Karisma Sang Pemilik Khodam

Karisma Sang Pemilik Khodam
Keranda terbang


__ADS_3

"Ayo Ta !! Cepaat !!" teriak Nia.


Sambil terengah-engah mereka tetap semangat menarik Mega. Dan sampailah mereka di pintu itu.


"Huufh ! Sampai juga !"


Tapi pintu itu sudah hampir tertutup. Nia berusaha menahan pintu itu dan Rita sekuat tenaga menarik Mega agar bisa keluar.


Setelah mengeluarkan Mega Rita membantu mendorong pintu dari luar agar Nia juga bisa ikut keluar. Sayang sekali pintunya tak mau di buka kembali.


"Nia buruan ! Nia buruaan !!"


Nia pun panik dan segera memasuki pintu yang tinggal kurang lebih beberapa jengkal lagi tertutup.


"aaa !! Tidaaak !! Bentar lagiiii" teriak Nia.


Pintu itu menggencet Nia. Dengan sekuat tenaga Nia berusaha keluar dan di bantu oleh Rita.


"Tarik terus Ta !! Tarik Taaa !!" ucap Nia panik.


Doni hanya bisa memperhatikan dari jauh karena ia masih di lilit oleh ular itu.


"Aku tarik ya ?? Siap ???" teriak Rita.


"Iya... Iya..." ucap Nia sambil sedikit terengah.


Rita pun mulai menarik Nia.


"Aduuuh !! Sakit Ta !! Sakiiit !!"


Kemudian dengan jerih payahnya Nia pun bisa lolos dari pintu itu walaupun sepatu sebelah kanannya harus tertinggal di sana.


"Hhhufh !!! Selamat Ta !! Selamaaat"


Rita merebahkan badannya ke lantai sambil membuang nafas. Tiba-tiba ada sorotan senter mengarah ke mereka.


"Hiih !! Apaan sih silau tau !!" ucap Mega.


Rita dan Nia pun menoleh ke arah Mega.


"Akhirnyaaa sadar juga !!" ucap mereka berdua kompak.


"Dimana ini ??" tanya Mega.


"Bu !!! Itu mereka ??" ucap salah satu siswa yang melihat mereka bertiga.


***


Keesokan paginya di rumah Bima.


"Lu mau sekolah Bim ??" tanya Heru.


"Ya iyalah" jawab Bima sambil memakai sepatu.


"Lu masih pucet loh" ucap Heru agak khawatir.


"Tapi gue sehat ko"


"Bibir lu aja putih banget gitu"


"Entar gua pake lipstik dah biar merah ni bibir" ledek Bima.


"Ya ga gitu juga lah"


Setelah selesai memakai sepatu Bima pun keluar dan menyiapkan motornya.


"Dari tadi gua ga lihat motor lu ??" tanya Bima.


"Oh, kemarin gua tinggal. Bensinnya abis di tengah jalan" jawab Heru.


"Makanya jalannya tuh di pinggir aja ! Biar abisnya tuh ga di tengah jalan ! Tapi di pinggir jalan, haha" ledek Bima.


"Malah ngledek lagi lu !"

__ADS_1


"Terus lu kuliah gimana ?"


"Nebeng motor lu dulu ya ? Anterin gue kesana" pinta Heru.


"Ok"


Mereka pun bersiap untuk berangkat. Heru mulai membonceng motornya Bima sambil terus berbincang.


"Semalam tuh ada kejadian aneh Bim" kata Heru.


"Apaan kak"


"Motor gua kan mogok di jalanan tuh, terus ada angkot, tau ga perjalanannya tuh berapa menit dari sana ke sini ??" tanya Heru.


"Paling cepet ya sekitar 20 menit" jawab Bima.


"Salah"


"Lha terus ??"


"5 menit"


"What ?? (kaget) naik angkot apaan lu ??" ucap Bima benar-benar kaget.


"Nah itu dia, aneh kan ??"


"Emang motor lu mati di mana sih ??"


"Ya ga terlalu jauh dari rumahnya Deca"


"Ga jauh dari rumahnya Deca ??? (Sedikit berfikir)"


Tak terasa perjalanan mereka sampai pada pertigaan jalan.


"Eh Bim Bim Bim !! Yang jualan mie ayam di pertigaan sini sebelah mana ??" tanya Heru.


Bima mengamati sekeliling. Di sana hanya terdapat lahan kosong di samping sebelah kanan, dan di sebelah kiri sebuah sungai yang Bima pernah nyemplung di sana yang pinggirannya adalah rumput yang lumayan panjang.


"Lah iya ya ? Mana tempatnya ??" tanya Bima bingung.


Bima menghentikan laju motornya dan mengamati lagi tempat itu.


"Yakin ko, kalau malam rame" jawab Bima.


"Harusnya sih ada jejak bekas orang jualan gitu, ini ga ada ?? Ga ada tenda orang jualan ? Ga ada sisa-sisa jualan sedikitpun"


"Tapi tempat makan itu mewah ko"


"Mewah ???" ucap Heru kaget.


"Iya"


Mereka berdua pun sama-sama kebingungan. Kemudian mereka memutuskan untuk memikirkannya nanti saja dan mulai melanjutkan perjalanannya. Setelah melewati pertigaan itu Heru bertanya lagi Bima.


"Rasa mie ayamnya gimana sih ??" tanya Heru menyelidiki.


"Enak kak, agak amis tapi kenyang, cuma 5000 loh"


"Hah ?? 5000 ?? Lu bayar ke dia ?"


"Ya iyalah. Namanya beli ya bayarlah kak"


"Gue boleh jujur ga ama lu ?"


"Ya jujur aja, kalau bisa jujur kenapa harus bohong"


"Sebenarnya gini Bim....."


Tiba-tiba kalimatnya Heru terputus karena mereka melihat motor Heru yang masih berdiri di sana dan sedang di jaga oleh orang yang sudah lumayan tua.


"Bim Bim Bim ! Itu motor gua ! Jangan-jangan mau di ambil sama dia, buruan samperin Bim."


Bima mengegas motornya dan melaju lebih cepat. Heru segera turun dan menghampirinya.

__ADS_1


"Woi ! Itu motor gue mau lu apain ?" tanya Heru emosi.


"Alhamdulillah sudah datang orangnya" ucap orang itu dengan memberi senyuman yang ramah.


Heru menoleh ke arah Bima.


"Alhamdulillah kalau mas ini masih selamat dan di lindungi oleh Allah" sambung pria tua itu.


"Malah ceramah lagi lu !"


"Mas ini beneran yang ninggalin motornya di sini semalam kan ?" tanya orang itu mencoba meyankinkan.


"Kenapa emangnya !" ucap Heru dengan nada tak mau basa basi.


"Kenapa ninggalin motornya begitu saja ? Padahal sudah saya cek semuanya aman" ucap orang itu.


"Kehabisan bensin" jawab Heru singkat.


"Bensinnya masih 80% ko mas" kata orang itu.


"Hah ???"


Heru kaget bukan main saat mendengarnya.


"Maka dari itu saya dari semalam menjaga motor ini" kata pria itu lagi.


"Oh maksud lu, lu mau duit ???" tanya Heru.


"Maaf mas, kalau saya mau uang kenapa saya harus nungguin mas sampai sekarang ? Bisa saja saya ambil motor ini dari semalam" ucap pria itu dengan tegas.


"Terus mau lu apa ?"


"Saya mau mas lebih berhati-hati saja di kawasan ini"


"Kawasan ??????"


"Ini tempat pemakaman umum mas"


"Kuburan ??"


"Bener mas, dan saya penjaga di kuburan ini"


Heru menepuk jidat. Kemudian terdengar ia membuang nafas.


"Semalam mas ini naik keranda terbang"


Heru pun kaget bukan main. Bima yang tadinya diam saja di motor pun mulai mendekat.


"Keranda terbang pak ?" tanya Bima.


"Betul mas, semalam saya memperhatikannya dengan heran di peranggok kecil sana" ucap pria tua itu.


Heru melongo dan menoleh ke arah Bima.


"Pantesan 5 menit sampai" ucap Bima.


Heru mengusap wajahnya.


"Keranda terbang ??"


"Benar mas, lain kali hati-hati ya kalau lewat kawasan ini, hantu di sini jail-jail. Tapi semalam mas ini sampai di rumah beneran atau di sasarin mas ?"


"Gua nyampe ke rumah pak, tapi cuma 5 menit, padahal rumah gue jauh, biasanya kalau naik motor aja sekitar 15 menit"


"Alhamdulillah, berarti mas ini orang baik, makanya di tolongin sama penghuni kawasan ini"


"Bapak yakin motor gue ga kenapa-kenapa ?"


"Silahkan di cek sendiri mas, semuanya aman ko"


"Tapi semalam bener-bener habis bensin pak, makanya gue naik angkot"


Bapak itu sedikit tersenyum.

__ADS_1


"Keranda mas, bukan angkot"


__ADS_2