Karisma Sang Pemilik Khodam

Karisma Sang Pemilik Khodam
Kematian Darmaji


__ADS_3

***


Malam ini suasana begitu sunyi. Terdengar suara jangkrik yang mengiringi. Langitpun tak ada yang menghiasi. Hanya gemerlap cahaya fantasi.


Terdiam dan terpaku dalam diri. Ingin rasanya mencurahkan isi hati. Jeritan luka kian terobsesi. Merobek bungkusan denyut nadi.


"Apa kamu sudah makan ?" tanya seorang ibu pada anaknya yang terus mengurung diri di kamar.


Ya. Itu Mayang. Wajahnya makin pucat saja. Seperti awan kelabu tanpa senja. Mungkin itu sebuah derita yang tak di sengaja. Bahkan hatinya mulai mengeras seperti baja.


Belum lagi sisa air mata yang telah mengering di pipi. Menangisi semua yang telah terjadi. Menyesali sebuah tragedi yang mengguncangkan lautan mimpi.


Mayang masih diam membisu. Terlihat pula bibirnya yang mulai membiru. Hanya bergelut diri dalam kalbu. Bahkan mengacuhkan panggilan sang ibu.


Ibunya mencoba mendekat. Memeluknya dengan hangat. Mencoba menghilangkan tali yang mengikat erat.


Mayangku sayang Mayangku malang.


"Aku tidak ingin hidup lagi ma" ucap suara itu dengan nada yang serak-serak basah.


Ibunya menundukan kepala, berdo'a kepada Yang Maha Kuasa. Agar ia tetap di berikat kekuatan untuk menghadapi ujian dan cobaan dalam hidupnya.


"Mama yakin kamu bisa ! Kamu kuat !"


"Mayang malu ma"


"Semua sudah terjadi, mau bagaimana lagi ?"


"Mayang....."


Ucapannya menggantung.


"Kamu kenapa ? Ibu sudah ikhlaskan semuanya, jadikan ini semua pelajaran saja, supaya kedepannya kita lebih waspada"


"Mayang (terhenti sejenak) ga mau sekolah lagi"


"Kenapa ? Tanggung nak, udah kelas 11"


"Mayang malu ma, kalau nanti Mayang ke sekolah dengan perut yang besar"


DEGGG


"Maksud kamu ? Kamu hamil ??!" tanya ibunya begitu kaget.


Mayang hanya mengganggukan kepala.


"Astaghfirullahal adziim" ucap ibunya sambil mengusap wajah dan dadanya.


"Sudah 4 bulan Mayang ga menstruasi ma"


"Ya Allaaah naaaaak !!!!" ucap ibunya makin kencang di barengi dengan rasa kecewa.


"Karena 5 bulan belakangan ini Darmaji tak memberiku pil pengaman ma, dia juga tak memakai alat kontrasepsi juga"


Dan ibunya hanya bisa memeluk anaknya sembari menangis tersedu-sedu. Rasanya ini lebih pahit dari empedu.


Dari balik ruang kamar Mayang ternyata ada Mariska yang mendengarkannya. Ia marah saat mengetahui sahabatnya hamil gara-gara Darmaji.


"Beraninya kau Darmaji !!" ucapnya dengan mata yang mulai memerah.

__ADS_1


***


Terdengar suara siul-an dari seorang lelaki yang sudah tidak muda lagi. Ia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah seharian mendekam di kurungan jeruji.


Ya, siapa lagi kalau bukan Darmaji. Hanya dia yang ku kenal di kantor polisi. Sembari nunggu hukuman di atasi, ia nginep dulu di hotel yang bergengsi. Yang pagarnya di lapisi besi, hehe.


KLEEKK


Ia memasuki kamar mandi, menaruh handuknya dan BAAAAA !!


JEDEERR


Darmaji kaget hingga menabrak pintu saat akan melarikan diri. Ia lupa, padahal baru saja pintunya ia kunci.


Ada sesosok gadis di sana, namanya Mariska. Ia menatap Darmaji terus-menerus. Kukunya yang panjang membuat Darmaji menelan ludah saat melihatnya.


CLIINGG


Kuku itu terlihat mengkilap di bawah sinar lampu kuning yang agak redup.


SSETTTT


Suara kuku itu melukai pergelangan tangan Darmaji. Darmaji mulai gemetaran. Ia mencoba membuka pintu itu. Tapi Mariska menghalanginya selalu. Darah terus saja menetes.


Mariska mencekik leher Darmaji. Mata Darmaji melotot merah. Tangannya mencoba meraih sesuatu. Tapi yang ia dapatkan adalah gagang pel. Ia mencoba memukul Mariska.


CETAAANGGGG


Pukulan itu tembus ke tempat gantungan handuk yang terbuat dari besi. Mariska meringis sembari melotot ke arah Darmaji dan masih mencekiknya.


"Manusia iblis sepertimu tak layak hidup !!! Kau telah membunuhku dan kau membuat sahabatku trauma berkepanjangan !! Sampai-sampai ia selalu mengurung diri di kamar !! Tak mau menemui siapapun !! Bahkan ia tak mau makan apapun ! Padahal ia sedang hamil !! Aaaaaa" ucap Mariska makin greget pada Darmaji.


Sekuat tenaga Darmaji lepas dari cengraman itu, namun rasanya sia-sia. Dengan sisa tenaga yang ada ia mencoba melakukan perlawanan. Mariska pun terpental hingga menembus dinding.


Darmaji mencoba melarikan diri namun Mariska dengan cepat menarik Darmaji kembali. Tapi Mariska kaget saat sentuhan itu terasa sangat panas di tangan Mariska.


"Kurang ajar !!"


SEETTTT SEETTT !!


Leher Darmaji teriris oleh kuku Mariska yang tajam. Ia mulai merasakan berkunang-kunang karena banyak darah yang keluar dari lehernya.


HYAAAAAAK


Mariska meninju perut Darmaji hingga badannya menabrak pintu. Darmaji mulai muntah darah. Darmaji tersenyum sambil sedikit-sedikit memejamkan matanya.


Tiba-tiba keluarlah asap hitam dari tubuh Darmaji.


WUUUSSSSSS


Darmaji sepertinya sudah mulai tak berdaya lagi. Ia pun mulai tak sadarkan diri dengan darah yang terus mengalir dari lehernya itu.


"Sekarang giliranku !!" kata makhluk hitam itu.


Mariska pun lari dari situ dan mulai di kejar oleh Tamih Muli. Ia yang mempunyai badan besar bisa dengan mudah menangkap Mariska, dan di bantinglah ia ke tanah.


"Kau salah membela !! Dia itu salah ! Jadi wajar kalau aku menghukumnya" ucap Mariska.


"Dia tuanku. Siapapun yang menyakitinya, itu sama saja dengan menyakitiku" ucap Tamih Muli dengan suara yang gemelegar.

__ADS_1


Mariska bangkit. Lalu berusaha melawan Tamih Muli tapi tiba-tiba ia menyemburkan api ke badan Mariska.


AAKKHHHHH


"Panaaaasss !!" teriak Mariska.


"Kau saja berani menghabisi nyawa tuanku ! kau juga harus ku habisi !!" ucap Tamih Muli.


"Demi kebaikan ! Aku kau musnahkan tak apa ! Aku rela ! Yang penting Darmaji mati !! Ha ha haaa"


"Puaskan dulu tertawamu !! Sebelum badanmu habis terbakar !!"


"Aku ga peduli dengan lenyapnya aku nanti ! Yang penting Darmaji mati !!! Darmaji matiiiii !!"


Mariska mulai tak kuat menahan rasa panas dari api itu. Tiba-tiba saja ada air hujan yang mengguyur badan Mariska. Hujan itu sangat deras. Entah dari mana datangnya.


Bukankah di alam ghoib itu tidak ada hujan sebenarnya ? Ya, tidak ada. Di sana bahkan tak ada malam.


Lalu bagaimana mereka tidur ?


Pertanyaannya itu apa mereka merasakan lelah seperti manusia ? Sehingga butuh tidur ??


Lanjut ke ceritanya ya ??


Setelah ada air hujan itu apipun padam. Tamih Muli pun kaget.


"Darimana datangnya air hujan itu ??" tanya Tamih Muli.


"Itu bukan urusanmu !!" jawab Mariska.


Mariska kembali utuh ke bentuk semula dan bahkan tidak lecet sedikitpun. Wow. Kok bisa ?


Ada seseorang di balik keberhasilan Mariska. Maka dari itu ia tak gentar menghadapi Darmaji. Dengan bekal ilmu dan kekuatannya serta dorongan dari seseorang yang sangat di percaya olehnya ia mampu mengalahkan Darmaji dan membuatnya mati.


***


Di ruang Autopsi.


Saat semua perawat dan dokter menyiapkan alat-alat tiba-tiba Darmaji bangun dari tidurnya. Ehh dari kematiannya maksudnya.


AAAAA


"Dokter !! Mayatnya bangun" teriak salah satu perawat kaget dan tak sengaja menabrak sang dokter.


Darmaji terduduk dan menatap semua yang ada di sana dengan mata yang begitu merah. Luka di lehernya telah mengering. Ia masih terlihat bingung dan diam saja.


Semua yang ada di ruangan itu sangat ketakutan. Darmaji mencoba bangun dari tempat tidurnya dan hendak melangkah keluar.


"Walau bagaimana pun kau masih seorang tahanan kepolisian ! Jangan bergerak atau ku panggil polisi !" ucap sang dokter dengan nada gemetar.


Darmaji langsung mencekik leher dokter itu dan melemparnya ke dinding.


JEDUUUGGG !!


AKWW


Perawatnya segera menghampiri dokter itu sambil menahan ketakutan. Darmaji melangkah pergi dan di ikuti oleh perawat di sana. Tapi saat perawat itu membuka pintu Darmaji sudah tidak kelihatan lagi.


"Manusia iblis"

__ADS_1


__ADS_2