
Zizi menyadari ada orang lain yang menenangkan Tasya.
DEGG !!
"Darmaji ??"
"Dia bukan tandinganmu !!" ucap Darmaji sambil menaruh Tasya ke sofa.
"Bukankah sedari tadi aku yang menghadapinya ??" tanya Zizi.
"Nyatanya aku yang melumpuhkannya"
Zizi terlihat sangat kesal. Ia yakin Darmaji hanya cari muka saja di hadapan orang tuanya Tasya.
Lalu Darmaji membantu mengobati luka ayah dan ibunya Tasya. Kemudian menyuruh ibunya untuk menggantikan bajunya Tasya yang basah.
"Terima kasih mbah, kalau ga ada mbah Darmaji, ga tau lagi kita bakalan kayak gimana"
Mendengar ucapan itu Zizi sedikit sakit hati. Karena ia yang mati-matian melawan makhluk itu.
Zizi pun pergi keluar tanpa izin dan duduk di teras rumah itu. Lalu datanglah Rifki.
"Lu kemana aja !! Kenapa ga nolongin gue ?" tanya Zizi.
"Gue di seret sama makhluk suruhan bayangan hitam itu !! Gua juga udah berusaha nolongin elu !! Tapi gue malah kawalahan ngadepin antek-anteknya bayangan hitam itu" jawab Rifki.
"Makin parah Tasya !"
"Orang tuanya gimana ??"
"Ga apa-apa sih, udah mendingan. Tapi kasihan. Ada Darmaji ko di dalam"
"Darmaji ?? Ngapain dia ??"
"Cari muka"
"Ko bisa ??"
"Tau ah !! Kesel gue !! Gue yang mati-matian melumpuhkan tuh makhluk, ehh yang orang tuanya Tasya malah ngucapin makasih ke Darmaji. Sial bener gue"
"Terus ?? Kita sekarang harus gimana ?"
"Mencari tahu apa yang di sembunyikan oleh Tasya"
"Devano"
"Kenapa Devano ?"
"Dia pasti tahu sesuatu tentang Tasya"
Zizi menoleh ke arah Rifki. Kemudian sedikit berfikir.
"Ga mungkin kan Tasya menyembunyikan rahasia sama Devano ? Sedangkan mereka pacaran dari kelas 10" ucap Rifki.
Mereka pun segera membuat perjanjian untuk ketemu Devano. Awalnya Devano menolak. Tapi Zizi sedikit merayu akhirnya ia pun mau.
"Dasar lelaki, di rayu dikit meleyot" ujar Rifki.
Zizi hanya tersenyum tipis.
Tak lama mereka pun ketemuan. Rifki tak memperlihatkan dirinya. Ia bersembunyi.
"Kenapa Zi ? Tumben ngajak ketemuan ?" tanya Devano.
"Emm... Langsung aja ya ? Ini gue mau membahas soal Tasya"
DEGG !!
"Udah bukan urusan gue lagi !"
Wajah Devano mulai berubah.
"Please, ini penting ! Kasihan Tasya"
"Apa lagi ?!!"
__ADS_1
"Gue cuma mau nanya satu hal"
"Hm"
"Apa dia pernah memberitahumu tentang sebuah rahasia ?"
Devano menoleh ke arah Zizi.
"Rahasia ??" tanya Devano.
"Iya. Yang berkaitan dengan kost"
Lagi-lagi Devano menoleh ke arah Zizi.
"Seandainya kamu tahu, tolong beritahu, kasihan Tasya tersiksa. Kasihan orang tuanya jadi korbannya. Hidup Tasya hancur. Ga enak rasanya terus menerus di ikuti mahkluk halus"
"Gue ga peduli !!" ucap Devano sambil pergi.
DEGG !!
"Kak Dev !!"
Setelah Devano berlalu, Rifki pun mendatangi Zizi.
"Mungkin cara kita salah" ujar Rifki.
Zizi hanya diam. Sebenarnya dia cape dengan semua ini. Dia pengin hidup dengan normal tanpa harus berurusan dengan para makhluk-makhluk halus. Tapi mau gimana lagi, mungkin ini sudah menjadi jalan hidupnya.
***
Sesampainya Devano di rumah, ia langsung menuju kamar. Membanting jaketnya ke kasur.
"Apa-apaan sih Zizi !! Bikin mood gue jadi berantakan aja ! Gue kan udah pernah bilang !! Masalah Tasya gue udah ga ada urusan lagi !!"
Kemudian ia duduk di ranjang itu dan mengambil sebatang rokok, menyalakan korek dan menuang minuman ke dalam gelas.
Ia memutar sebuah lagu, kemudian merebahkan badannya ke atas ranjang itu sambil menghisap rokoknya.
"Huuufh !!"
DEGG
Devano baru menyadari bahwa lagu yang ia dengarkan bukanlah lagu yang ia putar. Ia segera bangun dan mematikan lagu itu.
"Ko bisa ?? Lagu apa tadi ??"
Ia mencobanya lagi. Memutar kembali lagu yang tadi ia putar.
"Mbok saponono sadino ping sewu, ra bakal resik, kadung kebak awu, esih tansah esih, selawase esih, tatune ati, ora gampang nyisih"
Tangan Devano gemetar saat mendengar lagu itu dari ponselnya. Ia segera melempar ponsel itu. Mematikan rokoknya dan mencoba menenangkan dirinya.
"Ini pasti gue halu. Gue ga pernah nyimpen lagu jawa kayak gitu di hp gue ! Ga mungkin. Kenapa lagunya bisa seserem itu"
Ia pun mengambil air minum untuk menenangkan diri.
"Dev !"
Devano celingukan mencari siapa yang memanggilnya.
"S sii siapa ya ??"
Namun tak ada jawaban. Devano berfikir bahwa suara itu mirip dengan suaranya Tasya.
"Aarggh !! Ga mungkin tuh anak manggil gue ! Gue yakin dia di rumah ! Ga mungkin ada di sini"
Untuk memastikannya ia pun mencoba keluar kamar dan mencarinya. Tapi tak ia temukan siapa-siapa di sana. Ia pun kembali ke kamarnya.
Saat menutup pintu di sampingnya sudah ada Tasya dan membuat Devano kaget bukan main.
AAAAAA !!
Ia pun berlari ke kasurnya dan menutupi dirinya dengan selimut.
"Ampun Sya !! Ampuuun !! Please jangan nakut-nakutin gue !! Kalau lu mau mati gue ikhlas ko Sya !! Tapi tolong jangan jadi hantu dan jangan nakut-nakutin gue !!!"
__ADS_1
Setelah beberapa menit hening tanpa suara, Devano mulai membuk selimutnya perlahan.
"Huuufh !!"
Kemudian ia duduk di sana masih dalam balutan selimut.
"Sya, gue minta maaf ya kalau gue punya salah sama lu, sumpah gue paling takut sama yang namanya hantu. Lu kalau mau mati, mati aja, jangan jadi hantu dan jangan nakut-nakutin gue ya Sya..."
Kemudian ia ingat sama Zizi, bahwa ia menanyakan rahasia yang di sembunyikan oleh Tasya.
"Jangan-jangan Tasya juga mau gue menyampaikan pesan itu buat Zizi, agar nantinya Tasya bisa mati dengan tenang ?"
Tapi dia ingat kembali perkataan Tasya : "Pokoknya lu ga boleh kasih tau siapapun tentang ini. Walaupun sampai gue mati !"
Lagi-lagi Devano diam.
"Terus gue harus gimana ?? Gue juga ga mau kalau terus-terusan di teror sama Tasya kayak gini. Apa gue temuin Zizi aja kali ya ?"
***
Di sekolah.
"Zi, temenin gue ke kantin yuk" ajak Sofia.
"Kalau ke kantin mah gue ga nolak, haha"
"Ikut dong" ucap Rifki.
"let's go..."
Tiba-tiba Devano datang dan menarik tangan Zizi.
"Ada apaan kak Dev ??" tanya Zizi.
"Oi ! Teman gue mau lu bawa kemana ??" teriak Sofia.
"Minjem bentar !!"
"Tapi bisa lepasin tangan gue ga kak ! Gue bisa jalan sendiri tanpa harus di tarik !" ucap Zizi.
"Oh. Sorry sorry"
"Kakak mau apa ?"
"Gue cuma mau ngasih tau rahasia Tasya"
Zizi nampak terlihat bahagia mendengar hal itu.
"Apa itu kak ??"
"Dia menyembunyikan sesuatu yang ia bungkus dengan kain berwarna merah"
"Di bungkus kain berwarna merah ? Apa itu kak ??"
"Intinya ada kaitannya dengan kost itu"
"Lalu kain itu dimana ??"
"Nah itu, semalaman gue obrak abrik kamar gue buat nyari tuh barang tapi ga ada di sana !"
"Lah ??? Terus ?"
"Satu-satunya tempat selain di kamar gue ya di kamar kostnya Tasya"
"Ok ! Nanti kita ke sana"
"Gue ikut ??"
"Ya harus dong ? Kan kakak yang tau seperti apa bentuknya"
"Tapi..."
"Kenapa ??"
"Sebenarnya gue takut Zi ?"
__ADS_1
"Kenapa takut ?? Memangnya apa isinya ??"