
Satu kaki Zizi telah masuk dalam lingkaran itu, tangannya pun mulai menggapai tangan Kanaya.
Sementara Rifki begitu kecewa dengan keputusan yang diambil Zizi. Dengan amarah yang begitu meledak ia pun menghabisi semua antek-antek itu.
"Aaarrrrghhh !!!"
Ia pun berlari arah Zizi. Namun, Doni segera menarik tangannya.
"Lepaaas !!!" ucap Rifki sambil meronta.
"Gue ga akan ngebiarin lu merusak semua rencana gue"
"Set*n lu !! aarrghh !!!"
Rifki mendorong tubuh Doni, Donipun sedikit terpental. Rifki langsung menghajarnya dengan penuh emosi.
"Gue kira pas lu ketahuan waktu itu, lu berubah pikiran ! kenapa lu masih melanjutkan hal itu !! kenapa Don kenapa ??!!" ucap Rifki sambil terus meninju kedua pipi Doni.
Doni hanya diam saja saat Rifki bertubi-tubi memukulnya, ia hanya pasrah tergeletak di lantai.
"Elu sendiri yang berucap kalau lu bakalan ngelindungi dan membela mati-matian seorang anak yang bisa ngalahin Kanaya beberapa tahun yang lalu waktu lu baru aja mendapatkan mimpi bahwa suatu saat akan ada yang datang untuk menghabisi Kanaya. Lu ingat itu ?? lu ingat ga !! itu Zizi Don !! anak itu Zizi !! arrgh !!!"
Rifki benar-benar kecewa dengan sikap Doni.
"Kenapa lu cuma nyalahin gue !! lu ga sadar, kalau Zidan pun melakukan hal yang sama ? dia pun ingin menumbalkan Zizi demi ilmu yang sedang ia pelajari !! tapi yang kena justru Mega !! Lu inget gambar di Mading milik anak IPS ?? Semua bergambar Zizi kan ?? itu ritual macam apa ?? dia terang-terangan melakukan hal itu di sekolah, tapi ga ada yang sadar !!"
Rifki terdiam.
"Lu masih ingat belenggu rantai di tubuh Mega ?? inget lu ?? itu ulah Zidan !! dan dia masih bersikap manis, biasa saja, seperti ga pernah ada masalah apapun !!"
"Oh, lu sekarang ikut-ikutan Zidan ?? bukannya lu benci banget ya sama dia ? dia yang selalu ngalahin lu di perguruan, dan pernah mengkhianati kepercayaan lu sama dia ? sekarang lu berteman sama dia ? hah !! berteman ? sama-sama ingin mendapatkan Zizi ? untuk di jadikan tumbal ??"
Doni marah mendengar kalimat itu.
"Heh, denger ya ! gue sama sekali ga pernah ada niatan buat Jadiin Zizi tumbal !! "
"Lalu, apa bedanya ?? sama-sama bersekongkol dengan Kanaya !"
"Mulut lu lama-lama gua lakban juga ya !!"
"Sini lu kalau berani !!"
Mereka pun berkelahi lagi setelah banyak perdebatan. Di sisi lain Zizi sudah bersiap melangkah ke lingkaran itu. Kanaya masih mencoba meyakinkan Zizi agar segera masuk ke dalam lingkaran itu.
"Zizi jangan masuk Zi !!!" teriak Rifki sambil terus melawan Doni.
Doni membekap mulut Rifki. Rifki berusaha melawannya sambil sesekali menoleh ke arah Zizi.
"Elu bener-bener kurang ajar Don !! Punya banyak muka ternyata lu !! aarggh !!"
__ADS_1
"Udah pernah gue batalin !! kalau lu mau tau, tapi harusnya lu paham sama Kanaya ! mana mau dia rugi !!! mau ga mau gue harus tetep ikutin alurnya"
"Elu bener-bener ya !! kurang ajar tau ga !! lihat itu ! (menunjuk ke arah Kanaya dan Zizi) dia merelakan dirinya agar lu bahagia !! elu bahagia liet itu ?? bahagia lu ? bahagia ga !!!"
Doni hanya bisa diam.
"Demi Mayang ??? iya Don ?? demi Mayang lu mengorbankan Zizi ?? hah ?? jawab !!!"
Sementara Mayang hanya bisa menatap Zizi dari jarak beberapa langkah. Ia mengisyaratkan agar Zizi tak mengikuti apa yang Kanaya ucapkan.
"J a n g a n" ucap Mayang tanpa suara sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dengan tatapan mata yang sayu.
Tapi Zizi tak peduli, mungkin ini sudah jalannya. Demi kebahagiaan semuanya ia relakan hal itu. Zizi mulai mengangkat kakinya, tapi tiba-tiba Kanaya berteriak.
"AAAAAAAAAAAA !!"
Kanaya melepaskan pegangan tangan Zizi. Ia kemudian memegang tangannya sendiri yang terlihat memar dan berwarna merah menyala.
"Zizi"
Zizi menoleh ke sumber suara itu.
"Mama ?? Papa ??"
Kanaya yang tak rela kehilangan Zizi mencoba meraih tangan Zizi kembali, namun rasa sakit di tangannya sangat menggangu.
"Kurang ajar !!!"
"Mamaaa"
Dengan kekuatan Kanaya menarik Zizi menggunakan selendangnya. Zizi Pun di paksa lepas dari pelukan hangat ibunya.
"Mamaaa, toloooong...." ucap Zizi sambil mencoba meraih tangan ibunya.
"Ziziiiiii"
SRIIIINGGG
Selendang itu terputus oleh lemparan sebuah pedang, Zizi pun terjatuh.
BRAAKKK
"Aduh !!"
Mata Kanaya melotot saat melihat pedang itu. Ia pun langsung menoleh ke seseorang yang tengah berdiri di samping ibunya Zizi.
"Darimana dia punya pedang itu ??"
"Bagaimana nona ? kau mengenali pedang ini ??" tanya pak Cahya.
__ADS_1
"Siapa yang tak tau pedang itu, hampir seluruh makhluk tak kasat mata tau dengan hal itu. Pedang yang tak sembarang orang bisa melihatnya, hanya orang-orang tertentu saja yang mampu melihatnya, dan hanya orang yang benar-benar keturunannya yang bisa menjaga pedagang itu. Maka dari itu, pedang itu susah di curi ! Kalaupun yang memiliki pedang itu tak kuat imannya, maka pedang itu akan menyerang dirinya. Lalu ada urusan apa kau kemari membawa pedang itu ??" tanya Kanaya.
"Aku tak ada urusan denganmu tadinya, tapi saat aku tau kau akan membawa pergi Zilvana, aku maju paling depan untuk menghalanginya"
"Hahahahaaa !! terlambat"
"Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali"
"Aku tak ada urusan denganmu, menjauhlah !"
"Selama keselamatan Zilvana masih dalam pertimbangan, kamu tak akan menjauh"
Rifki dan Doni pun berhenti berkelahi saat melihat kedatangan mereka.
"Pedang itu.... ??"
"Dasar ! Kalian menggangguku saja ! rasakan ini, hiiiaaakkkkk....."
Kanaya mulai menyerang mereka. Yang Kanaya incar terlebih dahulu adalah si pembawa pedang.
Sambil melayang tanpa menyentuh tanah, Kanaya dengan lihainya bertarung dengan tangan kosong melawan sebuah pedang.
Beberapa kali Kanaya terkena goresan dari pedagang itu, namun ia tak gentar. Justru semakin banyak goresan kekuatannya semakin bertambah karena di dasari oleh emosi.
"Aku akan membuatmu tak bisa kembali lagi ke rumah esok hari ! Hahahahaaaa.... Kau akan mati malam ini dan kau tak bisa melihat matahari terbit besok !! Hahahahaaa..."
"Jangan pernah mendahului takdir nona !! kematianku bukan di tanganmu !!"
SRIIINGGGG !! SRIIINGGGG
Suara itu kini memenuhi telinga orang-orang di sana.
BRAAAKKK !!!
Kanaya terjatuh dan kini ia di todong oleh pedagang itu. Sambil terengah Kanaya menatap pedang itu kemudian menatap orangnya.
"Segitu saja kah nona ??"
Kanaya tersenyum tipis. Kemudian ia berdiri, memejamkan matanya lalu datanglah angin yang berhembus ke arahnya.
Ia pun membuka matanya. Alangkah terkejutnya pak Cahya melihat sosok yang tadinya begitu anggun dan cantik dengan pakaian yang begitu rapi, kini berbanding terbalik.
"Astaghfirullah hal adziiim"
Bola matanya berwarna putih semua, rambutnya yang panjang terurai acak-acakan, badannya penuh dengan darah, wajahnya yang begitu pucat pasi dan tubuh yang seperti terlalu lama berendam di air.
"Beraninya kau meremehkanku !!" teriak Kanaya dengan suara yang kini sudah berbeda dari sebelumnya.
Pak Cahya menoleh ke arah Pak Amin dan ayahnya Zizi. Kemudian sama-sama saling menganggukkan kepala.
__ADS_1
Tapi, tiba-tiba Kanaya mengkloningkan dirinya menjadi empat. Semua mata terbelalak melihatnya.
"Hahahahaaa" tawa itu menggema di ruangan dan di tambah dengan suara pisau yang tiba-tiba muncul dari tangannya.