Karisma Sang Pemilik Khodam

Karisma Sang Pemilik Khodam
Gelang itu ???


__ADS_3

***


Di sekolah.


Zizi tak sengaja ketemu Rifki di parkiran motor.


"Selamat pagi Rifki"


"Pagi juga Zizi"


"Makin cakep aja, hehe"


"Bisa aja lu !!"


Tiba-tiba ada yang manggil mereka berdua.


"Kii !! Zizi"


"Ada apa ??"


"Buruan deh ke kelas 12 ! Itu si Tasya... Anu"


"Kenapa ?? Ada apa ??" tanya Rifki.


"Sebentar !" ucap Zizi sambil sedikit memejamkan matanya.


"Buruan !! Nanti Devano keburu meninggoy !!"


"Auranya Ki !!"


Rifki buru-buru lari dan di ikuti oleh Zizi di belakangnya. Mereka langsung menuju ruang kelas Tasya.


Saat mereka berdua sampai di sana, mereka pun kaget. Bukan hanya melihat Tasya yang sedang memojokkan Devano, melainkan melihat sosok yang ada di belakangnya.


"Masih mengikuti ??" tanya Rifki.


Zizi hanya menoleh ke arah Rifki. Kemudian berjalan perlahan mendekati Tasya.


"Zi ! Tolongin gue !!" ujar Devano.


Mata Tasya menatap tajam ke arah Devano.


"Sya... Tenang dulu. Ini ada apa ??" tanya Zizi dengan lemah lembut.


"Zi ! Tasya minta balikan sama gue ! Gue nolak lah, sedangkan sekarang penampilannya udah serem banget, ehh dia marah. Nyekik gue ! Nglempar gue berkali-kali... Dan (terpotong saat melihat ke arah Tasya)"


Kuku-kuku itu berubah menjadi panjang dan hitam. Matanya terbelalak mengarah ke satu titik. Devano melihatnya dan tak mampu lagi berkata-kata.


"Zi !! Lihat ke tangan Tasya" ucap Rifki.


"Gelang itu ???"


"Darmaji berhasil mengompor-ngompori Tasya."


"Masalah Darmaji pikir nanti Ki ! Saat ini, hentikan Tasya dulu. Tugas kita adalah mencari kain merah itu dan mengembalikan rambutnya mba Mala"


"Ahh !! Padahal gua udah greget banget sama pak Aji loh Zi !! Udah pengin gua pites dia !!"


"Ada saatnya. Pagi ini sarapan ini dulu"


"Huufh !! Pagi-pagi di kasih sarapan kayak ginian" keluh Rifki.


Tasya menoleh ke arah Rifki. Rifki hanya nyengir.


"Ok ! Pemanasan dulu" ucap Rifki sambil melakukan peregangan pada kaki dan tangannya.


"Kelamaan lu !" ucap Zizi sambil memukul pelan kepala Rifki.


Zizi mencoba mendekat ke arah Devano, mencoba mengambilnya dari tatapan Tasya. Zizi sesekali menatap ke arah belakang Tasya, yaitu sosok bayangan hitam itu.

__ADS_1


"Ki ! Lu mau yang mana ??" tanya Zizi.


"Hahaaa... Kalau di suruh milih ya gue bakalan milih ceweknya lah Zi"


Zizi menoleh ke arah Rifki.


"Hehe, santai cuy ! Lu cewek ama cewek deh. Biar gua urus yang belakang"


"Lu mampu ga ??" tanya Zizi.


"Hahahaa. Ini mah... (Tengok kanan kiri) susah sih. Tapi, ayo kita coba. Bismillahirrohmanirrohim"


Zizi menarik tangan Dev dan menyuruhnya minggir. Ia mulai menatap Tasya.


"Perjanjian apa yang udah lu tawarkan ke pak Aji ??" tanya Zizi pada Tasya.


Tasya tak menjawabnya. Ia diam seribu bahasa. Hanya melakukan pergerakan anggota tubuhnya saja.


"Kak Tasya, berat ga sih pundaknya ?" tanya Zizi lagi.


Ia masih diam tak mau menjawab.


"Mari sini saya bantu lepaskan" ucap Zizi sambil mengulurkan tangannya.


Tiba-tiba Tasya mencakar tangan Zizi.


"Aauuhh !!!"


"Gue tau niat lu !! Lu nyari kain merah yang berisi rambutnya mbak Mala kan ?" kata Tasya.


Zizi hanya melirik saja sambil terus memegangi tangannya. Sedangkan Rifki, ia hanya menggunakan jiwanya untuk melawan makhluk itu.


"Kain itu ada di tangan Darmaji"


DEGG !!


Bagai di sambar petir Zizi mendengar kalimat itu. Ia ga nyangka kalau Tasya melakukan hal itu.


"Kak Tasya menukar kain itu dengan gelang ? Gelang yang katanya punya kekuatan magis ? Gelang yang akan menjadikan kakak kuat ??"


"Kenapa ??"


"Kakak tau ! Kain merah itu adalah batas nyawa kakak !!"


DEGG


"Sebegitu murahnya kakak berikan ke orang itu ?"


Tasya diam.


"Gue tau kak !! Kakak bisa menyerang kak Dev ! Bisa lebih kuat dari kak Dev. Tapi tau ga ?? Siapa yang mengincar nyawa kakak ??"


"Aaaaaahh !! Gue ga peduli !!!! Yang penting gue pengin habisi Dev !! Gue pengin Dev mati !" teriak Tasya sambil mengamuk pada Zizi.


"Cara kakak salah kak !"


Tiba-tiba Tasya menangis sejadi-jadinya. Dan itu berlangsung cukup lama. Mengganggu jam pelajaran, sehingga sementara harus di hentikan.


"Gue ga mau mati !! Gue masih pengin di sini"


Begitulah kalimat yang selalu ia ulangi berkali-kali. Zizi hanya diam saja. Ia pun tak tau harus bagaimana.


Tiba-tiba Rifki terpental dan membuyarkan lamunan Zizi.


"Ukhuk !!"


"Lu baik-baik aja ??" tanya Zizi.


Rifki menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Ga kuat gua sendirian. Masih untung bisa pulang" ujar Rifki.


"Apa maunya ??" tanya Zizi.


"Seperti yang kau dengar dari mulut Tasya"


Zizi menundukkan kepalanya.


"Mereka sebenarnya para makhluk yang baik ko Zi ! Cuma murka aja saat melihat kelakuan Tasya"


"Baik ?? Lalu kenapa mereka selalu berdiri di tangga lantai 4 dan mengikuti dari arah belakang saat kita menuruni tangga ??"


"Sebenarnya mereka pernah ada perjanjian sama Aludra, mereka di tugaskan untuk menjaga semua anak-anak kost dari mara bahaya. Terutama dari ancaman dan serangan Kanaya"


"Lalu ??"


"Lalu, mereka ga tahan atas kelakuan salah satu anak kost di sana. Jadi, setelah meninggalnya Aludra mereka protes sama Kiandra. Di setujui sama dia. Pas Aludra masih hidup, ia tak pernah mengizinkan para makhluk itu mengganggu anak-anak kost"


"Tapi, apa hubungannya Kiandra sama Kanaya ? Apa karena Agung ??"


"Gue rasa ada dendam lain"


"Tapi kayaknya kita harus cari pak Aji dulu deh" ucap Zizi.


"Katanya masalah pak Aji urusan belakangan"


"Masalahnya tuh kain merah itu ada di pak Aji !!"


DEGG !!


"Serius lu Zi ?!!"


"Tasya yang bilang ! Dia menukarnya dengan gelang itu"


"Ah !!! Persetan tuh orang. Kesel gua Zi. Ko bisa ??"


Zizi diam.


"Mikirin apa lu ?" tanya Rifki.


"Gue yakin pak Aji lagi mempersiapkan diri buat melawan kita. Dia tau kita akan datang ke dia. Dia harap kita mengemis untuk mendapatkan kembali kain merah itu"


"Oohhh !! Jangan harap Zi !! Sampai titik darah penghabisan, gue ga akan pernah sudi mengemis sama orang macam dia !"


"Abis pulang sekolah, kita ke sana"


"Ya udah, tolongin Tasya dulu deh"


Saat Zizi hendak pergi Rifki melihat ada bekas cakaran di tangan Zizi.


"Zi ! Sini bentar"


"Kenapa lagi ?"


Ia menarik tangan Zizi.


"Lu tau ga ? Lu itu ga boleh meneteskan darah di sembarang tempat !"


Zizi menatap heran ke arah Rifki yang sedang memegangi tangannya.


"Emangnya kenapa Ki ?"


"Darah lu, adalah darah incaran para makhluk tak kasat mata. Coba aja lu liet sekeliling lu, saat darah itu muncul dari permukaan kulit lu, sudah auto iler para makhluk itu menetes"


Zizi mencoba memperhatikan sekeliling. Benar saja, di sana ada banyak makhluk tak kasat mata yang mengelilinginya.


"Dah, sembuh !" ucap Rifki.


Zizi menoleh ke arah tangannya. Bahkan tak ada bekas apapun di sana. Zizi tersenyum ke arah Rifki.

__ADS_1


"Beruntungnya gue bisa punya sahabat kayak elu Ki !" kata Zizi.


__ADS_2