
Karena penasaran Agung pun mengikuti mereka dari belakang dengan sembunyi-sembunyi.
"Huufh !! Rasanya enak banget ya kalau kelas sepi" ucap Aludra sambil rebahan di bawah papan tulis.
"Iya"
"Rasanya tuh kalau kelas sepi kayak gini damai, ga ribut, ga bising, ga sempit juga, haha" canda Aludra.
"Mau ga ? Buat kelas ini jadi sepi untuk selama-lamanya ?" tanya Kanaya.
Aludra heran dengan kalimatnya Kanaya dan ia pun bangun dari rebahannya. Alangkah terkejutnya ia saat melihat Kanaya membawa pisau di tangannya dan mengarahkannya kepada Aludra.
"Nay, jangan becanda Nay" ucap Aludra sambil terus melangkah mundur.
"Kalau kelasnya sepi, damai kan ???" tanya Kanaya sembari tersenyum menakutkan.
"Ya ga gitu Nay" pinta Aludra sambil ketakutan.
"Kamu tau, kalau sebenarnya aku sangat benci sama kamu !! Karena kamu adalah perebut kebahagiaanku !!"
"Aku merebut apa dari kamu Nay ?"
"Yang pertama ! Teman-teman di kelas ! Sekarang semuanya lebih tertarik sama kamu !!" ucap Kanaya sambil menaruh pisau itu di leher Aludra.
"Nggak Nay, kamu salah paham Nay" kata Aludra sambil sedikit menghindari pisau itu.
"Yang kedua !! Aku benci dengan pujian papaku terhadapmu !!" bentak Kanaya sambil memainkan pisau di tangannya.
"Nay itu hanya gurau Nay ! Ucapan papamu itu supaya kamu lebih termotivasi lagi dalam belajar Nay !" jawab Aludra sambil mencoba menenangkan Kanaya.
"Bohoooooong !!" teriak Kanaya.
"Nay ! Sabar Nay ! Istighfar Nay !" pinta Aludra.
"Yang ketiga !! Kamu tau kalau aku suka sama Agung ? Kenapa kamu dekati dia !!! (berteriak) kenapa ???!!!"
"Nay ! Aku..."
Langkah Aludra terhenti ketika ia telah sampai di tembok. Kanaya tersenyum.
"Aku ga akan membiarkanmu merebut kebahagiaanku lagi ! Kamu harus mati !!" ucap Kanaya sambil mengayunkan pisaunya.
Aludra mencoba menahan pisau itu. Kanaya mulai mengarahkan pisaunya ke perut Aludra. Aludra masih mencoba menahannya. Tapi kanaya makin kuat mendorong pisaunya. Tiba-tiba Agung datang.
"Hentikan Nay !!" teriak Agung dari balik pintu.
Kedua anak itu pun kaget, dan tak sengaja Aludra melepaskan tangan Kanaya sehingga pisau itu menusuk perut Aludra.
AAAGH !
Mata Agung membulat melihat kejadian itu. Ia pun sempat tercengang beberapa detik saat pisau itu menusuk perut Aludra.
"Lulu !!" teriak Agung.
"Jangan mendekat !!!" ancam Kanaya sambil menarik paksa pisau itu dari perut Aludra.
AAGHH !!
__ADS_1
Aludra nyengir kesakitan. Agung bingung harus bagaimana. Ia pun tetap nekat mendekati Kanaya.
"Berikan pisau itu padaku" pinta Agung.
Kanaya yang sedikit panik karena aksinya di pergoki Agung pun mencoba membunuh Agung juga. Agung berusaha merebut pisau itu dari tangan Kanaya.
"Lepasin Nay !! Sudah cukup kegilaanmu ini !! Sudah cukup Nay !"
"Nggak !! Kamu juga harus mati !!"
Saat mereka saling merebut pisau Agung tak sengaja terpeleset dan jatuh. Naasnya pisau itu malah mengenai perut Kanaya.
AAGHHH !!
"Ayaaaa !!" teriak Aludra dengan sisa-sisa kekuatannya.
Kanaya terjatuh ke lantai. Aludra pun mendekati Kanaya.
"Nay ! Bangun Nay !!" ucap Aludra.
"Nay ?? Aku ga sengaja" kata Agung.
Darah yang keluar dari perut Kanaya makin deras saja. Wajah Kanaya pun semakin pucet.
"Nay, sadar Nay !! Ayo kita ke UKS Nay" ucap Aludra sambil memangku kepala Kanaya.
"Aku cari bantuan ! Kalian tunggu ya ?"
Agung pun berlari keluar untuk memanggil gurunya. Sambil menunggu Agung Aludra terus mencoba berbicara pada Kanaya. Tapi Kanaya diam saja. Aludra pun mencoba untuk menarik pisau itu perlahan dari perut Kanaya.
Karena Aludra juga menahan sakit di perutnya ia pun sedikit kehilangan tenaga dan rasanya tak kuasa untuk mencabut pisau itu. Namun ia tetap menjaga Kanaya dengan baik dan tetap lembut walaupun tadi ia sempat di marahin Kanaya.
"Tolong lepasin pisau ini dari perutku" ucap Kanaya.
Aludra pun mengiyakannya. Ia menaruh pelan kepala Kanaya ke lantai. Dan merangkak bergeser pindah posisi.
"Sabar ya Nay ? Kamu harus bertahan" ucap Aludra sambil menahan sakitnya.
Saat Aludra mulai mencabut pisau itu, Kanaya mencoba bangun dan merebut pisau itu kembali. Menusukkan pisau itu ke perutnya lagi berkali-kali. Aludra pun kaget. Lalu meletakan tangan Aludra di pisau itu kembali sambil tersenyum.
"Nay ! Kamu apa-apaan ?!!" ucap Aludra panik.
"Aku ga peduli kalau aku harus mati" ucap Kanaya sambil meringis menahan rasa sakit itu.
"Nggak Nay ! Nggak, hiks hiks"
"Tapi aku harap kamu juga mati !!"
"Hiks hiks, Nay"
AAGHH !!
Anak-anak yang lain pun datang dan melihat seakan-akan Aludra yang sedang membunuh Kanaya dengan bukti tiga tusukan di perut Kanaya dan pisau itu ada di tangan Aludra.
"Innalillahiiii Kanayaaaa !!" teriak anak-anak dengan hebohnya.
Kanaya makin kehabisan darah, namun ia tersenyum saat melihat anak-anak itu mendorong Aludra dan mencaci makinya.
__ADS_1
"Kamu iri ya sama Kanaya yang selalu jadi juara ??"
"Dasar ga tau di untung kamu Lulu !!"
Aludra yang makin lemah pun tak mampu berkata-kata lagi. Ia hanya berharap ada seseorang yang bisa menyelamatkan nyawanya.
"Cepat bawa mereka ke Rumah Sakit !!"
Agung pun langsung berlari dari kerumunan dan menghampiri Aludra lalu membawanya pergi. Kata-kata hujatan terus saja membanjiri telinga Aludra yang kini makin ga sadarkan diri. Kanaya yang melihat kejadian itu pun sangat kecewa.
"Kenapa Agung tak membawaku ??" pikir Kanaya.
Nafasnya mulai sesak. Darahnya terus saja mengalir deras. Air matanya mulai menetes karena tak sanggup menahan sakit. Dendamnya makin menjadi.
Ketika ada yang mengangkat tubuhnya tiba-tiba Kanaya menghembuskan nafas terakhirnya.
"Kanayaaaaa"
◇◇◇
***
Saat Aludra mendatangi sekolahan itu, ternyata di sana sudah ada polisi dan juga ambulans. Ia pun segera mencari keberadaan Agung.
"Dimana kepala sekolahnya ?" tanya Lulu.
"Lagi di introgasi sama pak polisi di ruangannya bu" jawab salah satu siswanya.
Lulu mengamati apa yang terjadi di sana. Beberapa petugas sedang membungkus mayat anak yang jatuh dari rooftop tadi dan mulai mengangkatnya di bawa ke mobil jenazah.
"Ya Allah Nay, kenapa kamu ambil nyawa anak yang tak berdosa itu ? Dia yang tak tau apa-apa tentang dirimu ? Jikalau kamu masih punya dendam sama aku, biarlah aku saja yang kau ambil nyawanya, aku rela Nay" ucap Aludra dalam hati.
"Eh, Lulu udah datang ?" sapa Agung yang membuat Lulu terkejut.
"Kita harus cari Aya ! Gimana pun caranya ! Kita harus hentikan ini semua !!"
"Nyarinya itu dimana ? Dia itu makhluk halus"
Lulu terdiam sejenak. Kemudian ia mempunyai ide.
"Aku tau, tolong siap kan toa !"
"Buat apa ?"
"Nanti kamu tau sendiri"
Agung pun menyuruh anak muridnya mengambil toa di ruangan guru olahraga. Setelah toa itu di dapatkannya Lulu berlari menuju depan ruang kelas 12 IPA 1.
Ia menarik nafas dalam-dalam dan bersiap. Ia mengecek toa itu terlebih dahulu. Agung memperhatikannya dari jauh.
"Nyata kowe wasis sis.... Batangan sing gelis lis lis lis... Cangkriman telu iki...."
NGUUUUUUUUUUNGGGG
Tiba-tiba suara dengungan dari toa itu membuat sakit telinga semua orang yang ada di sana. Walaupun bising Lulu tersenyum. Itu tandanya Kanaya mendengar lagunya.
Lama di tunggu tapi Kanaya tak menampakka dirinya juga. Aludra masih berdiri tegak di sana. Ia sudah menunggunga hampir satu jam. Suara dengungan itu masih saja menggema di area sekolahan.
__ADS_1
"Nay, datanglah, aku ingin berdamai denganmu, Nay... Aku mohoon datanglah Nay"