
"Jadi, benar ucapannya Doni, Ki ! Ada yang masih berkomunikasi dengan Kanaya" ucap Zizi.
"Kiandra ???"
"Iya, dialah orang yang ada di belakang Kanaya waktu itu. Mengenakan baju berwarna hijau dengan rambut di gelung"
"Bukannya rambut bu Kiandra agak pendek ?"
"Itu manipulasi"
"Katanya dia udah sepuluh tahun ga ke Jakarta ??"
"Dia bohong. Nyatanya sebelum bu Lulu meninggal dia sudah di sini. Bahkan dia tau tentang Mayang dan kisah-kisah kita yang lain"
"Wow"
"Gue ga tau, sebenarnya dia berpihak pada siapa ?? Karena kadang dia baik, kadang juga jahat. Kadang sikapnya manis sekali, tapi menyimpan tanda tanya besar. Bahkan gue sendiri belum tau siapa tunangan dari bu Kiandra ini"
"Apa dia tau kalau lu pernah liet dia ??"
"Gue rasa ga tau. Soalnya dalam mimpi itu Kanaya lah yang melihat ke arah gue. Kiandra sendiri tetap berjalan dalam barisan itu"
"Emmm... Lalu mbak Mala itu siapa ?? Apa itu ada kaitannya juga sama Kanaya ?"
"Gue rasa ga ada. Tapi mbak Mala ini ada kaitannya dengan Kiandra. Entah dia sekongkol atau memang benar yang di katanya"
"Dia mengatakan apa ?"
"Kata bu Kiandra, mbak Mala menemuinya saat ia baru sampai ke sini. Katanya hanya mau memberi pelajaran saja untuk salah satu anak di kost itu"
"Salah satu ??"
"Iya. Yaitu Tasya. Tapi kata bu Kiandra, sepertinya mbak Mala ketagihan dalam menakuti anak-anak"
"Waaah, parah"
"Gue sendiri bingung, khodam gue juga ga tau pada kemana ? Jarang banget muncul"
"Para khodam juga punya kehidupannya masing-masing. Mereka juga berjalan dan beraktifitas seperti kita. Ada kalanya di perjalanan mereka bertemu dengan khodam yang lain. Ada yang beradu kekuatan ada juga yang menghalau niatan jahan dari orang-orang yang tak kau sadari Zi"
"Oh begitu ya ?? Jadi tak selalu ada di samping kita ??"
"Tentu tidak. Tapi... Kalau kita benar-benar membutuhkannya mereka langsung siap 86 buat kita"
***
TOK TOK TOK
"Permisi kak Dewi, ini Zizi kak"
Kemudian tak lama pintu itu pun terbuka.
"Boleh masuk ??" tanya Zizi.
Dewi pun mengangguk dan mempersilakan masuk. Kemudian Zizi memberinya satu botol minuman susu.
"Satu untuk kakak satu untuk Zizi"
Dewi pun menerimanya kemudian meminum bersama.
"Ada kejadian apa semalam ??" tanya Zizi.
"Ukhuukk !!"
Dewi tersedak minuman itu.
__ADS_1
"Kakak baik-baik saja ??"
Dewi mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Boleh ga kalau gue pindah kost ??" tanya Dewi.
"Kenapa ??"
Dewi menarik nafas agak panjang.
"Mbak Mala.... Dia bukan manusia kan Zi ??"
Zizi melirik ke arah Dewi. Tapi ia masih diam.
"Gue takut Zi"
Tiba-tiba ada suara teriakan dari lantai atas. Zizi segera berlari keluar.
"Ada apa ??"
"Yang teriak mamanya Tasya"
"Mamanya Tasya ??"
"Iya, tadi mereka kesini, katanya mau ambil baju-bajunya Tasya"
"Tasya ikut ke sini ??"
"Ikut"
Seketika itu Zizi langsung lari ke atas. Sambil ngos-ngosan ia masuk ke kamar Tasya. Terlihat ibunya sudah terjatuh pingsan dan sedang di tangani ayahnya Tasya serta anak-anak yang lain.
"Dimana Tasya ??" tanya Zizi.
Dengan perlahan Zizi melangkahkan kakinya dan mulai membuka pintu kamar mandi. Seketika itu lemes badan Zizi menyaksikan Tasya yang sedang memakan pembalut yang berisikan darah haidnya.
DEGG !!
Rasa mual pun Zizi rasakan. Gemetar pula seluruh tubuhnya menyaksikan temannya seperti itu. Zizi mencoba menahan rasa mualnya.
"Ekhem"
Tasya menoleh ke arah Zizi dengan perlahan sambil terus memakan pembalut itu lalu tersenyum ke arah Zizi.
"Ya Tuhaaan. Ngeri banget sih ini anak" ucap Zizi dalam hati.
Tak ada do'a yang bisa Zizi ucapkan di dalam kamar mandi itu. Ia hanya memperhatikan Tasya saja. Tiba-tiba Tasya berteriak.
AAAAAAAAA !!
Sontak saja Zizi langsung menutup kedua telinganya.
"Aku muak sama anak ini !!" teriak Tasya dengan suara yang serak dan yang pasti itu bukan suara asli dari Tasya.
Zizi yang tadi kaget pun agak terpental ke pintu. Kemudian Tasya berdiri. Tangan kanannya masih memegang pembalut itu dan mulutnya penuh dengan darah dan kapas.
Anak-anak di sana pun segera keluar dari kamar itu karena takut. Ayahnya Tasya mencoba membujuk Zizi agar bisa mengeluarkan sosok yang ada di tubuh Tasya.
"Tolong Zi, bujuk dia agar keluar dari tubuh anak saya, kasihan Tasya" ucap ayahnya Tasya.
"Diam kau !! Kau yang tak pandai rawat anak !! Kau selalu manjakan dia !! Tapi tak kau ajarkan bagaimana cara merawat dan menjaga dirinya !!" ucap Tasya.
Zizi mencoba memancingnya agar Tasya mau keluar dari kamar mandinya.
"Apa yang di sukai makhluk itu ya ??" ucap Zizi dalam hati sambil terus berfikir.
__ADS_1
Tiba-tiba saja Tasya mendekat ke arah Zizi dan hendak mencekiknya. Zizi segera menghindar.
"Oh tidak !! Dia melayang ternyata. Kakinya ga nempel di lantai" ucap Zizi.
"Hiks... Hiks..."
Terdengar suara tangis dari Tasya. Terlihat Tasya pun duduk jongkok di depan kamarnya. Tak lama terdengar suara tawa dari Tasya juga.
"HAHAHAHAAA"
"Apakah belum cukup kau menghukumnya ??" tanya Zizi.
"Diam kau !!" ucap Tasya sambil melotot.
"Jangan paksa saya untuk memaksamu keluar !!" ancam Zizi.
Ia pun langsung menyerang Zizi. Mencoba mencakarnya namun Zizi berusaha menangkisnya. Namun ternyata sosok itu kuat juga. Ia mendorong Zizi hingga terjatuh.
"Main kasar kau ya ??" ucap Zizi.
Zizi mengambil air yang ada di gelas lalu ia membacakan ayat kursi dan menyiramkannya pada Tasya.
AAAAAAA
Tasya dan sosok itu pun terpisah. Tasya segera memeluk ayahnya, sedangkan sosok itu menyeringai pada Zizi.
"Jadi kau yang selama ini mengintai kami di sini ?? Di tangga itu ??" Tanya Zizi pada sosok itu.
HWAAAAA
"Kau pikir aku takut ?? Bukankah derajat manusia lebih tinggi dari pada golonganmu ??"
Ia menatap tajam ke arah Zizi. Lalu menarik Tasya dan menghempaskannya ke tembok.
DUUAAKKK !! BRUUKKKK
AAAGHH !!
"Tasya !!" teriak papanya sambil menghampirinya.
Dahi dan lututnya berdarah. Zizi mencoba mendekati Tasya namun tiba-tiba bola matanya menjadi merah.
"Hah !!!"
Ia melayang, kemudian menempel pada dinding. Kuku-kukunya yang panjang ia gerit-geritkan ke tembok itu hingga sebagian kuku itu terlepas dan mengeluarkan darah.
TIING... TINGGG... TIINGGGGGGG
Suara itu membuat pusing kepala Zizi. Bahkan pandangannya pun sedikit kabur. Ia masih tetap mencoba berdiri memperhatikan Tasya di sana. Namun, sepertinya Tasya sudah tak lagi ada di dinding itu.
"Kemana dia ??" tanya Zizi sambil sedikit sempoyongan.
"Zi !! Lu baik-baik aja ??"
Zizi sudah tak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang lewat di telinganya itu.
"Ko gelap ?? Dimana ini ??" tanya Zizi sambil mengucek matanya.
"Ziii !! Tolongin gue !!" teriak Tasya.
Pandangan Zizi masih kabur. Ia hanya mendengar suara-suara saja. Namun ia masih tetap membaca do'a dan sholawat di dalam hatinya.
"Kak Tasya ?? Kakak dimana ?? Di sini gelap kak, Zizi ga bisa lihat kakak"
"Ziii !! Tolongin guee !! Ziii... Hiks... Hiks... Tolooong"
__ADS_1