Karisma Sang Pemilik Khodam

Karisma Sang Pemilik Khodam
Oh ternyata


__ADS_3

Tak terasa ternyata bibir manisnya Bima tersenyum melihat kejadian naas di depan matanya. Serasa ia punya energi kembali saat menatap darah yang sangat segar itu.


"Bim ? Lu ga takut ? Ga ngeri gitu lihat kayak gituan ??" tanya Luky.


Bima menoleh ke arah Luky sambil tersenyum menakutkan.


"Badan gue berasa abis di charger, hahahaaa"


Kawan-kawannya pun heran melihat Bima. Iya juga sih, wajahnya udah ga pucet lagi, tapikan ngeri.


***


"Ada siswa yang jadi korban, dia meninggal jatuh dari rooftop" ucap Agung lewat via telpon.


"Dia udah mulai ! Ini harus di hentikan, kalau tidak, 40 hari lagi pasti akan ada yang meninggal lagi" jawabnya


"Benar ! Dan aku ga mau kehilangan anak muridku, bisa saja nanti banyak yang pindah sekolah. Belum lagi anak-anak IPA yang bisa di bilang hanya sedikit, hanya 50 % dari anak IPS"


"Tunggu aku, aku akan segera kesana."


Tut tut tuut tuuuuut


Suara telpon itu terputus. Agung menghela nafas.


"Nay, kenapa kamu lakukan ini ?"


***


"Zi !! Kanaya keluar dari alam ini ! Yang sedang lu hadapi adalah bayangannya" teriak Doni sambil melepaskan diri dari jerat ular itu.


"Bukan Don !! Ini yang asli ! Bayangannya yang keluar !" jawab Zizi.


Tiba-tiba tangan Kanaya mencengkeram lehernya Zizi. Zizi yang sedari tadi sudah ketakutan karena Kanaya makin berubah menjadi sosok yang menyeramkan akhirnya tak bisa melawan Kanaya.


Tangan Zizi melambai-lambai tapi Kanaya seakan tak mempunyai rasa kasihan. Mata Zizi mulai memerah dan nafasnya mulai tersendat-sendat.


Dengan penuh emosi Kanaya terus saja mencekik leher mungilnya Zizi. Saat mata dengan mata mulai saling menatap Zizi seolah-olah terbawa ke masa lalu.


◇◇◇


PRAAAAANGG


"Aaaah !! Kenapa sih semua orang memuji suaranya Aludra terus ? Papa juga ! Padahal aku yang selalu juara !" ucap Kanaya kesal sambil melempar barang-barang yang ada di meja riasnya.


Ia pun mengambil foto yang tertempel di kaca meja itu. Foto antara Kanaya dan Aludra.


"Gue kira lu teman ! Ternyata musuh lu !! Gue benci ama lu !!" teriak Kanaya sambil membuang foto itu ke lantai.


"Ternyata suaramu bagus banget... Coba aja ikutan lomba, siapa tau kamu bisa menang dan ngalahin Kanaya"


Kata-kata itu selalu ada dalam kepala Kanaya. Entah mengapa Kanaya takut sekali jika ada yang mengalahkannya. Apa karna ayahnya yang selalu menuntut Kanaya agar terus juara ? Atau ada hal lain ?


"Kalau Aludra mati, aku ga ada saingannya lagi kan ??" ucap Kanaya lirih sambil tersenyum menghadap cermin.


Keesokan harinya adalah hari minggu, Kanaya pergi ke rumah Aludra dan mengajaknya berlatih menyanyi serta mempelajari beberapa bab yang belum di jelaskan oleh para guru.


"Ahh bosen Nih, kayaknya perlu tempat latihan yang baru deh" ucap Kanaya.


"Aya maunya latihan dimana ?" tanya Aludra.

__ADS_1


"Menurut Lulu dimana ?"


"emmmm....."


"Gimana kalau di sekolahan aja" celetuk Kanaya.


"Ini kan hari minggu, memangnya sekolahan di buka ?" tanya Aludra.


"Kita masuk lewat pagar di dekat gudang"


Aludra heran.


"Ko Aya bisa tau kalau di sana ada jalan masuk ?" Tanya Aludra.


"Aku kan ketua osis, sering banget dapet laporan ada anak yang minggat lewat sana, pas aku cek, ternyata ya emang ada, bahkan buat cewek pun mudah ko masuk lewat sana"


"Ya udah, aku pamit sama ibu dulu ya ?"


"Tapi jangan bilang pergi ke sekolahan ya ?"


"Ok !"


Setelah Aludra pamit, mereka pun mulai berjalan menuju ke sekolahan itu. Setelah sampai di sana ternyata pagar itu sudah di beri rakitan besi runcing.


"Wah ! Ternyata sudah di kasih besi" ucap Kanaya.


"Haduuuh, iya ya ? Terus gimana dong ?" tanya Aludra.


Hati Kanaya benar-benar kesal. Ia sudah menahan amarah sejak dari pagi. Ia berpura-pura baik, pura-pura tersenyum dan pura-pura care pada Aludra. Padahal ia sangat sangat sangat dendam.


"Ya udah deh, mungkin gue mau pulang aja" ucap Kanaya.


"Uh !! Sial !!!!!! Sejak kapan ada besi kayak gini disini ??" ucap Kanaya dalam hati.


Lalu mereka pun berpisah. Tapi sebenarnya Kanaya ga pulang. Melainkan mengikuti Aludra sambil mencari cara untuk menyingkirkannya.


Saat sedang membuntuti Aludra, tiba-tiba ia tersandung dan hampir jatuh. Untung saja Aludra tak mendengar saat Kanaya meng-aduh.


"Hiih !!! Kurang ajar nih batu !!" ucap Kanaya sambil mengambil batu itu.


Melihat ukuran batu itu, Kanaya pun jadi punya ide untuk menyingkirkan Aludra.


"Kalau dia cidera, sudah otomatis ga bisa ikutan lomba dong ? Dan sudah pasti aku bakalan jadi pemenangnya lagi, uhhhh Aludra Aludra, mau main-main ya sama aku ? Hahaha"


Ia terus mengikuti Aludra sampai pada titik aman di mana tempat itu adalah jalanan yang cukup sepi dari lalu-lalang aktifitas manusia.


Kanaya pun bersiap untuk melempar batu itu mengenai kepala Aludra.


"Bersiaplah Luluuuu, 1 2....."


Tiba-tiba ada yang menarik batu itu dari tangan Kanaya.


" Agung ???" ucap Kanaya tercengang.


"Gini yang namanya sahabat ??? Mau mencelakainya ??"


Kanaya terdiam.


"Sejak kapan kamu disini ?" tanya Kanaya.

__ADS_1


"Sejak ku lihat kamu berjalan mengendap-enap di belakang Aludra !"


"Oh"


Agung mengangkat satu alisnya mendengar jawaban dari Kanaya.


"Kembalikan batu itu !" seru Kanaya.


"Kalau ga mau, kamu mau apa ?" tanya Agung.


"Aku cuma mau batu itu balik ke tangan aku !!"


"Ga akan !!"


"Oh, gitu. Rasanya kesabaranku udah habis"


"Oh ya ?"


"Ya ! Dan muak lihat muka kamu !! Munafik !!"


"Apa maksudnya munafik ??"


"Sekarang aku tanya, apa kurangnya aku ? Kenapa kamu lebih memilih Aludra !! Bahkan aku selalu nurut apa yang kamu ucapkan ! Kamu bilang kita pacaran tapi ga boleh ada yang tau !! Karna apa ?? Karna agar kamu bisa deketin Aludra dengan mudah ??!!! (mulai marah) iya ?!!"


"Kamu salah faham Nay"


"Salah paham ?? Kamu bilang aku salah faham ?? Jelas-jelas aku lihat kamu diam-diam ketemuan sama dia !! Kurang apa aku !! Bahkan aku lebih pandai dari Aludra ! Kalau bukan karena aku yang ngajarin matematika ke Aludra, Aludra juga ga bakalan bisa seperti sekarang !! Aaaaaah (berteriak)"


"Aku bisa jelasin ko Nay"


"Udah cukup !! Ga perlu dan ga butuh penjelasan dari kamu !!"


"Nay !!"


"Kenapa yang aku punya di ambil sama Aludra ! Teman-teman di kelas sekarang lebih memilih Aludra !! Aku bisa apa ?? Aku cuma bisa diam !! (sambil meneteskan air mata) pura-pura ga tau apa-apa !! Pura-pura senyum dan tetap bersikap manis !! papa aku ! Dia lebih sering memuji Aludra daripada aku ! Dan satu lagi ! Aludra juga ngambil kamu dari aku !! Aku benci sama kamu !! Aku benci sama kamuuu !!! (makin meningikan suaranya) dan aku benci sama Aludra (suaranya samar)"


Keesokan harinya mereka pun masuk sekolah. Seperti biasa Kanaya pun menyambut Aludra dengan ramah tamah dan senyum kepalsuan.


Di tengah berjalannya sebuah upacara Kanaya membisikan kalau dirinya agak pusing kepada Aludra.


Aludra yang panik pun segera mundur ke belakang sambil menuntun Kanaya. Ia meminta izin untuk membawa si ketua osis itu ke UKS. Setelah sampai di sana Aludra pun segera membuatkan teh manis anget untuk Kanaya.


Saat sedang mengaduk teh di gelas ia menoleh ke arah Kanaya yang sedang duduk santai di tempat tidur sambil tersenyum.


"Udah sembuh Nay ?" tanya Aludra heran.


"Udah ko" jawab Kanay sambil tersenyum.


Aludra mendekat, dan duduk di sampingnya.


"Huufh ! Ternyata pura-pura, haha" ucap Aludra.


"Ke kelas yuk ?" ajak Kanaya.


Aludra yang tak tau apa-apa pun mengiyakannya dan mulai bersiap menuju kelas. Mereka berjalan seolah tak ada beban, padahal meninggalkan upacara disana.


Kanaya menggandeng tangan Aludra sambil berjalan mengikuti irama lagu yang sedang mereka nyanyikan.


Agung yang sejak awal tak mengikuti upacara tak sengaja melihat mereka berdua.

__ADS_1


"Ga mungkin mereka seakur itu, pasti ada yang di sembunyikan dari Kanaya, firasatku ga enak"


__ADS_2