Karisma Sang Pemilik Khodam

Karisma Sang Pemilik Khodam
Kilas balik


__ADS_3

***


KRINCIIING


Kunci itu terjatuh ke lantai saat harimau itu menerkamnya dengan kuat. Mata Zizi langsung saja mengarah pada suara itu. Begitu pula dengan Darmaji. Ia terus menatap kunci-kunci itu.


Zizi segera mengambil namun Darmaji menendangnya. Kunci itu terpental jauh. Zizi berusaha mengejarnya namun ia di tarik rambutnya oleh Darmaji.


"Auh !! Lepasiiiin !!"


"Tidak akan !!"


Harimau itu segera menyerang Darmaji, Zizi pun terlepas. Ia segera lari ke arah kunci itu. Saat ia hendak mengambilnya lagi-lagi Darmaji sudah berada di dekatnya.


DUAAAKKKK !!


Kepala Zizi di tendang keras oleh Darmaji.


"Akkhhh !!"


Zizi mulai panik saat darah itu menetes. Lalu datanglah Singadita.


"Mbah ? Ini bagaimana ?? Darahnya menetes ??" tanya Zizi dalam keadaan kalut.


"Segaaaaar !!" ucap para antek-antek itu sambil berjalan ke arah Zizi dan meninggalkan tiga anak lelaki itu.


Zizi makin panik.


"Mbah, ini gimana ?? para antek-antek itu mendekat, bagimana kalau mereka menjilat darahku ?"


"Tenang saja, biarkan saja mereka menjilatinya, pada akhirnya nanti itu akan menguntungkan buatmu. Zidan akan datang menolongmu, akan ku beritahu dia, kalau kita punya rencana"


"Menguntungkan ku ?"


Tak lama Zidan pun datang. Ia segera menghampiri Zizi. Lalu bertanya apakah Zizi baik-baik saja.


"Sedikit pusing, tapi tak apa, bagaimana denganmu dan yang lain ?" tanya Zizi.


"Tenang saja, kami baik-baik saja. Darmaji memang kuat, tapi setidaknya khodam nya sudah tak bersama dengannya lagi, itu sedikit mengurangi beban"


"Mbah Singadita punya rencana buat ngalahin Darmaji"


"Benarkah ?"


Kemudian Singadita pun menjelaskan rencana yang ia buat bersama Harimau putih. Zidan mengiyakannya sambil menganggukkan kepala.


"Jadi, aku harus memberitahu Doni ?"


"Ya, berpura-pura seolah-olah Zizi beneran tak sadarkan diri"


Lalu Zidan berpura-pura panik dan segera pergi menghampiri Rifki.


"Ki ! Obati lukanya, biar aku sama Doni yang melanjutkan ini" kata Zidan sambil menyerahkan Zizi pada Rifki.


Rifki pun mengambil alih Zizi dan segera berlari ke arah pintu utama. Tiba-tiba pintu tertutup dan terkunci.


"Tidak semudah itu anak-anakku yang manis"


Rifki membalikkan badannya. Kedua temannya telah di ikat di sebuah tiang rumah itu dalam keadaan tak sadarkan diri. Sedangkan para antek-antek itu lenyap tak tersisa. Disini Rifki benar-benar tak tau tentang rencana Zizi dan khodam nya.


"Ada apa ini ? Kemana mereka semua ?"


Para khodampun tak satupun terlihat di sana. Ia hanya menjumpai Darmaji saja di sana.

__ADS_1


Sebenarnya Zidan dan Doni hanya pura-pura pingsan saja. Mereka sebenarnya sedang berkomunikasi lewat batin dan menjelaskan apa yang sebenarnya Zizi rencanakan.


"Jadi, nanti tugas gue mengambil kain merah itu ?" tanya Doni.


"Iya, nanti tugas kita pergi ke rumah Tasya. untuk mengembalikan rambut dari mbak Kunti itu dan meminta maaf atas kesalahan Tasya" ucap Zidan.


"Tunggu apa lagi ?"


"Tunggu aba-aba dari Singadita dan para khodam kita, mereka akan mengecoh Darmaji terlebih dahulu agar ia tak mencium rencana yang sudah tersusun ini"


Kemudian mereka melihat Zizi di ambil alih dari tangan Rifki. Ia meletakkan Zizi di lantai dan dengan bangganya ia menggelegarkan tawa di ruangan itu.


"Wahai para anak muda, saksikanlah !! Akan ku buat para khodamnya menjauhinya, saat ia telah ternodai hahahahaaaa ! Hahahahaaa !! Hmmm harum sekali kau ini, hahahahaa"


"Cuih !! dasar kakek-kakek ga tau malu" ucap Doni.


Zizi ikut menyahut suara hati Doni dan Zidan, menyuruh mereka bersiap saat ia membuka mata. kemudian dengan aba-aba Zizi pun membuka matanya.


Harimau putih itu sebenarnya berada dalam mata Zizi, jadi saat Zizi membuka matanya harimau itu akan menerkam Darmaji.


Saat itu juga, para khodam mereka melepaskan tali ikatan itu dan mengambil kin merahnya. Doni dan Zidan segera pergi keluar saat Darmaji masih fokus ke Zizi.


Sebuah pisau melayang di tali gantungan Rifki hanyalah ilusi yang di buat oleh Tupih Muli alias khodamnya Rifki. Zizi hanya melemparnya ke sembarang tempat.


Rifki pun terjatuh.


"Syukurlah, gue bangga ama lu Zi !!" teriak Rifki.


Zizi tersenyum lalu melanjutkan perdebatan yang dengan Darmaji.


"Darimana saja ? kenapa ga dari tadi ?" tanya Rifki pada khodam nya.


"Ada urusan sebentar. pegang ini" ucap khodam itu sambil memberikan sebuah jaringan halus pada Rifki.


Rifki kaget saat menerimanya.


"Lakukan tindakan selanjutnya, jiwa mereka harus segera di lepas"


Rifki mulai sedikit memperhatikan benda itu.


"Mega" ucap sambil tersenyum.


***


Di sisi lain, Tasya yang sudah sedikit tenang ketika Zizi sudah membuka matanya ia malah melanjutkan lagu yang Zizi nyanyikan.


"Jiwanggo kalbu, samudro pepuntoning laku


Tumuju dateng Gusti, Dzat Kang Amurbo Dumadi


Manunggaling kawulo Gusti, krenteg ati bakal dumadi


Mukti ingsun tanpo piranti


Sumebyar ing sukmo madu sarining perwito


Maneko warno prodo, mbangun projo sampurno


Sengkolo tido mukso, kolobendu nyoto sirno


Tyasing roso mardiko


Mugiyo den sedyo pusoko Kalimosodo

__ADS_1


Yekti dadi mustiko, sa'jeroning jiwo rogo


Bejo mulyo waskito, digdoyo bowo leksono


Byar manjing sigro-sigro"


"Sejak kapan anak kita suka lagu Jawa kayak gitu ma ?"


"Hush ! diem pa, itu yang nyanyi bukan anak kita, tapi makhluk halus"


"Ih, ko serem"


***


Di kost putri.


Dewi sudah tak lagi di mendengar suara yang menakutkan itu, ia pun beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Setelah itu ia melaksanakan sholat.


Di tengah-tengah sholatnya, tiba-tiba ia mendengar suara pintu kamarnya terbuka.


GLEEEG !


Sontak saja jantung Dewi berdegup kencang.


"Bukankah pintu itu tadi sudah gue kunci ?" tanya Dewi di tengah-tengah bacaan sholatnya.


Pintu itu pun terbuka perlahan. Dewi masih terus melanjutkan sholatnya sambil menahan rasa takut.


Angin mulai berhembus dan itu dapat di rasakan pula oleh Dewi yang memakai mukena. Seperti ada yang lewat di belakangnya.


Dewi terus saja berusaha konsentrasi pada bacaan sholatnya walaupun ia sudah merasa gemetaran di seluruh tubuhnya.


***


"Kau ambil belati dari saku sebelah mana ?" tanya Zizi.


Kalimat itu membuat Darmaji ingat pada jaringnya yang ia simpan di saku. Ia pun segera meraba saku kirinya. Dan...


"Kurang ajar !!!"


Darmaji menoleh ke ke arah Rifki. Rifki pun tersenyum tipis melihatnya.


"Bagaimana permainannya ? apa kau menikmatinya ?" tanya Rifki.


Darmaji menatap sinis ke arah Rifki. Pikirannya pun mulai bercabang karena ia juga sedang memikirkan Doni yang telah lari membawa kain itu bersama dengan Zidan.


"Mereka sudah pandai dalam ilmu mengelabui musuh" kata Darmaji dalam hati.


"Bagaimana ? mau lanjut atau kita tunda saja bulan depan ?" tanya Zizi.


"Apa kau meremehkan ku ?"


"Tidak, cumaaa... kasihan saja, maka dari itu ku beri kesempatan untuk hidup sampai bulan depan"


Dengan tatapan yang begitu marah, Darmaji menarik tirai yang berada di dekatnya kemudian melempar ujungnya ke arah Zizi. Zizi yang tak siap, akhirnya terjatuh.


"Zizi !"


"Ga usah peduliin gue Ki ! pergi dan segera bebaskan jiwa mereka di alam terbuka !" seru Zizi.


Seketika itu juga Darmaji melempar ujung tirai lagi ke kakinya Rifki dan membuat Rifki terjatuh.


"Oh tidak !"

__ADS_1


Zizi segera bangkit dan hendak menghampiri Rifki. Tapi Rifki di tarik oleh Darmaji mengunakan tirai itu, kemudian Darmaji mengancamnya agar segera di kembalikan jaring miliknya.


"Tidak ! Tidak akan gue berikan lagi ke orang macam kau !" teriak Rifki dengan lantang walaupun lehernya terikat oleh tirai.


__ADS_2