
Zizi masih berputar-putar disana, mencoba mencari jalan keluar, tapi di sana begitu gelap.
"Coba deh, gue jalan lurus aja"
Tapi setelah lama ia berjalan ia tak kunjung menemukan titik terang. Bahkan sepertinya ia kembali lagi ke tempat semula.
"Ke sini lagi ???"
Tiba-tiba ia mendengar ada suara seperti anak panah melesat ke arahnya. Ia segera berjongkok untuk menghindari anak panah itu.
CRUKKKKK
Suara itu begitu nyaring, sepertinya menancap di sesuatu yang tak terlalu keras.
"Hufhhh !"
Zizi bernafas lega, namun detak jantungnya berdebar kencang.
"Bahkan gue ga bisa lihat apapun di sini, ini terlalu gelap dan bahaya" ucapnya sambil berdiri kembali.
DUUUAKKKK
"Aaaaaagh !!"
Entah tendangan dari mana yang membuat Zizi terpental. Ia mencoba berdiri, mengamati sekitar.
PLAAAKKKK !!
"Aaahgg !!"
Kali ini pipinya yang kena, rasanya hampir copot semua giginya.
"Astaghfirullah hal adziiim... Apa lagi ini... Ya Allah tolong hamba..."
Tiba-tiba tangannya di tarik dengan begitu kerasnya. Zizi tak bisa melawan karena ia tak melihat siapa yang melakukan itu.
Zizi di lemparkan dengan begitu kasar ke tanah. Zizi hanya bisa tengok kanan, kiri, atas, bawah, dan sekelilingnya.
Ia bahkan belum berdiri dari jatuhnya tadi. Tiba-tiba ada yang menginjak perutnya dengan sangat sangat kasar.
"Aaaaaaaaghh !!!"
Setelah beberapa kali ia menginjak-injak perut, kini ia menendangi Zizi. Zizi hanya bisa pasrah. Percuma, ia sudah tidak ada tenaga lagi untuk melawan.
Beberapa saat serangan itu berhenti. Zizi menarik nafasnya dan kembali meluruskan badannya, rebahan dalam keadaan yang begitu terpuruk.
"Jika untuk di lawan seperti ini, kenapa harus di sini ? Kenapa tak di duniaku saja ??" ucapnya lirih sambil sesekali menahan rasa sakitnya.
Tiba-tiba ada yang menarik kerah bajunya dan mengangkatnya setinggi mungkin. Kemudian ia di berdirikan lalu di hantam pipinya secara bergantian, dan hantaman yang terakhir adalah ke bagian perutnya.
"Ukhuuk-ukhuukk !! Hueekkk..."
Zizi terbatuk hingga muntah darah. Kepalanya terasa sangat berat, bahkan kakinya sudah tak kuasa menopang berat badannya lagi. Lututnya gemetaran.
"Ukhuuk-ukhuukk !"
Lengan kirinya berdarah lagi karena tendangan tadi mengenai luka itu. Ia hanya bisa memeganginya dengan tangan kanannya.
"Uuuhh... Periiiih"
Tak sengaja tangan kanan yang tadinya bekas darah tiba-tiba menyentuh sebuah benda.
CRIIIINGGGG
__ADS_1
Entah bagaimana ceritanya, suasana disana menjadi terang, bahkan sangat sangat terang. Zizi menunduk dan melihat benda apa yang tadi ia sentuh.
"Pedang ??"
Datanglah Kanaya.
"Sial !"
Zizi mulai bangkit berdiri dengan di topang pedang itu. Pedangnya begitu ringan. Zizi pun sangat heran sekaligus senang.
"Jauh-jauh kau dariku !! Buang pedang itu !!"
Zizi tersenyum walaupun ia penuh luka. Bahkan darah di mulutnya masih belum ia lap sepenuhnya.
Zizi mulai memberanikan diri memegang pedang itu dengan erat. Mata Kanaya langsung terbelalak.
"Manut rasa kamanungsaaan, murang, tata, tamah lan durjanaa, wanawasa jambul gundul, sujan matan bisa pinilayaaaa"
"Diam kau Zi ! Ga usah menyanyikan lagu itu di sini !!
"Seandainya kau masih hidup, bukankah seperti itu tingkah lakumu, Kanaya ??"
"Bukankah hampir semua manusia ??"
"Tidak !! Hanya manusia yang tidak mempunyai pegangan hidup yang eratlah yang memiliki sifat seperti itu. Tidak sopan, serakah dan jahat"
Kanaya hanya terdiam. Pedang itu tiba-tiba menggerakkan tangan Zizi untuk menyerang Kanaya. Kanaya yang sadar segera menghindar namun gerakan itu terbaca oleh pedang, dan pedang itu menusuk di perutnya.
"Aaaaa....aghhhhh"
Zizi segera menarik pedang itu dari perut Kanaya. Kanaya menoleh perlahan ke perutnya. Dimana luka itu tepat berada pada luka tusukannya dulu yang membuat ia kehilangan nyawa.
Sambil gemetaran ia menghapus darah di perut itu. Kemudian memandangi darah itu dengan sangat marah.
"Apa kau mati dua kali Nay ?? Harusnya orang mati tidak mempunyai darah ? Kau mencoba membohongiku ??" tanya Zizi.
"Hahahaha...."
Lagi-lagi Kanaya hilang. Tapi untungnya ia sudah bisa menggunakan pedang itu akibat darahnya yang menempel di gagang pedang.
Kanaya mencoba melawan tanpa memperlihatkan dirinya. Namun, pedang itu yang menuntun Zizi untuk selalu menemukan Kanaya.
Saking geramnya Kanaya, ia pun merubah wujudnya menjadi beberapa bagian agar bisa melumpuhkan Zizi.
DUUAAAKKK !!
Akhirnya Kanaya mampu menendang tangan Zizi dan pedang itu terlempar jauh. Zizi menoleh ke Kanaya.
"Aku suka jika kau lebih lama lagi di sini !" ucap Kanaya.
Zizi hanya tersenyum manis, kemudian ia menaruh tangan kanannya di dada sebelah kiri. Ia memejamkan mata dan mulutnya mulai membaca ayat-ayat suci.
Kanaya diam dan memperhatikan. Beberapa kali Zizi mengulangi kalimat yang sama kemudian di akhiri do'a. Lalu Zizi bersiap untuk menangkap pedang itu yang tiba-tiba saja melayang mendekat ke arah Zizi.
"Zi....."
Angin di sana tiba-tiba terasa sejuk. Zizi membacakan kembali do'a dimana ayat itu adalah ayat yang mampu meremukkan tulang-tulang Kanaya.
NGIIIIIIIIIIINNNNGGGGGGGGGGG....
Suara dengungan itu begitu keras. Kanaya mulai menutupi telinganya. Zizi masih membacakan kalimat itu.
Samar-samar tubuh Zizi mulai bercahaya, cahaya berwarna ungu. Kanaya masih berdiam diri di sana. Dan Zizi pun siap menyerang.
__ADS_1
HIIIAAKKKKKKK
Kanaya berusaha menghindar, tapi akibat dari bacaan ayat-ayat tadi Kanaya mulai sedikit lemas.
SRAAAAKKKKK
"Aaghhh !!"
Lengan Kanaya tergores sedikit. Walaupun luka itu belum seberapa dibandingkan dengan lukanya Zizi, tapi itu cukup membuat Kanaya geram.
Berulang kali pedang itu melukai Kanaya. Kanaya pun harus berfikir bagaimana caranya menghentikan Zizi. Saat sedang memikirkan hal itu, tiba-tiba pedangnya menusuk ke arah dadanya Kanaya.
CRUUKKKKK
Mata Kanaya terbelalak seketika. Zizi pun tak menyangka kalau pedang itu akan melukai Kanaya.
Tak ada darah memang, tapi dadanya mulai berlubang. Zizi menarik nafasnya sebentar dan menghentikan perkelahian itu.
"Sudah cukup Nay !"
Baru saja Zizi menurunkan pedangnya, tiba-tiba Kanaya menyerangnya tanpa ampun. Bahkan ia tak segan merebut pedang itu dari tangan Zizi.
"Lepas Nay !!"
Kanaya tak menghiraukan ucapan itu, meskipun tangan Kanaya begitu panas dan hampir melepuh saat menyentuh pedangnya. Kanaya hanya ingin pedang itu lenyap.
"Nay ! Tanganmu Nay !!"
Kanaya masih tidak menggubris perkataan Zizi. Ia terus menariknya sambil sesekali mendorong Zizi.
BRAAKKKKK
Mereka berdua sama-sama terpental. Pedang itu pun jatuh di tengah-tengah mereka. Kanaya langsung bergerak untuk mengambilnya namun Zizi pun turut mengambil pedang itu.
"Lepas Nay !!"
DUUAAAKKK
Zizi mencoba mendang Kanaya dan kini pedang itu ada di tangan Zizi. Zizi berdiri dan mencoba mengancam Kanaya dengan pedang itu.
"Sudah cukup Nay ! Aku lelah ! Tolong kembalikan semuanya !!"
"Tidak akan. !!"
Zizi makin berani maju ke arah Kanaya dan mendekatkan pedang itu di dadanya. Zizi tau, Kanaya akan merasakan panas ketika pedang itu menempel pada tubuh Kanaya.
"Sekali aku minta, tolong kembalikan semuanya !!"
"Panaaaasss !! jauhkan pedang ini dariku !!"
"Tidak akan, sebelum kau mengembalikan semuanya"
"Tidak adil !!"
Zizi makin erat menempelkan pedang itu.
"Aaaa panaaaas !!"
Zizi hanya menatap matanya tanpa berkata apa-apa.
"Oke !! Akan ku kembalikan"
Zizi tersenyum.
__ADS_1
"Tapi hanya dua..."
DEGGG