
***
"Gue harus bisa keluar dari dunia ini, teman-teman dalam bahaya" ucap Doni.
Saat Doni mulai konsentrasi tiba-tiba datanglah seekor ular besar dan mulai melilitnya.
"Apa ini ?" ucap Doni sambil membuka matanya.
Ia benar-benar tidak bisa bergerak. Ular itupun mulai menjulur-julurkan lidahnya di hadapan wajahnya Doni.
"Menyingkir kau ular jelek !!" ucap Doni.
Ular itu memasang wajah marah. Lilitannya makin di kencangkan hingga membuat Doni meringis.
"Mau main-main kau ! iiiiiihh !!(mencoba menggerakkan badannya)"
Tiba-tiba ular itu mengangkat tubuh Doni dan mengguling-gulingkannya. Memainkan Doni sesuka hatinya. Melemparnya lalu mengambil kembali dengan ekornya. Dililit dan terus saja dibolak balik seperti itu.
AKHHH
Doni merintih kesakitan. Namun ular itu terus saja melemparnya berkali-kali. Mata Doni terus saja tertuju pada bagian bawah lantai yang masih terlihat sangat terang.
"Hentikaaan !!" ucapnya lirih tanpa tenaga.
Ular itu mendekatinya dan menatapnya. Doni masih tergeletak di lantai.
"Ki, lu di mana Ki ? Bantuin gue Ki !!" ucap Doni dalam hati.
PROK PROK PROOKK
Doni menatap ke arah suara itu.
"Sudah gue duga !! Ini ulahmu !!!" Ucap Doni.
"Hahahaaa, gimana rasanya di mainkan ??"
Doni terdiam.
"Kenalin khodamku, namanya ophiophagus hannah"
"King kobra"
"Betul sekali, hebat"
"Dimana teman-temanku !!"
"Mereka aman ko, mau lihat ?"
Ia mengusap sebagian awan gelap itu, terlihatlah Zizi yang sedang menari dengan tatapan kosong. Rifki yang sedang mencoba membantu mengobati teman-temannya yang kesurupan dan terlihat sangat kewalahan. Mega yang terus berteriak di pojokan karena di ganggu oleh anak-anak yang kesurupan. Sofia yang sedang memakan bunga mawar.
"Dimana Mayang ??"
"Dia aman ko, mau lihat ?"
Ia mengusap awan hitam itu lagi. Terlihatlah Mayang yang masih duduk di ruang kelas dengan santainya. Doni agak sedikit bingung.
"Kenapa ga ada raut khawatir di wajah Mayang ?" tanya Doni dalam hati.
"Sepertinya Kanaya sayang sama anak itu, atau karena dia sedang hamil ? Jadi kanaya mencoba melindunginya ?"
DEGG !!
__ADS_1
"Mayang hamil ???"
"Hahaha ! Katanya kamu sayang sama dia ? Tapi ko kehamilan Mayang kamu ga tau ??"
"Tunggu tunggu !! Kanaya ??? Lu sekongkol sama dia ?"
"Dia yang mengajak kerja sama, ya, aku terima lah, sayang aja kalau harus di tolak"
"Lu itu sama kayak khodam lu ! Sama-sama licik !!"
"Hahahaa, Doni Doni"
"Jangan-jangan lu yang ngebunuh kakek lu sendiri !!"
"Lebih tepatnya Kanaya, bukan aku"
"Emang licik lu ! Demi sebuah segel lu habisi nyawa orang ??"
"Aku cuma kasihan aja sama kakek, udah tua, ga mau istirahat di rumah, ya udah, kenapa ga ku buat dia istirahat selama-lamanya ??"
"Cuih !!! Amit-amit punya cucu kayak lu !!"
"Hahaha, mbah Muryat sudah tenang di alam sana Don ! Dia udah tua, saatnya yang muda yang maju. Dan ilmu-ilmunya menjadi miliku, hahaha"
"Gue ga terima ilmu yang lu punya lu gunain buat hal yang ga berguna !!"
"Segel itu berguna ko, siapa tau kapan-kapan aku bisa menyegel Kanaya kembali, dan aku belum memakainya malah"
"Bedebah !!! Mana mungkin kau belum memakainya ??"
"Tanya sama Kanaya !! Bukan aku yang membuka segelnya !! Dia keluar dengan sendirinya !!"
"Kalau tidak di pancing dia tidak akan keluar !!"
"Halah !! Alesanmu kampungan !!"
"Lama-lama bikin emosi kamu ya ?"
"Ayo hajar ! Jangan cuma ngandelin khodam !! Maju sini !!"
"Huufh ! Aku ga akan melawan orang yang sudah kalah"
"Kurang ajar !! Siapa bilang gue udah kalah ? Ayo sini maju !! Jangan berlindung di bawah naungan king kobra saja !! Sini maju !!"
Ular itu mendesis ke arah Doni. Tapi di hentikan olehnya. Doni menoleh ke arah ular itu. Doni menatap tajam ular itu.
"Mau sampai kapan lu ngelakuin ini ??"
"Sampai simbol di tangan Mega hilang, hahaha"
"Kurang ajar !!"
Ketika Doni hendak menyerangnya, tiba-tiba ekor ular itu menghantam Doni hingga Doni terpental.
DUAAAKKK !!
AAGGHH !
Doni tersungkur jauh. Badannya makin tak kuasa untuk bangkit lagi. Tangan Doni mengepal. Tandanya ia sudah sangat marah.
"Sorry sorry, ini bukan aku yang nyuruh, king kobranya sendiri yang muak lihat muka kamu, hahahaaaa, mukamu itu loh, kalau di lihat itu sangat menyedihkan, kasihan aku sama kamu, hahaha"
__ADS_1
Doni mencoba menarik nafas. Tapi tiba-tiba di sana ada banyak makhluk yang sudah siap menyerang Doni.
"Licik lu Zidan !!!"
Dengan sisa tenaganya Doni mencoba melawan makhluk-makhluk itu. Ia semakin kewalahan karena makhluk itu bertambah banyak. Mati satu tumbuh seribu. Makhluk itu bisa melipat gandakan saat ia terjatuh dan mati.
"Seperti jurus seribu bayangan ??" kata Doni dalam hati.
Doni mencoba memfokuskan diri agar makhluk itu tidak bisa berkembang biak lagi.
"Darahnya !! Bagaimana cara agar bisa membunuh tanpa harus melukai dan tak mengeluarkan darah lagi ? Karena darahnya itu adalah sumber untuk mengkloningkan diri mereka"
Doni terus berfikir sambil melawan makhluk-makhluk itu. Sesaat terlintas di fikirannya senjata yang mampu mengusir makhluk halus. Ia mengambil nafas dan...
CRIINGGG
Senjata itu tiba-tiba ada di genggamannya. Dan siap untuk membasmi mereka.
"Sapu lidi gagang palem ?? Dia punya itu ?? Kenapa dia ga manggil saja khodamnya untuk membantunya ??" ucap Zidan yang sedari tadi memperhatikan Doni.
HIAAAAKKK !!
"Bismillahirrohmanirrohiiim !! Minggir kalian semua makhluk terkutuk !!"
SAT SETT SATTT SEETTTT
"Allahu akbar !!!"
Tak lama makhluk halus itu pun sirna. Nafas Doni sedikit terengah. Ia menyimpan senjatanya kembali.
"Alhamdulillaaah" ucap Doni sambil terus mengatur nafasnya yang tak karuan.
Ia lupa bahwa seekor king kobra belum ia basmi. Doni menoleh ke arah king kobra itu.
SSSSSSSSSSTTTTTTT
***
Zizi masih terlihat menikmati tariannya dengan nada gamelan ghoibnya. Kemudian datanglah seorang pria tampan ke hadapannya. Berlutut di hadapan Zizi dan ia mengulurkan tangannya kepada Zizi.
"Mari, ikut denganku" ucap pria itu.
Zizi terpana dengan ketampanannya. Tinggi, besar, putih dan wajahnya sedikit mirip dengan Alwi Assegaf. Zizi bingung antara harus menyambut tangan itu atau membiarkannya saja.
Dia tersenyum pada Zizi dan menganggukan kepalanya sambil terus mengulurkan tangannya.
"Mari, ikut denganku"
Ia mengulangi perkataannya kembali. Akhirnya Zizi memilih untuk menggapai tangannya. Zizi tersenyum padanya. Ia pun membalas senyuman Zizi.
Seketika saja Zizi tersadar. Ia bingung, mengapa bisa ia berada di lapangan. Sedangkan di sekelilingnya banyak anak yang kesurupan.
"Dimana pria itu ??" tanya Zizi.
Ia mencoba mencarinya dari berbagi sisi. Namun tetap saja ia tak menemukannya.
"Zizi !! Syukurlah kamu sudah sadar" teriak Rifki.
Zizi menoleh ke arah Rifki.
"Sini ! Bantuin, kewalahan ini"
__ADS_1
Zizi berlari kecil ke arah Rifki. Tapi ia tak terlalu fokus, fikirannya masih saja menuju ke arah pria itu.
"Siapa dia ???"