Karisma Sang Pemilik Khodam

Karisma Sang Pemilik Khodam
Semakin parah


__ADS_3

Perlahan Zizi mulai membuka matanya. Ia sadar berada di kamarnya, namun pandangan di depannya adalah sebuah trowongan yang terbentuk dari pohon-pohon besar yang tumbuh sejajar. Pohon itu nampak kering tak berdaun.


Trowongan itu sedikit berkabut dan panjang. Di sana Zizi mulai melihat ada seorang anak perempuan yang tengah bermain di teras rumahnya.


Kemudian datanglah sebuah motor berhenti tepat di sana. Anak itu nampak bahagia melihatnya. Namun, wajahnya berubah saat ia mendengar sebuah kalimat "Aludra ada ??"


Tak lama datanglah Aludra. Lalu mereka berdua pergi dan melambaikan tangan ke arah anak itu. Anak itu adalah Kiandra, adiknya Aludra. Di ketahui bahwa Kiandra sangat menyukai laki-laki yang selalu datang menjemput Aludra.


"Kenapa sih selalu kak Lulu yang di carinya ?!"


Telintas di benak Zizi laki-laki itu adalah Agung. Kepala sekolahnya sekaligus kekasih dari Kanaya.


"Apa ini yang membuat Kiandra mempunyai rasa dendam terhadap kakaknya sendiri ??" tanya Zizi dalam hati.


"Zizi !! Istighfar Zi !!" ucap salah satu temannya yang melihat Zizi tak berkedip sama sekali sesaat setelah bangun dari pingsannya.


"Astaghfirullahal adziim" ucap Zizi dengan sadarnya.


Ia pun menghela nafas dan mulai melihat sekeliling.


"Alhamdulillah, sadar juga"


"Dimana Tasya ??" tanya Zizi panik saat ia tak melihat Tasya di sana.


"Tasya sudah pulang"


"Pulang ??"


"Iya, bu Kiandra yang mengusir roh yang ada di tubuh Tasya. Jadi, tadi dia sudah sadar an buru-buru di ajak pulang sama orang tuanya"


"Apa yang terjadi pada gue ?? Gue tadi kenapa ya ??"


"Sudahlah. Tak usah terlalu di fikirkan. Istirahat saja. Kami juga cape. Kita pergi dulu ya ? Selamat beristirahat Zizi"


Zizi hanya tersenyum melihat teman-temannya mulai keluar dari kamarnya. Kemudian ia mencoba mengingat-ingat apa yang telah terjadi. Tapi, ia sama sekali ga ingat.


"Aargh !! Kenapa sih gue ?? Seingat gue tadi... Gue pingsan gara-gara mendengar suara seseorang memukul sebuah besi atau sebuah wadah sajen ?? Apa itu bu Kiandra yang melakukannya ??"


Zizi merebahkan badannya ke tempat tidurnya lagi. Ia masih bingung dengan apa yang terjadi.


***


Sesampainya Tasya di rumah ia hanya diam saja. Itu membuat orang tuanya khawatir. Bukankah tadi ia sudah sembuh saat bu Kiandra mengobatinya ?


"Bagaimana ini pa ?? Kenapa jadi begini ??"


"Pasti ada sesuatu yang di lakukan Tasya hingga membuat penghuni di sana marah"


"Terus kita harus bagaimana ??"


Tiba-tiba saja Tasya berteriak.


AAAAAAAAA


"Panaaasssss !!! Aiir !! Aiiiirrrr !!"


Ia pun lari ke kamar mandi dan segera menyalakan shower. Ayah dan ibunya pun segera menyusulnya.


"Apa-apaan kamu nak ?? Hentikan !"

__ADS_1


Lalu ayahnya mencoba menatikan air itu, namun Tasya merasakan kepanasan lagi, jadi ia pun menyalakan airnya lagi.


"Panaaassss !!!"


Hal itu pun terjadi berulang kali, hingga Tasya sudah nampak menggigil tapi ia masih merasakan panas. jadi mau ga mau ia harus tetap di bawah air terus.


"Pa, Maaa, dingiiiiiin" ucap Tasya sambil merintih.


Orang tuanya benar-benar tak tega melihatnya. Ia pun mencoba menelpon Zizi.


"Baik, tunggu di sana. Zizi segera ke situ" ucap Zizi lewat via telpon.


Zizi segera memberitahukan kepada Rifki. Kemudian mereka segera menuju rumah Tasya. Di tengah perjalanan ia di hentikan oleh seseorang.


"Maaf pak ! Kita buru-buru" ucap Rifki.


"Ga ada urusan"


Zizi menatap ke arah orang itu.


"Pak Aji !! Tolong minggir dulu" ucap Zizi.


Rifki kaget saat Zizi memanggil orang itu dengan sebutan Pak Aji alias Darmaji.


"Kau rupanya mengenaliku Zi !!"


"Apa mau bapak ??"


Zizi pun turun dari motor dan di ikuti oleh Rifki.


"Hanya rindu saja. Lama tak beradu skill sama kamu" ucap Darmaji.


"Waah ! Elu nantangin kita lagi ?? Belum puas lu mati kemarin ?? Ga di terima ya jasad lu di akhirat makanya lu balik lagi ke dunia ini ??" kata Rifki.


Darmaji pun menyerang Rifki dan mereka pun mulai berkelahi. Zizi bingung harus ikut membantu atau melanjutkan perjalanan menuju rumah Tasya.


DUUUAAAKKK


Rifki terpental jatuh di hadapan Zizi. Zizi menoleh ke arah Darmaji yang sepertinya kali ini ia bertambah kuat.


"Kenapa kau menghalangi jalan kami ? Kami sudah tak ada urusan denganmu lagi !! Teman kami, butuh batuan kami sekarang !! Jadi kami mohon, jangan ganggu kami" ucap Zizi.


"Hahahaa ! Aku sudah tau hal itu. Biarkan saja temanmu itu mati di bawa ke alam lain oleh penghuni kostmu itu ! Lagi pula, apa kau tau hal apa yang ia sembunyikan darimu ?? Apa kau tau ?"


Dengan sigap Rifki segera mencekik leher Darmaji dan mengancamnya.


"Beri tahu kami atau kau akan mati !!"


"Hahahahaaa !!! Kau mencekikku atau kau hanya menempelkan tanganmu di leherku ?? Ini sama sekali bukan ancaman buatku, hahahahaaa"


Rifki melongo sejenak kemudian Darmaji berbalik mencekik Rifki.


"Begini cara mencekik orang !!!"


Rifki pun berusaha sekuat tenaga melepaskan cekikan itu. Namun ini benar-benar terlalu kuat.


Zizi mencari sesuatu untuk melawan Darmaji. Ia pun mengambil sebuah kayu dan segera memukul dengan keras di kepala Darmaji.


BLUUUKKK !!

__ADS_1


Darmaji sedikit sempoyongan. Ia melepaskan cekikannya dan mencoba memegangi kepalanya yang sedikit benjol akibat pukulan dari Zizi.


Zizi segera mengarahkan Rifki untuk menyalakan motor dan meninggalkan Darmaji.


"Urusan dengannya kita lanjut nanti Ki ! Sekarang Tasya lebih penting"


Motorpun mulai melaju dengan cepat meninggalkan Darmaji yang masih memiliki dendam di sana.


Sesampainya di rumah Tasya. Mereka segera menuju ke kamar Tasya dan mendapati Tasya yang masih di guyuh air di sana.


"Dingiiiiin"


"Kalau dingin kenapa ga di matikan airnya ??" tanya Rifki.


"Kalau di matika airnya dia kepanas nak Rifki" jawab ayahnya.


Rifki pun menoleh ke arah Zizi. Zizi mulai melihat bayangan hitam itu ada di badan Tasya.


"Jangan kau coba mendekati !!" ucap Tasya dengan suara parau.


"Apa yang bisa ku lakukan ? Kasihanilah anak ini" ucap Zizi.


"Dia harus mengembalikan sesuatu yang telah ia ambil"


"Mengembalikan apa ??" tanya Zizi.


"Aku tak mengambil apapun !!" teriak Tasya.


Kemudian tangannya mulai mencekik lehernya sendiri.


AAAAA


Semuanya pun panik.


"Jangan mendekat !!" teriak Tasya lagi dengan suara lain lagi.


"Ok !! Tolong jangan sakiti dia !!" teriak Zizi.


Mata Tasya menatap tajam ke arah Zizi. Ia mencoba menyerang Zizi. Menariknya ke dalam kamar mandi itu dan membuat Zizi basah di guyur air.


Zizi mencoba melepaskan diri namun tarika Tasya begitu kuat. Rifki mencoba membantunya namun Rifki di tarik makhluk lainnya.


Zizi mencoba mematikan shower itu tapi di nayalakan kembali oleh Tasya. Berulang kali ia mencoba mematikan dan Tasya terus saja menyalakannya.


Bahkan Zizi di cakar dan di pukuli oleh Tasya saat mematikan air tersebut.


"Jangan di matikaaaaan !!" teriak Tasya sambil terus melawan Zizi.


Zizi yang tak bisa membaca ayat suci di kamar mandi hanya bisa bertahan semampunyanya.


"Tolong matikan airnyaaaa !!!" teriak Zizi dalam kamar mandi.


Orang tuanya Tasya segera berlari ke luar kamar untuk mematikan jalur aliran air ke kamar mandi.


Tanpa di ketahui mereka ternyata Tasya sudah di belakang mereka dan mulai membanting mereka satu persatu.


Menjedotkan ibunya ke tembok dan mukul ayahnya dengan kursi berulang kali. Zizi segera berlari dan menghentikan Tasya.


Zizi memejamkan matanya seraya membaca do'a.

__ADS_1


"Ini sudah cukup !! Ini terlalu keterlaluan !! Bismillahirrohmannirrohiiiim Allahu akbar !!"


AAAAAAAAAA


__ADS_2