Karisma Sang Pemilik Khodam

Karisma Sang Pemilik Khodam
Mayang vs Zizi


__ADS_3

"Teman ?? Lalu dimana saat aku membutuhkan pelukan untuk menguatkan hati, jiwa dan raga ?? Kemana kalian !!"


"Bukankah kami sudah pernah mengunjungimu lalu kau tolak dan tak ingin bertemu kami ?" ucap Rifki sambil sesekali menahan rasa yang membuatnya melemah.


"Oh. Hanya satu kali di tolak, lalu tak datang kembali ?? Itu kah yang di namakan sahabat ?"


DEGGG


"Jadi karna itu kamu menyekap kami di sini ?" tanya Zizi.


Mayang terdiam.


"Kau boleh menyiksaku asalkan bebaskan mereka bertiga." ucap Zizi


Mayang tersenyum tipis.


"Bebaskan katamu ? Aku menunggu hal ini sejak lama, sekarang sudah ada di depan mata kau menyuruhku untuk melepaskan ?? Oh, atau kau saja yang ku bebaskan ? Mau ?" tanya Mayang.


Zizi heran sambil terus menahan rasa sakit. Mayang pun mendekatinya. Ia mulai memegang tali yang mengikat tangan Zizi.


"Uh, kasihan sekali sahabatku ini. Sakit ya ? Sini aku lepasin talinya, sabar ya ?" ucapnya sambil menggesekkan pisau di tali itu.


AAUUHHH !!


Zizi menjerit saat pisau itu mengenai pergelangan tangan kirinya. Darah pun mulai menetes.


"Auuuhhh !! Sakiiiit" rintih Zizi.


"Hahahaaa.... Sakit ya ? Sorry ga sengaja, aku cuma bantuin kamu ko"


Zizi mulai melepaskan ikatan yang ada di kakinya. Sambil menahan rasa sakit dan takut terhadap Mayang.


"Mau aku bantuin lagi ?" tawar Mayang.


Zizi hanya menggelengkan kepala dan ia ingin segera pergi dari sana. Darah itu terus saja menetes. Walau rasanya sudah tak sanggup tapi ia terus berusaha untuk membuka tali di kakinya.


"Susahkan ? Sini biar aku bantu" ucap Mayang.


Tiba-tiba Mayang menutup kedua telinganya. Pisau itu pun terjatuh. Ia berteriak.


"AAAAAAA !! Hentikaaaaaaan !!"


Entah apa yang ia dengar. Ia selalu saja mendengar ada yang berbisik di telinganya di sertai dengan suara tawa yang membuat kapala Mayang pusing.


Zizi tak menyiakan kesempatan itu. Ia segera melepaskan tali itu dan mulai beranjak pergi. Tapi tiba-tiba tangan Mayang meraih kakinya Zizi.


DEBUUUKKK


Zizi terjatuh tengkurap.


AUUHH !!


Darah di pergelangan tangannya masih saja mengalir bahkan tambah deras karena saat ia terjatuh tangan itu mengenai lantai dan membuat lukanya sedikit membesar. Ia mencoba melepaskan diri dari Mayang.


"Lepaaaas !!" teriak Zizi sambil berusaha menendang tangan Mayang.


Zizi pun mencoba membalikkan badannya agar ia bisa pindah posisi dan dengan mudah melepaskan diri.


"EEEGGHHH !! Lepas !!" ucap Zizi sambil mendorong Mayang.


Mayang pun jatuh ke belakang dan ia marah. Ia segera mencari pisaunya yang jatuh di kegelapan. Sedangkan Zizi berusaha menolong Rifki. Ia menegakkan kembali kursi yang tadi di jatuhkan oleh Mayang.


"Ki ! Bangun Ki !!" ucap Zizi sambil terus menengok ke arah Mayang.

__ADS_1


Mayang menutup kembali telinganya dan terus berteriak.


"AAAAAAA !! Hentikaaan !!!!"


Zizi mencoba melepaskan ikatan tali yang melilit Rifki. Namun tenaganya sudah tidak mampu lagi. Kemudian ia melihat pisau Mayang yang tadi terjatuh.


"Pisaunya"


Zizi mencoba mendekati pisau yang ada di samping Mayang. Ia berjalan perlahan. Ia pun pura-pura bertanya mengenai kondisi Mayang tapi matanya tetap tertuju pada sebuah pisau.


"Mayang ga apa-apa ??" tanya Zizi.


Mayang menoleh ke arah Zizi. Zizi pun menghentikan langkahnya. Ia pura-pura hendak menolong Mayang. Mayang hanya menatapnya saja.


"Emm... Mayang kenapa ?" tanya Zizi sedikit gugup.


Mayang langsung melirik ke arah pisau itu, dan Zizi pun segera mengambilnya. Mayang berusaha merebut pisau itu tapi Zizi mengancam.


"Jangan mendekat !!" teriak Zizi.


"Hahahaaaaa, mau jadi pahlawan buat mereka ??"


Zizi masih bersiap siaga menjaga jarak dari Mayang. Walaupun tangan kirinya masih saja meneteskan darah ia tetap mencoba bertahan. Pisau itu di acungkannya ke arah Mayang. Mencoba menakut-nakuti agar Mayang sedikit menjauh.


Zizi mencoba melangkah menuju ke arah Rifki untuk membuka tali itu menggunakan pisau. Mayang terus berjalan mengikuti Zizi tanpa rasa takut dengan pisau itu.


"Ki bangun Ki !!"


Zizi mencoba membangunkan Rifki sambil terus menatap ke arah Mayang. Mayang tersenyum.


"Mereka bertiga ga akan ada tenaga lagi, karena...."


"Karena apa !!" Zizi memotong ucapan Mayang.


DEGG !!


"Jadi dukun itu Darmaji ??" tanya Zizi.


"Iya, dan Darmaji sedang meminjam ajian mereka untuk mengalahkan Kanaya"


"Oh, tidak !! Di luar sana banyak yang sedang dalam bahaya !"


"Nyawa mereka pun dalam bahaya ! Karena kalau Darmaji kalah, otomatis mereka juga kalah"


Zizi menoleh ke arah 3 anak itu. Mereka mengenakan cincin, gelang dan kalung berlambang yang sama yaitu simbol bintang dengan tanda merah di tengahnya.


"Oh, kamu sekarang sekongkol sama dia ?" tanya Doni di sisa-sisa energinya.


"Kenapa ?"


"Apakah kamu rindu bermain dengannya ?" tanya Doni.


Mayang menunjukan ekspresi tak suka dengan pertanyaan Doni. Doni pun tergolek lemas kembali.


"Apakah dia seperkasa itu ? Dan membuatmu selalu merindukannya ?" Ucap Doni.


Zizi menoleh ke arah Doni. Mayang mengambil sesuatu dari bawah kakinya. Ternyata itu sebuah kayu. Zizi pun ketar-ketir. Ia segera melepaskan ikatan Rifki. Rifki pun terjatuh ke bawah karena tak ada tenaga.


"Ki !! Bangun Ki !!"


Mayang memainkan sedikit kayu itu. Zizi mencoba mengancam Mayang dengan pisau itu.


"Jangan macam-macam kamu May !!" ucap Zizi sambil menodongkan pisah itu ke Mayang.

__ADS_1


"Kenapa Zi ?? Takut ??" tanya Mayang.


Zizi pun mendekat ke arah Doni dan mencoba melepaskan tali itu menggunakan pisau. Sayang sekali, talinya terlalu tebal dan keras, sehingga mempersulit pekerjaan. Mayang pun mendekat dan bersiap untuk memukul Zizi dari belakang. Zizi langsung menoleh dan mencoba menangkis pukulan itu. Pisau yang ada di tangan Zizi pun terlempar.


"Oh tidak !!"


"Hahahahaaa"


Zizi masih berusaha menahan kayu itu. Tapi tenaga Mayang terlalu kuat. Zizi pun terdorong ke belakang hingga mentok pada sebuah tembok.


"EEEEKKHHHH !!!!"


"Ayo Zizi, lebih keras lagi" ucap Mayang menggoda.


Tangan Zizi benar-benar sudah tak mampu lagi untuk menahan. Mayang mengurangi tenaganya dan sedikit melepaskan kayu itu. Lalu tersenyum pada Zizi.


Zizi menatap aneh ke Mayang. Jantungnya berdegup kencang. Nafasnya terengah. Mayang sedikit menurunkan kepala, dan...


AAAAAAAA


Zizi berteriak saat Mayang menjilat luka di tangan Zizi kemudian menggitnya. Zizi berusaha melepaskannya dan mendorong Mayang sekuat tenaga.


"Hiks... Hiks... AAAAAA... Sakiiiit" jerit Zizi.


Mayang memukul kaki Zizi dan Zizi pun terjatuh.


AAAUUHHH !!


Zizi menjerit dan menangis lagi. Rasanya ia sudah tak sanggup bertahan hidup.


"Hiks... Hiks... Mayang cukuuup, sakiiit, sakiiit, hiks... Hiks..." rintih Zizi sambil terus memegangi pergelangan tangannya.


"Cukup katamu ??? Aku belum puas ! Hahahaahaa"


"Hentikan May !!" seru Doni yang tiba-tiba ada di belakangnya.


Mayang pun menoleh.


"Kenapa aku harus berhenti ??" tanya Mayang.


"Ini sudah di luar prikemanusian !!"


"Prikemanusiaan ?? Hahahaaaa"


Doni pun mendekat ke arah Mayang dan berusaha merebut kayu itu.


"Lepas !!" teriak Mayang.


"Nggak !! Kamu harus di sadarkan !!"


"Lepaaas !!!" gertak Mayang kembali.


Tapi Doni tak mau melepaskan kayu itu. Ia terus mencoba menariknya. Mayang pun tak mau kalah, ia mengerahkan segala tenaganya untuk mempertahankan kayu itu.


Kemudian Doni melepaskan kayu itu secara tiba-tiba, dan itu sontak membuat Mayang terjatuh.


AAAUHHH !!


Mayang merintih kesakitan tapi Doni tak mempedulikannya. Ia merebut kayu itu dari Mayang.


"Uuuhh !! Jangan kasar sama wanita yang sedang hamil, bisa jadi nanti dia malah keguguran" ucap Zidan sambil membuka ikatan tali itu.


Doni menoleh ke arah kaki Mayang yang mulai terlihat ada aliran darah. Doni pun panik.

__ADS_1


"Mayang ?!!"


__ADS_2