
Ketika Rifki hendak mendekat ke jiwanya Mariska, tiba-tiba Darmaji melempar sebuah jaring halus.
"Eh !! Apa-apaan lu !! Lepasin mereka !" teriak Rifki.
Darmaji hanya tersenyum tipis.
DUUUAAKKK !!
Doni menedangnya hingga terpental. Kemudian Zidan melanjutkan menghajarnya hingga jaring itu terlepas dari tangan Darmaji.
"Ki ! Tangkap jaringnya" teriak Zidan.
Rifki berlari dan bersiap menangkap, namun Darmaji dengan cekatan berhasil menangkap lebih dulu. Rifki pun terjatuh.
"Ah ! Sial"
Tiba-tiba mereka mendengar sebuah kidung.
"Rumekso ingsun laku nisto ngoyo woro, kelawan mekak howo, howo kang dur angkoro, senadyan setan gentangan, tansah gawe rubeda, hinggo pupusing jaman"
"Itu kidung wahyu kolosebo"
"Hameteg ingsun nyirep geni wiso murko, maper hardening ponco, saben ulesing netro, linambaran sih kawelasan, ingkang paring kamulyan, sang hyang jati pangeran"
Zizi melantunkannya dengan tarian jawa dan membuat merinding bagi yang mendengarkannya.
"Kesurupan kah ?" tanya Rifki pada Doni.
"Sepertinya"
"Punya dua khodam ko bisa-bisanya dia kesurupan ?"
"Lagi oleng pasti pikirannya"
"Kira-kira siapa yang masuk ke dalam tubuhnya Zizi ??"
"Abaikan Zizi sementara. Kita hadapi Darmaji dahulu kawan" ucap Zidan.
Doni menoleh ke arah Zidan.
"Sejak kapan kita berkawan ?" tanya Doni pada Zidan.
Zidan hanya melirik saja.
"Mulai lagi deh kalian ini !! Ayo hajar Darmaji" ucap Rifki.
"Kita bagi tugas Ki ! Lu ambil kain merah itu, biar gue sama Zidan yang menghadapi Darmaji"
"Lah, gue aja kagak tau dimana kain itu"
"Ada di laci kamar Darmaji ! Cepat !!"
Rifki segera berlari ke arah kamar. Darmaji yang melihatnya segera mengejar namun Zidan dan Doni segera mencegatnya, dan terjadilah perkelahian lagi.
"HIIIAAAKKKK !!!"
Di sisi lain Rifki sedang mencari laci yang di maksud oleh Doni. Tapi semua di kunci. Ia pun berusaha buat nyari kuncinya di semua tempat.
"Dimana kuncinya ??"
Ia pun mencoba mencarinya di bawah bantal. Dan ternyata ada. Namun kuncinya sangatlah banyak. Mau ga mau ia harus mencobanya satu persatu.
__ADS_1
Saat sedang mencoba membuka gembok itu tiba-tiba Darmaji menarik bahunya Rifki dengan keras dan melemparnya ke tembok.
"Aduh !! Woi !!! Kira-kira dong elu kalau mau lempar ! Sakit nih gue" ucap Rifki.
"Beraninya kau masuk kamar orang tanpa seizin pemiliknya !! Apa lagi ini kamar orangtua ! Dasar bocah ga tau sopan santun !!"
"Anda sendiri bagaimana ?? Apakah sudah menerapkan kesopanan dan kesantunan ??" tanya Rifki sambil berdiri dan mendekat ke arah Darmaji.
KRINCIIING
Rifki merebut kunci yang tadi berada di tangan Darmaji. Doni dan Zidan pun nyusul ke dalam. Tiba-tiba terdengar suara tawa dari Zizi.
"Hahahahaaaa... Percuma anak muda, kalian ga akan bisa mengalahkannya (menunjuk ke arah Darmaji)"
"Diam kau !! Itu bukan urusanmu !!" teriak Darmaji.
"Hahahaaa, jelas itu jadi urusanku. Aku adalah gurumu ! Aku faham denganmu"
DEGG !!
"Guru ???" tanya Doni, Rifki dan Zidan kompak.
"Ya. Guru yang ia kalahkan dan ia bunuh secara diam-diam" ucap Zizi dengan suara serak dan sambil memakan bunga mawar yang ada di atas ranjang itu.
"Aarrgghh !! Persetan kalian semua. Hiiaaakkk !!"
Darmaji mulai menyerang ke tiga anak lelaki itu. Walau begitu, mereka masih tetap kalah. Berkali-kali mereka terkena tendangan dan hantaman Darmaji.
"Huuufhh !! Saatnya minta bantuan para khodam" ucap Doni.
Salah satu di antara mereka segera duduk bersila dan menfokuskan diri. Sedangkan keduanya menghalau Darmaji agar tak mengaganggu kefokusan temannya.
DDUUUAAKKK
"Ukhukk !! Ah. Sial"
"Masih mau berani maju ??"
Tiba-tiba Zizi terbang melayang ke arah Darmaji dengan raut wajah yang begitu marah. Ia pun mencekik Darmaji.
Darmaji nampak mulai kesusahan bernafas. Namun ia segera nemampik tangan Zizi dan mendorong Zizi sekuat tenaga agar menjauh darinya.
"Enyahlah kau dari hadapanku !!" ucap Darmaji sambil melayangkan ajian ke arah Zizi.
Arwah gurunya pun segera keluar dari tubuh Zizi. Zizi yang baru tersadar ada bahaya di depan mata hanya bisa memejamkan mata sambil menggunakan tangannya untuk menutupi wajahnya saja saat ajian itu melesat ke arahnya.
RAAAWWWRRR
Zizi membuka matanya.
"Harimau putih ??"
Darmaji tak tinggal diam saat melihat khodam itu telah keluar. Ia segera memanggil antek-anteknya datang.
Mata Harimau itu tak berkedip menatap Darmaji. Ia tak mau kehilangan pandangan dari Darmaji.
Perkelahian sengitpun di mulai. Para antek-antek itu segera menyerang Doni, Rifki dan Zidan serta para khodam mereka.
"Kau pikir kau akan menang ?? Ayo maju !!"
Harimau itu segera mengejar Darmaji untuk menghajarnya. Sedangkan Zizi mengikutinya untuk mengambil kunci dari tangan Darmaji.
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan para jiwa yang terkurung itu ?" tanya Zizi dalam hati.
KRINCIIING
Kunci itu terjatuh ke lantai saat harimau itu menerkamnya dengan kuat. Mata Zizi langsung saja mengarah pada suara itu. Begitu pula dengan Darmaji. Ia terus menatap kunci-kunci itu.
Zizi segera mengambil namun Darmaji menendangnya. Kunci itu terpental jauh. Zizi berusaha mengejarnya namun ia di tarik rambutnya oleh Darmaji.
"Auh !! Lepasiiiin !!"
"Tidak akan !!"
Harimau itu segera menyerang Darmaji, Zizi pun terlepas. Ia segera lari ke arah kunci itu. Saat ia hendak mengambilnya lagi-lagi Darmaji sudah berada di dekatnya.
DUAAAKKKK !!
Kepala Zizi di tendang keras oleh Darmaji.
"Akkhhh !!"
Darah mulai menetes dari hidung dan kepalanya. Teman-temannya tak mengetahui itu, mereka sibuk di keroyok oleh antek-anteknya Darmaji yang tak kunjung habis.
Zizi terus saja memegangi kepalanya. Ia pun mulai merasakan pusing. Saat ada darah yang menetes di lantai, semua antek-anteknya Darmaji yang terdiri dari jin dan setan itu segera menoleh ke arahnya.
"Segaaaaar !!" ucap para antek-antek itu sambil berjalan ke arah Zizi dan meninggalkan tiga anak lelaki itu.
"Ini ada apa ?? Ko pada pergi ?" tanya Rifki heran.
Doni mencium sesuatu.
"Zizi !!"
Doni segera berlari dan menerobos kawanan antek-antek itu. Lalu Rifki dan Zidan pun ikut berlarian juga.
Tak mudah menerobos di antara gerombolan itu. Perlu perjuangan dan susah payah.
"Darahnya Zizi menetes Ki !!" teriak Doni.
"Astaghfirullahal adzim !! Bisa mati di keroyok dia"
"Makanya ! Susah lewat lagi"
"Ziziiiii !! Lu dimana ???" teriak Rifki.
Ketika melihat kerumunan itu saling berebut dan bertumpuk-tumpuk, lemeslah Rifki.
"Don"
"Gue ga percaya kalau Zizi hanya diam di tempat saat keadaan darurat !!" ucap Doni.
Rifki terlihat sangat lesu.
"Ya elu lihat sendiri, mereka ngapain kalau ga ngeroyok Zizi ?" tanya Rifki.
"Mereka hanya menjilati darah yang menetes saja ko ! Ini Zizi ada sama aku" ucap Zidan sambil membopong Zizi yang pingsan.
Rifki dan Doni menoleh dan kemudian bernafas lega.
"Syukurlah"
"Ki ! Obati lukanya, biar aku sama Doni yang melanjutkan ini" kata Zidan sambil menyerahkan Zizi pada Rifki.
__ADS_1
Rifki pun mengambil alih Zizi dan segera berlari ke arah pintu utama. Tiba-tiba pintu tertutup dan terkunci.
"Tidak semudah itu anak-anakku yang manis"