
"Untuk apa kau di sini ??" tanya Kanaya.
"Tugasku menjaga Zilvana, jadi, tak akan ku biarkan dia terluka"
"Bocah tengil ! Minggir kau !!"
"Tidak !! Aku rela mati demi melindunginya"
"Hahahaha, dasar gobl*k ! Kau di ciptakan bukan untuk melindunginya"
"Aku sudah berjanji pada diriku sendiri saat ramalan itu mulai terdengar di telingaku"
"Hahahaha, baiklah sini maju dan lawan aku !"
HIIIAAAKKKKK
SRIIIINGGG
SRIIIINGGG
SRIIIINGGG
Semua pengikut Kanaya mendadak bertambah kuat. Pedang milik pak Cahya pun sudah terlepas dari badan Zidan. Mereka semua kembali berkelahi.
DUUAAAKKK
Kanaya langsung menoleh ke arah suara itu. Ternyata Kiandra jatuh tersungkur oleh tendangan dari pak Slamet.
"Cuuih !! Kurang ajar !!"
Kanaya bersiap untuk terbang dan memainkan selendangnya untuk melawan pak Slamet dan kedua temannya.
Kibasan selendang itu membuat mereka kehilangan pandangan sesaat. Tiba-tiba...
DUG DUG WUUSSSSSS
BRAAAAKKKKKK
Pak Amin dan pak Cahya tiba di rumah pak Slamet. Mereka pun heran.
"Kurang ajar ! Kita di kembalikan ke dunia nyata"
"Dimana yang lain ??"
Mereka celingukan. Lalu mereka menghampiri Bu Asiyah (ibunya Zizi) yang tengah khusyuk membaca do'a di ruang tamu.
"Assalamualaikum mbakyu...."
Bu Asiyah pun nampak kaget.
"Wa'alaikumussalam... Ehh maaf"
Mereka berdua hanya saling tatap dan agak sedikit canggung.
"Alhamdulillah, kalian kembali... Dimana suami dan anakku ?? Kalian tak bersama mereka ??"
Lagi-lagi mereka saling tatap dan saling dorong untuk menjawab pertanyaan dari Bu Asiyah.
"Mereka baik-baik saja kan ??"
"Emmm... Anu mbakyu..."
"Kenapa ?? Ada apa ??"
Mereka terdiam.
"Mata pak Cahya berdarah, biar saya ambilkan obat"
Bu Asiyah pun bersiap untuk berdiri, tapi pak Cahya mencegahnya.
"Tidak usah mbakyu, ini... Cuma luka ringan"
__ADS_1
"Lalu perut pak Amin juga berdarah, bajunya pun sobek"
"Tidak apa-apa mbakyu, luka kecil"
"Kalau kalian saja terluka begini, lalu bagaimana dengan suami dan anakku ??"
Mereka terdiam.
"Sudah satu Minggu saya berdoa, entah kapan mereka kembali, semoga mereka kembali dengan selamat" ucap Bu Asiyah.
"Hah ?? Satu Minggu mbakyu ??"
"Perasaan baru sebentar mbakyu"
"Sudah satu Minggu pak"
Mereka saling pandang lagi dan garuk-garuk kepala.
"Satu Minggu ???" ucap mereka bersamaan.
"Apa kalian mau minum ?? Atau mau makan ??" tanya Bu Asiyah.
"Tidak mbakyu, sepertinya kita harus bantu mereka di sana, ternyata yang bernama Kanaya itu bener-bener kuat"
"Tapi anak dan suami saya baik-baik saja kan ??"
"Semoga saja"
"Saya pamit ambil wudhu ke dalam mbakyu"
"Iya pak silahkan"
Mereka berdua pun pergi ke kamar mandi untuk berwudhu. Di tengah perjalanan pak Cahya baru ingat sesuatu.
"Alaaaahh !! Sial Min, pedangku dimana ya ??"
***
"Lalu, mengapa kau bawa anakku kemari ?? Bukankah anakku juga sama seperti mereka ??"
"Mereka hanya ikut campur, sedangkan anakmu memang sudah di takdirkan untukku"
Pak Slamet tersenyum tipis ke arah Kanaya. Kemudian Kanaya memberikan kode pada Zidan untuk melawan pak Slamet. Semetara Doni melawan Rifki. Dan, Kanaya tersenyum manis ke arah Zizi.
"Aku rasa aku sudah cape main-main" ucap Kanaya.
Melihat anaknya melawan yang tak sebanding dengannya, pak Slamet langsung menghajar Zidan demi memburu Kanaya. Dia langsung saja menendang kearah dadanya Zidan.
DUAAKKKK
"Ugggh..."
Zidan langsung bangkit dan ia bersiap melawan pak Slamet. Ia pun mencoba menendang ke arah pak Slamet, namun pak Slamet segera menendang kaki kirinya yang membuat Zidan harus terjatuh lagi.
BRAAAKKKK
"Arghhh !"
Zidan menatap tajam ke arah pak Slamet. Ia berdiri lagi. Menurunkan sedikit dagunya dan memfokuskan pandangan matanya, dengan kecepatan kilat ia memutar serong sedikit kakinya dan bersiap untuk menendang, lalu...
DUUAAKKK
Kali ini pak Slamet berhasil di lumpuhkan. Tendangannya tepat sasaran. Ia pun tersenyum tipis. Ia melangkah mendekat ke arah pak Slamet kemudian menarik kerah bajunya. Pak Slamet pun berdiri, lalu memegang leher Zidan dan membantingnya.
BRAAAKKKKK
"Agghh !"
"Kamu bukan lawanku !"
"Kata siapa ?? Siapapun yang akan menentang Kanaya itu adalah musuhku !"
__ADS_1
Pak Slamet memegang kepala Zidan dan membaca sebuah mantra.
AAAAAAAAAA
"Pulang lah kau !! Dan jangan mau jadi budak iblis macam dia !! Pulaaang !!!" ucap pak Slamet.
"Tidaaaaaaaaaak !!" teriak Zidan sambil meronta-ronta dan mencoba melepaskan tangan pak Slamet.
***
Sementara di rumah pak Slamet, Bu Asiyah mencoba mengundang banyak warga untuk berdoa di rumahnya.
Ayat-ayat suci Al-Qur'an mulai terdengar memenuhi ruang itu. Terlihat kecemasan yang teramat dalam dari wajah Bu Asiyah.
Sementara pak Cahya dan pak Amin masih khusyuk ikut melantunkan ayat-ayat itu walaupun dalam kondisi mata dan perut di perban.
"Bismillahirrahmanirrahim, Yaasiin, walqur'anil hakim......"
Tiba-tiba ada yang menepuk pundak pak Cahya. Ia pun menoleh. Ia kira itu adalah pak Amin yang sedang jahil. Pak Cahya pun tak menghiraukannya. Ia melanjutkan bacanya.
"Innakala minal mursaliin..."
PUKKK
Lagi-lagi hal itu ia rasakan. Ia menoleh lagi ke arah pak Amin, tapi kedua tangan pak Amin memegang buku Yasin.
"Hah ?"
Ia yang posisinya di samping pintu mulai mencoba menoleh kearah pintu itu. Tapi niatnya ia urungkan. Ia melanjutkan lagi membaca ayat-ayat itu sambil terus memikirkan kejadian itu.
"Apa Bu Asiyah di dalam butuh bantuan ??" ucap pak Cahya dalam hati.
Saat ia baru saja berucap Bu Asiyah terlihat berada di halaman rumahnya sedang duduk bersama istrinya.
"Itu ??"
Pak Cahya segera menoleh ke arah pintu itu dan terkejut saat melihat banyak rombongan yang ikut mengaji di sana.
Jantungnya serasa di pacu kencang. Makhluk-makhluk menyeramkan itu duduk tepat di belakangnya.
"Astaghfirullah hal adziiim.... Astaghfirullah hal adziiim... Astaghfirullah hal adziiim..." ucapnya dalam hati sambil gemetaran karena ia juga harus tetap menjaga suara agar orang-orang tak ikut panik.
Ia mencoba melanjutkan bacanya, namun ternyata itu sangat sulit, ludahnya begitu kelu untuk berucap. Tangannya masih bergetar dan tak bisa membuka lembaran-lembaran di buku Yasin tersebut.
"Ini pasti salah lihat gara-gara mataku yang satu sedang di perban. Ini pasti salah lihat"
Tiba-tiba saja ada suara yang membuat kaget pak Cahya.
KLUNTANG !!!
AAAAAAAAAA
Pak Cahya segera berlari keluar melewati begitu saja orang-orang di hadapannya.
"Ada apa pak ??"
"Pak, ada apa ??"
Pak Cahya yang tadinya berlari tiba-tiba berhenti dan beristighfar.
"Astaghfirullah hal adziiim" ucapnya sambil mengelus dadanya.
Bu Asiyah pun tak ketinggalan ikut bertanya.
"Ada apa pak Cahya ?"
Pak Cahya diam sejenak, kemudian ia menarik nafas.
"Maaf kan saya, saya mengacaukan acaranya. Mari kita lanjut, tadi ada sedikit gangguan, mari lanjutkan."
Walaupun masih banyak yang di penuhi tanda tanya tapi mereka melanjutkan kembali.
__ADS_1
"Ini mungkin sengaja di buat agar doa'-do'anya tak bisa tembus ke tempat Kanaya, agar acaranya berantakan dan tak bisa membantu pak Slamet juga Zilvana di sana, astaghfirullah hal adziiim..."