Karisma Sang Pemilik Khodam

Karisma Sang Pemilik Khodam
Apa mungkin ??


__ADS_3

Dengan sekuat tenaga Zizi mencoba menutup jendela itu, tapi mba kunti itu berusaha membukanya. Zizi menahannya semampunya. Namun suara dari mba kunti itu benar-benar membuatnya gemetaran.


"Hihihihiiii.... Hihihihiiìi..."


Padahal ia berani menghadapi Kanaya. Tapi mengapa hanya mba kunti saja ia gemetaran. Mba kunti itu terus saja mencoba membuka jendela itu hingga tangannya mampu masuk dan mencoba meraih tangan Zizi.


AAAA !!


Zizi segera mendorong mba kunti itu dan mengunci jendela itu kembali. Akhirnya dengan susah payah ia pun mampu menyingkirkan mba kunti.


"Huuufh !!"


Sambil terengah-engah ia kembali ke kasurnya. Namun ia teringat sesuatu.


"Ahh, ga mungkin. Salah lihat kayaknya. Tapi...."


***


TOK TOK TOOK !!


"Don ?? Ini gue Rifki, elu belum tidur kan ?? gue mau ngembaliin buku lu yang ke bawa di tas gue waktu itu !!" ucap Rifki dari luar pintu.


Tapi ternyata ga ada jawaban.


"Mungkin dia males ngomong sama gue, gue taruh aja deh di bawah pintu"


Namun saat meletakkan buku itu, Rifki mencium aroma asap kemenyan.


"Ngapain tuh anak ? jam 3 kurang, dia masih melakukan ritual ? Ritual apa ya kira-kira ??"


Rifki pun mengendap-endap mencari celah agar bisa melihat ke arah dalam ruangan. Namun sepertinya lampu di matikan.


Ia pun dengan perlahan mencoba membuka gagang pintu, dan ternyata ga di kunci. Sontak saja ia mencurigai sesuatu. Namun ia tak sempat berfikir banyak, ia hanya ingin mengetahui apa yang sedang di kerjakan Doni.


"Astaghfirullahal adziiiim"


Seketika Rifki beristighfar saat melihat kamar itu penuh dengan sesajen. Doni pun terbangun.


"Ngapain lu kemari ??" tanya Doni.


"Harusnya gue yang nanya !! Lu ngapain !!!"


"Pergi lu dari sini !!"


Rifki menoleh ke arah tempat sesajen itu.


DEGG !!


Rifki mengambil sesuatu di sana.


"Apa ini ???" tanya Rifki.


"Bukan urusan lu !!"


"Lu ngapain sih Don !!"


"Kembalikan !!"


"Nggak !!"

__ADS_1


"Kembalikan !!"


"Nggak Don !!"


Doni terdiam sesaat ketika nada bicara Rifki mulai meninggi. Ia sadar ini sudah terlalu larut. Ia ga mau ada keributan.


"Kenapa diam ??" tanya Rifki.


"Gue ga mau ganggu waktu istirahat anak-anak yang lain Ki. Silakan pergi dari sini" ucap Doni dengan nada santai.


"Gue ga akan pergi sebelum lu jawab pertanyaan gue tadi. Apa maksud dari foto ini ?? Buat apa Don ?? Buat apa !!"


Tanpa pikir panjang Doni menarik tangan Rifki dan membawanya keluar. Lalu Doni pun menutup pintu itu dan menguncinya.


"Don !! Buka Don !!!"


Tapi tak ada sahutan apapun. Rifki pun ga enak kalau harus marah-marah di jam 3 dini hari. Ia lalu duduk di depan pintu kamar Doni.


Sementara Doni pun duduk di balik pintu yang sama seperti Rifki. Doni termenung. Akankah ia lanjutkan ritualnya ? Atau berhenti karena sudah di ketahui Rifki.


Kemudian Rifki berdiri dan tetap mengetuk pintu itu. Doni mengabaikannya. Tapi Rifki tak menyerah, ia terus saja mengetuknya. Akhirnya Doni pun membuka pintu itu.


KLEEKKK !!


Rifki langsung menariknya keluar. Doni mencoba melepaskan tarikan itu namun Rifki terlalu kuat memegangnya.


Setelah sampai di luar kost barulah Rifki melepaskan tarikan itu dan sedikit mendorong Doni.


"Apa-apaan sih lu ??" tanya Doni sedikit marah.


Rifki melengos. Tanpa pikir panjang Rifki meninju pipinya Doni.


"Aauhh !!"


Doni sedikit merintih karena pukulan itu datang tanpa aba-aba.


"Maksud lu apa Ki ??"


"Ga usah banyak bac*t deh ! Sekarang lu jadi pengikutnya Kanaya ?? Hah !! Demi kembalinya Mayang ?? Ngomong baik-baik Don !! Gue bantu !"


"(Tersenyum tipis) lu bisa ngebantu apa ?? Jagain Mayang aja ga becus !!"


"Oh, jadi karena itu lu benci ama gua ?? Oi ! Doni !! Lu pikir gue ga berusaha buat njaga Mayang waktu itu ?? Banyak anak juga yang harus gue jaga !! Mikir dong !!! Lagian anak ga tau di untung kayak Mayang tuh emang pantesnya dapat ganjaran kayak gitu..."


DUUUAKKK


Belum selesai bicara Rifki sudah tersungkur jatuh akibat tendangan dari Doni.


"Hahahaa... Segitu doang Don ?? Sini maju !! Ga usah pake tenaga dalam"


"Kenapa kalau pakai tenaga dalam ? Takut kalah lu ?? Khodam lu belum pulih ya ? Hahaa"


"Cuih !! Mengandalkan khodam. Laki tuh berani di adu dengan tangan kosong !! Khodam ko di jadikan kesombongan"


Mereka pun berkelahi, saling adu kekuatan. Meskipun Rifki berkali-kali harus terjatuh dan tertendang, ia terus saja melawan Doni.


"Udah nyerah lu ??"


"(Tersenyum) nyawa gue masih utuh Don. Darah gue baru keluar beberapa tetes. Ga akan gue nyerah demi membela kebenaran"

__ADS_1


"Jadi lu pikir gue salah ??" ucap Doni sambil menindihi badan Rifki dan mengunci tangan Rifki ke belakang.


"Hahahaa, pikiran lu perlu di luruskan Don. Mana ada teman mau numbalin temannya buat kesenangan pribadinya. Itukah kebenaran ??"


"Lu ga tau apa-apa mending diem !!"


"Don. Gue tau keinginan lu buat ngebalikin Mayang sangat kuat. Tapi ga gitu caranya !! Ambil cara yang lain. Yang lebih bermanfaat !!"


Doni terdiam.


"Dimana iman lu ?? Hanya karena wanita kau salah jalan ?? Kau mau ikut dengan Kanaya ? Mengikuti jalanya ? Dendam yang akan kau dapatkan nantinya Don !!"


***


Di kost putri pagi hari.


Zizi melihat Tasya akan pergi dengan bu Kiandra. Ia pun segera berlari menghampirinya.


"Tunggu bu"


"Iya Zi ? Ada apa ??"


"Kalian mau kemana ??"


"Ibu mau nganterin Tasya ke Dokter, katanya ga enak badan"


"Saya ikut boleh bu ??"


"Sudah ada Wulan ko yang menemani Tasya"


"Oh, ada Wulan ya ? Baik bu"


Mereka pun pergi meninggalkan Zizi yang masih di penuhi banyak tanda tanya. Lalu mata Zizi tertuju pada pembantu baru yang sedang menyapu halaman rumah itu.


"Cincinnya ???? Ga mungkin. Ada model cincin kayak gitu banyak di dunia ini. Apa lagi di indonesia. Ga mungkin. Ga mungkin kalau dia mba kunti yang semalam. Ga mungkin... Huufh !!"


Zizi masih memperhatikan pembantu itu dari jarak yang agak jauh. Zizi pura-pura menyemir sepatunya. Lalu datanglah Intan menghampiri pembantu itu, mereka terlihat ngobrol dengan santai dan basa basi.


Yang membuat Zizi makin heran, pembantu itu menggerak-gerakkan tangannya seolah-olah kesakitan.


"Tangan kanan ???" ucap Zizi sambil terus memperhatikan pembantu itu.


Intan berusaha memijitnya.


"Tangan kanan yang masuk dan terjepit jendela ?? Astaghfirullahal adziiim... Ga mungkin ya Allaaaah... Ini pasti gue yang salah. Huuufh !! Pikiran gue lagi oleng ini pasti"


Tiba-tiba mbah Singadita ada di samping Zizi dan membuat Zizi kaget.


"Astaghfirullah mbaaah !! Kalau nongol tuh permisi dulu... Ini mah bikin Zizi jantungan. Nanti kalau ada yang lihat di kira Zizi ngobrol sendirian"


"Huussttt !! Diam. Apa yang kamu rasakan dan apa yang kamu khawatirkan tentang pembantu itu benar adanya."


"Maksudnya mbah apa ??"


Mbah Singadita tak menjawabnya.


"Sebisa mungkin jangan biarkan Tasya jauh dari kamu, dan kunci yang kamu pegang. Jangan pernah kau berikan pada orang-orang di kost ini, siapapun itu. Ingat !! Tetap kau simpan."


Setelah itu mbah Singadita pun menghilang dan meninggalkan Zizi yang masih melongo sendirian di sana.

__ADS_1


"Kunci ?? (Nge-lag beerapa saat) Kunci itu kunci apa mbah ?? (menoleh ke samping) mbah ?? Kemana tuh dia ? udah kayak jelangkung aja, datang tak di undang pulang tak di antar. Ehh bukan, pulang ga pamitan. Haduuh !!"


__ADS_2