
"Bayangam hitam apa yang ada di badan Tasya ??"
Zizi mencoba mengamatinya. Bayangan itu bergerak-gerak tak sesuai dengan bayangan asli Tasya.
"Sya.."
Zizi mencoba memanggilnya. Tasya pun menoleh. Tapi anehnya bayangan itu tak nampak dari depan. Bayangan itu hanya terlihat saat Tasya mengahadap ke belakang.
"Mana makanannya Zi ??"
"Emm.... Di.. Di lantai 2 ada banyak"
Tasya segera menuruni tangga dan menuju lantai 2. Bahkan ia tak nampak sakit sama sekali. Zizi pun lagi-lagi di buat heran.
"Huuufh !!"
"Ini adalah permulaan, bacakan ayat-ayat suci Al-qur'an setiap hari untuknya. Jangan beritahu dia, bacakan saja lalu tiupkan ke minumannya" ucap khodam itu.
Zizi kemudian menyusul Tasya ke bawah. Ternyata di bawah hanya ada beberapa porsi makanan saja. Jadi, Tasya belum kenyang.
"Zi, Tasya kenapa ?? Ko makannya buanyak buangeet gitu ??" tanya Intan sambil nyengir ketakutan.
"Kurang tau kak, dari tadi juga minta minum terus, air galon di lantai 4 aja udah habis"
"Iya, tadi Dewi juga bilang gitu"
"Jangan-jangaaan..."
"Huusttt !! Nanti dia dengar" bisik Tania.
Tak lama makanan pesanan Zizi pun tiba. Zizi pun memberikannya pada Tasya. Ada 5 porsi nasi jumbo ia habiskan. Padahal ia sudah makan 1 porsi bubur ayam, dan 2 porsi makan siang.
Tasya pun bersendawa panjang setelah menghabiskan makanan itu.
"Aaaahhhh... Kenyaaang"
Sontak saja semua anak di sana pun jadi saling pandang melihat tingkah aneh Tasya.
"Tasya !! Bereskan dulu bekas makanmu !!" teriak Kiandra saat melihat wadah makanan itu berantakan.
Dengan wajah yang terpaksa ia pun membereskannya. Kemudian ia naik ke lantai 4 lagi. Kiandra hanya diam saja melihat hal itu.
"Kenapa bu Kiandra ga bertanya tentang kesehatan Tasya ??" tanya Zizi dalam hati.
"Itu mungkin efek obat dari dokter tadi, jadi makannya banyak banget dan minumnya juga" ucap Kiandra.
"Ooohhh gitu bu, kirain kesurupan"
"Kalian ga usah khawatir, dia baik-baik saja ko"
"Tapi jadi aneh bu"
"Ga apa-apa, hanya sementara. Oh iya Zi, tolong awasi dia terus ya ??"
Zizi hanya menganggukkan kepala.
"Zi, ini galon mau di bawa ke atas ga ?" tanya Dewi.
"Boleh deh. Siapa tau nanti Tasya haus lagi"
***
Malam pun datang, Zizi duduk di meja makan sambil memperhatikan Tasya yang sedang berada di kamarnya lewat celah pintu yang sedikit terbuka.
"Dingin sekali malam ini" ucap Tasya sambil nyanyi-nyanyi ga jelas.
__ADS_1
Ia pun terlihat memakai jaket tebal dan kaos kaki.
"Zi, perut gue sakit lagi" rintihnya.
"Sakit ?? Obatnya sudah di minum kak ??" tanya Zizi panik.
"Sudah, tapi kayak ada yang gerak-gerak di dalam perut. Aduuuuuuh... Sakiiit Ziiii..."
Tasya terus saja memegangi perutnya. Lalu ia menelfon bu Kiandra karena Tasya mulai berguling-guling menahan sakitnya.
Bersamaan dengan itu dari arah lift terdengar sangat berisik.
GLUDUG GLUDUG GLUDUG !!
GLUDUG GLUDUG GLUDUG !!
GLUDUG GLUDUG GLUDUG !!
Angka di lift itu pun naik turun naik turun, bahkan hingga lantai 55. Padahal di sana hanya ada lantai 4 saja.
"Sya tahan Syaaa...."
"Sakiiiiiit....."
Terdengar pula suara derap langkah kaki menuju lantai atas. Itu suara Kiandra dan anak-anak yang lain.
Sambil ngos-ngosan Kiandra mencoba menenangkan Tasya.
"Coba bawa ke kamar dulu"
Anak-anak itu mencoba menangkatnya namun tak ada yang kuat.
"Berat bu"
Zizi mencoba menariknya agar mereka sedikit menjauh dari kerumunan.
"Apa yang sebenarnya terjadi pada Tasya" bisik Zizi sambil nada sedikit mengancam pembantu itu.
"Saya tidak tau"
"Tapi saya tau, kalau kamu dan bu Kiandra ada main di belakang"
Pembantu itu menoleh ke arah Zizi. Lalu ia menunduk.
"Kenapa ga berani menatap ?? Ada apa ??"
Pembantu itu tetap diam. Karena takut yang lain curiga Zizi pun membawanya kembali ke dekat anak-anak yang lain.
Tapi Zizi masih memegangi tangan pembantu itu. Sambil pura-pura memperhatikan yang lain dalam hati Zizi membaca ayat kursi.
Sesekali pembantu itu melirik ke arah Zizi. Mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Zizi. Namun tak bisa.
Zizi masih tetap terlihat santai. Sementara pembantu itu mencoba menahan sesuatu. Pergelangan tangannya mulai terasa panas. Tapi apa boleh buat. Ia harus tetap bertahan dan pura-pura tidak tau apa-apa.
Zizi melirik ke arah pergelangan tangan pembantu itu. Terlihat mulai memerah. Zizi tersenyum tipis sambil terus membaca ayat kursi.
"Mbak Mala bisa minta tolong ambilkan minyak kayu putih di kamar saya" ucap Kiandra.
Zizi pun melepaskan tangannya. Pembantu itu turun sambil meniup-niup pergelangan tangannya.
"Sakiiiiiit...." rintih Tasya.
"Bawa ke rumah sakit lagi aja deh bu"
"Saya sudah menghubungi pihak ambulans, nanti juga ke sini ko, njemput Tasya"
__ADS_1
Tak lama ambulansnya pun datang.
Tasya pun di bawa ke rumah sakit. Zizi pun memaksakan diri untuk tetap ikut. Walau sebenarnya bu Kiandra sudah melarang, tapi Zizi tetap nekad ikut.
Sesampainya di Rumah sakit Tasya langsung di bawa ke ruang gawat darurat. Kiandra mencoba menghubungi orangtua Tasya. Sementara Zizi mencoba menghubungi Devano.
Tak lama Devano pun datang dan menghampiri Zizi.
"Gimana keadaan Tasya Zi ?"
"Masih di periksa kak"
"Ko bisa sih dia masuk Rumah sakit ??"
"Maksud kakak ??"
Tiba-tiba dokter keluar dari ruangan itu. Zizi segera berdiri dan bertanya tentang keadaan Tasya.
"Kita perlu melakukan rontgen dan city scan untuk mengetahui lebih lanjut. karena dari hasil pemeriksaan tadi tidak di temukannya gejala penyakit yang serius"
Zizi menyimak dengan seksama.
"Berarti benar, ini ada campur tangan ghoib" ucap Zizi dalam hati.
Mereka pun masuk menuju ruangan Tasya. Terlihat Tasya tengah tertidur oleh obat bius, karena ia selalu meronta saat ia merasakan sakit dan itu membuat orang-orang di sekitarnya kewalahan.
Devano memperhatikan Tasya dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Ini Tasya Zi ??" tanya Devano heran.
"Iya"
"Ko gue ga mengenalinya ya ? Wajahnya beda"
Zizi menoleh ke arah wajah Tasya yang pucat dan makin kurus saja, padahal makannya banyak. Ko badannya malah tambah kurus.
Ketika mereka sedang memperhatikan wajahnya Tasya, tiba-tiba perut Tasya mulai terlihat membesar.
"Zi !! Apaan itu ??" ucap Devano kaget dan segera mundur.
Zizi mulai membuka kain selimut yang menutupi sebagian perut Tasya.
"Astaghfirullahal adziim"
Zizi pun menoleh ke arah Devano yang terlihat jijik dan tak mau mendekat. Kemudian ia pun melangkah pergi.
"Kak !! Mau kemana ?"
"Zi, gue jijik melihat Tasya kayak gitu, hiih amit-amit"
"Ko kakak gitu ?? Ini pacar kakak loh kakak"
"Mulai sekarang bukan lagi. Amit-amit gue punya pacar penyakitan. Yang cantik banyak ! Sehat pula"
"Ga boleh gitu dong Kak !!"
"Halah !! Udah deh. Mending lu diem aja. Nanti kalau Tasya bangun, bilangin ke dia, ga usah nyariin gue lagi. Kita udah ga ada hubungan apa-apa"
DEGG !!
Ternyata sedari tadi Tasya mendengarnya. Namun ia pura-pura diam saja, pura-pura tidur. Namun setelah mendengar pernyataan Devano ia tak mampu menahan air matanya. Walau begitu ia tetap memejamkan matanya dan tak bergerak.
Devano pun pergi meninggalkannya begitu saja. Zizi menoleh ke arah Tasya. Setelah tau ada air mata di pipi Tasya Zizi segera mengelapnya dengan tisu.
"Kenapa dari tadi kakak diam ? Kenapa ga ngomong ?"
__ADS_1