
Aludra menoleh ke belakang dan kaget melihat Kanaya sudah tepat berada di belakangnya.
AAAAAAAA
Teriak Aludra sambil menutupi wajahnya.
KLUNTIIINGGG
Suara pisau jatuh ke lantai itu membuat Aludra membuka matanya. Ternyata Agung mencoba menyelamatkannya di sisa-sisa tenaganya. Agung mencabut pisau yang ada di perutnya dan mencoba melemparkannya ke Kanaya.
Kanaya memutar kepalanya kemudian baru membalikkan badannya ke arah Agung. Ia mulai berjalan mendekati Agung.
"Nyawamu hanya tinggal hitungan detik, jadi ga usah so'-so'an jadi pahlawan buat Aludra !!" pekik Kanaya.
"Lulu ! Lari yang jauh ! Sembunyi dari Kanaya !!" teriak Agung.
"Hahahahaaaa, larilah sejauh mungkin Aludraaa, hahahahaa" ejek Kanaya.
"Lulu lari !!!" seru Agung sambil terus memegangi perutnya.
Lulu pun mengajak anak-anak yang lain untuk lari dan bersembunyi. Kanaya makin mendekat ke arah Agung dan membiarkan mereka pergi. Agung sedikit mencoba bergeser karena Kanaya terlalu dekat dengannya.
Perlahan tangan kanaya mulai mendekati luka tusukan itu. Kanaya tersenyum manis nan sadis. Wajahnya yang pucat pasi itu menambah ngeri saat Agung menatapnya.
"Kamu mau merasakan ga ? Rasa sakit hatiku ? Ke kamu dan ke Aludra ?"
Agung tak menjawab pertanyaan Kanaya. Merinding sudah seluruh tubuh Agung. Ia pun tak mampu lagi bergerak. Ia hanya bisa memperhatikan Kanaya saja. Tangan Kanaya yang dingin itu mulai meremas luka di perut Agung.
AAAAAAAAA
Tak bisa di bayangkan sesakit apa Agung. Tertusuk pisau saja sudah sakit, ini malah di remas oleh Kanaya luka itu. Kanaya berdiri sambil tersenyum. Tangannya penuh dengan darah yang mulai menetes ke lantai.
"Sakit itu belum seberapa !! Luka di hatiku lebih sakit dari itu !!"
Sambaran kilat sedikit menerangi ruangan itu. Beberapa anak nampak menutup mulutnya agar tak berteriak saat melihat kegilaan Kanaya memperlakukan kepala sekolah mereka.
Mereka terus bersembunyi dengan hati dag dig dug. Takut ketahuan lalu di hajar seperti kepala sekolah mereka. Tak banyak dari mereka pun meneteskan air mata karena tak sanggup lagi berada di situasi ini.
Anak-anak yang masih menari dengan alunan nada ghoib itu pun nampak menikmati saja. Bahkan kini lagu jawa itu terdengar hampir seluruh ruangan. Kecuali ruangan yang sudah di bacakan mantra oleh mbah dukun.
Kanaya mulai menoleh ke arah Mbah dukun yang sedang khusyu membacakan mantra. Kanaya mendekat dan mengagetkannya. Ia menirukan mantra mbah dukun itu.
"Hah ?!! Kenapa kamu tau dengan mantra ini ?" tanya dukun itu.
DUAAKKK !!
Kanaya menedang dukun itu hingga terpental dan maskernya pun terlepas.
"Ternyata itu kau !!!"
"Kenapa kalau saya ?" tanya mbah dukun itu.
"Huahahahaaaaa"
"Kali ini akan ku segel kau !"
"Hahahahaaa, beraninya kau bersembunyi di balik masker ! Hahahaaa" ucap Kanaya sambil memainkan pisau di tangannya.
Mbah dukun itu bersiap karena pisau itu seolah-olah telah berbisik bahwa ia akan mendarat di tubuh dukun itu.
HIIIAAAAAKKK !!
Mbah dukun itu mencoba menghindari serangan Kanaya. Tapi tiba-tiba Kanaya berubah menjadi banyak. Layaknya punya seribu bayangan macam naruto. Semuanya membawa pisau dan sangat menyeramkan.
"Mati lah kauuu !!! Durjana !!"
Secara bersamaan pisau itu pun melayang dan mulai menancap di badan mbah dukun itu. Kanaya sedikit heran saat pisau itu tak melukai tubuhnya. Lalu ia paham dan tertawa.
"Hahahaaaa... Darmaji.... Darmaji, hebat juga kau ya ? Dapat ajian minjem saja belagu kau !!" ucap Kanaya.
"(Tersenyum tipis) kau takan mampu mengalahkanku" ucapnya.
__ADS_1
"Ilmu pancasona-nya Rifki jangan kau pakai buat main-main Darmaji !!"
"Aku hanya memakainya sebagai pelindung saja"
"Rifki saja belum pernah menggunakan ilmu itu, ehh kau berani-beraninya memakainya, ga sopan !"
"Itu bukan urusanmu !!"
"Darmaji oh Darmaji... Bukankah kau sudah mati ?"
"Hahahaaa... Mariska bocah masih ingusan itu kau suruh untuk membunuhku ?? Hahaaa... Tidak akan bisa !!"
"Apa katamu ?? Tidak akan bisa ?? Ilmu rawarontekmu yang kau pinjam dari Doni itu belum sempurna !! Sombong sekali kau !!"
"Akan ku sempurnakan sendiri"
"Jangan kau main-main dengan rawarontek itu Darmaji !"
"Apa kau takut ??"
"Hahahaaaa.... Hihihihiiiiii.... Takut katamu ?? Hahahaahahaa.... Hihihihiiii...."
Tiba-tiba saja Kanaya langsung mengangkat tubuh Darmaji dengan kekuatannya. Lalu mencekiknya kuat-kuat.
KEEEHHHKKKK
"Rawarontek itu sangat mudah di kalahkan !! Tinggal di gantung saja kau sudah tak berdaya !! Kelemahan rawarontek itu mudah di tebak Darmaji !! Yang penting kau tak menginjak tanah, kau mati !! Hahahahaha.... Hihihiiiii"
KKKEEEEHHHHKKK
Darmaji mencoba melepaskan diri tapi tak mampu, lalu ia mulai mengambil sesuatu di saku celannya. Kemudian di perlihatkan kepada Kanaya. Kanaya melotot melihat kertas itu.
***
Di sebuah ruang.
Zizi, Doni, Rifki dan Zidan masih terikat di sana. Sesekali mereka mencoba melepaskan ikatan itu sambil berteriak dalam keadaan mulut terlakban.
"Apa ada yang mau di sampaikan ??" ucapnya.
Ia pun mendekat ke arah mereka. Kemudian menarik lakban itu dengan kasarnya dan itu sangat menyiksa.
AAWHH !
"Sakit ya ?? Sorry sengaja"
Mereka masih diam menahan amarah. Zizi baru ingat kalau tadi di parkiran ia bertemu dengan Mayang, setelah itu ia tak ingat apa-apa.
"Siapa dia ?" tanya Zizi dalam hati.
Ia berjalan menuju kursinya lalu menyalakan sebuah monitor dan di sana ada foto Mayang.
"Kalian tau siapa dia ?" tanya-nya.
"Mayang" ucap Zizi lirih.
Ia menoleh ke arah Zizi dan mendekatinya.
"Mayang itu siapamu ??"
"Sahabatku" jawab Zizi.
DUAAAKKK !!
Kursi yang di duduki Zizi di tendang sehingga Zizi terjatuh. Ia sulit bangkit karena ia masih dalam keadaan terikat.
AWWHH !
"Woi !!! Apa-apaan lu !!" teriak Rifki.
Zizi terus berusaha melepaskan diri dari ikatan itu karena ia sangat tersiksa dengan tali yang terikat sangat kuat.
__ADS_1
"Kau bilang Mayang itu sahabatmu ??"
Zizi tak menjawab, ia hanya berusaha untuk membuka ikatan itu saja. Karena marah pertanyaannya tak di jawab, ia pun mencengkeram kedua pipinya Zizi.
"Jawaaaabbb !!!" teriaknya.
Zizi masih enggan untuk menjawabnya.
PLAAAKKK !!
Suara tamparan itu menggema di ruangan. Zizi memejamkan mata menahan rasa sakit akibat tamparan keras itu. Air matanya sedikit menggenang. Nafasnya mulai terengah sesak.
"Apakah kamu Mayang ?" tanya Zizi
Doni, Rifki dan Zidan pun mulai memperhatikannya.
"Dari suaranya kamu memang mirip dengan Mayang"
"Kalau aku Mayang kenapa ??" ucapnya sambil membuka masker itu.
Mereka saling pandang. Mengapa Mayang tega berbuat seperti ini.
"Apa maksudmu melakukan ini May ?" tanya Doni.
"Kamu masih nanya apa maksudku ??" tanya Mayang.
Sesekali ke 3 anak itu memejamkan mata. Karena kekuatannya di pinjam oleh Darmaji. Sehingga apabila Darmaji memakainya mereka akan melemah.
"May, tolong lepaskan ikatannya, sakit May" pinta Zizi.
"Sakit ?? Hahahahaa... Aku lebih sakit"
"Ini kursi apaan sih woi ! Kenapa aku lemas sekali rasanya" ucap Zidan.
"May ! Lu sekongkol sama dukun itu buat nyakitin kita ?" tanya Doni.
Mayang diam tak menjawab.
"Hiks hiks... Mayang, sakiiit" rintih Zizi yang masih terikat dengan kursi yang terjatuh.
Rifki mencoba mendekati Zizi dengan berjalan menggunakan kursi itu. Di tengah perjalanan kursi yang di duduki Rifki di tendang Mayang.
AAAGGHHHR
"Hahahaha ! Mau menyelamatkan Zizi ya ? Uuhh kasihan, sakit ya ?" tanya Mayang.
Rifki menatap ke arah Mayang.
"Apa yang membuatmu kaya gini ? Sakit hati ?? Apa kau mau jadi penerusnya Kanaya ? Mau membunuh kami ? 4 sekaligus ! bunuhlah" ucap Rifki pasrah.
Mayang mengeluarkan pisau dan ia menodong Rifki. Zizi sontak berteriak.
"May jangan Maaay !!! May tolong jangan lakukan itu !!" teriak Zizi panik.
Sedangkan Zidan dan Doni terlihat makin tak kuasa menahan rasa yang membuat mereka makin melemah.
"Ziii...." ucap Doni lirih.
Zizi menoleh ke arah Doni dan Zidan.
"Ya Ampun... Mereka kenapa ? May tolong lepasin aku May ! Doni dan Zidan hampir pingsan May !! May... Please !"
"Kenapa kalian harus minta tolong padaku ?" tanya Mayang.
"Karena kamu teman kami May" ucap Zizi.
"Teman ?? Lalu dimana saat aku membutuhkan pelukan untuk menguatkan hati, jiwa dan raga ?? Kemana kalian !!"
"Bukankah kami sudah pernah mengunjungimu lalu kau tolak dan tak ingin bertemu kami ?" ucap Rifki sambil sesekali menahan rasa yang membuatnya melemah.
"Oh. Hanya satu kali di tolak, lalu tak datang kembali ?? Itu kah yang di namakan sahabat ?"
__ADS_1
DEGGG