
"Dua ???" tanya Zizi mencoba meyakinkan Kanaya.
"Ya, kau hanya bisa minta dua orang saja !" jawab Kanaya.
Zizi terdiam. Sementara banyak sekali teman-temannya yang sudah di ambil Kanaya. Tapi ia hanya boleh minta dua saja.
"Dua ??" ucap Zizi lagi.
Saat Zizi lengah Kanaya merebut pedang itu. Zizi segera tersadar dan mencoba mempertahankannya.
DUUAAAKKK
"Nay !! Aaaaaagh... sakit..."
Kanaya menendang Zizi dan kini pedang itu ada di tangannya. Terasa sangat berat pedang itu rupanya. Hingga gemetar sudah seluruh tubuh Kanaya. Tapi ia tetap mempertahankannya.
"Haaaaaagghhhhh !!!!"
Kanaya berusaha mematahkan pedang itu dengan sekuat tenaga. Semua kekuatannya ia keluarkan agar bisa mematahkannya.
KREKKK KREKKKK GLETAKKKKK !!!
AAAAAAAAAAAAAAA
Zizi melongo melihat kejadian itu. Tubuh Kanaya sedikit demi menghilang bersamaan dengan pedang yang patah menjadi dua itu.
"Nay !!"
Zizi mendekat ke arah Kanaya namun Kanaya sudah benar-benar hilang.
"Nay..."
Zizi mencari-cari Kanaya di sana namun tak ia temukan.
"Apa ini sudah berakhir ??"
Di tengah-tengah kebingungannya tiba-tiba ada banyak anak yang tengah berlari-lari.
"Ada apa ini ??" tanya Zizi heran.
Namun tak ada yang menjawab pertanyaan dari Zizi. Mereka sibuk berlarian sendiri-sendiri. Mau ga mau Zizi pun akhirnya mengikuti langkah mereka.
Zizi berhenti sejenak ketika ia melihat ada cahaya putih yang dimana semua anak-anak di sana memasukinya kemudian menghilang.
"Apa itu jalan keluar ??"
Zizi mencoba mengamati dan terus saja yang ia lihat sama. Semua anak berlari menuju cahaya itu kemudian menghilang. Akhirnya Zizi pun berjalan perlahan ke arah cahaya.
"Allahu Akbar Allahu Akbar...."
Zizi mendengar suara itu samar-samar. Namun ia tak mencari sumber suara, ia hanya terus berjalan ke depan.
__ADS_1
"Allaaaahu Akbar Allaaaaaaahu Akbar"
Sekilas ia mendengar seperti suara ayahnya yang mengumandangkan adzan. Namun ia terlalu letih untuk memikirkan hal itu.
Terlalu rumit untuk berfikir apakah itu benar suara ayahnya atau ia hanya sedang berhalusinasi.
Ia bahkan tak peduli lagi apakah ayahnya beneran meninggal di tangan Kanaya atau itu ilusi dari Kanaya saja.
"Ashadu alla Illaha illallaah...."
Zizi menghentikan langkahnya karena suara adzan itu terdengar seperti ada Isak tangisnya.
"Hiks... Ashadu alla Illaha illallaah...."
Suara Isak tangis itu makin terdengar jelas. Namun, Zizi hanya mengambil nafas dan melanjutkan langkahnya tanpa menoleh ke belakang.
"Ashadu Anna Muhammadar Rasulullah...."
Zizi makin dekat dengan cahaya itu.
"Ashadu Anna Muhammadar Rasulullah..."
Zizi memasuki cahaya itu dengan memejamkan kedua matanya. Tiba-tiba ia merasa ada yang memegang tangannya.
"Hayya Alla sholaaaa......"
Zizi mulai membuka matanya perlahan.
Terlihat mata ayahnya berlinang air mata, tangannya memegangi tangan Zizi dengan sangat erat.
"Hayya Alla sholaaaa...."
Zizi baru sadar ternyata ia sedang bergelantungan di bibir sumur sekolahnya, sedangkan ayahnya sedang berusaha agar Zizi tak jatuh ke dalamnya.
"Hayya 'allal falaaa.... Hayya Alla falaa...."
Menyadari hal itu Zizi segera meraih tangan ayahnya dan berusaha naik ke permukaan. Kemudian pak Amin, pak Cahya juga ikut membantu menarik Zizi.
Namun, tiba-tiba Zizi merasakan dingin dari ujung kakinya dan terus saja naik hingga ke tenggorokannya.
"Allahu Akbar Allahu Akbar, laa illaha illallaah..."
Ayahnya menyelesaikan adzannya. Sedangkan Zizi sudah terdiam dan tak bertenaga lagi. Sementara itu mereka bertiga masih berusaha menarik Zizi.
"Alhamdulillaaaah......" ucap semua orang yang ada di sana.
Tapi wajah Zizi sudah begitu pucat. Zizi menepuk-nepuk tanah di sana menggunakan tangannya dengan sisa tenaganya. Ayahnya tak kuasa menahan tangisannya. Ayahnya tau apa itu arti tepukkan tangan Zizi.
"Zi.... Kuat Zi... Ku...a..t ziii.... Hiks hiks..."
Zizi mulai membuka mulutnya perlahan dan mengucapkan dua kalimat syahadat.
__ADS_1
"Ashadu alla.... Illaha, illallaah.... Wa ashadu Anna... Muhammadar, Rasulullah..."
"Zizi........"
Pecahlah tangisan semua orang disana. Termasuk ibunya yang memangku kepala Zizi. Rifki pun tak bisa menyembunyikan air mata itu. Rifki hanya bisa memalingkan wajahnya dari pandangan yang ia lihat.
Langit pun yang tadinya cerah kini berubah menjadi kelabu. Duka mendalam di rasakan semua anak SMA di sana.
Meskipun kedatangan Zizi membuat banyak anak perempuan di sana insecure, namun melihat kejadian ini semuanya pun tak bisa lagi menahan air mata.
Shofia hanya bisa memeluk temannya melihat kepergian Zizi yang sangat dramatis. 100 hari sudah ia menghilang, dan kini ia kembali hanya untuk menghembuskan nafas terakhirnya di sekolah itu, di saksikan oleh semua anak dan semua guru di sana.
"Sabar shof... Ga cuma lu yang kehilangan Zizi"
Ibunya Zizi mulai tak sadarkan diri dan segera di bawa ke UKS oleh beberapa anak lelaki di sana. Rifki mengepalkan tangannya ketika melihat ada banyak sesajen tak jauh dari sumur itu.
"Gue ga bisa jagain lu Zi"
Jasad Zizi pun mulai di pindahkan oleh pak Cahya dan pak Amin, sementara ayahnya masih terdiam di sana. Ia tak bisa menyalakan siapapun saat ini, bahkan untuk memarahi kepala sekolahnya sendiri saja ia sudah tak ada tenaga. pandangannya begitu kosong.
"Takdir, mau sekeras apapun kita berusaha merubahnya jika memang itu sudah di tulis oleh Allah, kita tidak bisa menolaknya"
***
Sore harinya setelah selesai melakukan pemakaman untuk Zizi, Rifki datang ke pemakaman Doni. Ia meninggal 10 hari yang lalu sebelum meninggalnya Zizi.
Ia harus mempertanggung jawabkan atas perbuatannya kepada Kanaya. Karena Mayang sudah Kanaya kembalikan, maka sebagai gantinya Donilah yang harus rela mati.
"Don, lu seneng lihat berita ini ??" tanya Rifki di atas pusara Doni.
Ia berusaha menahan tangisannya.
"Ia berhasil mengembalikan Mayang dan kak Dewi, tapi nyawanya ilang Don !! Hiks ! elu.... (tak melanjutkan kata-katanya) semoga lu tenang di sana"
Kemudian ia menaburkan bunga dan minyak wangi, kemudian memberi Al-fatihah untuk Doni karena saat pemakaman Doni, Rifki tak ikut akibat masih begitu kecewa.
Setelah selesai berdoa, Rifki pun beranjak dari sana. Ketika ia sampai di pintu gerbang kuburan, ia bertemu Mayang.
Mayang memberikan senyuman, namun Rifki tak membalasnya. Ia berjalan menuju motornya dan pergi begitu saja.
Sesampainya di kost, ia merapikan semua kenangan tentang Doni dan Zizi. Meskipun berat ia harus bisa melanjutkan perjalanan hidupnya lagi tanpa mereka berdua.
Selembar kertas terjatuh dari dalam buku dan Rifki mengambilnya kemudian menandatangani kertas itu.
"Gue tutup cerita ini, gue mau membuka lembaran baru lagi, di sekolah yang lain. Besok gue mau antar surat pindahan ini ke kepala sekolah."
Ia pun menutup bukunya dan mengeluarkan semua barang-barang yang tidak terpakai lagi. Menaruhnya ke tempat sampah.
Kemudian ia berkemas untuk pindahan esok hari. Setelah semuanya selesai ia pun merebahkan badannya ke atas tempat tidur dengan suara nafas yang begitu berat apalagi ada yang mendengarnya.
"See you Next time"
__ADS_1