
"Gelap, dimana ini ??" ucap Zizi.
Ia mencoba meraba area sekitar.
"Dimana ini ? Papaaa... Tolongin Zi pa, Zizi dimana ini pa ?"
SRIIIINGGG
Zizi mencari-cari suara itu.
"Kanaya"
Suara langkah kaki pun mulai terdengar.
"Iniiii.... Seperti mimpiku waktu itu...."
Zizi segera berdiri walaupun di sana sangat gelap dan tak nampak apa-apa. Seketika suara ayahnya mengisi ruang kepalanya.
"Kalau takut, baca ayat kursi, Al-fatihah, Al-Ikhlas, Al-falaq, dan An-Nas"
Itu adalah kata-kata yang ayahnya ucapkan saat Zizi memasuki SMP dimana ia harus mengikuti PERKAMJU (perkemahan kamis Jum'at) dimana disitu terdapat malam Jum'at Kliwon.
Kala itu ayahnya tak tega kalau harus meninggalkan Zizi sendiri tanpa bekal apapun. Sebagai dasar ia hanya memberikan amalan itu untuk anaknya.
"Papaa..."
"Allah melindungimu nak, jangan takut, kalau ada makhluk halus lawan saja, lawan, karena kalau kamu takut mereka yang menang, mereka senang" ucap ayahnya kala itu pada Zizi.
Zizi sedikit berkaca-kaca mengingat hal itu.
"Ziziiiiii !!!"
"Rifki ?? Ki, kamu dimana Ki ?"
Rifki mencoba menyalakan sebuah obor sebagai penerangan. Zizi pun menoleh ke arahnya. Namun Doni segera merebut obor itu dan melemparkannya.
"Ki !"
Mereka mulai adu jotos lagi, saling menyerang satu sama lain, bahkan sudah tak mempedulikan apa itu sebuah persahabatan.
"Gue ga akan ngabarin lu ngambil Zizi"
"Kita lihat saja !"
HIIIAAKKKKKKK
Doni bersiap menendang Rifki, tapi Rifki segera menendang kaki kirinya, dan terjatuhlah Doni.
BLUUKKK
"Arrrggh ! Kurang ajar ! HIAAAKKKKK"
Mereka saling melepas kekesalan yang ada di hati mereka selama ini. Khodam-khodam mereka pun sedang saling beradu di udara.
"Sudah main-mainnya ! Saatnya kau ikut denganku"
"Ka na ya" ucap Zizi sambil terus menatapnya.
"Tidaaaaaaaaaak !! Teriak Rifki dari kejauhan sambil melepaskan sebuah jurus mengarah pada Kanaya.
BRAAKKKKKKK
Kanaya jatuh terpental dan kepala membentur sesuatu. Rifki berdiri menatap ke arah Kanaya sambil bertolak pinggang.
"Rifki awaaasssss !!"
__ADS_1
Zizi berlari menyelamatkan Rifki dari lemparan beberapa pisau.
SRUUUKKKK
Saat tersadar Kanaya dan Doni sudah berdiri mengepung mereka. Kanaya langsung menarik paksa Zizi dan Doni menghalau Rifki agar tak ikut campur.
Kanaya melempar Zizi dengan kasarnya ke tanah. Ia membentuk sebuah kabut yang dimana kabut itu menunjukkan keberadaan ayahnya yang sedang melawan Kiandra dan kedua teman-teman ayahnya melawan Zidan dan seseorang yang asing.
"Pa pa..."
Kanaya hanya menatapnya.
"Jangan sakiti ayahku !"
"Dia sudah terluka"
Zizi mencoba mengamati tubuh ayahnya, kemudian ia menemukan luka sayatan di bagian paha kanannya.
"Tidak ! Tolong hentikan !! Kau mau ambil aku, ambillah, tapi jangan sakiti orang-orang yang aku sayang"
"Hahahahaaa..."
Zizi kembali menatap kabut itu.
"Zidan ?? Dia......."
"Kau pikir aku akan melepaskan begitu saja dengan orang yang berani melawanku ??"
"Jadi ?"
"Sebenarnya dia kalah dalam pertarungan melawanku kala itu, dia memang menang dalam mempertahankan segel, dia yang begitu angkuh ketika mampu membunuh kakeknya sendiri dan berani dengan terang-terangan menyatakan bahwa dia membenciku padahal aku yang membantunya menghabisi nyawa kakeknya. Dan dia ! (menunjuk ke arah Zidan) tidak punya rasa balas Budi terhadapku, dia tetap memilih pergi meninggalkanku dengan segelnya."
"Lalu ??"
"Lalu, kita punya kesepakatan. Aku menghidupkannya kembali dan menormalkan hidupnya seperti sedia kala. Dengan syarat..."
"Hahahaha"
"Itu lah alasannya mengapa ia menempelkan banyak poster di Mading IPS ? Dan dia tidak mengagumiku melainkan itu adalah simbol bahwa ia menyanggupi persyaratan itu ?!"
"Hahahahahaa"
"Jadi cara untuk tetap terlihat hidup adalah..."
"Dengan cara memberikan nyawa baru"
DEGG
"Mega ??"
"Hahahaa, semakin banyak nyawa semakin terlihat nyata"
"Kesurupan masal itu ???"
"Harusnya kau paham dengan simbolnya"
"Mungkin aku masih terlalu dini untuk memahami hal seperti itu".
"Kesurupan massal yang di buat Zidan waktu itu ia hanya mencari seseorang yang pantas untuk di ambil nyawanya, agar ia tetap terlihat waras"
"Begitu pula dengan Bu Kia ??"
Kanaya tersenyum tipis.
"Berarti benar yang ku lihat waktu di rumah sakit saat menjaga kak Tasya, itu adalah Bu Kiandra !"
__ADS_1
"Dan hantu di kost itu yang sebenarnya adalah dia, hahahahha"
DEGGG !!
"Dia meninggal jauh sebelum Aludra meninggal..."
"Ba bagaimana dengan mba Mala ??"
"Mba Mala adalah ilusi yang di buat Kiandra itu sendiri"
"Hah ??"
"Hahahaaa"
"Jadi, saat Bu Kiandra membunuh Bu Lulu ?????"
"Dia sudah meninggal, kalau belum meninggal pasti ada jejak sidik jari"
"Hah ?? Benar juga..."
"Bukankah harusnya kau tau akan hal ini ?? Dari saat pertama kalian bersentuhan kulit ?? karena ada beberapa orang yang harusnya paham dengan keadaan demikian, dan kamu termasuk salah satu orangnya".
"Ja..di...."
Kanaya tersenyum.
"Masih belum paham juga ?? Kost itu tidak ada yang menjaga setelah kepergian Aludra, bahkan orang tuanya tak tau kalau Kiandra sudah tiada"
"Lalu, dimana jasad Bu Kia Sebenarnya ??"
"Dia telah mempersiapkan diri untuk kematiannya. Bahkan sebelum ia mengakhiri hidupnya ia sudah membasahi tubuhnya dengan obat agar tak ada yang mencium aroma jasadnya."
Seketika itu Zizi sudah berada di depan sebuah peti mati di sebuah gudang yang gelap dan penuh debu.
Kanaya mengisyaratkan untuk membuka petinya. Peti itu bahkan tak terkunci sama sekali. Sebelum membuka peti itu, Zizi melihat ke arah bawah dan menemukan sebuah botol kecil.
"Dia meminum ini ??" tanya Zizi sambil menunjukkan botol itu ke arah Kanaya.
Kanaya hanya diam. Ia ingat bahwa ia pernah mencoba menahan sekuat tenaga agar Kiandra tak melakukan itu. Namun Kiandra yang kala itu sudah benar-benar putus asa tetap melakukannya.
"Sebenarnya ia sering mengurungkan niatnya untuk ini, ia pernah kesini saat ia baru lulus SMA, tapi ia tak jadi bunuh diri, ia melanjutkan hidupnya walaupun masih di hantui dengan rasa bunuh diri yang begitu kuat. Sampai pada saat ia sudah mampu menjadi owner di salah satu perusahaan miliknya. Dimana ia masih saja kurang mendapatkan perhatian dari orang tuanya, di situlah ia nekat melakukannya".
Zizi merasa simpati mendengar sepenggal kisah hidup Kiandra.
"Mengapa kau tidak membantunya agar orang tuanya sedikit memberikan dukungan kepada Bu Kia ?"
"Apakah itu urusanku ?"
"Aku tau, Kamu adalah orang yang baik"
"(Tersenyum tipis) aku tidak suka jadi orang yang baik !!!"
PRAAANGGGG
Kanaya melempar sesuatu ke sebuah cermin disana. Zizi sedikit menjaga jarak, ia tau ia salah mengambil kata-kata untuk Kanaya. Beberapa pisau mulai keluar dari tangannya.
Kanaya pun bersiap untuk melepaskan pisau-pisau itu.
WUSSSSSSS
Zizi mencoba melindungi dirinya dengan tangannya sambil memejamkan kedua matanya.
TANG TANG TANG TANGG TANGG
Zizi heran dengan suara itu dan ia pun mencoba membuka matanya.
__ADS_1
"Rifki ??"