
BRAAKKKK !!
Kiandra jatuh tersungkur. Semua anak-anak keget.
"Bu Kiaaa !!" teriak Zizi.
Namum sosok itu tiba-tiba memberi peringatan agar Zizi tak mendekat.
"Perbanyak saja istighfarmu Zilvana Ziya, aku harap ada keajaiban untuk anak baik sepertimu" ucap sosok itu.
Zizi yang tadinya sudah melangkahkan kaki, kini ia tarik kembali langkah itu. Kiandra sepertinya mengalami luka dalam. Sudut bibirnya terus saja mengalir darah. Kedua pipinya lebam dan kini pisau itu telah beralih ke tangan sosok itu.
Kiandra yang masih terengah-engah, kini di ancam dengan pisau milik sendiri.
"Kanaya, ini pisau miliknya bukan ??" tanya sosok itu.
"Itu bukan urusanmu !!"
"Awal pertemuan yang cukup menarik dengan Kanaya, saat kau tengah duduk melamun di kamarmu karena memikirkan Agung, ia datang dengan seribu mulut manis dan bujuk rayu agar kau mau mengikutinya melawan Aludra"
"Diam kau !! tak perlu kau ingatkan hal itu !! masih segar terasa ingatan itu di otakku !!"
"Itu tandanya kau sebenarnya menyesal, tapi kau sudah terlanjur basah"
Kiandra menatap sinis ke arah sosok itu.
"Bisa kah kau rendahkan nada suaramu ?? itu terdengar sangat kasar, apa lagi di hadapan anak-anak"
"Aku sudah muak bersikap manis dan baik di hadapan mereka !!"
"Hahahahaa"
"Terutama Zizi"
"Ada apa dengannya ??"
"Dia sok jadi pahlawan !! selalu menggagalkan rencanaku"
Tiba-tiba Kiandra berdiri dan merebut pisaunya dari tangan makhluk itu. Sontak saja makhluk itu kaget dan dengan sigap menarik kembali pisaunya hingga membuat tangan Kiandra tergores.
"Aaghh !!"
"Manusia lemah !!"
BRAAKKKK !!
Kiandra menedang makhluk itu hingga tersungkur ke dinding. Pisau itu pun terlempar dari tangannya. Sorot mata Kiandra mulai merah dan makin sinis.
"Derajatku lebih tinggi dari pada kau " ucap Kiandra sambil mengambil pisau itu kembali.
Kiandra mulai sedikit memainkan pisaunya sambil berjalan mendekat ke makhluk itu.
"Kisah yang menarik bukan ?? Ketika ada seorang anak yang tak pernah jadi kebanggaan orang tuanya sendiri. Ia bahkan sudah berusaha semampunya agar bisa mendapatkan sedikit perhatian, namun apa ?? mereka hanya terfokus pada Aludra. Gara-gara ia pernah di fitnah membunuh sahabatnya hingga ia di keluarkan dari sekolah itu ! Dan tak ada satu sekolah pun yang mau menerimanya. Mentalnya sempat terganggu, hingga orang tuaku lupa, bahwa dia juga punya aku !! (menaikkan nada suaranya) kau tak pernah tau bagaimana perasaanku !!" ucap Kiandra sambil memegang pergelangan tangan makhluk itu.
"AAAAAAAA !!!" teriak makhluk itu kepanasan ketika Kiandra menyentuh pergelangan tangannya.
Sebuah gelang merah menyala kini melingkar di pergelangan itu.
"Panaaaas !!!"
"Bukankah kau bilang aku lemah ??"
__ADS_1
"Kau bukanlah Kiandra yang asli !! kau Kanaya !!"
"Kanaya adalah Kiandra, Kiandra adalah Kanaya !!! kami sudah menyatu !!!"
Zizi melongo mendengar ucapan itu.
"Bod*h !! Kau mengorbankan tubuhmu sendiri ?? untuk mendapatkan apa yang kau inginkan ??"
Kiandra tersenyum kemudian tertawa sangat keras.
"Hahahahaaaaa !!"
"Kau anak yang pandai sebenarnya, mengapa kau salah jalan !!"
"Aku, Kanaya ! Ga pernah rela kalau ada anak yang lebih pandai dariku !! maka dari itu, semua anak yang ku ambil nyawanya adalah anak-anak yang berprestasi !!"
DEGG !!
"Benar juga ! semua anak yang mempunyai prestasi pasti meninggal, seperti Mega, Dewi dan yang lainnya, bahkan pak Agung. Jadi sebab itu juga Kanaya mengincarku ?" ucap Zizi dalam hati.
Tiba-tiba saja Kiandra membalikkan badannya dan menatap Zizi. Sontak saja Zizi kaget dan ketakutan.
"Kenapa Zilvana Ziya ?? sudah tak ada lagi waktu untuk kabur"
"Maksudmu ???"
SRIIINGGGG
Pisau itu bersinar dan sangat menyilaukan. Dalam sekejap mata Zizi sudah berada di tempat lain. Zizi memperhatikan sekeliling. Kanaya pun keluar dari tubuh Kiandra.
Zizi hanya bisa diam melihat semuanya. Badannya terasa dingin dari ujung kaki hingga pusarnya.
"Terlalu manis" ucap Kanaya sambil berjalan memutari Zizi.
"Doni ??"
Kanaya berjalan ke arah Doni.
"Mak.... maksud, maksudmu, apa Don ??"
Doni masih enggan membuka mulutnya untuk berbicara.
***
Sementara di kost putra Rifki yang sedang gabut tiba-tiba menoleh ke arah pintu kamar kost Doni.
"Kok gue penasaran ya ??"
Ia pun berlari kecil menuju kesana. Ia berdiri di depan pintu itu. Sepi. Ia pun tengok kanan kiri dan akhirnya memberanikan diri untuk membuka pintu itu.
KLEEKK !!
Rifki Kaget saat melihat isi ruang kamar itu. Ia segera berlari keluar dan mengambil motornya.
"Kurang ajaaaar !!" ucap Rifki sambil mengegas motor itu.
***
"Kau.... mau menukar jiwaku agar jiwanya Mayang kembali ??" ucap Zizi dengan air mata yang mulai menggenang.
Doni masih terdiam di sana sambil merangkul Mayang yang setengah sadar.
__ADS_1
"Gue pikir, lu mendekati gue karena lu suka sama gue, tapi ternyata... (menahan sesak di dada karena air matanya mulai tumpah) ternyata ada maksud lain ??"
"Mungkin gue terlalu sayang sama Mayang"
Zizi tak kuasa lagi menahan air mata itu.
"Jadi ini maksud Rifki ??"
Doni menundukkan kepalanya. Tapi Kanaya menepuk pundaknya, menguatkan tekadnya.
"Keputusanmu sudah sangat benar Doni, jiwanya yang aku butuhkan. Lalu kau akan mendapatkan kembali setelah dari jiwanya Mayang" ucap Kanaya.
"Gue minta maaf Zi" ucap Doni sambil terus menunduk.
Zizi mencoba untuk tetap tegar dan tenang.
"Ambillah asal bisa membuatmu bahagia bersama Mayang" ucap Zizi.
Doni makin merasa bersalah mendengar ucapan Zizi.
"Sepertinya gue sudah terlanjur jatuh cinta sama lu, maka dari itu, jika kebahagiaan lu bukan gue, ga apa-apa, gue rela Don"
Kanaya membuat sebuah lingkaran kecil.
"Sudahi dramanya, masuklah ke dalam lingkaran ini jika benar-benar rela menyerahkan jiwamu untuk menolong Mayang" ucap Kanaya sambil tersenyum manis.
Zizi mulai berjalan mendekati arah lingkaran itu. Namun tiba-tiba Rifki datang dan segera menarik tangan Zizi.
"Tidak semudah itu Nay !! dan elu Don !! bod*h lu !! tega lu ya !! Dia tulus sayang sama lu, malah lu manfaatin !! kurang ajar lu !!!" ucap Rifki dengan amarah yang memuncak.
"Beraninya kau merusak suasana !!" teriak Kanaya.
Kanaya pun langsung menghajar Rifki. Rifki mencoba menangkis serangan demi serangan yang bertubi-tubi itu.
Rifki melempar sesuatu ke dalam lingkaran itu dan lingkaran itu pun hilang. Kanaya yang melihat itu pun marah.
"Tinggal selangkah lagi dia jadi milikku !! tapi kau merusak segalanya !!! hiiaaakkkkk !!"
Rifki di hajar kembali oleh Kanaya. Ia pun di bantu oleh khodamnya untuk melawan Kanaya. Kanaya segera memanggil anak buahnya untuk menghabisi Rifki dan khodamnya. Sedangkan Kanaya mundur dan mencari cara agar ia bisa mengambil jiwanya Zizi.
"Aku rasa, kau adalah penyebab semua masalah ini, apa kau melihat Rifki meninggal juga ??" tanya Kanaya.
"Apa maksudmu ??"
Kanaya memperlihatkan cara melukai Rifki tanpa menyentuhnya. Dan Rifki di sana pun berteriak kesakitan, sedangkan antek-antek itu terus saja melawan Rifki.
Zizi begitu iba melihat Rifki di sana. Ia pun memohon agar Kanaya tak melakukan itu.
"Bagaimana dengan Sofia ??" tanya Kanaya lagi.
Ia pun memperlihatkan seperti sebuah layar yang sedang memantau Sofia di sana. Kanaya mendatangkan sosok yang begitu menyeramkan ke kamar Sofia.
Terlihat Sofia menjerit ketakutan dan meminta pertolongan. Kanaya memerintahkan agar sosok itu melukai Sofia.
"Jangaaaan !!!" teriak Zizi.
"Aku tak suka jawaban yang terlalu lama !!"
Zizi bingung harus bagaimana. Kanaya akan membuat teman-temannya terluka jika ia tak menuruti kemauannya.
Sesekali Rifki memperhatikan Zizi. Zizi pun menoleh ke arah Rifki. Sambil melawan antek-antek itu, Rifki menggelengkan kepalanya memberi isyarat agar Zizi jangan mengikuti Kanaya.
__ADS_1
Di sisi lain Zizi tak mau membuat teman-temannya dalam bahaya. Ia mulai melangkahkan kakinya. Sedikit ragu, ia memandang ke arah Kanaya yang tersenyum manis. Kanaya pun mengulurkan tangannya ke arah Zizi. Zizi mencoba meraih tangan itu.
"Jangaaaaaaan !!!!!" teriak Rifki.