Karisma Sang Pemilik Khodam

Karisma Sang Pemilik Khodam
Alamat Rumah Tasya


__ADS_3

***


Zizi dan Rifki akhirnya memutuskan pulang ke kost untuk menanyakan alamat rumah Tasya pada teman-temannya. Untung saja Ratih tau. Ia pernah ke sana bareng Tasya waktu itu.


"Ko bisa Zi ?? Tasya pulang cepet ??" tanya Ratih.


"Ga tau juga kak, makanya kita mau cari tau dulu"


"Lu pulangnya jangan malem-malem ya Zi, gue takut di sini"


"Insya Allah ga kak, kita cuma mau mastiin aja kalau keadaan Kak Tasya bener-bener udah membaik"


"Ya udah. Hati-hati di jalan"


Mereka berdua pun pergi. Sepintas Zizi melihat mbak Mala tengah mengawasi mereka. Tapi Zizi pura-pura tak melihatnya.


"Agak ngebut deh Ki, biar cepet sampai" ucap Zizi mengalihkan pandangannya dari mbak Mala.


Di tengah perjalanan mereka berpapasan dengan seseorang.


"Ko kayak ga asing ya ?" ucap Zizi.


"Orang tadi ??" tanya Rifki.


"Iya"


"Auranya juga kayak gue kenal deh"


"Siapa ya ??"


Mereka mencoba tak menghiraukannya. Mereka fokus mencari alamat rumah Tasya. Tak lama ketemu juga. Mereka memastikan kalau itu benar-benar rumahnya Tasya.


PIIIMMM !!


Suara klakson motor Rifki membuat papanya Tasya membuka pintu rumahnya.


"Loh ?? Dek Zizi ??" sapa papanya Tasya yang mengenali wajah Zizi.


Karena kemarin Zizi ada di Rumah sakit dan mereka sedikit berkenalan. Jadi tak sulit untuk menyapanya apa bila berjumpa di lain tempat.


"Iya pak" ucap Zizi sambil bersalaman dengan papanya Tasya.


"Mari masuk"


"Iya pak, maaf ya pak, kami datang tak memberitahukan terlebih dahulu"


"Tak apa" ucapnya sambil membukakan pintu untuk mereka berdua.


Dengan sopan mereka pun masuk dan di suruh duduk.


"Kami tadi sempat ke Rumah sakit, tapi kata susternya kak Tasya sudah pulang, jadi kami berinisiatif datang kemari"


"Oh, iya dek ga apa-apa. Memang benar, waktu tadi pagi kondisi Tasya sudah benar-benar pulih. Makanya pas siang hari Tasya di perbolehkan pulang, tapi..."


"Tapi kenapa pak ??" tanya Zizi.


Tiba-tiba Rifki merasakan merinding di ruangan itu.


"Ada yang aneh sama Tasya" sambung papanya Tasya.

__ADS_1


"Maaf pak, saya memotong pembicaraan. Apa tadi ada seorang dukun kemari ??" tanya Rifki.


Papanya Tasya nampak ragu untuk menjawabnya.


"Emm... Iya dek. Kenapa ya ??"


"Maaf, kalau boleh tau siapa nama dukun itu ??" tanya Rifki lagi.


"Namanya mbah Darmaji"


DEGG !!


Zizi dan Rifki saling pandang. Kemudian mamanya Tasya datang dan menyambut Zizi. Zizi yang masih agak syok mendengar pernyataan itu pun dengan terpaksa menarik bibirnya untuk tersenyum pada mamanya Tasya.


Kemudian mamanya Tasya pergi ke dapur untuk membuatkan mereka minum. Sementara papanya Tasya masih terlihat bingung.


"Ko bisa ???" tanya Zizi sambil berbisik pada Rifki.


"Nanti gue jelasin. Ini gue masih agak ragu. Temui Tasya terlebih dahulu. Lalu kita harus ambil tindakan" jawab Rifki berbisik pula pada Zizi.


"Emmm... Maaf pak, kita boleh melihat kondisi kak Tasya ??" tanya Zizi.


"Oh. Baik, mari saya antar ke kamarnya"


Mereka pun di antar ke kamar Tasya. Terlihat Tasya sedang tertidur dengan sangat pulas di atas tempat tidurnya.


"Sebenarnya dari tadi dia ngamuk-ngamuk. Terus katanya ada sosok hitam yang berdiri di pojok kamarnya dan mengajaknya untuk ikut bersamanya."


"Sosok hitam ??"


"Iya dek, kami tak melihat sosok itu. Tapi kami melihat kaki Tasya di tarik olehnya. Dia meronta meminta pertolongan. Maka dari itu mamanya Tasya menyuruh saya untuk memanggil dukun. Padahal saya sendiri kurang yakin pada dukun itu. Saran saya sih tadinya mau manggil ustad saja"


"Di mana bapak berjumpa dengan mbah Darmaji ??"


"Oh begitu. Tapi kalau di lihat-lihat kak Tasya memang sudah membaik ya pak ?" tanya Zizi.


"Iya dek. Tadi di bacakan mantra sama mbah dukun"


Zizi menoleh ke arah Rifki sambil sedikit mengangkat alisnya.


"Pak, saran saya jangan panggil mbah dukun itu lagi. Maaf ini ya pak ?? Tolong mendingan panggil saja pak ustad. Kalau bapak bisa ngaji, bacakan saja ayat kursi setiap harinya pak, untuk melindungi kak Tasya dari jin-jin yang niatnya ga baik sama kak Tasya."


Saat sedang berbincang, tiba-tiba mamanya Tasya memanggil mereka untuk minum teh sebentar. Mau ga mau Zizi dan Rifki pun mengikuti instruksinya demi menghormatinya.


"Biar Tasya istirahat dulu. Tante kasiha sama dia. Apa lagi melihat kondisi waktu di Rumah sakit. Dia sampai ga bisa tidur. Untunglah tadi ada mbah dukun yang mampu menenagkan pikiran anak saya"


Zizi dan Rifki pun hanya melayaninya dengan senyuman. Setelah itu tak lama Zizi dan Rifki pun pamit pulang karena hari sudah hampir maghrib.


"Hati-hati di jalan dek"


Mereka pun mulai menyalakan motor dan pergi. Di tengah perjalanan mereka singgah sebentar di mushola untuk menunaikan ibadah sholat.


Setelah itu mereka beristirahat sebentar di tepi jalan sambil sesekali ngobrol.


"Itu gimana soal Darmaji ??" tanya Zizi.


"Gue rasa itu di sebabkan oleh ilmu rawaronteknya Zi"


"Ilmu rawarontek ??"

__ADS_1


"Iya, dimana dia yang mempunyai ilmu ini tuh susah banget buat meninggoy"


"Kenapa susah meninggal ?? Bukannya jantung dan hatinya tuh udah di makan ya sama Diandra ??"


"Diandra dari alam ghoib Zi. Dia yang punya ilmu rawarontek itu mau di bunuh sama manusia kayak kita 100 kali pun ia masih tetap bisa hidup kembali."


"Lalu siapa yang bisa membunuhnya ??"


"Bukan tentang siapa yang bisa membunuhnya. Tapi gimana cara membunuhnya"


Zizi mengangkat kedua alisnya.


"Si pemilik rawarontek itu walaupun sudah di mutilasi dan potongan-potongan, tubuhnya itu di sebar jauh, di pisah-pisahkan, kalau jasadnya masih nempel sama tanah dia masih tetap bisa hidup lagi"


"Ko serem ya ki ??"


"Ya memang seperti itu, kecuali kalau sebelum mati ilmunya di ambil."


"Bukannya sudahnya di ambil Mayang ??"


"Mayang cuma ngambil khodamnya"


Zizi pun tepuk jidat.


"Jalan satu-satunya cara membunuh Darmaji adalah jika ia sudah benar-benar tak bernafas, ia harus segera di kubur gantung. Alias ga boleh nyentuh tanah sama sekali"


"Di kubur gantung ??"


"Iya. Jasadnya itu ga boleh lagi nyentuh tanah. Itu, baru dia bisa mati"


"Ini gila Ki !! Baru tau sih gua"


"Waktu itu gua ga kepikiran, soalnya gua juga lagi panik gara-gara Mega"


Zizi menoleh ke arah Rifki.


"Udah. Ga usah di inget-inget lagi. Ya udah yuk kita pulang. Kasihan anak-anak kost ketakutan"


"Ehh tunggu Zi. Tadi pas ke sana gue sempet lihat ada..."


"Mba Mala ??"


"Ga tau sih namanya, tapi auranya beda"


"Dia bukan manusia"


"Nah, itu maksud gua. Ko bisa tinggal di sana ??"


"Itu yang mau gue selidiki. Setelah bu Lulu meninggal, kost pindah tangan ke adiknya. Tapi ini malah mistis. Auranya bu Kiandra ini beda. Tau ga lu ?? Gue kalau nyentuh jarinya tuh kayak kehipnotis alunan nada gamelan tau ga ?"


"Kehipnotis alunan nada gamelan ??"


"Iya. Pas awal ketemu bu Kiandra tuh kayak udah pernah lihat gitu"


"Emmm... Coba lu inget-inget nada gamelan itu"


Zizi terdiam sejenak.


"Gue inget Ki !! Nada alunan gamelan itu ada di mimpi gue pas Kanaya mendatangi kost itu"

__ADS_1


"Terus ???"


"Teruussss..... (berfikir)"


__ADS_2