
***
DUAKKK
Zidan memberontak dan menendang pak Slamet.
"Hahahaaa, Darmaji saja bisa aku kalahkan, apalagi anda, hahahaaa"
Pak Slamet pun maju untuk menyerang Zidan.
HIIIAAKKKKKKK
Pak Slamet mulai pasang kuda-kuda dan memutar kakinya sambil di tekuk ke arah kepala kemudian ia menendang ke arah bagian tangan Zidan yang membawa pisau.
KLUNTINGGGGGGGG
Pisau itu pun terlempar. Zidan tak mau kalah ia pun segera memutar badannya, mengangkat dengkul sambil muter dan ia segera menendang sembari loncat.
"Haaappp !!"
BRAAAKKKK
Zidan menatap tajam ke arah pak Slamet. Pak Slamet diam, tapi dalam hati sambil terus membaca do'a. Zidan mulai merasakan panas dalam tubuhnya.
"Huaaaakkkk !!! Hentikan ! Panaaass..."
Zidan makin tak kuat menahannya, ia pun menjatuhkan dirinya dengan posisi berlutut.
"Aaarrrrghhh panaaassss...."
Perlahan ia mulai berubah, badannya di penuhi darah dan penuh goresan luka. Itu adalah luka dari tusukan pisau milik Kanaya.
"Dimana jasadmu nak ??" tanya pak Slamet.
Zidan belum menjawab, ia masih merasakan panas di tubuhnya. Matanya mulai memerah dan wajahnya menjadi kering tak ada aliran darah.
"Begini wujud aslimu jika tak ada tumbal nyawa ?" tanya pak Slamet lagi.
Ia menatap ke arah pak Slamet dengan wajah memelas.
"Jika anda tidak menghalangi Zilvana untuk menjadi tumbal di SMA ini, aku masih bisa memeluk ibuku" ucapnya sambil memiringkan kepalanya dan menatap ke arah pak Slamet.
"Apa bedanya dengan tumbal yang lain ?"
"Kamis Wage, masih suci, dan sebuah ramalan"
"Apa dengan kematian Zizi semua akan kembali normal ??"
Zidan mencoba berdiri walau ia terlihat tak mempunyai tenaga.
"Kanaya berjanji akan membebaskanku jika aku membantunya. Tapi....... (terdiam) anda..... (tiba-tiba menangis) siapa yang akan menjaga ibu lagi ?? Aku berusaha mati-matian agar tetap terlihat hidup"
"Beritahu ibumu pelan-pelan, dia pasti mengerti"
"Hiks... Hiks... Hiks..."
Pak Slamet iba melihat anak itu mengkhawatirkan ibunya. Tapi, pak Slamet juga tetap waspada, siapa tau ia hanya berpura-pura agar melemahkan hati pak Slamet.
"Apa kau hanya pura-pura menangis ?"
Zidan langsung melirik sinis ke arah pak Slamet. Menggertakkan gigi-giginya, mengepalkan tangannya dan bersiap meninju pak Slamet.
BEEERRTTTTTT
Serangan itu langsung di tangkis pak Slamet dengan mudahnya. Pak Slamet memegangi kepalan tangan Zidan. Zidan menariknya kemudian menendangnya bertubi-tubi.
__ADS_1
HAAPP
HAAAPP
HAAAKKKKK !
Pak Slamet terdorong sedikit. Zidan terdiam.
"Panggil khodammu" ucap pak Slamet.
Baru selesai berucap ia sudah di kelilingi banyak ular.
HEZZZZZZZZZZZZZ
"Bismillahirrahmanirrahim...."
Pak Slamet mencoba melawan ular itu satu persatu. Belum lagi Zidan pun ikut menyerang.
HAAAKKKKKKKK !!
DUUUAAKKKK
Zidan tak sengaja terkena tendangan dari pak Slamet. Ia sedikit terkapar. Merintih kesakitan. Sementara pak Slamet melanjutkan melawan ular-ular itu.
"Agghh"
Zidan mencoba berdiri tapi rasanya tak sanggup. Ia mencoba lagi berdiri dengan cara menggunakan tangan sebagai tumpuan.
WUSSSSS
Ada kertas jatuh dari saku bajunya. Ia duduk lagi dan mencoba mengambil kertas itu.
"Kertas segel ???"
"Aaaaaggggrrrrhhh !!!"
Pak Slamet mencoba terus melepaskan diri. Namun ular itu terlalu besar. Ia pun memanggil khodamnya sendiri. Hampir sama, hanya saja ular milik pak Slamet berwarna putih serta di dampingi oleh sosok lelaki tua tanpa kaki, hanya sepenggal saja dari bagian perut ke atas.
GLUDAGGGG !!
Semua orang kaget dan langsung berlari menuju kamar.
"Slamet ??" ucap pak Amin kaget saat melihat pak Slamet sedang berbaring di kasur.
Semua orang disana bingung. Mau mendekat tapi takut ada apa-apa. Kemudian pak Cahya memberanikan diri untuk mendekatinya.
"Astaghfirullah hal adziiim....." ucap pak Cahya.
"Kenapa suami saya pak ??!!" tanya Bu Asiyah dengan begitu panik.
"Kanaya hanya mengembalikannya raganya, jiwanya belum kembali..." tutur pak Cahya.
"Cepat bisikkan ayat-ayat suci" perintah pak Amin.
"Bismillahirrahmanirrahim, Slamet dengarkan aku, kamu bantu lewat do'a-do'a dari sini, tetaplah bertahan sampai jiwa dan ragamu bersatu kembali"
Mereka pun segera melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an sambil sedikit gemetaran.
"Ya Allah anakku gimana ?? Sudah 40 hari belum ada kabar, sementara suamiku saja kembali dalam keadaan begini" ucap Bu Asiyah dalam hati sambil meneteskan air mata.
"Aku rasa Slamet belum terlalu dalam ilmunya untuk menghadapi Kanaya" bisik pak Cahya.
"Ini bukan soal dalam atau belum, aku yakin ia mengeluarkan khodamnya, maka dari itu ia tak kuat menahannya, setahuku untuk mengeluarkan satu khodam itu memerlukan tenaga yang cukup besar, kalau tidak kuat harus memilih antara melepaskan jiwanya atau tidak bisa mengeluarkan khodam itu" bisik pak Amin.
"Berapa khodam yang di milikinya ??"
__ADS_1
"Aku tidak tau, dia selalu mencari dan terus mencari, bisa jadi ia punya lebih dari dua khodam"
Pak Cahya terdiam, kemudian kembali membaca do'a.
***
"Jangan diam saja kau ! Ayo tunjukin kalau lu emang beneran mau Mayang kembali, lawan gue, biar lu puas ! Ga ada yang ganggu lu buat numbalin Zizi" ucap Rifki.
Doni hanya diam. Ia berdiri sambil mengusap debu yang menempel di bajunya.
"Kalau lu kalah, jangan nangis ya ?" ucap Doni sambil terus membersihkan debu di bajunya.
Rifki tersenyum.
"Ga butuh omong !"
Doni menatap Rifki dan langsung bersiap melawannya lagi. Kali ini ia tinggalkan pisaunya dan melawan Rifki dengan tangan kosong.
HAAAKKKKKKK !!
Rifki terkena pukulan berkali-kali, di sertai dengan tendangan yang tiba-tiba Doni luncurkan. Tapi Rifki terlihat tersenyum karena yang ia hadapi adalah benar-benar Doni.
"(Terengah-engah) gue suka Don, meskipun gue harus babak belur, karena gue ga mau melawan lu dalam keadaan lu ga sadarkan diri"
"Bac*t !! Hiaaakkkkk"
Tiba-tiba tempat itu bergetar hebat.
"Apa ini ??" tanya Rifki.
DUAAKKKK
Doni menendang Rifki yang sedang kebingungan. Rifki pun terpental dan terombang ambing oleh getaran yang mirip gempa itu.
"Sebentar lagi adalah hari dimana Kanaya meninggal, ia hanya minta Zizi, dan semua akan kembali normal, karena dendamnya terhadap Agung dan Aludra sudah terbayarkan, kini hanya tinggal menunggu kematian Zizi. Gue bakalan hidup selamanya bersama Mayang, hahahahaha...."
Rifki mengepalkan tangannya, meskipun ia masih di buat pusing oleh tempat itu.
"Jangan harap !! Harapan yang terlalu tinggi hanya akan membuatmu kecewa"
"Setidaknya gue berada di garis kemenangan"
"(Tersenyum tipis) cuih !! Garis kemenangan bukanlah yang berwarna hitam"
SRIIIINGGG
Pisau itu kembali ke tangan Doni, Doni memutar-mutarkan beberapa pisau di sana. Sementara Rifki masih belum bisa mengendalikan keadaan.
"Dimana Zizi ? Kenapa gue ga melihatnya dari tadi" ucap Rifki dalam hati.
"Tak perlu mencemaskan Zizi Ki, dia berada di tempat yang tepat, hahahaa, ya tepat buat mati, hahahahaaa..."
Rifki bersiap dan segera memukuli Doni berulang-ulang.
HAAAAPPP !!
BAAAAHHHHH
PLAAKKKK PLAAAAKKK PLAAAAKKK
Tiba-tiba ada sebuah tali yang menarik kaki dan tangan Rifki.
AAAAAAAAAA
Ia tergantung melayang di antara dua pohon. Doni yang sudah cukup babak belur bangun sambil mengusap dar*h di sudut bibirnya sambil tersenyum ke arah Rifki.
__ADS_1