
Setelah selesai mengemas baju dan barang milik Dewi, Zizi pun pamit ke kamarnya. Ia buru-buru masuk dan mengunci pintu kamar itu.
"Huuffh ! ini pasti ada yang ga beres" ucapnya sambil memainkan kunci di tangannya.
Ia pun kaget saat melihat Mbah Singadita sudah duduk berapa di tepian tempat tidurnya.
"Ih ! Mbah ini ngagetin aja ! oh iya, gue lagi kesel nih Mbah !! ko gue merasa di plot twist sih sama keadaan ?? gimana bisa ?? yang di ancam bukannya Tasya ?? gimana sih ini Mbah !!" omel Zizi.
"Rencana awal mereka memang begitu, tapi melihat penjagaanmu, mereka memilih jalur lain" tutur Mbah Singadita.
"Kenapa Mbah ga bilang !! Kenapa Mbah ga jagain kak Dewi ??" kata Zizi.
"Bukan ga mau bilang, dan Mbah sudah berusaha menghentikannya, tapi Mbah gagal"
Zizi menaikkan kedua alisnya.
"Tugasku menjagamu, bukan menjaga Tasya ataupun Dewi"
"Setidaknya beritahu gue lah Mbah, kan jadi ga enak sama kak Dewi, karena dia waktu itu sempat minta bantuan gue, tapi gue abaikan dan lebih memilih Tasya, gue kira ketakutannya itu normal seperti anak lainnya"
"Beberapa hari ke depan kost ini bakalan ramai"
Zizi menoleh dengan raut bingung.
***
"Gue dimana ?? ko tempatnya panas banget gini sih ? asing pula"
Tiba-tiba sebuah pintu gerbang dengan warna gold terbuka lebar. Ada seseorang dengan tubuh besar menghampirinya.
"Cepat masuk !!" ucapnya dengan lantang.
Ia pun masuk ke dalam. Di sana terdapat sebuah istana besar dengan luas yang tak bisa di perkirakan. Di sana banyak sekali orang-orang yang sedang mengerjakan tugas-tugasnya. semua menundukkan kepalanya.
Tak jarang banyak terlihat luka di tubuh mereka. Baju yang seperti sudah tak layak pakai, dan mereka tak memakai alas kaki.
"Cepat bekerja !" ucapnya sambil melempar sebuah sikat WC berukuran besar.
"Bekerja ????"
"Iya ! untuk apa kau kemari kalau tidak untuk bekerja ! cepat sana !! tugasmu menyikat kloset kamar mandi !!" perintahnya.
Ia tertegun sejenak. Lalu tiba-tiba ia di tarik paksa untuk masuk ke toilet. Betapa kagetnya ia saat melihat kloset itu begitu besar.
"Sebesar apa pemilik istana ini kalau klosetnya saja sebesar ini ??" ucapnya dalam hati.
Tiba-tiba terdengar suara rintihan dari seseorang, ia pun menoleh. Anak itu baru saja di cambuk dengan cambuk yang cukup besar dan sedikit menyala seperti bara api.
"Apa yang terjadi ??" pikirannya.
Anak itu lalu tiduran di depan pintu kamar mandi sambil sesekali menyeka air matanya.
"Apa yang kau lihat !! cepat bekerja !! Jika kau membngkang, kau akan bernasib sama seperti dia !!"
ucapan itu membuat kaget dan ia segera menurutinya.
__ADS_1
"Mengapa anak itu tiduran di depan pintu kamar mandi ??"
Pertanyaan itu seakan-akan terngiang-ngiang di pikirannya. Ia ingin sekali bertanya, namun ia tak berani, ia terus menggosok kloset itu sambil sesekali menoleh ke arah anak itu.
Tak lama datanglah seseorang menghampirinya. Ia menginjak anak tadi tanpa rasa bersalah, dan itu membuatnya berteriak menangis meronta-ronta.
"Ya Tuhan, apa yang terjadi ??" ujarnya sambil mengelap keringat yang hampir menetes.
"Oh ini yang baru ??" tanyanya.
"Benar"
"Awasi dia dengan benar ! kalau melawan cambuk saja dia !! pukul dia atau kau siksa saja dia" ucapnya dengan nada yang keras.
Mendengar ucapan itu sontak saja membuatnya ketakutan. Lalu mereka pun pergi. Tak ketinggalan mereka menginjak kembali anak yang tiduran di depan pintu kamar mandi itu. Melihat hal itu ia hanya tertunduk.
"Dia di jadikan keset ?? Ini benar-benar tidak manusiawi" ucapnya dalam hati.
Disana benar-benar panas cuacanya. Tak ada angin yang masuk sedikitpun. Ia terus saja menggosok sambil melirik ke sana kemari memperhatikan sekitar.
Terdengar suara langkah kaki mendekat ke arahnya lagi. Ia mengambil nafas dan mencoba menenangkan diri.
Pintu pun mulai terbuka. Jantungnya mulai berdebar. Tapi, kali ini ia tak mendengar suara tangisan anak itu lagi.
"Siapa namanya ??" tanya wanita itu.
Suara itu mengagetkannya. Ia mencoba memandangi wajah itu. Cantik sekali parasnya. Bahkan ia seperti tak asing dengan wajah itu.
"Namanya Dewi"
"Aku mengenalnya" ucap wanita itu sambil berlalu darinya.
"Mengenalku ??" tanyanya dalam hati.
***
Sore itu cuaca agak sedikit mendung. Bulan bersembunyi di balik awan berwarna hitam. Sambil membawa buku dan cemilan kecil Intan duduk di teras kost.
"Baru jam 8 malam ko sudah sesepi ini ya ?" ucapnya sambil melirik poselnya.
Tiba-tiba lampu di sana berkedip-kedip. Intan memandangi lampunya.
"Perlu di ganti kayanya"
Kemudian matanya tertuju pada sosok putih di balik sebuah pohon kecil.
"Apa itu ?" tanyanya sambil mengawasinya dengan seksama.
Tiba-tiba sosok itu menampakkan dirinya sepenuhnya.
AAAAAAAA
"Astaghfirullah hal adziiim !!"
Intan langsung lari dan membawa semua barang-barangnya.
__ADS_1
"Ya Allah ada pocong ya Allah..," ucapnya sambil terus berlari menuju kamar.
KLEEK ! KLEEKK !!
Ia segera mengunci pintu kamarnya dengan nafas terengah-engah.
"Huuffh ! huuffh ! huuffh !! ga mungkin, ga mungkin. Ini gue halu. Salah lihat pasti, gue cuma kurang Aqua mungkin, huuffh"
DEEPP DEEPP DEEPP
Kini lampu kamarnya pun mulai berkedip-kedip.
"Astaghfirullah hal adziiim !!"
Tubuhnya mulai gemetaran. Ia segera membaca ayat kursi Al Qur'an, tapi tiba-tiba ia lupa dengan kalimatnya. Berulang kali ia mencoba mengingatnya tapi tetap sama, ia tak hafal.
"....... Laa ta'khudzuhuu sinatuwwalaa na'um... Lahu ma fissamawaati... fissamawaati... fissamawaati... ya Allah apa lanjutannya ??"
Ia pun mengulang lagi dari awal. Tapi ia seperti mendengar suara di dekat telinganya. Suara itu menirukan apa yang di ucapkan Intan.
"Bismillahirrahmanirrahim"
"Bismillahirrahmanirrahim"
"Allahu laa ilaaha illahuwal hayyul qoyyuum, laa ta'khudzuhuu sinatuwwalaa na'um, lahuu maafissamawati wa maa fil Ardhi..."
"Allahu laa ilaaha illahuwal hayyul qoyyuum, laa ta'khudzuhuu sinatuwwalaa na'um, lahuu maafissamawati wa maa fil Ardhi..."
Makin gemetaran tubuh Intan mendengar kalimatnya diikuti oleh suara yang sedikit menggema namun serak dengan nada berbisik.
Intan mencoba memberanikan diri untuk menoleh ke arah kanan pundaknya sambil memejamkan matanya. Ketika ia membuka mata, tepat sekali ia bertatap muka dengan wajah yang hancur penuh darah dalam balutan kain warna putih yang masih utuh bertali.
AAAAAAAAAAA !!!
Intan terbangun dari tidurnya. Badannya basah kuyup oleh keringat. Nafasnya terengah-engah. Ia memperhatikan sekelilingnya dengan perasaan takut.
"Huuffh !! mimpi ??? Ya Allah serem banget"
Ketika ia hendak mengambil air minum ia baru sadar kalau di tangannya masih memegang hp, buku dan cemilan.
DEGG !!
***
TENG TEEENG TEEEEENGG
"Sudah waktunya istirahat dan makan" ucapnya pada Dewi.
Dewi mulai menuruni kloset itu dengan perlahan. Ia di bawa ke sebuah ruangan yang sangat luas, terdapat banyak para pekerja paksa di sana.
Dewi di sodorkan sebuah piring. Ia pun mulai ikut barisan mengantri. Meskipun ada banyak orang di sana tapi suasananya sangat sepi. Tak ada obrolan di sana.
Mereka fokus ke diri mereka masing-masing. Tibalah saatnya Dewi harus mengambil makanannya. Ia pun kaget saat yang tersuguhkan di sana tak sesuai harapan. Belatung, darah dan lain sebagainya.
Ia merasa geli melihatnya. Namun tatapan dari penjaga-penjaga itu membuatnya harus mau ga mau tetap mengambilnya.
__ADS_1
"Ambil saja deh, biar ga kena marah" ucapnya dalam hati.