
***
Terdengar suara jeritan dari koridor saat mbah dukun mulai membakar kemeyan. Semua anak berkumpul di aula sekolahan dan duduk menunduk membuat sebuah lingkaran. Mbah dukun itu berada di tengahnya.
Anak-anak itu mulai memejamkan mata dan ketakutan saat suara jeritan dan tangisan mulai terdengar beberapa kali. Ada juga yang bergandengan tangan saking takutnya.
Terlihat sedari dari Bima tak menundukan kepalanya. Matanya terus menatap tajam ke arah Mega.
"Mengapa asap hitam itu selalu mengelilingi Mega ?" tanya Bima dalam hati.
Tiba-tiba Mega meoleh ke arah Bima. Bima pun salah tingkah dan langsung pura-pura menunduk.
"Ngapain sih tuh anak lietin gue ?" tanya Mega dalam hati.
Mega pun celingukan mencari Zidan.
"Tuh anak kemana sih ? Kalau di cari pasti ga ada ! Kesel gue sama dia. Gue itu mau nanya, apa Kanda pat ini berbahaya buat gue atau tidak ? Soalnya mereka selalu ikut gue kemanapun gue pergi, entah itu mandi, buang air besar dan lain sebagainya, huufh ! Kan sebel, mana muka mereka kaku dan pucet gitu, serem banget lagi" oceh Mega dalam hati sambil sesekali menoleh ke arah kanda pat.
Mega masih celingukan mencari Zidan. Ia pun melirik ke arah perempuan yang ada di pundaknya Zidan.
"Ini mata gue ko gini ya ? berasa indigo gue kalau lihat ke arah Bima" ucap Mega dalam hati.
"Mega ngapain sih masih lihatin gue ?" tanya Bima dalam hati.
"Dari sekian banyak anak, kenapa cuma Bima ya yang di tempelin setan ??" tanya Mega lagi dalam hati.
Tak lama datanglah Lulu mendekat ke Agung.
"Apa-apaan kamu ! Masih nekad juga manggil dukun ?" Bisik Lulu.
"Diam kamu ! Duduk dan lihat saja !! Aku udah ga tenang di ganggu Kanaya terus menerus !" jawab Agung berbisik pula pada Lulu.
"Kamu gila !! Kanaya bisa marah !!"
"Duduk dengan tenang !!"
Lulu menoleh ke arah anak-anak. Di carinya Zizi, Rifki dan Doni.
"Dimana 4 anak itu ??" tanya Lulu.
"3 anak sedang di amankan oleh mbah dukun di suatu ruangan. Sedangkan Zizi dari pagi ga kelihatan" jawab Agung.
"Di amankan ??"
"Iya, kata mbah dukun, 4 anak itu adalah jalan keluar masuknya Kanaya dari dua dunia."
"Mereka anak indigo ??"
"3 anak lelaki itu anak indigo, tapi kalau Zizi bukan, tapi Zizi punya daya magnet yang di sukai Kanaya, yaitu hari lahirnya dan darah hangatnya. Karismanya juga mampu menarik perhatian dari banyak makhluk"
"Berarti Zizi dalam bahaya ??"
"Ga juga, kata mbah dukun dia punya penjaga"
__ADS_1
"Maksudnya penjaga ??"
"Khodam"
"Khodam ?? Apa khodamnya ?"
"Katanya Harimau putih"
"Harimau putih ?? (terdiam sejenak) Berarti aku salah, dia memang ga bersalah dalam hal ini, pasti ada yang menjebaknya"
"Maksudnya ??"
"Aku mengira kalau Zizi adalah dalang dari munculnya Kanaya kembali. Seperti perjanjian yang pernah aku lontarkan pada Kanaya. Bahwa aku tidak akan menyanyikan atau mengkidungkan lagu jawa lagi. Bahkan di rumahku akan ku larang semuanya. Kanaya boleh bangkit lagi apabila ia mendengar lagu jawa di nyanyikan di area rumahku atau bahkan aku sendiri yang melantunkannya"
Agung menoleh ke arah Lulu.
"Jadi motif dari pembunuhan itu adalah nyanyian jawa ??"
"Iya, dan juga KAMU !!"
"Aku ??"
"Aku jadi merasa bersalah sama Zizi."
"Merasa bersalah kenapa ?"
"Tadi kamu bilang katanya Zizi punya Kodam harimau putih. Itu tandanya dia anak yang baik."
"Bukankah harimau putih itu jahat ya ?"
"Oh gitu ya ?"
"Iya yang mempunyai khodam harimau putih itu nggak sembarangan orang, kalaupun mungkin ada yang punya, bisa jadi itu karena leluhurnya juga punya, atau karena ia mempunyai amalan untuk mengambil khodam itu. Atau bisa jadi ada seseorang yang mengirimkan khodam itu untuk menjaga nya."
"Ternyata kamu tahu banyak tentang khodam."
"Dari mana Mbah Dukun itu tahu kalau Zizi punya khodam ?"
"Tadi aku sedikit cerita sama dia tentang bagaimana dia menangkap Darmaji waktu itu."
"Hanya dari ceritamu dia bisa mengetahui sifat dan karakter Zizi ?"
"Nggak juga tadi aku Perlihatkan fotonya."
"Wah hebat cuma dari foto dan dengar cerita dia bisa menyimpulkan kalau Zizi punya Kodam."
"Semoga saja dia beneran hebat, dan bisa mengalahkan Kanaya."
"Kamu berniat mengalahkan Kanaya ?"
"Nggak gitu juga maksud aku........"
"Apa maksudmu ?"
__ADS_1
"Ya supaya dia nggak mengganggu aja, nggak bikin onar, jadi nanti sekolah ini kembali damai dan tentram."
Seseorang guru lain mendekat dan berbisik kepada Agung.
"Zizi masuk ke sekolah ini, tadi jejaknya terekam kamera CCTV dari arah gerbang menuju ke parkiran motor, tapi setelah itu tidak ada jejak lagi" ucapnya.
"Hah ?? Ko bisa ?"
"Kemungkinan ia berjalan menuju ruang yang tanpa ada pengawasan CCTV-nya pak"
Agung terdiam sejenak. Lulu pun bertanya.
"Ada apa ?"
"Jejak Zizi terekam kamera CCTV hanya sampai parkiran motor saja, dan sampai sekarang belum ada yang melihatnya"
"Ya ampun ! Ko bisa ?"
"Kemungkinan ia berjalan ke arah belakang, yang ga ada CCTV-nya"
"Semoga dia baik-baik saja"
Aroma kemenyan itu makin menyengat dan asapnya mulai menyebar kemana-mana. Mbah dukun itu mulai fokus membacakan mantranya.
Tiba-tiba angin berhembus sangat kencang. Kemudian terdengar suara gamelan. Lulu langsung berdiri saat melihat ada yang datang dari arah depan matanya.
Seakan tak percaya dengan apa yang ia lihat. Kanaya. Mulai berjalan mendekat ke arah Lulu.
***
Zizi mulai membuka matanya perlahan.
"Dimana aku ? Kenapa ruangan gelap sekali ?" tanya Zizi sambil memperhatikan ruangan yang sedang ia tempati.
Tangan dan kakinya terikat di sebuah kursi. Mulutnya di lakban dan di sampingnya ia melihat ada Doni, Rifki dan Zidan yang dalam keadaan terikat juga.
"Ya ampun ! Kenapa ini ??" tanya Zizi dalam hati.
Kemudian datanglah seseorang entah dari arah mana. satu lampu mulai menyala dengan cahaya yang minim. Ia duduk di depan mereka dengan membelakangi cahaya, sehingga wajahnya tak kelihatan.
"Sudah bangun rupanya kamu" ucapnya.
Zizi mencoba menajamkan penglihatannya supaya bisa mengetahui dengan siapa ia bicara. Namun sayang, suasananya benar-benar tidak mendukung. Di tambah lagi ia baru terbangun, jadi penglihatannya masih sedikit blur.
Zizi mencoba melepaskan ikatan itu. Tapi ternyata ikatannya sangat kuat. Zizi menoleh ke arah teman-temannya dan mencoba membangunkan salah satunya.
Ia mencoba memanggil tapi dengan mulut yang masih tertutup lakban. Walau begitu, salah satu di antara mereka mulai bergerak membuka mata.
Rifki kaget, saat ia terbangun dalam keadaan terikat di ruangan yang gelap dan minim penerangan. Ia menoleh ke arah Doni yang masih belum sadarkan diri.
Zizi mencoba memanggil Rifki. Rifki pun menoleh ke arahnya. Rifki kaget saat Zizi juga ternyata ada di ruangan yang sama.
"Dimana ini ??" tanya Rifki dalam hati.
__ADS_1
Kemudian ia menoleh ke arah cahaya lampu yang sangat minim di depannya. Terlihat seseorang sedang duduk memperhatikan mereka.
"Siapa dia ?"