
"Dia datang kemari jam 1 siang ?? Tidak !! Dia datang kemari jam 1 malam. Gue yakin. Dia orangnya" ucap Zizi dalam hati.
Ia pun segera berlari ke lantai 4 menuju kamarnya.
"Zi... Mau kemana ??" tanya Tasya.
Zizi tak menghiraukan ucapan Tasya. Ia terus saja berlari ke lantai atas. Ia berusaha menenangkan diri.
"Gue harap dia manusia... Gue harap dia manusia... lalu siapa bu Kiandra ini sebenarnya" gumam Zizi di dalam kamarnya.
***
Di suatu tempat nan jauh di mata.
"Apakah kamu nyaman berada di sini ??" tanya seorang lelaki tampan yang sedang duduk berhadapan dengan Mayang.
Mayang hanya menganggukkan kepalanya. Ia masih heran apa penyebab ia bisa berada di sana.
Tempat yang begitu sejuk dengan pemandangan alam yang begitu menakjubkan. Di belakangnya terdapat deretan rumah yang siap kapan saja bisa Mayang tempati.
Di depannya terdapat air terjun yang mengalir dengan lembutnya, membuat suasana benar-benar menghanyutkan pikiran.
Ia duduk di bawah pohon besar dengan meja yang cantik dan hidangan yang menggiyurkan. Angin sepoi-sepoi menerpa wajah dengan ramah.
Tapi, mengapa hati Mayang tak nampak bahagia ? Bahkan pria itu selalu berkata dengan sopan dan santun. Menawarkan beberapa pilihan agar Mayang tersenyum.
"Siapa yang selalu memanggil namaku ?" tanya Mayang.
"Dia orang yang berbeda dunia dengan kita" jawabnya dengan santun.
"Apa tujuannya memanggil namaku ?" tanya Mayang lagi.
"Dia ingin kamu kembali padanya" jawabnya dengan di sertai senyuman yang menawan.
Mayang diam.
"Apa kau merasa terganggu dengan panggilan itu ?" tanya pria itu pada Mayang.
"Tidak"
"Lalu ??"
"Sepertinya aku mengenali suara itu"
Pria itu tersenyum.
"Dialah orang yang mencintaimu"
Mayang heran.
"Mencintaiku ??"
"Aku harap kamu tetap tinggal di sini bersamaku, aku pun jauh lebih mencintaimu daripada dia. Akan ku cukupkan kebutuhan keluargamu. Akan ku buat mereka tidak kekurangan suatu apapun asal kau tetap tinggal di sini bersamaku" rayu pria itu.
Mayang menatap ke arah pria itu. Ya, begitu tampan. Sopan dan ramah.
"Tapi aku masih asing dengan semua ini"
"Akan ku buatkan tempat yang bisa membuatmu nyaman"
Lalu datanglah seorang wanita menghampiri mereka berdua. Wanita itu begitu cantik. Ia memakai bandana merah. Di lehernya terdapat sebuah kalung berinisial K.
"Mau ikut denganku ??" tanya wanita itu pada Mayang.
Mayang menoleh ke arahnya.
"Siapa kau ? Beraninya memasuki daerah kekuasaanku" ucap pria itu dengan nada sedikit tinggi.
"Aku hanya ingin menjemput kawanku saja, dia bukan milikmu ! Jadi, aku boleh kan kapan saja membawanya pergi" ucap wanita berparas cantik itu.
"Apa kau mengenalinya ?" tanya pria itu pada Mayang.
Mayang memandang lekat ke arah wanita itu. Ia sama sekali tak mengenalinya.
__ADS_1
"Ikut denganku atau kau akan selamanya berada di sini ? menjadi budaknya !!"
"Budaknya ??"
"Ya. Apa kau tak lihat begitu mengerikannya wajahnya ?"
Mayang melirik ke arah pria tadi.
"Ayo tunjukkan siapa kamu sebenarnya !! Jangan mengumpat di balik topeng seperti anak kecil"
"Ini bukan urusanmu !! Aku mau apapun terserah aku ! Minggir saja kau dari sini !! Dia adalah calon istriku !!!"
"Calon istrimu ?? Bukankah kau baru saja menemukannya di padang pasir sana ? Apa kau langsung jatuh cinta padanya ?"
"Diam kau !!"
"Aku mau pulang" ucap Mayang.
Kalimat itu sontak saja membuat kaget pria itu dan wanita itu pun tersenyum.
***
Doni menghentikan bacaan-bacaannya. Ia teringat pada kalimat "Aku mau DIA, jiwanya saja"
"Gue masih terlalu kecil buat melawan takdir, sesulit inikah perjuangannya ? Apakah kelak nantinya Mayang akan benar-benar menjadi pendamping hidupku ? Tapi... perjalanan itu masih terlalu panjang"
Ia mematikan lilin yang ada di dekatnya. Merebahkan badannya di lantai dengan pikiran yang begitu berantakan.
"Buku apa yang harus gue baca supaya bisa mengembalikan Mayang ? Terjerat apa dia di sana ?? Apakah ada pria tampan yang menggodanya ??"
***
TOK TOK TOOK !
Suara ketukan pintu kamar Tasya berbunyi. Ia yang sedang menulis pun menghentikannya lalu membuk pintu itu.
KLEEKK
"Oalaaah mbaaak, santai saja. Gue emang makannya nunggu laper"
"Jangan begitu, ini sudah saya bawakan. Mumpung masih anget"
"Waah, mbaknya tau aja kalau gue suka seblak, makasih ya mbak ?"
"Sama-sama, saya turun dulu"
Tasya pun mencicipi seblak yang masih mengepul itu.
"Heemmmm.... Enak bangeettttt"
Karena masih panas dan pedas, Tasya pun tersedak.
"Ukhuukk !!"
Ia mencoba mengambil minuman. Tapi batuknya tak kunjung membaik. Ia pun berlari ke kamar mandi. Alangkah terkejutnya saat ia memuntahkan darah yang berwarna merah kehitam-hitaman.
"Astaghfirullahal adziiim"
Ia segera mengelap mulutnya dan menyiram darah itu dengan air yang banyak. Kemudian ia duduk di kursi sambil terus memikirkan darah itu.
***
"Kak Tasya mau kemana ??" tanya Zizi.
"Mau jalan-jalan, di ajak bu Kiandra"
Zizi pun heran. Karena ekspresi wajah Tasya sangatlah datar.
"Bu Kiandra ngajak Kak Tasya jalan ? Ko gue kagak di ajak ya ??" ucap Zizi dalam hati.
"Duluan ya Zi" ucap Tasya sambil melangkah pergi.
"Kak !!" panggil Zizi.
__ADS_1
Tasya menoleh.
"Kakak yakin mau pergi ? Tapi wajah kakak pucet ? Kakak sakit ??"
"Ukhuukk !! Ukhuukkk !!"
"Kakak sakit ??" Zizi mengulang pertanyaannya lagi.
"Ukhuukk !! Ukhuukk !!"
"Ayo Tasya" panggil Kiandra.
"Tunggu bu. Tapi kak Tasya lagi sakit ? Bisa ga acaranya di tunda dulu"
Kiandra hanya tersenyum dan menganggukkan kepala pada Tasya. Tasya pun masuk ke mobil dan mobil itu pun mulai berjalan.
"Bu !! Tunggu !!"
Tapi mobil itu terus berjalan tanpa menghiraukan Zizi.
"Ada yang ga beres !"
Zizi pun segera mengambil sepatu dan mencoba mengikuti mereka. Tapi tangan Zizi di tarik oleh pembantu di sana.
"Jangan ! Biarin saja mereka jalan. Kalau sudah saatnya nanti kamu juga di ajak"
Zizi menoleh ke arahnya. Wanita itu segera menundukkan pandangannya.
"Lepasin mbak !! Gue harus ngejar mereka !!!"
"Tidak. Ini sudah perintah dari bu Kiandra"
DEGG !!
"Kalian merencanakan ini semua ?? Lepasiiin !!!"
Tapi pembantu itu malah makin kencang memegangi Zizi.
"Lepaaaaasss !!"
HUUUUUFHH !
Zizi terbangun dari tidurnya. Badannya sudah bercucuran keringat.
"Mimpi ??? Huufh !!"
Ia mengambil ponsel dan di lihatnya jam yang sudah menunjukkan pukul 02 : 17.
"Mendingan gue sholat dulu deh, daripada kepikiran dengan mimpi yang aneh"
Ia pun bangkit ke kamar mandi, mengambil wudhu dan melaksanakan sholat. Selesai sholat ia duduk di depan meja belajarnya.
Sayup-sayup ada suara isak tangis. Zizi mencoba menepisnya. Namun suara itu masih saja terdengar.
"Kalau suaranya terdengar jelas, itu tandanya dia jauh, kalau suaranya terdengar lirih itu tandanyaaa... Dia ada di sekitar sini"
Zizi segera bersiap siaga. Memperhatikan sekeliling dengan tatapan tajam dan penuh kehati-hatian. Lalu, hatinya tergerak ke arah jendela kamarnya.
"Atau jangan-jangan dia ada di luar kamar ini ??"
Ia pun dengan perlahan membuka gordeng jendela itu. Di lihatnya sekitaran sana. Kemudian matanya tertuju pada sosok bergaun putih di atas dahan pohon beringin.
Merinding langsung Zizi rasakan. Dengan gemetar ia menutup pelan gordeng itu. Menata nafas agar tak terlalu berantakan.
"Ini hanya ilusi... Ini bohong... Ini hanya halusinasi gue aja"
Zizi manarik nafas panjang. Kemudian ia memberanikan diri melihatnya sekali lagi.
SREEEEKKKKK
HWAAAAAAAA
AAAAAAAAAAAAAA
__ADS_1