
***
"Zi, elu mandi dulu deh, nanti gue cariin baju yang pas buat lu" ucap Sofia.
"Iya Sof, nanti abis sholat subuh gue mau tidur dulu ya Sof ?"
"Iya Zi, gue juga mau tidur ntar, cape banget soalnya"
Zizi pun pergi ke kamar mandi. Pas ia membuka pintu ia di kagetkan dengan sosok yang ada di kamar mandi.
"Astaghfirullahal adziim..."
Ia menutup kembali pintu itu. Lalu membaca do'a masuk kamar mandi. Setelah itu ia membuka kembali pintunya. Sosok itu sudah tidak ada. Ia pun bergegas mandi. Saat ia mengguyur badannya dengan shower ia merasa ada yang mengawasinya. Saat ia membuka matanya tiba-tiba saja sosok itu sudah ada tepat di depan wajahnya.
"BAAAAAA !!"
AAAAAA
Zizi segera bergegas keluar. Ia pun menuju tempat sholat atau mushola kecil di rumah Sofia. Tapi di sana ternyata ada sesosok yang begitu menyeramkan. Daripada Zizi teriak lagi, ia buru-buru menghampiri Sofia.
"Sof, tempat sholat dimana ??" tanya Zizi pura-pura.
Sofia pun segera menunjukkannya pada Zizi.
"Lu, temani gua bentar ya Sof di sini" pinta Zizi.
"Gua mau mandilah"
"Bentar doang ko"
"Kenapa sih lu ? Takut ??"
"Emmm... Nggak ko, cuma...... Ga enak aja sendirian di ruangan orang"
"Ah ! Apaan sih lu ! Udah ah, gua mau mandi"
"Sof"
"Huuufh !! Iya iya iya, gue temanin lu di sini. Ya udah. Buruan sholat"
Zizi pun meringis sambil sesekali melihat ke arah makhluk itu. Sosok itu masih berdiri di pojok ruangan itu dengan mata yang menyala. Zizi hanya bisa menundukkan pandangannya saja.
Setelah selesai Zizi pun istirahat di kamar Sofia. Sedangkan Sofia pergi mandi.
"Huufh !! Hari yang begitu melelahkan" ucap Zizi sambil menghembuskan nafas.
Tak lama ia pun tertidur pulas. Tapi tiba-tiba ia bermimpi kalau Mega di belenggu oleh rantai yang besar dan lehernya tertusuk pisau.
Ia di tarik paksa oleh para kanda pat. Wajah Mega begitu memelas. Badannya penuh dengan aliran darah dari lehernya.
"Tolooooong...." rintih Mega.
Sedangkan Rifki dan Zidan tak mampu berbuat apa-apa lagi setelah mereka terlihat sangat babak belur.
Kanda pat itu menarik Mega dengan begitu kasar sehingga Mega nampak sangat tersiksa. Zizi hanya bisa memandanginya saja tanpa ada yang bisa ia perbuat.
Para kanda pat itu juga membawa khodam dari Rifki yaitu Tupih Muli. Mega pun di masukkan ke dalam ruangan berpagar besi dan dari atas di siram dengan lahar panas.
"Megaaaaaaaa !!!! Jangaaan !!" teriak Zizi.
Tapi ketika hendak menolong Mega ia di tarik oleh makhluk yang tak kasat mata. Entah makhluk apa, benar-benar tak bisa Zizi lihat.
"Megaaaaaaaa !!!"
Zizi pun terbangun dari tidurnya.
"Huuuuufh !! Ini cuma mimpi... gue harap begitu"
Sofia pun sontak mendatangi Zizi.
"Ada apa Zi ??"
"Ga apa-apa Sof, cuma mimpi buruk"
__ADS_1
"Apa Mega baik-baik saja ??"
"Gue ga tau Sof... Firasat gue mengatakan ada sesuatu yang janggal di sana"
"Ayo ke sana"
"Tidur dulu lah, kita terlalu cape"
"Hufh ! Gue chat Rifki ya ??"
"Iya. Semoga Mega baik-baik saja"
***
Mayang mulai terlihat membuka matanya. Di sekitarnya terdapat mama dan adik-adiknya. Ia pun segera bangun dan duduk.
"Ada apa ya ?" tanya Mayang.
Mamanya sudah tak heran lagi jika melihat Mayang pingsan. Itu sudah menjadi hal biasa baginya. Apalagi semenjak ia berurusan dengan Darmaji. Anaknya sebenarnya stress berat. Tapi Mayang terlalu tangguh menghadapi semuanya.
"Syukurlah elu udah bangun" ucap Doni.
Mayang menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan.
"Ada yang sakit ?" tanya Doni.
"Nggak ko, pergilah ke rumah sakit, hibur Rifki, kasihan dia, ia begitu sakit kehilangan sosok Mega"
DEGG !!
"Kok elu tau ???"
Mayang hanya tersenyum
"Maaf ya ga bisa nemani kesana ? Salam aja buat semua yang ada di sana" ucap Mayang.
"Ya udah, gua pergi dulu ya ? elu baik-baik ua di sini"
"Ya udah, saya pamit pergi dulu bu"
"Don, tunggu"
Doni menoleh ke arah Mayang.
"Bawa keris ini, buat lu aja, gua ga perlu kaya gituan, lagi pula Darmaji juga udah ga ada, jadi... Buat apa gue nyimpen benda kaya gitu"
Doni mendekat ke arah Mayang lalu menerima pemberian dari Mayang.
"Lu yakin ? Lu susah payah loh dapetinnya ?"
"Gue tau ko, tapi sekarang gue udah merdeka"
Doni pun tersenyum.
"Lagi pula, gue ga kuat sama energinya yang terlalu tinggi"
"Ya udah, gue simpan"
"Iya. Sana pergi, hibur Rifki"
Doni pun beranjak pergi meninggalkan Mayang. Sesampainya di parkiran ia bertemu Sofia dan Zizi. Wajah mereka pun terlihat sangat panik.
"Doni ?"
Mereka tak terlalu banyak basi basi saat jumpa di sana. Mereka segera menuju tempat dimana Mega berada.
Jam sudah menunjukkan pukul 08 : 13 WIB. Mereka bahkan tidak izin ke sekolah. Mereka tidak mempedulikan itu saat ini, mereka hanya fokus pada kawan-kawan mereka.
Sesampainya di sana Doni segera memeluk Rifki yang sedang begitu berduka.
"Yang sabar ya Ki..."
Zizi dan Sofia pun mencoba menghibur mamanya Mega. Terlihat juga Nia dan Rita datang ke sana.
__ADS_1
"OMG tante, ini cuma prank kan ?? Ga mungkin, hiks hiks..."
Mereka berdua pun sangat sangat merasa kehilangan sosok Mega. Saling menangis dalam pelukan. Sesekali mereka menyingkap kain yang menutupi wajah manis Mega. Kemudian kembali menangis.
Rifki masih memandang ke arah pintu ICU. Di sana terdapat seseorang yang kini telah memakai gaun berwarna putih, namun ia masih terikat rantai di pergelangan kaki dan tangannya.
"Huuufhh ! Sesakit ini kah Don ??"
Doni tak mampu menjawabnya. Ia pun ikut memandang ke arah pintu ICU.
"Mega cantik Don, kalau pakai gaun putih itu"
Doni menoleh ke arah Rifki sambil tersenyum tipis.
"Ikhlasin ya ?? Biar dia bisa segera pergi"
"(Menundukkan kepala) ikhlas ko Don"
"Lebih ikhlas lagi"
Rifki memejamkan mata sambil menarik dalam-dalam nafasnya. Mencoba menenangkan fikiran dan hatinya.
"Ikhlas ?"
***
Proses pemakaman Mega pun berjalan lancar. Banyak yang menghadiri pemakaman itu, terutama teman-teman satu sekolahannya.
Para guru dan murid-murid yang lain pun masih terlihat ga percaya. Karena kemarin Mega masih baik-baik saja.
***
Malam pun datang. Rifki masih saja tertemung di depan laptopnya. Doni bahkan sudah terlelap sejak tadi sore.
Angin berhembus lembut ke arah Rifki. Rifki menoleh ke arah jendela. Ia merasa ada yang datang padanya.
"Mega ??"
Mega tersenyum.
Rifki berusaha menguatkan dirinya agar tak meneteskan air mata di hadapannya.
"Aku datang ke sini mau mengantarkan dia (menunjuk ke arah belakang) agar kembali padamu"
Rifki tak mampu berkata-kata. Matanya bahkan sudah berkaca-kaca.
"Gue rela kehilangan khodam gue, tapi gue masih belum rela kehilangan elu" ucap Rifki dalam hati.
"Ki, kalau aku ga meninggal, mana aku tau kalau kamu udah punya rasa sayang ke aku"
Rifki terdiam.
"Aku kembalikan khodammu, para kanda pat itu sudah mendapatkanku sepenuhnya. Jadi mereka ga akan membiarkan siapapun mengganggu kedamaian kami lagi (tersenyum) aku pamit Ki..."
DEGGG !!
Sakit sekali rasanya hati Rifki saat ini.
"Gue mohon jangan pergi, please Mega, jangan pergi"
Mega mulai melangkah pergj meninggalkan Rifki. Rifki mencoba menggapai tangan Mega tapi tak mampu.
"Mega"
Mega menoleh sambil tersenyum. Di ujung pandangan terlihat para kanda pat itu sudah menanti. Mega pun segera berlari.
"Mega jangan pergiiii, hiks hiks... Megaaaaa !!"
"Ki bangun Ki !!" panggil Doni.
Rifki pun terbangun dari tidurnya. Lalu Doni memberinya segelas air minum.
"Huuufhh !!!"
__ADS_1