikan Zizi.


"Muka polos gitu tapi bisa menghancurkan hubungan gue sama pacar gue"


Setelah ia mengucapkan kalimat itu, tiba-tiba ia melihat di samping Uti ada sosok yang begitu menyeramkan. Ia terlihat tengah memperhatikan Uti dari atas kompor, sedang Uti sedang memanaskan kuah bakso.


"Jangan-jangan itu khodamnya Zizi, cuih, dasar bedeb*h !! gue rasa itu lebih mirip hantu daripada khodam"


Tanpa Santi sadari sosok yang berada di atas kompor kini mulai menatapnya. Santi pun mendekat ke arah Uti.


"Hati-hati, ada yang sedang mengawasimu" bisik Santi kepada Uti.


Sosok itu pun menatap tajam ke arah Santi, Santi sedikit melirik. Ia tak takut karena ia fikir sosok itu adalah khodamnya Zizi.


"Siapa yang mengawasiku ??" tanya Uti sambil sibuk mengaduk kuah di panci.


"Teman di kamarnya Zizi"


Uti menoleh ke arah Santi. Santi pun menoleh ke atas kompor.


"Cuih !!!"


Tiba-tiba saja Santi meludahi sosok itu. Uti marah karena ia kira Santi sengaja meludahi kuah baksonya.


"Apa-apaan lu !!" teriak Uti geram.


Santi yang tak tau kalau ludahnya bakalan jatuh ke dalam panci pun panik.


"Sorry sorry !! gue ga sengaja........"


Uti menatap dengan penuh amarah. Karena sejak siang tadi ia belum makan sama sekali, dan ini, ketika hendak makan malam makanannya di rusak Santi.

__ADS_1


Santi bingung harus bagaimana. Ia menoleh ke arah Zizi.


"Sial !!!"


__ADS_2