
Karena hubungan Doni dan Rifki sedang kurang baik, Rifki pun tak percaya apa yang di ucapkan Doni. Rifki pikir itu hanya alasan Doni agar terbebas darinya.
"Banyak alasan !!"
"Serius Ki !! sapu lidi gue jatuh tadi ! Gue cuma takut kalau yang pakai itu bukan orang yang baik Ki !!"
"Lu sendiri udah baik belum ??"
Mendengar kalimat itu Doni terdiam. Menurutnya percuma ia jelaskan kalau dalam situasi kurang sehat.
"Ki ! Dengerin gue !! Gue yakin Zizi saat ini dalam bahaya. Cari dia Ki !! Bantu dia Ki !!"
"Ini semua gara-gara Lu !!!"
"Bukan saatnya saling menyalahkan Ki !! Ini udah darurat Ki !"
"Aaarrrrghhh !!! Nyari kemana ?? luas ini luas !! Indra gue aja ga bisa gue pakai dengan baik di sini !!"
"Kita ikuti apa kata hati kita, ayo cari !! Lu ga mau kan kehilangan dia ??"
Doni pun mulai berlari mencari Zizi
"Entah lu lagi akting atau nggak Don ! gue susah bedain !"
Rifki pun berlari kecil mengikuti langkah Doni. Tiba-tiba langkah mereka berhenti saat mendengar nyanyian.
"Manut rasa kamanungsaaan, murang, tata, tamah lan durjanaa, wanawasa jambul gundul, sujan matan bisa pinilayaaaa"
Doni langsung berlari kencang ke arah suara itu. Kemudian Rifki pun mengikutinya dari belakang.
Sedangkan pak Slamet masih sibuk dengan sapu lidi yang baru di dapatnya dan masih terus menyapu para cecenguk itu.
Sekali kibas banyak yang terluka oleh sapu itu. Makin banyak kibasan makin berkurang pula lawannya.
"Semoga cepat binasa kalian semua !"
KLETEKKKKK !!!
"Kanaya"
Sapu lidi itu pun patah saat selendang Kanaya seolah-olah mematahkannya tepat di tengah-tengah antara gagang dan sapunya.
Doni yang sedari tadi mengikuti suara nyanyian itu kini digiring ke arah pak Slamet dan menyaksikan sendiri kalau sapu lidi itu telah patah.
"Ga mungkin" ucap Doni lemes.
Rifki pun yang baru sampai hanya bisa diam melihat hal itu terjadi.
"Bagus, kalian berkumpul" ucap Kanaya.
"Tidak bagus kalau untuk menyaksikan patahnya sapuku !!" teriak Doni.
__ADS_1
"Berpihak ke siapa kamu ?" tanya Kanaya.
"Lu curang !! Gue udah hentikan semuanya !! Gue batalin perjanjian itu !! Kenapa lu ga mau membebaskan Zizi !"
"Aku sudah bilang, semuanya sudah terlambat"
Doni pun marah dan bersiap melawan Kanaya. Tapi, baru satu langkah ia sudah merasa ada yang mencekik lehernya.
"Don !!"
Melihat hal itu Rifki pun mencoba melawan Kanaya, namun ia terpental jauh. Seperti ada yang menendangnya.
"Auhh..."
Melihat Doni yang masih memegangi lehernya, Rifki pun berlari ke arahnya. Sepertinya cekikan itu begitu erat, hingga urat-urat lehernya pun terlihat nampak jelas.
"Nay !! Hentikan Nay !!" teriak Rifki.
"Hahahaaaa..."
Sementara itu pak Slamet masih sibuk mencoba untuk menyambungkan kembali sapu itu. Ia pun rela merobek bajunya untuk di jadikan tali demi sapu itu.
"Don !! Bangun Don !! Buka mata lu Don !! Doniiii !!" teriak Rifki dengan begitu khawatir.
"Akan ku kabulkan permintaanmu Doni" ucap Kanaya.
"Diam kau !! Tolong hentikan !!!" kata Rifki sedikit menahan emosinya.
Pak Slamet dengan sabarnya terus saja merobek bajunya kembali apabila robekan tadi di ambil Kanaya. Hingga saat robekan baju yang terakhir, ia mulai emosi dan melemparkan sapu itu.
"Laki-laki tidak di ciptakan untuk melawan dan melukai perempuan, tapi kalau sudah keterlaluan dan aku tidak menganggapmu perempuan lagi !! Sini maju dan ayo kita beradu !"
"Hahahaha... (tiba-tiba menghentikan tawanya dan menatap ke arah pak Slamet)"
Merekapun mulai saling tangkis dan saling membela diri dari pukulan dan beberapa tendangan.
Dari sini pak Slamet tau bahwa Kanaya tidak pernah mempunyai rasa lelah. Kekuatannya seakan-akan terus bertambah apabila ia di hajar.
"Sudah saatnya pulang !"
Kibasan selendang itu pun seakan-akan menghipnotis pak Slamet. Ia pun terbangun.
"Tidaaaaaaaaaak !!"
Pak Cahya dan pak Amin pun kaget. Begitu juga dengan istrinya.
"Papa"
"Alhamdulillah..."
***
__ADS_1
Di lain tempat Zizi masih berusaha untuk menggapai pedang itu. Meskipun semakin ia bergerak rambut itu akan semakin erat melilitnya tapi ia tetap berusaha berjalan dengan melata disana.
Sesekali ia berhenti untuk menahan rasa mual dan mencoba menarik kembali rambut yang ada di mulutnya.
"Hueeekkkk !"
Semakin ia tarik rambut itu semakin mual pula perutnya. Untung saja kedua tangannya tak ikut terlilit rambut.
Ia menarik nafas panjang kemudian melanjutkan langkah kearah pedang. Benar-benar tidak ada siapapun di sana. Hanya Zizi sendiri. Ia terus berjalan melata dan tak putus asa.
"Alhamdulillaaaaah.... Sampai juga di sini" ucapnya sambil meneteskan air mata.
Nafasnya sudah terlalu sesak. Ia pun mendekatkan diri ke pedagang itu, ia menarik rambut itu dan mulai mencoba memotong rambutnya.
"emmmmmmmm...."
Ia tak bisa berkata-kata lagi. Hampir ingin menyerah karena rambut itu susah sekali di potong.
"Hiks... Hiks.... Maaa... Paaa... Maafin Zizi ya maaaaaa... Hiks... Hiks..."
Ketika ia sedang menangis ada hembusan angin di telinganya yang begitu lembut dan berkata : "Berilah salam pada bagindamu, Baginda Rasulullah Saw, bertawasullah kau padanya, mintalah pertolongan hanya kepada Allah"
Zizi menghapus air matanya dan mulai beristighfar, kemudian ia memberikan Al-fatihah untuk Baginda Rasulullah Saw.
Tak lama rambut itu mulai melepaskan lilitannya dan Zizi pun memuntahkan ujung rambut itu.
"Hueeekkkk"
Ia mengelap mulutnya dan air matanya. Ia merasakan sedikit perih di bagian lengan kirinya, mungkin tadi sedikit menyenggol pedang itu dan mengenai bekas lukanya.
"Hufh !! Berdarah lagi"
KLUNTINGGGGGGGG
Pedang itu terjatuh dan tergeletak lagi. Zizi pun berdiri, ia hendak pergi mencari ayahnya yang hilang menjadi debu saat ia sentuh tadi. Namun, hati kecilnya ingin sekali ia menyentuh kembali pedang itu.
Ia pun menoleh dan memandang bentuk dari pedang itu. Ketika ia hampir memegang pedang itu Kanaya datang menghampirinya.
"Hahahaha, hebat kau Zi, memang hebat kau !! Dapat bisikan dari mana kau bisa melepaskan diri dari jerat itu ??"
Zizi berdiri tegak, tenaganya baru saja pulih beberapa persen, kini ia sudah harus mengahadapi Kanaya lagi.
"Ikut aku !!" ucap Kanaya sambil menarik tangan Zizi.
Zizi mencoba melawan dan mencoba melepaskan diri.
"Nggaaaaak !! Lepaaasss !!"
"Wengi.... Kadyo setro, kegowo lungane Baskoro, peteng, tanpo Condro, tanpo Kartiko..."
Sesaat Zizi sedikit terhipnotis dengan lagu itu. Ia pun mulai mengikuti langkah Kanaya. Namun samar-samar Kanaya mulai hilang di tengah kabut hitam. Zizi mulai kebingungan.
__ADS_1
"Dimana ini ??"